9 Kombinasi Tanaman dan Batu Alam yang Membuat Teras Minim Perawatan dan Cantik Maksimal

3 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Memiliki teras yang asri kerap dianggap identik dengan kerepotan menyiram, memangkas, dan membersihkan lumut setiap akhir pekan. Padahal, dengan pemilihan yang tepat, kombinasi tanaman dan batu alam yang membuat teras minim perawatan justru bisa dihadirkan tanpa harus mengorbankan waktu dan tenaga pemiliknya.

Tren menata teras dengan sentuhan alami kian digemari masyarakat perkotaan yang punya keterbatasan waktu namun tetap ingin rumahnya terasa sejuk dan hijau. Pemilihan jenis tanaman yang tahan banting dipadukan dengan batu alam yang tahan cuaca menjadi kunci utama agar tampilan teras tetap terawat meski jarang disentuh.

Berikut ini sembilan rekomendasi kombinasi tanaman dan batu alam yang membuat teras minim perawatan, dirangkum oleh Liputan6.com dari berbagai sumber (7/7/2026). Setiap kombinasi bisa disesuaikan dengan gaya rumah masing-masing, sehingga penghuni tetap leluasa menyesuaikan selera tanpa mengorbankan kepraktisan perawatan sehari-hari.

1. Batu Koral Putih dan Kaktus atau Sukulen

Kaktus dan sukulen dikenal sebagai tanaman yang sanggup bertahan dalam kondisi kering dalam waktu lama. Keduanya menyimpan cadangan air di batang maupun daun sehingga tidak menuntut penyiraman rutin setiap hari, cocok bagi penghuni rumah dengan mobilitas tinggi.

Batu koral putih dipilih karena warnanya yang terang mampu memantulkan cahaya matahari, sehingga teras terkesan lebih luas dan bersih secara visual. Tekstur batu ini juga membuat daun kering yang jatuh lebih mudah terlihat dan dibersihkan sesekali.

Perpaduan ini banyak diterapkan pada rumah bergaya modern minimalis karena kesan clean dan rapi yang dihasilkan. Perawatan cukup dilakukan dengan menyapu permukaan koral setiap beberapa minggu tanpa perlu penyiraman intensif pada tanamannya.

2. Batu Andesit dan Lidah Mertua

Lidah mertua atau sansevieria termasuk tanaman hias yang sangat toleran terhadap kelalaian penyiraman maupun paparan sinar matahari terbatas. Tanaman ini juga dikenal jarang terserang hama, sehingga pemilik rumah tidak perlu repot menyemprotkan pestisida secara berkala.

Batu andesit berwarna abu gelap kerap dipilih karena karakternya yang kokoh dan tahan terhadap pertumbuhan lumut dibandingkan batu berwarna terang. Permukaannya yang padat membuat batu ini tidak mudah retak meski terpapar hujan dan panas terus-menerus.

Kombinasi keduanya menghasilkan tampilan teras bernuansa modern industrial yang tetap elegan. Cocok diterapkan pada rumah kontemporer yang mengutamakan kesan tegas namun tetap menghadirkan unsur hijau di area depan rumah.

3. Batu Palimanan dan Bromelia

Bromelia menjadi favorit karena warna daunnya yang mencolok, mulai dari merah, kuning, hingga ungu, tanpa memerlukan media tanam dalam jumlah banyak. Tanaman ini cukup ditanam dalam pot berukuran kecil hingga sedang di sudut teras.

Batu palimanan memiliki tekstur alami dengan corak krem kecokelatan yang khas, sering digunakan sebagai elemen dekoratif pada rumah bergaya tropis. Batu ini relatif mudah dirawat karena permukaannya tidak terlalu berpori sehingga tidak cepat menyerap kotoran.

Perpaduan warna cerah bromelia dengan tekstur natural palimanan menciptakan focal point yang menarik perhatian tanpa perlu penataan tanaman dalam jumlah banyak. Teras pun tetap terlihat hidup meski hanya diisi beberapa pot saja.

4. Batu Candi dan Aglonema

Aglonema dikenal sebagai tanaman yang tahan terhadap kondisi minim cahaya, sehingga cocok ditempatkan di teras beratap yang tidak terpapar sinar matahari langsung sepanjang hari. Penyiraman cukup dilakukan dua hingga tiga kali dalam seminggu.

Batu candi berwarna hitam pekat memberikan kesan teduh dan elegan, sering dipakai sebagai pijakan atau elemen dinding pada rumah bergaya klasik maupun tropis kontemporer. Batu ini juga dikenal tahan lama meski sering terkena air hujan.

Gabungan aglonema dengan batu candi menghasilkan nuansa teras yang syahdu dan tidak berlebihan. Kombinasi ini cocok untuk pemilik rumah yang menginginkan sentuhan hijau namun tetap mengutamakan kesan tenang dan tidak ramai.

5. Batu Susun Sirih dan Kamboja Jepang

Kamboja Jepang atau adenium memiliki bonggol yang berfungsi menyimpan cadangan air, sehingga tanaman ini sanggup bertahan dalam kondisi kering dalam waktu cukup lama tanpa perlu disiram setiap hari oleh pemiliknya.

Batu susun sirih ditata bertingkat dengan pola alami yang memberikan dimensi pada permukaan teras. Batu ini umumnya tahan terhadap cuaca ekstrem dan tidak mudah pecah meski sering dilalui aktivitas harian penghuni rumah.

Perpaduan bunga adenium yang berwarna cerah dengan susunan batu bertekstur menciptakan kesan artistik pada teras. Cocok bagi pemilik rumah yang menyukai detail dekoratif namun tetap menghindari perawatan tanaman yang rumit.

6. Batu Templek dan Pakis Tanduk Rusa

Pakis tanduk rusa atau platycerium memiliki keunikan karena bisa ditempel pada dinding atau digantung dalam pot, sehingga tidak memakan banyak ruang di lantai teras. Penyiraman cukup dilakukan seminggu sekali tergantung kelembapan udara.

Batu templek dengan warna abu kecokelatan sering dijadikan latar dinding teras karena teksturnya yang bertingkat dan tampak alami. Batu ini relatif mudah dibersihkan dan tahan terhadap perubahan cuaca sepanjang musim.

Kombinasi keduanya menghasilkan tampilan teras vertikal yang unik dan hemat tempat. Cocok diterapkan pada rumah dengan lahan terbatas namun tetap ingin menghadirkan unsur hijau yang berbeda dari tanaman pot biasa.

7. Batu Alur dan Sirih Gading

Sirih gading atau pothos tumbuh cepat dan tahan terhadap kondisi minim cahaya, menjadikannya pilihan populer untuk area teras yang teduh. Tanaman ini bisa dibiarkan menjalar tanpa perlu pemangkasan maupun perawatan rutin lainnya.

Batu alur memiliki motif garis yang memberikan kesan modern dan dinamis pada permukaan teras. Pola garisnya juga membantu menyamarkan noda maupun kotoran ringan yang menempel akibat aktivitas harian penghuni rumah.

Perpaduan sirih gading yang menjalar dengan batu bermotif garis menciptakan kontras menarik antara elemen organik dan geometris. Kombinasi ini cocok untuk teras bergaya kontemporer yang mengutamakan detail visual sederhana namun berkarakter.

8. Batu Kali dan Bambu Hias

Bambu hias, termasuk lucky bamboo atau bambu jepang, relatif tahan banting dan tidak rewel soal jenis media tanam. Tanaman ini bisa diletakkan dalam pot berisi air maupun tanah tanpa perawatan khusus tambahan.

Batu kali berbentuk bulat alami sering disusun menyerupai aliran sungai kering atau dry river, memberikan nuansa lanskap Jepang yang menenangkan. Batu ini tahan lama dan tidak memerlukan perawatan permukaan secara berkala.

Gabungan bambu hias dengan susunan batu kali menghasilkan suasana teras yang teduh dan menyejukkan mata. Konsep ini kerap diadaptasi pada rumah bergaya Zen maupun tropis modern yang mengutamakan ketenangan.

9. Batu Marmer atau Granit Poles dan Kaktus Mini Berjajar

Lantai batu marmer atau granit poles dipilih karena permukaannya yang halus dan mudah dibersihkan hanya dengan lap basah, tanpa perlu perawatan khusus meski sering dilalui aktivitas harian penghuni maupun tamu rumah.

Beberapa pot kaktus mini yang ditata berjajar di sudut teras memberikan aksen hijau tanpa memerlukan ruang tanam yang luas. Kaktus mini juga cukup disiram sesekali dalam sebulan tergantung kondisi cuaca setempat.

Kombinasi lantai poles dengan deretan kaktus mini menghasilkan tampilan teras minimalis modern yang rapi dan mudah dirawat. Konsep ini cocok bagi rumah tipe kecil yang tetap ingin menghadirkan sentuhan alami di terasnya.

Pertanyaan Seputar Kombinasi Tanaman dan Batu Alam untuk Teras Minim Perawatan

1. Tanaman apa yang paling cocok untuk teras minim perawatan?

Kaktus, sukulen, lidah mertua, dan aglonema termasuk tanaman yang paling direkomendasikan karena tahan kekurangan air dan tidak memerlukan penyiraman maupun pemangkasan setiap hari.

2. Jenis batu alam apa yang tahan lama untuk area teras luar ruangan?

Batu andesit, batu candi, dan batu templek dikenal tahan terhadap cuaca ekstrem serta tidak mudah berlumut, sehingga lebih awet digunakan pada teras yang sering terpapar hujan maupun sinar matahari langsung.

3. Bagaimana cara mencegah batu alam di teras cepat berlumut?

Pilih batu berwarna gelap dengan permukaan tidak berpori tinggi, pastikan sistem drainase teras berfungsi baik, dan bersihkan permukaan batu secara berkala menggunakan sikat serta air agar lumut tidak sempat tumbuh.

4. Apakah tanaman dalam pot lebih mudah dirawat dibanding ditanam langsung di tanah teras?

Ya, tanaman dalam pot lebih fleksibel untuk dipindah, memudahkan kontrol penyiraman, serta mencegah akar merusak susunan batu alam di sekitarnya sehingga cocok diterapkan untuk konsep teras minim perawatan.

5. Berapa kali sebaiknya menyiram tanaman hias di teras yang minim perawatan?

Sebagian besar tanaman tahan kering seperti kaktus, sukulen, dan lidah mertua cukup disiram satu hingga dua kali dalam seminggu, tergantung tingkat kelembapan udara dan intensitas paparan sinar matahari di lokasi teras.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |