8 Alasan Anak Generasi X dan Milenial Dinilai Tumbuh Menjadi Orang yang Lebih Tangguh Secara Mental

2 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Setiap generasi tumbuh dalam kondisi sosial, budaya, dan teknologi yang berbeda. Perbedaan tersebut ikut memengaruhi cara seseorang belajar, menyelesaikan masalah, hingga menghadapi tekanan ketika dewasa.

Belakangan, pembahasan mengenai ketangguhan mental generasi yang tumbuh pada era 1980-an dan 1990-an kembali menjadi sorotan. Banyak yang menilai anak-anak pada masa itu memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi karena mengalami masa kecil yang jauh berbeda dibandingkan generasi yang lahir di era internet dan media sosial.

Tentu saja, bukan berarti satu generasi lebih baik dibanding generasi lainnya. Setiap zaman memiliki tantangan masing-masing. Namun, sejumlah pengalaman yang umum dialami anak-anak pada era 80-an dan 90-an diyakini membantu membentuk kemandirian, kesabaran, serta kemampuan menghadapi perubahan ketika mereka memasuki usia dewasa. Berikut ulasannya yang Liputan6.com lansir dari YourTango, Selasa (7/7/2026).

1. Tumbuh Bersama Perkembangan Teknologi

Generasi 80-an dan 90-an menjadi saksi perubahan besar dari dunia analog menuju era digital. Mereka pernah menggunakan mesin tik, telepon rumah, kaset, hingga kemudian beradaptasi dengan komputer, internet, dan ponsel pintar.

Perjalanan itu membuat mereka terbiasa belajar hal-hal baru. Mereka tidak lahir dengan teknologi modern, tetapi juga tidak asing menggunakannya saat dewasa.

Kemampuan beradaptasi inilah yang dianggap menjadi salah satu modal penting dalam menghadapi perubahan dunia kerja maupun kehidupan sehari-hari.

2. Memiliki Kebebasan Bermain di Luar Rumah

Salah satu ciri yang banyak dikenang dari masa kecil era 1980-an dan 1990-an adalah kebiasaan bermain di luar rumah tanpa jadwal yang terlalu padat. Anak-anak menghabiskan waktu bersepeda, bermain petak umpet, sepak bola, atau sekadar berkumpul dengan teman di lingkungan sekitar.

Menurut Harvard Health Publishing, permainan bebas (free play) memberi kesempatan kepada anak untuk melatih kemampuan menyelesaikan masalah, mengelola emosi, bernegosiasi, dan mengambil keputusan sendiri. Aktivitas tersebut juga membantu membangun rasa percaya diri karena anak belajar menghadapi konsekuensi dari pilihannya.

Berbeda dengan permainan yang seluruh aturannya ditentukan orang dewasa, permainan bebas memberi ruang bagi anak untuk berinisiatif, berkompromi, hingga menyelesaikan konflik secara mandiri. Keterampilan inilah yang kemudian terbawa hingga mereka memasuki usia dewasa.

3. Terbiasa Menghadapi Rasa Bosan

Bagi anak-anak masa kini, rasa bosan sering kali langsung diatasi dengan membuka media sosial atau menonton video di internet.

Situasinya berbeda beberapa dekade lalu. Ketika merasa bosan, anak-anak harus mencari cara sendiri untuk mengisi waktu, mulai dari membaca buku, menggambar, membuat permainan, hingga menciptakan cerita bersama teman.

Kondisi tersebut dipercaya membantu mengembangkan kreativitas sekaligus kemampuan memecahkan masalah tanpa selalu bergantung pada hiburan instan.

4. Belajar Menunggu Sesuatu

Menunggu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari pada era tersebut. Anak-anak harus menunggu acara televisi favorit tayang sesuai jadwal, menunggu hasil cetak foto, atau menabung cukup lama sebelum membeli barang yang diinginkan.

Pengalaman itu mengajarkan bahwa tidak semua hal bisa diperoleh secara instan. Kesabaran dan kemampuan menunda kepuasan menjadi keterampilan yang masih relevan hingga sekarang.

5. Jadwal yang Tidak Terlalu Padat

Di luar jam sekolah, banyak anak era 80-an dan 90-an memiliki waktu luang yang cukup banyak. Tanpa aktivitas yang terus diatur orang tua, mereka belajar mengelola waktu sendiri. Ada yang memilih bermain, membaca, membantu orang tua, atau mencoba berbagai hobi.

Kebebasan tersebut memberikan ruang untuk mengenal minat pribadi sekaligus melatih tanggung jawab terhadap pilihan yang dibuat.

6. Terbiasa Membantu Pekerjaan Rumah

Banyak anak pada masa itu sudah terbiasa menyapu, mencuci piring, menjaga adik, hingga membantu pekerjaan orang tua di rumah.

Meski terlihat sederhana, rutinitas tersebut mengajarkan pentingnya kerja sama, disiplin, dan tanggung jawab. Pengalaman itu juga membuat mereka memahami bahwa setiap anggota keluarga memiliki peran yang perlu dijalankan bersama.

7. Tidak Terlalu Banyak Gangguan Digital

Ketika mengerjakan tugas sekolah atau membaca buku, perhatian anak-anak pada era tersebut tidak mudah teralihkan oleh notifikasi media sosial.

Mereka memang memiliki hiburan, seperti televisi atau permainan video, tetapi tidak tersedia sepanjang waktu seperti sekarang.

Akibatnya, mereka lebih terbiasa mempertahankan fokus dalam waktu yang lebih lama ketika menyelesaikan pekerjaan atau menghadapi tantangan tertentu.

8. Diberi Kesempatan untuk Belajar dari Kesalahan

Salah satu pengalaman yang paling sering dikenang adalah kebebasan untuk mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Ketika terjatuh saat bersepeda, kalah dalam permainan, atau mendapat nilai kurang memuaskan di sekolah, anak-anak biasanya didorong untuk mencari solusi dan memperbaiki kesalahannya.

Pengalaman menghadapi kegagalan dalam skala kecil tersebut dipercaya membantu membangun ketahanan mental sehingga mereka lebih siap menghadapi tantangan yang lebih besar ketika dewasa.

American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa resiliensi bukan berarti seseorang tidak pernah mengalami kesulitan. Sebaliknya, resiliensi merupakan kemampuan untuk beradaptasi dan bangkit setelah menghadapi tekanan, tantangan, maupun peristiwa yang tidak diharapkan.

Dengan kata lain, kesempatan menghadapi masalah dalam skala kecil selama masa kanak-kanak dapat menjadi latihan menghadapi tantangan yang lebih besar ketika dewasa.

Ketangguhan Mental Tidak Ditentukan oleh Generasi Saja

Meski berbagai pengalaman masa kecil diyakini berkontribusi terhadap pembentukan karakter, para ahli juga mengingatkan bahwa ketangguhan mental dipengaruhi banyak faktor. Pola asuh, lingkungan keluarga, pendidikan, kondisi sosial, hingga pengalaman hidup setiap individu memiliki peran yang sama pentingnya.

Di sisi lain, anak-anak yang tumbuh pada era digital juga memiliki kelebihan tersendiri. Mereka umumnya lebih cepat beradaptasi dengan teknologi, memiliki akses informasi yang luas, dan terbiasa mempelajari keterampilan baru melalui internet.

Karena itu, membandingkan generasi secara mutlak bukanlah tujuan utama. Yang lebih penting adalah mengambil pelajaran dari berbagai pengalaman positif di masa lalu, seperti melatih kemandirian, memberi ruang bagi anak untuk memecahkan masalah sendiri, serta mengajarkan bahwa kegagalan merupakan bagian alami dari proses belajar dan bertumbuh.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |