Rawat Tradisi Busana Jawa, Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro Sukses 'Sulap' Wisatawan Jadi Bangsawan Jogja

18 hours ago 8
  • Apa itu Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro?
  • Bagaimana sejarah berdirinya Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro?
  • Bagaimana cara reservasi dan berapa tarif layanan Koperasi Pokoke Blangkon?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Kawasan Malioboro selalu punya cerita magis yang memikat para wisatawan. Tak sekadar menikmati riuhnya suasana jalanan ikonik di jantung Kota Yogyakarta ini, para pelancong kini bisa mengabadikan momen berharga mereka bak bangsawan Jawa. Fenomena ini berhasil ditangkap menjadi peluang usaha yang menjanjikan oleh Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro, sebuah penyedia jasa sewa busana adat Jawa sekaligus fotografi jalanan.

Heriberto Satyo, atau yang akrab disapa Satyo, merupakan sosok penting di balik layar keberlangsungan usaha jasa ini. Pria asli Kampung Pajeksan berusia 45 tahun tersebut kini dipercaya memegang tongkat estafet kepemimpinan sebagai Ketua Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro. Bersama Liputan6.com di lokasi usahanya, ia pun menceritakan perjalanan panjang Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro dalam menapaki industri kreatif digital.

Sebelum bertransformasi menjadi sebuah badan hukum koperasi yang mandiri dan terstruktur, kelompok ini harus melewati berbagai dinamika perkembangan zaman. Usaha kolektif para pemuda dan warga lokal ini awalnya dirintis dari sebuah ikatan kebersamaan yang sangat sederhana di kawasan pariwisata alias paguyuban pada tahun 2018 yang kini bertrasformasi menjadi sebuah koperasi yang dinamakan koperasi Pokoke blangkon.

"Kami mendirikan kelompok ini awalnya di tahun 2018 akhir masih berbentuk paguyuban dengan nama Pokoke Blangkon yang bergerak di fotografi dengan busana Jawa. Terus tahun 2022, paguyuban ini berubah menjadi koperasi dengan nama Koperasi Pokoke Blakon Malioboro yang bergerak di fotografi dengan busana Jawa. Seperti itu," kenang Bang Satyo.

Sejarah Berdirinya Pokoke Blangkon: Dari Paguyuban Emperan Toko hingga Jadi Koperasi

Berbicara mengenai asal-usulnya, ide kreatif tersebut ternyata muncul secara tidak sengaja dari aktivitas perdagangan sehari-hari di selasar jalan Malioboro, Yogyakarta. Satyo kemudian menceritakan sejarah awal pembentukan usaha unik ini yang awalnya diinisiasi oleh salah seorang tokoh lokal di wilayah tersebut. Dinamika tersebut bermula dari tingginya antusiasme wisatawan yang bingung saat ingin mengenakan pakaian tradisional secara benar yang kemudian didokumentasikan oleh sang photographer yang handal. 

"Mengenai sejarahnya, di tahun 2018 itu berawal dari seseorang bernama Bapak T K Tono. Beliau awalnya menjual baju jawa. Nah, dari penjualan itu kebetulan banyak tamu ketika mereka beli terus minta berfoto, dipotoin, dipakaikan karena nggak banyak yang paham cara pakai baju Jawa. Dari situ terbesit ide untuk menyewakan aja. Jadi busana Jawa disewakan lengkap dengan fotografernya. Beliau mengajak kami dari warga wilayah, mendirikan itu tadi, Paguyuban Pokoke Blangkon," jelas Heriberto Satyo.

Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya arah bisnis, roda organisasi internal di dalam kelompok ini pun mulai berputar. Sang perintis awal kini telah memilih jalan baru dan menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan sepenuhnya kepada warga lokal yang bertahan. Transformasi ini melahirkan struktur kepengurusan yang baru dimana Satyo sendiri terpilih menjadi ketua 2 di koperasi tersebut. 

"Beliau tahun dua tahun kemarin mengundurkan diri dari koperasi dan membentuk usaha sendiri yang sama jadi persewaan juga, ada fotografi juga dan resmi meninggalkan legasinya. Saat ini, kepala Yogyakarta saat ini diketuai oleh Bapak Sumarti sebagai Ketua 1 dan saya sebagai Ketua 2," lanjutnya.

Masalah lokasi operasional juga menjadi tantangan berat yang harus dihadapi oleh para pengurus koperasi dari tahun ke tahun. Dulu, para fotografer ini harus bertahan di selasar jalanan dan emperan toko tanpa memiliki tempat bernaung yang tetap. Namun, berkat kegigihan mengumpulkan modal, kini mereka berhasil menempati sebuah kantor yang representatif demi kenyamanan para pengunjung. 

"Awal berdirinya itu kita ada di emperan toko, kita tidak punya tempat. Dua tahun yang lalu, karena sudah tidak diizinkan lagi ada di eperaan toko, dan kebetulan depan tempat nongkrong kita juga dibangun, kita menyewa tempat ini, yang beralamat di Jl. Malioboro No.11, Sosromenduran, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta," ungkap Satyo.

Cara Reservasi, Paket Foto hingga Tarif Bersahabat Tanpa 'Tarif Tembak'

Bagi para pelancong yang tertarik untuk mencoba pengalaman unik berfoto dengan pakaian adat ini, pihak pengelola menyediakan sistem pemesanan yang sangat fleksibel. Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro membuka akses komunikasi yang luas, baik melalui saluran digital modern maupun pelayanan langsung di tempat. Selain kemudahan akses tersebut, satu hal yang menjadi keunggulan utama mereka adalah komitmen menjaga transparansi harga tanpa adanya biaya tersembunyi.

"Datar online kami ada nomor WA, ada Whatsapp, ada Instagram yang bisa di DM nanti via situ bisa Tinggal kontak aja, mau foto tangga sekian Kalau pengen daftar biasanya Kita ada 2 macam, ada 2 macam jalur booking via whatsapp atau yang lain-lain dan biasanya ada langsung datang kesini atau melalui marketing kami yang ada di bawah harga sama baik hari biasa maupun high season, long weekend, sama aja kita gak pernah menaikkan harga," tegas Satyo.

Proses pelayanan yang ditawarkan kepada para konsumen pun didesain efektif tanpa memakan waktu lama. Wisatawan tidak perlu mengkhawatirkan prosedur birokrasi pemesanan yang rumit atau sistem antrean yang membingungkan. Pengelola memastikan alur kerja dari kedatangan hingga penyerahan file foto berjalan sangat ringkas sehingga liburan tetap terasa menyenangkan.

"Caranya memakai jasa foto ini bagaimana? Seperti biasa, kita nggak terlalu banyak untuk harus booking, harus bagaimana, cukup datang ke sini bisa, datang langsung ke sini, daftar, aku mau foto, ambil paket, apa yang mau diambil paketnya biasanya tergantung jumlah orangnya yang mau foto jumlah orang, sesuai dengan paketnya kita carikan fotografer, ganti baju, foto di jalan. selesai foto, pilih foto, bayar," paparnya.

Masalah anggaran sering kali menjadi pertimbangan utama bagi para pelancong saat ingin berburu konten liburan di Yogyakarta. Untuk menyiasati hal tersebut, manajemen koperasi sengaja merancang skema tarif yang sangat bersahabat bagi kantong pelajar maupun keluarga. Komponen biaya sewa busana dan jasa fotografer pun dipisahkan dengan sangat rinci agar konsumen bisa memilih sesuai kemampuan finansial mereka.

"Harga busana Jawa ada 2 macam Rp25.000 dan Rp50.000. Rp25.000 itu yang berupa biasa, beskap dan yang cewek yang model blutdru itu itu Rp25.000. Ada yang Rp50.000 model janggan atau kamisol itu Rp50.000 yang cowok biasanya sama semua itu sudah komplit orang Jawa bilang sepengatek jadi dari ujung sampai bawah sesendal-sendalnya Untuk fotonya tergantung berapa orangnya. Paket yang diambil bermacam-macam rata-rata per orang sekitar 50, Dengan busana 75 ribuan Rata-rata Rata-rata 75 ribuan," rinci Bang Satyo.

Selain itu, Layanan jasa foto jalanan ini memiliki jam buka yang sedikit berbeda antara hari kerja biasa dengan momentum akhir pekan. Pihak pengelola dengan sengaja memilih tidak membuka sesi pemotretan pada malam hari karena alasan estetika hasil jepretan.

"Kita buka Senin sampai Jumat pukul 8. Sabtu, Minggu pukul 7. Sampai last order pukul 5 sore. Sesi malam kita nggak ada. Kenapa kita nggak ada sesi malam? Karena lighting di Malioboro, kami anggap masih terlalu gelap untuk foto," tambahnya.

Syarat Anggota dan Komitmen dalam Menjaga Narasi Budaya Jawa

Selain kesiapan mental dan penguasaan teknik, kepemilikan perangkat kerja pribadi juga menjadi salah satu instrumen seleksi yang tidak bisa ditawar. Pihak koperasi tidak memfasilitasi peminjaman alat utama berupa kamera digital kepada para anggotanya yang bertugas di lapangan. Langkah tegas ini diambil agar kualitas visual yang dihasilkan oleh setiap fotografer tetap berada di standar yang setara dan kompetitif.

"Syaratnya Minimal punya kamera, karena kami tidak menyediakan kamera untuk dipegangkan. Mau kamera seperti apa. Ya biasanya sekarang sih paling enggak meroles jangan poket kamera dipakai, paling enggak seperti itu. Jangan sekadar asal beli kamera jauh dari teman-teman dengan hasil yang beda banget kasihan juga. Kadang-kadang mereka jualan terus dibandingkan dengan teman yang lain bedanya jauh mas, itu kan kasihan juga," ujarnya.

Sejak awal berdiri, segmen pasar yang dibidik oleh koperasi ini dirancang dengan sangat spesifik guna mengoptimalkan potensi perputaran ekonomi kreatif. Target utama dari pergerakan bisnis ini menyasar pada sektor pariwisata massal serta kalangan anak muda yang gemar mengeksplorasi tren estetika visual. Lebih dari sekadar mencari keuntungan materi, kehadiran jasa ini juga mengemban misi besar untuk mengedukasi masyarakat luas mengenai keluhuran budaya lokal.

"Untuk target yang pasti kami adalah wisatawan. Wisatawan yang datang ke kota Yogyakarta. Kemudian kawula muda yang pingin bikin cerita yang berbeda di Yogyakarta. Kadang mereka nggak niat ke Jogja, tapi pingin aja bikin cerita, oh datang ke sini aja sekedar berfoto. Itu target kami. Yang pasti juga mereka yang belum paham tentang Busana Jawa. Jadi kami di sini tidak sekedar hanya menyewakan, tapi dari koperasi menuntut fotografer dan semua tim untuk paham apa itu tentang Busana Jawa," tegasnya.

Hal Pembeda hingga Cara Menjaga Kekompakan Internal

Persaingan ketat di industri jasa fotografi jalanan di seputar Malioboro memaksa kelompok ini untuk memunculkan nilai keunikan yang kuat sebagai pembeda. Manajemen koperasi berkomitmen penuh untuk menyajikan kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan secara moral dan estetika tradisional. Poin pembeda utama yang mereka usung terletak pada ketatnya penerapan pakem busana adat khas Keraton Yogyakarta yang autentik tanpa modifikasi instan.

"Beda jasa ini dengan jasa foto lainnya apa? Yang pertama ketika awal kita pasti melatih anggota untuk benar-benar layak jual hasil mereka bisa kami bertanggung jawabkan untuk lebih baik. Jadi tidak sekedar ini kamera cari fit. Kemudian membawa narasi budaya tadi. Kami memaksa fotografer untuk paham itu. Data teman-teman yang pemerhati budaya memberikan literasi tentang budaya, tentang busat Jawa tadi. Mesti kami bisa memahamkan tentang narasi budaya itu. Kemudian busana jawa yang kami pakai ini gagret, kami pastikan ini adalah gagret Yogyakarta kami tidak memakai rok yang sudah jadi kami tetap memakai lilit, kain lilit tetap dibentuk dari awal," paparnya.

Mengelola puluhan kepala dengan latar belakang kepribadian yang berbeda dalam satu wadah koperasi tentu memunculkan tantangan tersendiri bagi jajaran pengurus. Diperlukan sebuah formula komunikasi yang intensif agar ikatan kekeluargaan dan rasa memiliki antaranggota tetap terjaga di tengah fluktuasi bisnis. Pengelola koperasi senantiasa berupaya menciptakan ruang berkumpul yang hangat meskipun saat ini mereka sedang menghadapi tekanan alokasi dana operasional yang cukup ketat.

"Kami tiap hari tentu saja ketemu tiap hari. Itu yang membuat kami kompak merasakan bagaimana berkegiatan disini, kumpul setiap saat, itu yang faktor utamanya Agenda biasanya kemarin ketika kami masih, ya caranya, anggota kami banyak kemarin kan secara keuangan kami masih solid, bukan gak perlu sewa tempat, kita jalan-jalan bareng juga sering pick barang itu aja," jelasnya.

"Cuma akhir-akhir ini karena kami terpaksa masih mengejar sewa tempat, modal baru untuk usaha-usaha. Usaha-usaha dulu kan milik pribadi anggota, sekarang milik kooperasi sendiri. Kemarin kan modal habis di situ, modal habis buat sewa tempat. Belum sempat jalan-jalan ya, kumpul-kumpul di sini aja kadang belum makan-makan bareng aja dengan biasa di sini," lanjutnya.

Suntikan KUR BRI: Angin Segar yang Menjaga Roda Koperasi Tetap Berputar

Kebutuhan modal yang besar untuk membiayai sewa tempat usaha di kawasan premium Malioboro sempat menjadi batu sandungan yang cukup berat bagi jajaran pengurus. Beruntung, kesulitan finansial tersebut berhasil diatasi berkat adanya sinergi yang strategis bersama lembaga perbankan pelat merah. Lewat jalinan kemitraan yang erat dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, koperasi dan para anggotanya mendapatkan fasilitas pendukung usaha serta kemudahan dalam mengakses permodalan.

"Ikut BRI apa saja pak? Di awal kami Untuk kerja sama, karena pada awal kemarin masih bisa untuk Pokoke Blangkon kan sebagai lembaga ya. Sebagai lembaga bisa untuk caranya packingan untuk permohonan KUR. Kemarin kami banyak teman-teman yang ada di sana mengajukan KUR. Itu lebih mudah. Diawal juga kami mendapatkan beberapa peralatan-peralatan seperti payung dari BRI. Dan beberapa dari teman teman juga menggunakan Tabungan BRI. Seperti itu," ungkap Bang Satyo mengapresiasi kemitraan dengan BRI.

Dampak nyata dari penyaluran stimulus finansial tersebut dirasakan secara langsung pada kestabilan fondasi ekonomi internal organisasi. Dukungan modal kerja ini diakui menjadi motor penggerak utama yang menyelamatkan koperasi dari ancaman gulung tikar akibat tingginya biaya sewa operasional. Ketika ditanya mengenai seberapa besar kontribusi konkret yang diberikan oleh instrumen pembiayaan tersebut, Bang Satyo memberikan jawaban yang sangat tegas.

"Sangat berpengaruh, karena dengan adanya KUR ini kami bisa berkembang, membangun koperasi hingga saat ini koperasi kita masih pun terus berjalan," pungkas Bang Satyo mengakhiri sesi wawancara.

Dukungan Penuh BRI Katamso: Dari Upgrade Kamera hingga Bantuan Properti untuk Anggota Koperasi

Komitmen BRI dalam menyokong eksistensi Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro tidak hanya berhenti pada tataran kelembagaan makro saja, melainkan menyentuh langsung kebutuhan esensial para anggotanya di lapangan. Akses pembiayaan ini dirancang khusus untuk membantu para fotografer meningkatkan kualitas produksi visual mereka melalui pembaruan perangkat kerja yang lebih modern. Desti Dwi selaku Kaunit Pasarkembang BRI Katamso menjelaskan bahwa kemitraan strategis yang telah terjalin lama ini berjalan dengan sangat aman berkat adanya koordinasi dan penilaian karakter yang transparan bersama pihak manajemen koperasi.

Saat ditanya mengenai jenis layanan spesifik yang dialokasikan untuk kelompok sadar wisata ini, ia memaparkan bentuk kemudahan finansial yang diberikan secara langsung kepada para fotografer.

"Fasilitas pinjaman kredit untuk fotografer-fotografernya itu. Fotografernya itu kan butuh upgrade kamera dan upgrade kamera itu bisa mengajukan pinjaman di BRI," jelas Desti Dwi.

Selain itu, pihak perbankan memastikan seluruh proses administrasi berjalan lancar tanpa kendala yang berarti karena adanya rasa saling percaya yang kuat.

"Sejauh ini pinjamannya aman, karena kan kita juga dapat referensi dari pengurus koperasinya langsung, maksudnya ini kita kan konsultasi juga bagaimana karakter anggotanya, seperti itu," tambahnya.

Lebih lanjut, keterlibatan institusi perbankan ini tidak melulu berkaitan dengan urusan kredit komersial semata. Komitmen pemberdayaan ekonomi kreatif ini juga diwujudkan dalam bentuk pemberian sarana pendukung kerja guna menunjang kenyamanan operasional harian di sepanjang Jalan Malioboro.

"Kalau yang sudah kita lakukan itu BRI memberikan bantuan berupa properti ya, kayak payung kemarin, seperti itu," ungkapnya.

Hubungan baik yang harmonis ini nyatanya bukan merupakan sebuah program instan yang baru saja berjalan dalam hitungan bulan. Kolaborasi berkelanjutan ini telah melewati perjalanan waktu yang cukup panjang, dengan tingkat intensitas kemitraan yang semakin menguat seiring dengan perkembangan skala usaha koperasi.

"Mereka sudah tegabung dengan kita sejak tahun 2022 hingga kini. Cuma intensnya itu di tahun 2023," pungkas Desti Dwi.

Pengalaman Berkesan Wisatawan: Hasil Foto Estetik dan Pelayanan Ramah Jadi Alasan Wajib Coba

Daya tarik Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro tak hanya dirasakan oleh jajaran pengurus dan pihak perbankan, tetapi juga terbukti nyata dari kepuasan para wisatawan yang merasakannya secara langsung. Kehadiran para penyedia jasa foto jalanan ini sukses mencuri perhatian oleh dua orang wisatawan bernama Arini dan Nugraha yang sedang menghabiskan waktu liburannya mereka di Kota Yogyakarta.

Disana, keduanya memutuskan untuk mengabadikan momen kebersamaan dengan mengenakan balutan busana adat Jawa gagrak Yogyakarta yang disediakan oleh koperasi. Pengalaman pertama mereka ini rupanya berbuah manis dan meninggalkan kesan yang sangat mendalam berkat kualitas pelayanan yang prima dari tim lapangan. Saat ditemui oleh Liputan6.com di sela-sela aktivitasnya memilih file gambar, mereka tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya setelah selesai melakukan sesi pemotretan di ruang terbuka.

"Kami benar-benar sangat puas dengan layanannya, mulai dari proses pendaftaran, dibantu memakai kain lilitnya, sampai selesai foto semua pelayanannya sangat tanggap. Hasil fotonya bagus sekali dan yang paling membuat kami nyaman itu para fotografernya sangat ramah serta telaten saat mengarahkan gaya kami di sepanjang jalanan Malioboro," ujar Arini.

Senada dengan pasangannya, Nugraha juga mengakui bahwa keberadaan jasa kreatif berbasis budaya ini memberikan warna baru yang berbeda bagi lanskap pariwisata di pusat kota. Ia menilai bahwa membawa pulang dokumentasi estetik dengan pakaian tradisional merupakan sebuah pelengkap wajib agar momen liburan di Yogyakarta terasa semakin sempurna.

"Bagi para wisatawan lain yang punya rencana ingin berkunjung ke Jogja, khususnya di kawasan Malioboro, saya sangat merekomendasikan sekali untuk mencoba menggunakan jasa foto ini. Selain tarifnya yang sangat aman di kantong, kita bisa mendapatkan kenang-kenangan foto yang estetik sekaligus merasakan langsung pengalaman unik mengenakan busana adat Jawa yang asli," pungkas Nugraha. 

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |