Cara Olah Kulit Durian Jadi Pakan Ternak, 7 Solusi Limbah Bernutrisi Tinggi

15 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Kulit durian, yang seringkali dianggap sebagai limbah tak berguna, ternyata menyimpan potensi besar sebagai bahan pakan alternatif yang bernutrisi tinggi untuk ternak ruminansia. Setiap buah durian menghasilkan proporsi kulit yang signifikan, yaitu sebesar 69,16% dari total berat buahnya, menyisakan hanya sekitar 22% daging buah yang dapat dikonsumsi. Pemanfaatan limbah ini menjadi solusi cerdas bagi peternak untuk menekan biaya operasional dan mengurangi dampak lingkungan.

Tumpukan limbah kulit durian saat musim panen dapat menimbulkan masalah lingkungan serius jika tidak ditangani dengan baik. Namun, dengan pengolahan yang tepat, limbah ini dapat diubah menjadi sumber nutrisi berharga, mengurangi pencemaran lingkungan, dan secara signifikan menekan biaya pakan ternak. Proses ini tidak hanya menguntungkan secara ekonomis tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan.

Berdasarkan data tahun 2020, potensi ketersediaan kulit durian di Indonesia mencapai 124.494,22 ton bahan kering per tahun, menunjukkan peluang besar untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Potensi ini membuka jalan bagi peternak untuk mengadopsi cara olah kulit durian jadi pakan ternak, mengubah limbah menjadi berkah bagi peternakan mereka.

Jadi simak cara mengolah kulit durian selengkapnya berikut ini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Selasa (27/1/2026).

Kandungan Nutrisi Kulit Durian untuk Ternak

Kulit durian memiliki kandungan nutrien menarik, terutama sebagai sumber serat bagi ternak ruminansia. Dengan kandungan serat kasar mencapai 33,87%, kulit durian termasuk dalam kategori pakan sumber serat yang esensial untuk energi ruminansia, di mana bahan pakan dengan serat kasar lebih dari 18% digolongkan sebagai forage kering. Kandungan ini sangat penting untuk menjaga kesehatan pencernaan ternak.

Meskipun demikian, kandungan protein kasar kulit durian sebesar 6,23% masih lebih rendah dari kebutuhan protein ruminansia yang berkisar 11-12%. Oleh karena itu, kulit durian memerlukan suplementasi protein jika digunakan sebagai pakan utama. Di sisi lain, kulit durian mengandung 7,21% lemak kasar, yang cukup untuk memenuhi kebutuhan lemak ternak ruminansia sekitar 7-8%, menjadikannya sumber energi efisien.

Salah satu tantangan adalah kandungan lignin yang tinggi, yaitu 12,11%, yang dapat menghambat pencernaan selulosa dan hemiselulosa oleh mikroba rumen. Hal ini mengindikasikan perlunya perlakuan khusus untuk meningkatkan kecernaan kulit durian, seperti fermentasi atau perebusan, agar nutrisinya dapat dimanfaatkan secara optimal oleh ternak.

Perbandingan Nutrisi Kulit Durian dengan Jerami Padi

Kulit durian menunjukkan komposisi nutrien yang mirip dengan jerami padi, khususnya pada kandungan serat kasarnya. Serat kasar kulit durian berada dalam kisaran yang sama dengan jerami padi, menandakan kesamaan fraksi serat di antara keduanya. Ini menjadikan kulit durian sebagai alternatif pakan yang menjanjikan, terutama saat ketersediaan hijauan segar terbatas.

Bahkan, kulit durian memiliki keunggulan nutrisi dibandingkan jerami padi dalam beberapa aspek. Kandungan protein kasar kulit durian (6,23%) lebih tinggi daripada jerami padi (5,31%), dan lemak kasar kulit durian (7,21%) juga melampaui jerami padi (3,32%). Perbedaan ini menunjukkan bahwa kulit durian dapat memberikan kontribusi nutrisi yang lebih baik untuk ternak.

Kemiripan dan keunggulan ini menjadikan cara olah kulit durian jadi pakan ternak sebagai solusi strategis, khususnya di musim kemarau ketika hijauan segar sulit didapat. Dengan memanfaatkan kulit durian, peternak dapat menjaga asupan nutrisi ternak tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pakan konvensional yang mungkin lebih mahal.

Potensi Kulit Durian untuk Kebutuhan Ternak Nasional

Dengan potensi ketersediaan 124.494,22 ton bahan kering per tahun, kulit durian dapat memenuhi kebutuhan serat untuk sejumlah besar ternak ruminansia di Indonesia. Pemanfaatan limbah ini secara masif dapat berkontribusi pada kemandirian pakan nasional dan mengurangi ketergantungan pada pakan impor.

Secara spesifik, kulit durian berpotensi memenuhi kebutuhan serat untuk 37.487 ekor sapi jantan dewasa jika 100% pakan berasal dari kulit durian. Jika digunakan sebagai 20% dari ransum, kulit durian dapat memenuhi kebutuhan serat untuk 167.196 ekor sapi jantan dewasa penggemukan. Angka ini menunjukkan dampak signifikan terhadap populasi sapi potong.

Selain sapi, kulit durian juga cocok untuk ternak ruminansia kecil. Potensi ini dapat memenuhi kebutuhan serat untuk 268.567 ekor domba dewasa dan 37.898 ekor kerbau pekerja. Data ini menegaskan bahwa cara olah kulit durian jadi pakan ternak memiliki skala aplikasi yang luas, mencakup berbagai jenis ternak ruminansia.

Jenis Ternak yang Cocok Mengonsumsi Kulit Durian

Kulit durian sangat sesuai sebagai pakan sumber serat bagi ternak ruminansia seperti sapi, kambing, domba, dan kerbau. Sistem pencernaan ruminansia yang unik, dengan adanya rumen, mampu mencerna selulosa dan hemiselulosa dalam serat menjadi asam lemak terbang, yang merupakan sumber energi utama bagi ternak. Oleh karena itu, serat tinggi dalam kulit durian dapat dimanfaatkan secara optimal oleh kelompok ternak ini.

Sebaliknya, unggas dan babi tidak disarankan mengonsumsi kulit durian sebagai pakan. Hal ini karena sistem pencernaan non-ruminansia mereka tidak memiliki kemampuan untuk mencerna serat kasar dalam jumlah tinggi secara efisien. Pemberian kulit durian pada ternak non-ruminansia justru dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan penurunan penyerapan nutrisi.

Memahami jenis ternak yang cocok adalah kunci keberhasilan dalam menerapkan cara olah kulit durian jadi pakan ternak. Dengan memberikan pakan yang sesuai dengan sistem pencernaan ternak, peternak dapat memastikan kesehatan dan produktivitas optimal, sekaligus menghindari pemborosan dan masalah kesehatan pada ternak.

Tahap Awal Pengolahan, Seleksi dan Pembersihan

Langkah krusial dalam cara olah kulit durian jadi pakan ternak adalah seleksi dan koleksi yang cermat. Waktu terbaik untuk mengumpulkan kulit durian adalah saat musim panen, umumnya sekitar November hingga Februari di beberapa wilayah Indonesia, ketika pasokan melimpah dan harga cenderung lebih murah.

Penting untuk memilih kulit durian yang masih segar, tidak busuk, dan minimal kontaminasi dengan tanah atau kotoran lain. Hindari kulit yang sudah berjamur atau berbau tidak sedap, karena dapat membahayakan ternak. Siapkan karung atau wadah besar untuk menampung, serta sarung tangan untuk melindungi tangan dari duri tajam.

Setelah seleksi, pembersihan menyeluruh sangat diperlukan untuk menghilangkan kotoran, sisa daging buah, dan mikroba kontaminan. Pisahkan kulit durian dari sisa daging buah, lalu cuci dengan air mengalir hingga bersih. Jika perlu, buang duri yang terlalu keras atau tajam. Proses ini bertujuan mengurangi risiko kontaminasi bakteri patogen dan pembusukan yang tidak diinginkan.

Pencacahan untuk Efisiensi Pengolahan

Pencacahan kulit durian menjadi ukuran yang lebih kecil merupakan langkah penting dalam cara olah kulit durian jadi pakan ternak. Proses ini akan mempermudah tahapan pengeringan, fermentasi, dan secara signifikan meningkatkan efisiensi pencernaan oleh ternak. Ukuran ideal cacahan bervariasi tergantung metode pengolahan selanjutnya.

Untuk proses fermentasi, cacah kulit durian menjadi bagian berukuran 2-5 cm. Sementara itu, untuk pengeringan dan pembuatan tepung, ukuran cacahan yang lebih kecil, sekitar 1-2 cm, akan lebih efektif. Penggunaan mesin pencacah khusus limbah pertanian atau pisau besar yang tajam dapat mempercepat proses ini.

Semakin kecil ukuran cacahan, semakin luas permukaan kulit durian yang terpapar, sehingga proses pengolahan seperti pengeringan atau fermentasi akan berlangsung lebih cepat dan merata. Hal ini memastikan kualitas pakan yang dihasilkan lebih homogen dan nutrisinya lebih mudah diakses oleh sistem pencernaan ternak.

Metode Fermentasi dengan EM4, Populer dan Efektif

Fermentasi adalah salah satu cara olah kulit durian jadi pakan ternak yang sangat direkomendasikan karena dapat meningkatkan nilai nutrisi, kecernaan, dan mengurangi senyawa anti-nutrisi seperti tanin dan lignin. Metode ini memiliki tingkat kesulitan sedang dengan waktu pengolahan sekitar 3-7 hari.

Untuk memulai, siapkan 10 kg kulit durian cacah, 1 kg dedak/bekatul sebagai sumber karbon, 100 ml EM4 Peternakan, dan 100 ml tetes tebu/molase (opsional) sebagai sumber energi mikroba, serta 500 ml air bersih. Campurkan EM4, tetes tebu, dan air untuk membuat larutan starter, lalu diamkan sebentar agar mikroba aktif.

Campurkan kulit durian cacah dengan dedak/bekatul secara merata. Semprotkan larutan starter secara perlahan sambil terus diaduk hingga kelembaban merata (sekitar 30-40%, terasa lembab namun tidak menetes). Masukkan campuran ke dalam drum atau kantong plastik kedap udara, padatkan untuk mengeluarkan udara, lalu tutup rapat dan biarkan selama 3-7 hari. Hasil fermentasi yang berhasil akan memiliki aroma asam segar seperti tape dan tekstur lebih lunak. Kulit durian fermentasi dapat diberikan hingga 40% dari total ransum harian untuk sapi, dan sekitar 30% untuk kambing/domba.

Pelunakan dengan Perebusan untuk Pakan Segar

Metode perebusan merupakan cara olah kulit durian jadi pakan ternak yang cepat untuk mengurangi zat anti-nutrisi seperti tanin dan melunakkan tekstur kulit durian, sehingga lebih mudah dicerna oleh ternak. Proses ini relatif mudah dan membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam.

Langkah-langkahnya meliputi merebus kulit durian cacah dalam air mendidih selama 1-2 jam hingga teksturnya menjadi sangat lunak. Setelah itu, tiriskan air rebusan dan dinginkan kulit durian yang sudah lunak. Air rebusan ini sebaiknya dibuang karena mengandung zat anti-nutrisi yang telah larut.

Untuk meningkatkan nilai nutrisi, campurkan kulit durian rebus dengan konsentrat lain seperti dedak atau jagung giling. Pakan ini harus diberikan kepada ternak dalam keadaan segar, karena pakan yang direbus tidak tahan lama dan harus habis dalam satu hari untuk menghindari pembusukan. Keunggulan metode ini adalah kecepatan dan efektivitas dalam mengurangi tanin secara signifikan.

Pembuatan Tepung Kulit Durian untuk Penyimpanan Jangka Panjang

Pembuatan tepung kulit durian adalah cara olah kulit durian jadi pakan ternak yang memungkinkan penyimpanan jangka panjang dan fleksibilitas dalam pencampuran pakan. Metode ini tergolong mudah dengan waktu pengolahan sekitar 4-7 hari, termasuk proses pengeringan.

Langkah pertama adalah mengeringkan kulit durian cacah di bawah sinar matahari langsung selama 3-4 hari, atau menggunakan alat pengering jika tersedia. Pastikan kulit durian benar-benar kering dengan kadar air di bawah 14%, ciri-cirinya adalah mudah patah dan renyah saat dipegang.

Setelah kering, giling kulit durian menggunakan mesin penggiling hingga menjadi tepung halus. Tepung kulit durian kemudian dapat disimpan dalam karung kering atau wadah kedap udara di tempat yang sejuk dan kering. Tepung ini dapat dicampurkan dengan pakan konsentrat lainnya dengan proporsi 10-30% dari total ransum dan memiliki masa simpan 3-6 bulan jika disimpan dengan baik.

Inovasi Pakan, Pembuatan Wafer Kulit Durian

Pembuatan wafer pakan adalah bentuk cara olah kulit durian jadi pakan ternak yang menghasilkan pakan padat, praktis, mudah disimpan, dan diangkut, serta memiliki masa simpan lebih lama. Metode ini memiliki tingkat kesulitan sedang dan membutuhkan waktu sekitar 2-3 hari.

Untuk membuat wafer, campurkan kulit durian cacah (bisa yang sudah difermentasi atau dikeringkan) dengan bahan perekat seperti tepung kanji atau tepung tapioka, dan sedikit air hingga membentuk adonan yang bisa dicetak. Adonan kemudian dicetak menggunakan alat press wafer hingga padat.

Setelah dicetak, keringkan wafer pakan di bawah sinar matahari atau oven hingga kadar air di bawah 15%. Terakhir, kemas wafer pakan dalam plastik kedap udara untuk penyimpanan. Wafer pakan memiliki kepadatan nutrisi yang baik dan potensi nilai jual yang menjanjikan, berkisar Rp 3.000-5.000 per kg.

Silase Kulit Durian, Pengawetan Pakan Skala Besar

Silase adalah metode pengawetan pakan dengan fermentasi dalam kondisi anaerob (tanpa udara), memungkinkan penyimpanan dalam jumlah besar untuk jangka waktu yang lama. Ini merupakan cara olah kulit durian jadi pakan ternak dengan tingkat kesulitan tinggi dan membutuhkan waktu 21-30 hari.

Proses dimulai dengan menyiapkan silo (tempat penyimpanan kedap udara) atau bale plastik khusus silase. Isi silo dengan lapisan kulit durian cacah setebal sekitar 20 cm, lalu padatkan dengan baik untuk mengeluarkan udara sebanyak mungkin. Ulangi langkah ini hingga silo terisi penuh.

Tutup rapat silo dengan plastik dan berikan pemberat di atasnya untuk memastikan kondisi anaerob. Biarkan proses silase berlangsung minimal 3 minggu. Silase yang berhasil akan memiliki aroma asam segar, warna coklat kehijauan, dan tekstur yang lunak, sangat cocok untuk persediaan pakan saat musim paceklik hijauan.

Estimasi Biaya Peralatan untuk Pengolahan Kulit Durian

Untuk peternak skala rumahan yang mengolah kurang dari 100 kg kulit durian, peralatan yang dibutuhkan relatif sederhana dan terjangkau. Estimasi biaya meliputi pisau besar seharga Rp 50.000, EM4 Peternakan sekitar Rp 25.000 per botol, dan drum plastik atau tong kedap udara seharga Rp 150.000. Total estimasi biaya awal untuk skala ini adalah sekitar Rp 225.000.

Bagi usaha skala yang lebih besar, dengan kapasitas 500-1000 kg, investasi peralatan akan lebih signifikan. Diperlukan mesin pencacah dengan estimasi harga Rp 2.500.000, mesin penggiling untuk pembuatan tepung seharga Rp 3.000.000, dan terpal pengering sekitar Rp 500.000. Total estimasi biaya untuk skala usaha ini adalah sekitar Rp 6.000.000.

Investasi untuk skala usaha dapat dipertimbangkan melalui skema pembiayaan seperti Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) jika diperlukan, menunjukkan bahwa cara olah kulit durian jadi pakan ternak dapat diadaptasi sesuai dengan skala operasional dan kapasitas finansial peternak atau pengusaha.

FAQ

Q: Apakah semua jenis ternak bisa makan kulit durian?

A: Tidak. Hanya ternak ruminansia (sapi, kambing, domba, kerbau) yang dapat mencerna serat tinggi dalam kulit durian secara efisien. Unggas dan babi tidak disarankan karena sistem pencernaannya tidak cocok.

Q: Berapa lama kulit durian fermentasi bisa bertahan?

A: Kulit durian fermentasi dapat bertahan 1-2 minggu di suhu ruang, dan lebih lama (1-2 bulan) jika disimpan di tempat sejuk. Ciri kerusakan adalah bau busuk atau munculnya jamur.

Q: Apakah perlu direbus dulu sebelum fermentasi?

A: Sangat disarankan untuk merebus kulit durian sebelum fermentasi. Perebusan mengurangi kandungan tanin dan melunakkan serat, sehingga proses fermentasi lebih efektif dan pakan lebih mudah dicerna.

Q: Bagaimana cara tahu fermentasi berhasil?

A: Fermentasi yang berhasil ditandai aroma asam segar seperti tape, tekstur lebih lunak, warna coklat merata, dan tidak ada jamur atau bau busuk.

Q: Berapa persen campuran maksimal kulit durian dalam ransum?

A: Kulit durian olahan sebaiknya diberikan sebagai campuran, bukan pakan tunggal. Maksimal 40% dari total ransum harian untuk sapi, dan sekitar 30% untuk kambing/domba, dikombinasikan dengan pakan lain.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |