Liputan6.com, Jakarta Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu momen penting bagi umat Islam di seluruh dunia untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW. Setiap tahun, pada tanggal 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriah, umat Islam memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW. Momen ini menjadi kesempatan berharga untuk meneladani akhlak mulia dan perjuangan beliau dalam menyebarkan risalah Islam.
Perayaan Maulid Nabi tidak hanya sebatas mengenang sejarah, tetapi juga menjadi wujud kecintaan dan penghormatan umat kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui peringatan ini, umat Islam diajak untuk merenungkan nilai-nilai kehidupan yang diajarkan Rasulullah serta memperkuat iman dan ketakwaan. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah acara rutin yang dilaksanakan oleh mayoritas kaum muslimin untuk mengingat, menghayati, dan memuliakan kelahiran Rasulullah.
Lalu, kapan hari Maulid Nabi 2025 akan diperingati? Terdapat sedikit perbedaan penanggalan antara beberapa organisasi Islam di Indonesia, meskipun hal ini tidak mengurangi esensi perayaan yang akan menjadi hari libur nasional. Artikel ini akan membahas detail tanggal, sejarah, amalan, dan tradisi unik Maulid Nabi di Indonesia. Jadi simak informasi selengkapnya berikut ini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Selasa (26/8/2025).
Kapan Hari Maulid Nabi 2025?
Terdapat perbedaan penanggalan Maulid Nabi 2025 antara beberapa organisasi Islam di Indonesia, meskipun perbedaan ini umumnya tidak menjadi masalah karena umat Islam di Indonesia sering merayakan Maulid Nabi sepanjang bulan Rabiul Awal. Penting untuk mengetahui kapan hari Maulid Nabi 2025 agar dapat mempersiapkan diri untuk peringatan ini.
Menurut kalender Hijriah versi Kementerian Agama (Kemenag) RI dan Nahdlatul Ulama (NU), 1 Rabiul Awal 1447 H jatuh pada Senin, 25 Agustus 2025. Dengan perhitungan ini, 12 Rabiul Awal 1447 H, yang dikenal sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, bertepatan pada Jumat, 5 September 2025. Penetapan tanggal ini menjadi acuan resmi bagi sebagian besar masyarakat dan lembaga pemerintah.
Sementara itu, menurut Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang digunakan oleh Muhammadiyah, 1 Rabiul Awal ditetapkan sehari lebih awal, yaitu pada Minggu, 24 Agustus 2025. Dengan demikian, peringatan Maulid Nabi versi Muhammadiyah jatuh pada Kamis, 4 September 2025. Perbedaan ini muncul karena variasi dalam metode penentuan awal bulan Hijriah, baik melalui hisab, rukyat, maupun kalender global.
Pemerintah Indonesia telah menetapkan Maulid Nabi sebagai hari libur nasional pada Jumat, 5 September 2025. Keputusan ini tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri, yakni Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Dengan jatuhnya hari libur pada Jumat, masyarakat Indonesia juga akan menikmati akhir pekan panjang atau long weekend.
Sejarah dan Makna Maulid Nabi
Tradisi memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW mulai dikenal pada masa Dinasti Fatimiyah di Mesir pada abad ke-10 atau ke-11 Masehi. Pada masa itu, perayaan Maulid Nabi dilakukan dengan tujuan memperingati kelahiran Rasulullah sekaligus mempererat persatuan umat Islam. Raja al-Muiz Li Dinillah dari Dinasti Fatimiyah disebut sebagai orang pertama yang merayakan Maulid Nabi. Peringatan ini awalnya bersifat lokal dan tidak menyebar luas.
Tradisi ini kemudian menyebar ke berbagai wilayah dunia Islam dan diadopsi oleh berbagai budaya Muslim di Asia, Afrika, dan Eropa. Setelah Dinasti Fatimiyah berakhir dan digantikan oleh Dinasti Ayyubiyah, peringatan Maulid Nabi kembali dilaksanakan dengan lebih megah dan dalam jangka waktu yang lebih lama. Sultan Salahuddin Al-Ayyubi mempopulerkan perayaan Maulid Nabi untuk memperkuat semangat keagamaan dan persatuan umat Islam dalam menghadapi Perang Salib.
Beberapa ulama menyebut bahwa peringatan Maulid merupakan bentuk ekspresi cinta umat terhadap Rasulullah. Menurut Imam Jalaluddin al-Suyuti, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW adalah amalan yang baik selama diisi dengan kegiatan yang sesuai dengan ajaran Islam, seperti pembacaan Al-Qur'an, salawat, dan pengajian. Imam Ibn Hajar al-Asqalani juga menyebut bahwa memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW adalah salah satu cara umat Islam untuk mengenang kelahiran orang yang paling dicintai Allah.
Meskipun tidak ada nash Al-Qur'an atau hadis yang secara eksplisit memerintahkan perayaan Maulid Nabi, para ulama memperbolehkan perayaannya sebagai bagian dari kebiasaan baik selama tidak melanggar syariat. Mayoritas ulama dari empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hanbali) menyatakan bahwa hukum memperingati Maulid Nabi adalah bid'ah hasanah (inovasi yang baik).
Amalan yang Dianjurkan saat Maulid Nabi
Peringatan Maulid Nabi menjadi momentum untuk memperkuat iman, memperbanyak amal, serta menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Ada berbagai amalan yang dianjurkan untuk dilakukan dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, dengan tujuan meningkatkan kecintaan umat kepada Nabi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
- Memperbanyak Sholawat dan Dzikir: Salah satu amalan yang sangat dianjurkan saat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW adalah memperbanyak pembacaan sholawat. Dalam hadis, Rasulullah bersabda, "Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan memberikan rahmat kepadanya sepuluh kali" (HR. Muslim). Sholawat adalah bentuk penghormatan dan cinta kepada Nabi Muhammad yang dapat memperkuat hubungan spiritual antara umat dan Rasulullah. Selain itu, berdzikir juga menjadi amalan yang kerap dilakukan sebagai wujud cinta dan penghormatan kepada Nabi.
- Membaca Sirah Nabi dan Kisah Perjuangan Rasulullah: Mengingat sejarah kehidupan Rasulullah, dari kelahiran hingga wafat, adalah salah satu cara untuk meneladani sifat-sifat mulia beliau. Di berbagai majelis peringatan Maulid, seringkali diperdengarkan kisah-kisah Nabi Muhammad, seperti akhlak, kepemimpinan, serta perjuangan beliau dalam menegakkan Islam. Hal ini bertujuan agar umat dapat mengambil inspirasi dari perjalanan hidup Rasulullah dalam menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari.
- Bersedekah dan Berbagi kepada Sesama: Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW juga menjadi momen yang baik untuk meningkatkan amalan sedekah dan berbagi dengan orang lain, khususnya kaum dhuafa. Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai sosok yang sangat dermawan dan peduli terhadap fakir miskin. Banyak umat Islam yang bersedekah, baik berupa makanan, santunan, maupun kegiatan sosial lainnya, sebagai bentuk implementasi akhlak mulia Rasulullah SAW.
- Puasa Sunnah: Beberapa orang juga menunaikan puasa sunnah pada hari Senin, yang merupakan hari kelahiran Nabi, sebagai wujud syukur sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Muslim. Ketika ditanya tentang puasa hari Senin, Rasulullah SAW menjawab, "Karena saat itu aku dilahirkan dan saat itu aku dibangkitkan" (HR. Muslim).
- Meningkatkan Ibadah dan Membaca Al-Qur'an: Maulid Nabi adalah waktu yang tepat untuk meningkatkan ibadah kepada Allah. Selain pembacaan salawat, dianjurkan pula memperbanyak membaca Al-Qur'an, melaksanakan shalat sunnah, serta berdzikir. Membaca Al-Qur’an, khususnya ayat-ayat yang berkaitan dengan akhlak Rasulullah, juga menjadi amalan yang kerap dilakukan. Amalan-amalan ini dilakukan sebagai bentuk syukur atas kelahiran Nabi Muhammad, yang membawa cahaya Islam ke seluruh dunia.
Tradisi Maulid Nabi di Indonesia
Di Indonesia, peringatan Maulid Nabi seringkali disertai tradisi lokal yang unik dan berlangsung meriah serta penuh makna. Kegiatan-kegiatan ini mempererat ukhuwah Islamiyah serta menumbuhkan rasa kebersamaan di masyarakat.
- Grebeg Maulud (Yogyakarta/Solo): Di Yogyakarta dan Solo, perayaan Maulid Nabi disemarakkan dengan tradisi Grebeg Maulud. Tradisi ini melibatkan prosesi gunungan, yaitu arak-arakan hasil bumi yang disusun menyerupai gunung, yang kemudian diperebutkan oleh masyarakat sebagai bentuk keberkahan.
- Endog-endogan (Banyuwangi): Di Banyuwangi, terdapat tradisi Endog-endogan. Tradisi ini melibatkan telur yang dihias dan ditancapkan pada batang pisang atau bambu, kemudian diarak dan dibagikan kepada masyarakat.
- Weh-wehan (Kendal): Kendal memiliki tradisi Weh-wehan, di mana masyarakat saling berbagi makanan dan hasil bumi sebagai bentuk kebersamaan dan syukur.
Selain tradisi-tradisi khas daerah tersebut, masyarakat Indonesia umumnya menggelar pengajian, majelis ilmu, hingga pembacaan sirah Nabi Muhammad SAW. Tak jarang pula disertai dengan ceramah, tafsir, serta motivasi dari kisah hidup Rasulullah sebagai teladan utama umat Islam. Semua kegiatan tersebut tidak hanya memperkuat spiritualitas umat, tetapi juga memperkaya khazanah budaya Islam Nusantara.
Keutamaan Merayakan Maulid Nabi
Merayakan Maulid Nabi memiliki berbagai keutamaan bagi umat Islam. Peringatan ini menjadi sarana bagi umat Islam untuk mengekspresikan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.
- Menjadi Teman Rasulullah di Surga: Membelanjakan satu dirham untuk kegiatan pembacaan Maulid Nabi diyakini dapat menjadikan seseorang teman Rasulullah di surga. Sayyidina Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata, "Barangsiapa membelanjakan satu dirham (uang emas) untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi Muhammad, maka ia akan menjadi temanku di surga".
- Mendapat Pahala Setara Perang Badar dan Hunain: Membelanjakan satu dirham untuk pembacaan Maulid dianggap setara dengan ikut serta dalam perang Badar dan Hunain. Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu menyatakan, "Barangsiapa membelanjakan satu dirham (uang mas) untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka seakan-akan ia ikut-serta menyaksikan perang Badar dan Hunain".
- Masuk Surga Tanpa Hisab: Orang yang ikut mengagungkan Maulid Nabi dan menjadi penyebab terlaksananya pembacaan Maulid diyakini akan dimasukkan ke surga tanpa hisab. Sayyidina Ali radhiyallahu 'anhu berkata, "Barangsiapa mengagungkan Maulid Nabi shalallallahu 'alaihi wasallam, dan ia menjadi sebab dilaksanakannya pembacaan Maulid Nabi, maka tidaklah ia keluar dari dunia melainkan dengan keimanan dan akan dimasukkan ke dalam surga".
- Menghidupkan Nilai-nilai Islam dalam Kehidupan: Peringatan Maulid Nabi membantu umat Islam meneladani akhlak Rasulullah dan menghidupkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berkata, "Barangsiapa yang mengagungkan kelahiran Nabi Muhammad SAW, maka sungguh dia telah menghidupkan Islam".
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada tahun 2025, baik yang jatuh pada Kamis, 4 September menurut Muhammadiyah, maupun Jumat, 5 September menurut Kemenag dan NU, bukanlah tentang perbedaan tanggal semata. Yang terpenting adalah semangat untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW dan menjadikan perayaan ini sebagai momentum berharga.
Maulid Nabi adalah kesempatan emas untuk memperkuat iman, memperbanyak amal kebaikan, serta menumbuhkan kecintaan yang mendalam kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan menghormati perbedaan penanggalan dan fokus pada esensi perayaan, umat Islam dapat bersama-sama mengambil hikmah dan keberkahan dari kelahiran sang teladan utama.
FAQ
Q: Kapan hari Maulid Nabi 2025?
A: Menurut Kementerian Agama (Kemenag) dan Nahdlatul Ulama (NU), Maulid Nabi 2025 jatuh pada Jumat, 5 September 2025. Muhammadiyah merayakannya pada Kamis, 4 September 2025.
Q: Mengapa ada perbedaan tanggal Maulid Nabi?
A: Perbedaan tanggal muncul karena variasi dalam metode penentuan awal bulan Hijriah, yaitu antara metode hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan hilal) serta kalender global.
Q: Apa hukum merayakan Maulid Nabi?
A: Mayoritas ulama membolehkan perayaan Maulid Nabi sebagai bid'ah hasanah (inovasi yang baik) selama tidak melanggar syariat Islam.
Q: Apa saja amalan yang dianjurkan saat Maulid Nabi?
A: Amalan yang dianjurkan saat Maulid Nabi antara lain memperbanyak sholawat dan dzikir, membaca sirah Nabi, bersedekah, puasa sunnah, serta meningkatkan ibadah dan membaca Al-Qur'an.
Q: Apakah Maulid Nabi 2025 libur nasional?
A: Ya, Maulid Nabi 2025 ditetapkan sebagai hari libur nasional pada Jumat, 5 September 2025, berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri.