Liputan6.com, Jakarta - Niat untuk menyelesaikan pekerjaan sebenarnya sudah ada, laptop sudah dibuka, bahkan daftar tugas sudah dibuat. Namun, tiba-tiba muncul keinginan mengecek ponsel, membuat kopi, merapikan meja, atau mengerjakan hal kecil lain yang terasa lebih menyenangkan. Tanpa terasa, satu jam berlalu dan pekerjaan utama masih berada di tempat yang sama.
Kebiasaan menunda pekerjaan atau prokrastinasi tidak selalu berarti seseorang malas atau tidak memiliki kemauan. Sering kali, masalah justru muncul karena tugas terasa terlalu berat, membosankan, membingungkan, atau memicu rasa tidak nyaman. Karena itu, tips melatih otak agar berhenti menunda pekerjaan sebaiknya tidak hanya mengandalkan motivasi, tetapi juga mengubah cara seseorang merespons tugas sejak beberapa menit pertama.
Kenapa Otak Cenderung Memilih Menunda Pekerjaan?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4845604/original/2700_1716902848-sad-female-workaholic-keeps-hands-chin-busy-making-project-work-studies-papers-wears-elegant-white-shirt-sits-desktop-unknown-people-stretch-hands-with-notes-alarm-clock-smartphone.jpg)
Perbesar
Menunda pekerjaan sering memberikan rasa lega dalam jangka pendek. Ketika sebuah tugas terasa sulit atau tidak menyenangkan, beralih ke aktivitas lain membuat rasa tidak nyaman tersebut seolah menghilang. Masalahnya, rasa lega ini dapat membuat pola menghindari pekerjaan semakin mudah diulangi ketika menghadapi tugas serupa.
Kajian mengenai prokrastinasi dan regulasi emosi menjelaskan bahwa penundaan dapat berfungsi sebagai cara memperbaiki suasana hati untuk sementara. Seseorang menghindari tugas yang memunculkan stres, bosan, takut gagal, atau emosi negatif lainnya, meski keputusan tersebut justru dapat menambah tekanan pada diri di kemudian hari.
Karena itu, istilah "melatih otak" dalam pembahasan ini bukan berarti ada trik instan untuk mengubah fungsi otak. Yang dilatih adalah pola respons terhadap pekerjaan: mengenali dorongan untuk menghindar, memperkecil hambatan untuk memulai, membuat tindakan awal menjadi lebih jelas, serta mengulang rutinitas yang membantu tubuh dan pikiran masuk ke mode bekerja.
1. Ubah Target Besar Menjadi Tindakan Pertama yang Sangat Kecil
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3150149/original/058841100_1591866008-young-woman-office-working-with-laptop_109710-5077.jpg)
Perbesar
Kalimat seperti "hari ini harus menyelesaikan laporan" terdengar sederhana, tetapi sebenarnya masih terlalu luas. Otak harus memikirkan banyak hal sekaligus, mulai dari membuka data, menentukan struktur, menulis, mengecek angka, mengedit, hingga menyerahkan hasilnya. Ketika seluruh proses tersebut dibayangkan bersamaan, pekerjaan dapat terasa jauh lebih berat daripada kenyataannya.
Cobalah mengubah target menjadi tindakan pertama yang nyaris tidak membutuhkan banyak keputusan. Alih-alih menulis "kerjakan laporan", tulis "buka dokumen laporan dan buat tiga poin pembahasan". Untuk tugas rumah, jangan menulis "bersihkan rumah", tetapi mulai dari "masukkan pakaian kotor ke keranjang". Semakin konkret langkah pertama, semakin sedikit energi yang diperlukan untuk menentukan apa yang harus dilakukan.
Cara ini juga membantu ketika masalah utamanya adalah tugas yang terasa tidak menyenangkan. Tugas yang membosankan, membuat frustrasi, terlalu sulit, atau tidak jelas cenderung lebih mudah dihindari. Memecahnya menjadi langkah kecil membuat perhatian hanya tertuju pada pekerjaan yang ada tepat di depan mata, bukan seluruh beban yang masih harus diselesaikan.
2. Latih Kebiasaan Memulai Sebelum Menunggu Motivasi
Salah satu jebakan paling umum adalah menunggu sampai muncul keinginan untuk bekerja. Rasanya seperti pekerjaan akan menjadi lebih mudah jika mood sudah bagus, inspirasi muncul, atau energi sedang tinggi. Sayangnya, kondisi tersebut tidak selalu datang sesuai jadwal, sehingga pekerjaan justru terus bergeser ke waktu berikutnya.
Untuk melatih pola baru, buat aturan sederhana bahwa tugas hanya perlu dikerjakan selama 10 menit terlebih dahulu. Selama waktu tersebut, tidak perlu memikirkan apakah pekerjaan akan selesai atau tidak. Targetnya hanya duduk, membuka materi, dan mengerjakan bagian yang sudah ditentukan tanpa berpindah ke aktivitas lain.
Setelah 10 menit, keputusan untuk melanjutkan dapat dibuat kembali. Jika tubuh memang sedang sangat lelah, pekerjaan bisa dihentikan dan dijadwalkan ulang dengan lebih realistis. Namun, jika hambatan terbesar ternyata hanya berada pada beberapa menit pertama, momentum yang sudah terbentuk dapat membuat pekerjaan terasa lebih mudah untuk diteruskan.
3. Gunakan Aturan "Jika-Maka" agar Tidak Terlalu Banyak Bernegosiasi dengan Diri Sendiri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816327/original/012713700_1714377958-IMG_2308.jpeg)
Perbesar
Banyak pekerjaan tertunda karena setiap hari seseorang harus kembali membuat keputusan: mau mulai kapan, mengerjakan di mana, atau apakah sebaiknya menunggu nanti. Semakin banyak ruang untuk bernegosiasi dengan diri sendiri, semakin mudah pula muncul alasan untuk memindahkan pekerjaan.
Buat rencana dalam pola sederhana "jika-maka". Misalnya, "jika selesai sarapan, maka saya membuka laptop dan mengerjakan artikel selama 30 menit" atau "jika jam menunjukkan pukul 09.00, maka ponsel diletakkan di luar jangkauan dan pekerjaan utama dimulai". Kondisi pemicu dan tindakan yang mengikutinya dibuat sejelas mungkin.
Pola seperti ini membantu karena seseorang tidak perlu mengambil keputusan yang sama berulang kali. Waktu, tempat, atau aktivitas sebelumnya sudah menjadi tanda untuk mulai bekerja. Jika dilakukan secara konsisten, transisi dari aktivitas sehari-hari menuju waktu kerja dapat terasa semakin otomatis dan tidak terlalu bergantung pada motivasi sesaat.
4. Kurangi Hambatan Sebelum Waktu Kerja Dimulai
Kadang-kadang yang membuat pekerjaan tertunda bukan tugas utamanya, melainkan terlalu banyak langkah kecil sebelum bisa mulai. Harus mencari dokumen, mengisi daya laptop, menemukan catatan, memilih tempat bekerja, hingga membuka berbagai aplikasi dapat memberikan cukup banyak kesempatan untuk beralih ke aktivitas lain.
Karena itu, persiapkan kebutuhan kerja sebelum sesi dimulai. Dokumen yang akan digunakan bisa diletakkan di satu folder, tab penting sudah dibuka, meja kerja dibersihkan secukupnya, air minum disiapkan, dan ponsel ditempatkan di lokasi yang tidak mudah diraih. Tujuannya bukan menciptakan meja kerja sempurna, melainkan memperpendek jarak antara niat dan tindakan.
Prinsip yang sama dapat digunakan untuk pekerjaan rutin. Jika setiap pagi harus menulis, misalnya, tinggalkan dokumen terakhir dalam kondisi siap dilanjutkan dan buat catatan singkat mengenai bagian berikutnya. Saat kembali bekerja, tidak perlu menghabiskan waktu mengingat apa yang terakhir dilakukan dan dari mana harus memulai.
5. Berhenti Menggunakan Pekerjaan Kecil sebagai Cara Menghindari Pekerjaan Utama
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5254227/original/006894500_1750080925-woman-writing-papers-sitting-table.jpg)
Perbesar
Ada jenis prokrastinasi yang sekilas terlihat sangat produktif. Kotak masuk email dibersihkan, meja dirapikan, daftar pekerjaan diperbarui, file diberi nama baru, dan sejumlah tugas kecil berhasil diselesaikan. Masalahnya, pekerjaan yang paling penting justru belum disentuh sama sekali.
Sebelum memulai hari, tentukan satu tugas yang paling membutuhkan perhatian. Bukan berarti tugas lain harus diabaikan, tetapi pekerjaan utama sebaiknya mendapatkan waktu ketika energi dan perhatian masih cukup tersedia. Email, pesan, rapat kecil, atau pekerjaan administratif dapat ditempatkan setelah blok pekerjaan tersebut.
Cara praktisnya adalah menanyakan satu hal: "Jika hari ini hanya satu pekerjaan yang benar-benar maju, pekerjaan mana yang paling memberikan dampak?" Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat dijadikan prioritas pertama. Dengan begitu, rasa sibuk tidak mudah disalahartikan sebagai kemajuan yang sebenarnya.
6. Buat Gangguan Digital Sedikit Lebih Sulit Diakses
Ponsel menjadi salah satu bentuk gangguan yang mudah muncul ketika pekerjaan mulai terasa membosankan. Membuka satu notifikasi dapat berubah menjadi membaca percakapan, melihat media sosial, kemudian berpindah ke video pendek tanpa benar-benar direncanakan. Beberapa menit dapat berubah menjadi waktu yang cukup panjang sebelum akhirnya kembali ke pekerjaan.
Tidak harus menghilangkan seluruh aplikasi atau mematikan ponsel sepanjang hari. Cukup buat akses menjadi sedikit lebih sulit selama blok kerja. Ponsel dapat diletakkan beberapa meter dari meja, notifikasi nonpenting dimatikan, akun media sosial dikeluarkan dari peramban komputer, atau aplikasi tertentu dibatasi selama jam produktif.
Tujuannya adalah menciptakan jeda kecil antara dorongan dan tindakan. Ketika untuk membuka media sosial seseorang harus berdiri, mengambil ponsel, lalu membuka aplikasi secara sengaja, ada kesempatan untuk menyadari bahwa dirinya sedang mencoba menghindari pekerjaan. Jeda beberapa detik tersebut dapat menjadi ruang untuk memilih kembali tugas yang seharusnya dikerjakan.
7. Catat Kemajuan agar Pekerjaan Tidak Terasa Seolah Tidak Pernah Selesai
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4674184/original/034281600_1701745515-businesswoman-corporate-suit-writes-down-smth-works-ideas-notebook-sits-outside-city-cen_1_.jpg)
Perbesar
Pekerjaan besar mudah terasa melelahkan ketika perhatian hanya tertuju pada bagian yang belum selesai. Setelah mengerjakan dua dari sepuluh bagian, pikiran mungkin tetap terpaku pada delapan bagian yang tersisa. Akibatnya, usaha yang sudah dilakukan terasa kurang berarti dan motivasi untuk melanjutkannya dapat menurun.
Cobalah membuat kemajuan terlihat. Gunakan checklist sederhana, coret tugas yang selesai, catat jumlah halaman yang sudah dibaca, atau tandai bagian proyek yang sudah dikerjakan. Tidak perlu membuat sistem produktivitas yang rumit. Sistem terbaik justru yang cukup sederhana untuk digunakan secara konsisten tanpa menambah pekerjaan baru.
Kemajuan yang terlihat juga memberikan informasi penting mengenai kapasitas kerja sebenarnya. Setelah beberapa hari, seseorang dapat mengetahui apakah target hariannya masuk akal atau terlalu besar. Hal ini membantu mengurangi pola membuat rencana berlebihan pada pagi hari, lalu merasa gagal ketika sebagian besar daftar pekerjaan belum terselesaikan pada malam hari.
8. Gunakan Hadiah Kecil Setelah Menyelesaikan Blok Kerja
Pekerjaan dengan manfaat jangka panjang sering kalah menarik dibandingkan kesenangan yang bisa diperoleh sekarang. Menyelesaikan laporan mungkin baru terasa manfaatnya beberapa hari kemudian, sementara membuka media sosial, menonton video, atau bermain gim memberikan hiburan dalam hitungan detik.
Karena itu, kesenangan tidak harus dihilangkan sepenuhnya. Justru gunakan sebagai hadiah setelah menyelesaikan blok kerja tertentu. Misalnya, setelah fokus selama 30 hingga 45 menit, berikan waktu beberapa menit untuk membuat kopi, berjalan sebentar, mendengarkan musik, atau melakukan aktivitas ringan yang disukai.
Bedakan hadiah dengan gangguan yang tidak memiliki batas. Jika beristirahat menggunakan media sosial, tentukan durasinya sebelum mulai. Tujuannya adalah membangun pola sederhana bahwa bagian pekerjaan perlu diselesaikan terlebih dahulu sebelum berpindah ke aktivitas menyenangkan, bukan menjadikan hiburan sebagai cara untuk terus menghindari pekerjaan.
9. Jangan Membuat Jadwal yang Terlalu Penuh
Menunda pekerjaan terkadang muncul karena jumlah tugas memang tidak realistis. Jika satu hari diisi sepuluh pekerjaan besar sementara kapasitas sebenarnya hanya memungkinkan tiga atau empat, daftar tugas akan selalu terlihat tertinggal. Lama-kelamaan, melihat daftar tersebut saja sudah cukup untuk membuat seseorang enggan memulai.
Bedakan antara tugas wajib, tugas yang sebaiknya dilakukan, dan tugas tambahan. Sisakan ruang untuk pekerjaan yang membutuhkan waktu lebih lama dari perkiraan, rapat mendadak, perjalanan, makan, hingga istirahat. Jadwal yang memiliki ruang kosong justru sering lebih mudah dipertahankan dibandingkan agenda yang terisi penuh dari pagi sampai malam.
Perhatikan pula pola energi pribadi. Pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi dapat ditempatkan pada jam ketika tubuh masih cukup segar, sedangkan tugas administratif dilakukan ketika kemampuan fokus mulai menurun. Produktivitas bukan hanya soal memasukkan sebanyak mungkin pekerjaan ke kalender, tetapi menempatkan pekerjaan pada kondisi yang memungkinkan untuk benar-benar dikerjakan.
10. Cari Penyebabnya Jika Kebiasaan Menunda Terjadi Hampir pada Semua Hal
Teknik produktivitas dapat membantu, tetapi tidak setiap kasus prokrastinasi selesai dengan timer, checklist, atau mematikan notifikasi. Jika hampir semua pekerjaan terasa sulit dimulai, coba perhatikan apa yang sebenarnya muncul beberapa saat sebelum keputusan untuk menunda dibuat.
Ada orang yang menghindari tugas karena takut hasilnya tidak sempurna. Ada pula yang kebingungan menentukan langkah pertama, merasa terlalu lelah, kehilangan minat, atau mengalami tekanan berkepanjangan. Penyebab yang berbeda membutuhkan pendekatan yang berbeda pula. Perfeksionisme, misalnya, mungkin lebih terbantu dengan menetapkan standar "cukup baik" untuk versi pertama daripada terus menunggu kondisi ideal.
Jika kesulitan memulai atau menyelesaikan aktivitas sudah berlangsung lama, muncul di banyak bagian kehidupan, serta mengganggu pekerjaan, pendidikan, hubungan, atau aktivitas sehari-hari secara signifikan, mempertimbangkan bantuan profesional dapat menjadi pilihan. Prokrastinasi tidak sebaiknya digunakan sendiri untuk mendiagnosis kondisi tertentu karena perilaku menunda dapat muncul akibat banyak faktor yang berbeda.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Tips Melatih Otak
Mulailah dari tindakan paling kecil yang dapat dilakukan dalam beberapa menit, seperti membuka dokumen dan menulis satu poin. Target awalnya adalah memulai, bukan langsung menyelesaikan semuanya.
2. Apakah prokrastinasi sama dengan malas?
Tidak selalu. Prokrastinasi dapat terjadi ketika seseorang sebenarnya ingin mengerjakan sesuatu, tetapi menghindarinya karena tugas terasa sulit, tidak menyenangkan, membingungkan, atau menimbulkan emosi tertentu.
3. Berapa lama sebaiknya fokus sebelum beristirahat?
Tidak ada durasi yang cocok untuk semua orang. Mulailah dari blok kerja yang realistis, misalnya 20 hingga 45 menit, kemudian sesuaikan berdasarkan jenis pekerjaan dan kemampuan mempertahankan fokus.
Daftar tugas tidak banyak membantu jika isinya terlalu besar atau tidak spesifik. Pecah tugas menjadi tindakan konkret dan tentukan kapan tindakan pertama akan dilakukan.
Mengurangi akses ke ponsel dapat menghilangkan salah satu sumber distraksi, tetapi penyebab utama penundaan tetap perlu diperhatikan, terutama jika pekerjaan terasa berat, tidak jelas, atau memicu stres.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9354994/original/040345600_1790068695-Gemini_Generated_Image_ctnay7ctnay7ctna.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9354977/original/011980900_1790068115-ff44f7ea-2744-483e-8eac-930701eaf22e.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9354392/original/010303000_1790049920-b6f8d6d4-ca21-464b-a722-e18c86e58f9a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9354988/original/054303000_1790068371-Model_dinding_dua_tekstur_untuk_fasad_rumah_minimalis_dengan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9354766/original/074454900_1790062284-8f67053d-9988-486b-8e7e-700b71dd77e7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9355026/original/091921600_1790069737-HL_kolam_lele.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9354749/original/080282700_1790061828-HL_rumah_desa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9354962/original/039529400_1790067695-Gemini_Generated_Image_4n2bv4n2bv4n2bv4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9354861/original/058294600_1790065300-HL_sirsak.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9354925/original/009223500_1790066693-d257ea62-9ca3-4131-9eb2-8f21c20c9aaa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9354728/original/016825100_1790060602-0180844b-a173-433f-89e8-64ebf5ee816e.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9353254/original/077066700_1789955676-3976a609-2042-4650-ade2-0aad8ebc3b86.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5544896/original/035383500_1775119626-Lele_dan_Sayuran_Sistem_Aquaponik_Sederhana.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5562825/original/038877000_1776840762-pexels-quang-nguyen-vinh-222549-6870809.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481830/original/070664300_1769148336-duku.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9354474/original/040303100_1790052795-95c72ea5-a89c-4bc3-988c-2dea4716bf0e.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9354709/original/045047300_1790059993-c4be3210-1aa9-47d2-9af0-e2e6acebc206.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9351241/original/053292600_1789646690-eb576386-5d27-459f-ada1-412f5e3bcccc.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8219788/original/059350900_1781079637-morning.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9354668/original/059888000_1790058823-Gemini_Generated_Image_3n3miy3n3miy3n3m.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336150/original/025769500_1788141275-4887a07b-cbfa-4c27-87dd-a34a2ddf4af9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336522/original/062149400_1788164466-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326731/original/044655800_1787034649-01M09H5EZC0CJF22ZHH9BPEA9C.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336528/original/070709900_1788164536-Poison_Dart_Frog.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336176/original/026556300_1788144002-32234.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3144625/original/098363800_1591334410-Foto_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9337050/original/022337900_1788230032-1de3d558-1975-4c43-b4f2-118d1bd51876.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9332963/original/050260600_1787725598-1280px-Siliwangi_in_Lampegan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9337142/original/081564900_1788234228-Noda_Bekas_Keringat_di_Bantal.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7182742/original/004905700_1779978836-pexels-bulat-5678622.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9337293/original/019623200_1788239716-56d48274-58d6-4330-a2d5-7c8cc37e4557.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9337139/original/089359100_1788234193-outi-marjaana-5eu96L3hob4-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336191/original/048055400_1788145496-pexels-nerea-arance-205949445-11860562.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336588/original/048843200_1788166989-2b16fa11-1670-4e28-b029-72a189aecfd4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8263241/original/026820600_1781870752-Budidaya_Azolla_sebagai_Pakan_Alternatif.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310320/original/033268000_1754903814-Depositphotos_243089644_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502254/original/062020500_1770974864-beautiful-asian-girl-sleeps-her-bed-with-white-sheets-warm-winter-duvet-smiling-her-sleep-drea.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336566/original/005951400_1788166224-pexels-anntarazevich-5629138.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336964/original/043861300_1788227999-strberi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336465/original/075666300_1788162691-pexels-stephen-leonardi-587681991-30289052.jpg)