:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578286/original/093604100_1782536604-58WYA9TILkwvaEJqbczZhm3drOgVljEJbR5mNI1G.jpg)
Perbesar
Liputan6.com, Jakarta Dalam khazanah budaya Nusantara, perewangan artinya merujuk pada makhluk halus yang dipercaya mampu menjadi pembantu manusia dalam berbagai urusan kehidupan. Istilah ini berakar kuat dalam tradisi masyarakat Jawa dan menjadi salah satu konsep mistis yang paling sering diperbincangkan hingga saat ini.
Dilansir dari Jurnal Sosiologi USK dalam tulisan berjudul Dhanyang dan Prewangan, perewangan merupakan roh halus yang diyakini hidup di dunia berbeda dengan manusia, namun dapat masuk ke dalam tubuh seseorang untuk berbagai tujuan. Setelah berada dalam tubuh manusia, perewangan dipercaya dapat berkomunikasi dengan orang-orang yang masih hidup di sekitarnya.
Memahami perewangan artinya menjadi bagian penting dalam menyelami kekayaan budaya Jawa yang penuh nilai historis. Meskipun bersifat mistis dan sulit dibuktikan secara ilmiah, konsep ini mencerminkan hubungan kompleks antara dunia nyata dan dunia gaib yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat Jawa selama berabad-abad.
Pengertian dan Asal-Usul Kata Perewangan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8624505/original/007566000_1782617954-parewangan.jpg)
Perbesar
Secara etimologis, kata perewangan berasal dari bahasa Jawa rewang yang berarti bantu atau membantu. Dengan imbuhan tersebut, perewangan artinya adalah pembantu atau entitas yang memberikan bantuan.
Dalam konteks tradisi Jawa, istilah ini secara khusus menunjuk pada makhluk halus yang berperan sebagai pembantu manusia, bukan tenaga kerja fisik biasa. Konsep ini telah menjadi bagian dari sistem kepercayaan masyarakat Jawa yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Menurut buku Orang Jawa, Jimat, dan Makhluk Halus, terdapat sejumlah dukun atau paranormal yang memelihara jin maupun setan demi memanfaatkan kekuatan mereka. Perewangan hanya diketahui oleh pemiliknya dan dapat digunakan untuk melindungi diri, membantu orang lain, atau bahkan merugikan pihak tertentu.
Berdasarkan Facts and Details, kepercayaan Jawa mengenal hierarki makhluk supranatural yang sangat beragam, mulai dari memedis (roh menakutkan), lelembut (roh yang merasuki manusia), hingga tuyul sebagai roh familiar yang dapat diperoleh melalui puasa dan meditasi.
Perewangan masuk dalam kategori roh familiar yang bersifat mutualis, di mana kedua pihak saling memperoleh manfaat. Di satu sisi, makhluk halus ini mendapatkan tempat tinggal, sementara manusia yang didampinginya dapat memanfaatkan kemampuan perewangan sesuai kebutuhan.
Mengacu pada riset yang dipublikasikan di ResearchGate mengenai kepercayaan kultural Kejawen dari perspektif teologi Islam, sejarah Jawa telah menjadikan pulau ini sebagai "wadah peleburan budaya dan agama yang beragam, mulai dari animisme hingga kultus roh."
Meskipun islamisasi telah berlangsung sejak sekitar tahun 1500 Masehi, animisme dan dinamisme tidak sepenuhnya menghilang. Kondisi inilah yang kemudian melahirkan Islam Kejawen, yakni perpaduan ajaran Islam dengan mistisisme Jawa yang masih mempertahankan kepercayaan terhadap makhluk halus seperti perewangan.
Jenis-Jenis Makhluk Perewangan dalam Tradisi Jawa
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8624506/original/056812300_1782617954-parewangan.jpeg)
Perbesar
Tradisi Jawa mengenal berbagai jenis perewangan dengan karakteristik serta fungsi yang berbeda-beda. Melansir dari buku Dunia Hantu Orang Jawa karya Suwardi Endraswara, masing-masing perewangan memiliki tugas dan perilaku khas yang membedakannya satu sama lain. Berikut adalah jenis-jenis perewangan yang paling dikenal dalam masyarakat Jawa.
- Thuyul — Perewangan paling populer yang berbentuk anak kecil cebol dengan kepala gundul dan kulit coklat kemerahan. Ukuran tubuhnya berkisar 50-80 cm. Thuyul bertugas mengambil uang milik orang lain sedikit demi sedikit tanpa membekas, lalu mengumpulkannya di kantong bermori putih dan bunga.
- Setan Gundhul — Berbentuk manusia kerdil botak dengan kulit kemerah-merahan dan pandangan mata bersinar mengerikan. Berbeda dengan thuyul, Setan Gundhul mengambil seluruh harta milik korban beserta wadahnya sekaligus.
- Buta Ijo — Perewangan untuk pesugihan berbentuk raksasa berwarna hijau yang menakutkan. Tugas utamanya mengambil uang dalam jumlah besar, namun pemeliharaannya membutuhkan tumbal berupa nyawa seseorang.
- Dhenok Dheblong — Berupa hantu anak kecil yang membantu dalam bidang pengobatan. Perewangan ini konon berasal dari anak yang meninggal saat bayi dan kembali untuk membantu orang tuanya menjadi dukun penyembuh.
- Menthek — Makhluk kecil penghuni area persawahan yang gemar memakan belalang. Menthek dapat memindahkan biji padi ke sawah orang lain sehingga padi yang dipindahkan menjadi hampa. Untuk menangkal gangguan Menthek, masyarakat Jawa mengenal tradisi wiwit berupa sesaji di sawah.
- Drubiksa — Sebagaimana disampaikan MD Entertainment, Drubiksa merupakan hantu pelindung rumah dari bahaya dan penyakit. Namun, makhluk ini juga kerap berbuat usil dengan menaburkan pasir pada makanan atau melempar peralatan dapur.
Baca juga: 20 Mitos Populer Masyarakat Indonesia yang Masih Banyak Dipercaya
Cara Memperoleh Perewangan Menurut Tradisi Jawa
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8624507/original/016928100_1782617955-tradisi.jpeg)
Perbesar
Proses memperoleh perewangan dalam tradisi Jawa bukanlah hal yang sederhana. Masyarakat umumnya menggunakan perantara dukun yang memiliki kemampuan khusus dalam berkomunikasi dengan dunia gaib.
Berdasarkan artikel Dhanyang dan Prewangan dalam Jurnal Sosiologi USK, terdapat dua cara utama untuk mendapatkan perewangan, masing-masing dengan tingkat keberhasilan yang berbeda.
Cara pertama adalah melalui warisan turun-temurun. Dalam model ini, seseorang sudah memiliki perewangan sejak kecil, tetapi tidak memiliki kuasa penuh atas makhluk tersebut. Jika suatu saat orang tersebut menyadari keberadaan perewangannya dan ingin memilikinya sepenuhnya, ia meminta bantuan dukun untuk memasukkan perewangan ke dalam tubuhnya secara resmi. Proses memasukkan perewangan pada model pertama ini dipercaya selalu berhasil karena sudah ada ikatan batin sejak lama.
Cara kedua adalah melalui permintaan langsung kepada dukun bagi mereka yang dari awal tidak memiliki perewangan. Mengutip artikel yang sama, "Seorang dukun bisa mencarikan makhluk halus yang bersedia masuk dan duduk di dalam tubuh manusia, lalu memasukkannya ke dalam tubuh orang yang meminta itu." Namun, berbeda dengan model pertama, model kedua ini tidak selalu berhasil. Beberapa orang yang meminta dimasukkan perewangan gagal karena berbagai alasan yang berkaitan dengan kecocokan spiritual antara manusia dan makhluk halus tersebut.
Sebagaimana dilaporkan Javanese Myths, dalam tradisi Jawa yang kental nuansa spiritual, memiliki perewangan datang dengan syarat dan tanggung jawab tertentu. Karena tidak ada sesuatu yang gratis, kontrak diperlukan untuk menggunakan jasa perewangan. Meskipun demikian, dalam beberapa kasus, perewangan dapat muncul dengan sendirinya tanpa diminta. Mereka yang datang tanpa diundang dipercaya lebih tulus dalam memberikan bantuan dan tidak terikat perjanjian apa pun. Orang yang akhirnya memiliki dan berkuasa menyuruh perewangan disebut sebagai dukun perewangan.
Perewangan dalam Konteks Kepercayaan Kejawen dan Pandangan Antropologi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8624508/original/072980900_1782617955-tradisi_2.jpeg)
Perbesar
Konsep perewangan tidak dapat dilepaskan dari sistem kepercayaan Kejawen yang menjadi fondasi spiritual bagi sebagian masyarakat Jawa. Mengacu pada Wikipedia halaman mengenai Kejawèn, "Kebatinan merupakan kombinasi metafisika, mistisisme, dan doktrin esoteris lainnya yang berasal dari akar animistik, Hinduistik, Buddhis, dan Islam." Kepercayaan terhadap makhluk halus pembantu seperti perewangan merupakan salah satu manifestasi dari pandangan dunia Kejawen yang melihat alam semesta sebagai kesatuan antara dunia fisik dan spiritual.
Menurut J.M. van der Kroef, sosiolog yang banyak mengkaji masyarakat Indonesia, kepercayaan tradisional Jawa memiliki hubungan erat dengan pandangan mengenai keberadaan unsur spiritual dan kekuatan supranatural dalam kehidupan masyarakat. Pemahaman tersebut turut memengaruhi berbagai tradisi dan praktik budaya yang berkaitan dengan dunia gaib.
Pandangan ini menjelaskan mengapa masyarakat Jawa mengembangkan berbagai tradisi dan ritual untuk menjaga keseimbangan hubungan dengan dunia gaib, termasuk melalui pemeliharaan perewangan.
Dari perspektif antropologi, fenomena perewangan memiliki kesamaan dengan konsep spirit familiars yang ditemukan di berbagai kebudayaan dunia. Sebagaimana diungkapkan dalam jurnal Tandfonline mengenai praktik shamanis di Kalimantan Indonesia, roh-roh dapat bertindak sebagai pelindung sekaligus antagonis. Mereka "dianggap tidak bermoral, menipu, dan tidak dapat diprediksi" sehingga hubungan dengannya selalu diwarnai ketidakpastian. Hal serupa berlaku pada perewangan dalam tradisi Jawa, di mana manfaat yang diperoleh selalu disertai risiko tertentu.
Dalam dunia bisnis tradisional, perewangan sering disebut sebagai penglaris, yakni makhluk gaib yang dipercaya membantu melariskan dagangan pemiliknya. Fenomena ini masih dijumpai di berbagai wilayah di Pulau Jawa, terutama di kalangan pedagang dan pemilik rumah makan yang masih memegang teguh kepercayaan leluhur. Meskipun era modernisasi terus berkembang, kepercayaan terhadap hal-hal mistis semacam ini tetap bertahan di sebagian masyarakat.
Perbedaan Perewangan dan Pesugihan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8624509/original/058151200_1782617956-pesugihan_2.jpeg)
Perbesar
Banyak orang keliru menyamakan perewangan dengan pesugihan, padahal keduanya memiliki perbedaan mendasar. Memahami distingsi antara kedua konsep ini penting agar tidak terjadi generalisasi yang keliru terhadap tradisi spiritual Jawa. Berikut adalah perbedaan utama antara perewangan dan pesugihan yang perlu dipahami.
- Tujuan — Perewangan memiliki fungsi yang lebih beragam, mulai dari pengobatan, perlindungan, hingga membantu usaha. Pesugihan secara khusus bertujuan untuk memperoleh keuntungan dalam bentuk harta kekayaan secara instan.
- Bentuk hubungan — Perewangan bersifat mutualis di mana kedua pihak saling membantu. Pesugihan lebih bersifat transaksional dengan konsekuensi berat, termasuk tumbal yang harus disediakan.
- Konsekuensi — Tidak semua perewangan membutuhkan tumbal atau imbalan berat. Sebaliknya, pesugihan hampir selalu menuntut korban, mulai dari sesaji hingga nyawa manusia.
- Kehadiran — Perewangan dapat hadir sendiri tanpa diminta dan memberikan bantuan secara tulus. Pesugihan selalu melibatkan ritual aktif dan perjanjian yang disengaja oleh manusia.
- Dampak setelah meninggal — Menurut kepercayaan, pelaku pesugihan yang bersekutu dengan jin sepakat menjadi budak jin setelah meninggal dunia hingga hari kiamat. Perewangan yang datang sendiri tidak membawa konsekuensi semacam itu.
- Cakupan — Pesugihan memiliki berbagai varian seperti pesugihan tuyul, babi ngepet, siluman ular, dan siluman monyet. Perewangan mencakup entitas yang lebih luas dengan peran yang tidak terbatas pada pencarian harta.
Dari perspektif agama Islam, baik perewangan yang melibatkan persekutuan dengan jin maupun pesugihan sama-sama bertentangan dengan ajaran tauhid. Persekutuan dengan selain Allah SWT dianggap sebagai perbuatan syirik yang harus dijauhi. Namun, terdapat konsep perewangan yang dianggap halal dalam Islam, yaitu perlindungan yang datang dari Allah SWT melalui malaikat Hafadhoh (penjaga) yang berjumlah 180 malaikat dan bertugas menjaga manusia secara bergiliran.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Perewangan
Apa yang dimaksud dengan perewangan artinya dalam bahasa Jawa?
Perewangan berasal dari kata Jawa rewang yang berarti bantu atau membantu. Dalam konteks tradisi spiritual Jawa, perewangan artinya adalah makhluk halus yang berperan sebagai pembantu manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Konsep ini merupakan bagian dari warisan spiritual masyarakat Jawa yang telah ada sejak sebelum masuknya agama-agama besar ke Pulau Jawa.
Apakah perewangan sama dengan khodam?
Perewangan dan khodam memiliki kemiripan karena sama-sama merujuk pada entitas gaib yang mendampingi manusia. Perbedaannya terletak pada akar budaya: perewangan berasal dari tradisi Kejawen Jawa, sedangkan khodam lebih dikenal dalam tradisi Islam dan tasawuf. Dalam kepercayaan Jawa, konsep serupa juga dikenal sebagai danyang atau dhanyang yang merupakan roh pelindung suatu tempat atau komunitas.
Bagaimana pandangan Islam terhadap praktik perewangan?
Islam melarang segala bentuk persekutuan dengan jin atau makhluk halus selain Allah SWT karena dianggap sebagai perbuatan syirik. Namun, Islam mengenal bentuk perlindungan halal yang datang dari Allah melalui malaikat-Nya, yang diperoleh dengan cara bertaqarrub melalui ibadah seperti membaca Al-Qur'an dan berdzikir. Para ulama mengimbau umat untuk menjauhkan diri dari praktik-praktik mistis yang bertentangan dengan ajaran agama.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578146/original/033395800_1782536447-B2V5OWBlWq3DF3ON2cNR2HCrG14qEgpyCxJm5vgW.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578281/original/017219100_1782536600-GPNEmMuaoyFOgxkjKkUljwYjcSyr3YSTr7Xlfqq5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578280/original/001994200_1782536598-Ek3yqvtDmGVA0YF223Fybm89cdphS21pkSLNgbqH.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578198/original/054566800_1782536500-A9qC94dgSvQbni191ecUKXEaVVzmFTHVK0CPyu66.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5278625/original/058751700_1752116095-20250707_135157.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578154/original/067625600_1782536454-3q7ejuC9XzXP9dmRwINgXWoCRsASRJ72qkpW05SJ.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8633679/original/091208900_1782633292-noah-silliman-gzhyKEo_cbU-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578158/original/004335500_1782536458-4wweLHP0QWe79dQwj3jGteSmhS3V43kok8wdRqsM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578149/original/060462400_1782536450-RwhAZTworvYUdXjIV7fvmjhgn4AF5QWSUGZH6Uv2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578264/original/076010800_1782536572-wgyXmZBewIAQXBLjf7hrmPSa8pWYtgd14ggBFd8a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578170/original/041557400_1782536483-d3o9xH49dfVa0GhNz4lStUk8Kgfn0SalUFExHKQw.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578184/original/093331400_1782536494-JBw7D8wnx5P1QVBKmN3unu9MZ8r3DgFALJhrwUmI.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578262/original/037938300_1782536570-Xu2bZVx1lDSpKqCz9kQ8n9C1ekywZQDK5heihgzL.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578270/original/028613200_1782536578-tX9l0H40oXOIIIH8svmqyDf3gXoguYg6LVBwXTD2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578289/original/084521300_1782536607-lsuYQudBVC1NDSDrQhC1P892fD9YExKa4Ugpq9j0.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578292/original/089902900_1782536609-3JravQbeXfFIi8ZnQ1GROJtgbnQ4EBPWJeABdawb.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578296/original/028590900_1782536614-cwfdHCVIHqSGnLfyL3pOF1ruaeig5TKhDoLghbE3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578298/original/013314400_1782536616-VAowCEKOE5RXsPAYYIbUf47gHU6djbvi2gJxx5FO.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578284/original/076073100_1782536602-0CZLVgeD95qZhwNvb0U6j39jnMT0Y7dXTRuTRAUU.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8400310/original/065172800_1782281909-0d6bcd89-b439-44f5-9c4d-9a627f5f8042.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533446/original/043365700_1773737304-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5530617/original/099175500_1773466166-mud1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522319/original/072750000_1772755216-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5539244/original/040883000_1774594881-rumah_minimalis_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522345/original/079886200_1772757830-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4401674/original/056918100_1681909694-20230419-Mudik-Jalur-Pantura-Angga-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1045202/original/018183200_1446724420-151105-THR-PNS-Grafis-Abdillah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5528599/original/064914600_1773288962-Ashera_Dress_Sq1_1770721983416.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5521841/original/047869500_1772701578-open_space_3a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3987911/original/095414600_1649311271-jeppe-vadgaard-PnFgNgCkBXY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522260/original/039984700_1772750807-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522537/original/050337400_1772768376-Model_Rambut_Pendek_Wanita_Cina.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522506/original/039967800_1772767694-Teras_rumah_subsidi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522634/original/031632000_1772771522-Gemini_Generated_Image_68hqe168hqe168hq.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522514/original/063562100_1772767710-marlon-soares-NDe1cA_jb_4-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5478554/original/057404800_1768904586-Beternak_Jangkrik_Pakan_Ternak.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5508983/original/035798900_1771646536-desain_kebun_sayur__7_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5524816/original/031467100_1773012780-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534966/original/037393500_1773906231-Rak_Susun_Minimalis_di_Sudut_Teras.jpg)