Liputan6.com, Jakarta Kanker kolorektal dulunya lebih identik dengan usia lanjut, namun kini justru mengancam kelompok usia muda. Lonjakan kasus pada generasi produktif menimbulkan kekhawatiran baru di dunia medis. Gaya hidup dan pola makan modern jadi salah satu pemicu utama.
Penyakit ini kerap berkembang tanpa gejala pada tahap awal, sehingga sering terlambat terdeteksi. Padahal, deteksi dini melalui skrining dapat menyelamatkan nyawa. Sayangnya, banyak orang masih mengabaikan pemeriksaan rutin.
Kanker kolorektal biasanya bermula dari polip di usus besar atau rektum yang berkembang menjadi ganas. Jika tidak ditangani sejak dini, kanker ini dapat menyebar ke organ lain. Oleh karena itu, penting untuk mengenali penyebab, gejala, dan cara mencegahnya sejak sekarang.
Awal Mula: dari Polip hingga Menjadi Kanker
Kanker kolorektal adalah pertumbuhan sel tidak normal yang terjadi di usus besar (kolon) atau rektum. Kanker ini seringkali bermula dari polip, yaitu jaringan abnormal yang tumbuh di dinding usus. Polip bisa jinak, tapi beberapa jenisnya berpotensi berubah menjadi kanker jika dibiarkan.
Mutasi DNA pada sel usus menjadi penyebab utama transformasi ini. DNA yang rusak menyebabkan sel membelah secara tak terkendali, membentuk massa atau tumor. Dalam waktu tertentu, tumor ini bisa menyerang jaringan sekitarnya bahkan menyebar ke organ lain (metastasis).
Kondisi ini bisa berlangsung tanpa gejala pada tahap awal. Oleh karena itu, skrining berkala sangat disarankan, terutama bagi yang memiliki faktor risiko. Skrining seperti kolonoskopi bisa mendeteksi polip sebelum berkembang menjadi kanker.
Gejala yang Sering Diabaikan
Kanker kolorektal sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, terutama jika tumbuh di sisi kanan usus besar. Feses yang masih cair dan ukuran lumen usus yang lebih besar membuat tumor tersembunyi cukup lama. Akibatnya, banyak pasien baru menyadari keberadaan kanker saat sudah memasuki tahap lanjut.
Berikut ini gejala-gejala yang perlu diwaspadai:
1. Diare atau Sembelit yang Berkepanjangan
Perubahan pola buang air besar secara terus-menerus, terutama jika berlangsung lebih dari beberapa minggu, bisa menjadi tanda awal. Baik diare maupun sembelit yang tidak kunjung membaik perlu diwaspadai.
2. Perasaan Buang Air Tidak Tuntas
Meski sudah buang air besar, pasien sering merasa masih ada sisa di dalam usus. Rasa tidak nyaman ini muncul karena adanya sumbatan atau tekanan dari tumor di dinding usus.
3. Adanya Darah dalam Tinja
Darah bisa tampak jelas atau tersembunyi dalam bentuk tinja berwarna sangat gelap. Ini bisa disebabkan oleh perdarahan dari tumor di dalam usus besar atau rektum.
4. Nyeri Perut dan Kembung
Kanker yang tumbuh bisa menimbulkan tekanan, kram, atau rasa nyeri yang tidak biasa di perut. Gejala ini kerap disalahartikan sebagai gangguan pencernaan ringan.
5. Penurunan Berat Badan Tanpa Sebab
Jika Anda kehilangan berat badan secara signifikan tanpa mengubah pola makan atau aktivitas fisik, ini bisa menjadi sinyal adanya gangguan metabolik serius, termasuk kanker.
6. Tubuh Mudah Lelah
Kelelahan kronis terjadi karena tubuh mengalami kekurangan nutrisi dan energi akibat kanker, terutama bila disertai anemia.
7. Gejala Anemia
Penderita bisa mengalami pucat, pusing, dan jantung berdebar karena kekurangan sel darah merah akibat perdarahan kronis dari tumor.
8. Gejala yang Terus Berulang
Ingat, kanker kolorektal biasanya baru menimbulkan gejala ketika sel kanker sudah makin berkembang. Artinya, jangan anggap remeh keluhan yang sering kambuh walau terlihat sepele.
Penyebab Kanker Kolorektal
Kanker kolorektal tidak muncul begitu saja. Ada dua kelompok faktor risiko utama yang memengaruhi: genetik dan gaya hidup. Meski kamu tidak bisa mengubah faktor keturunan, kamu masih bisa menekan risiko lewat perubahan pola hidup.
Berikut ini daftar lengkap faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena kanker kolorektal:
1. Riwayat Keluarga dengan Kanker Kolon
Memiliki orang tua, saudara kandung, atau anak yang pernah didiagnosis kanker usus besar bisa meningkatkan risiko secara signifikan.
2. Sindrom Genetik Seperti Lynch
Kelainan genetik seperti Lynch Syndrome atau Familial Adenomatous Polyposis (FAP) dapat menyebabkan pertumbuhan polip dalam jumlah besar di usus besar sejak usia muda.
3. Riwayat Kanker di Usia Muda dalam Keluarga
Jika ada anggota keluarga yang didiagnosis kanker kolorektal di bawah usia 50, maka skrining perlu dilakukan lebih dini dan lebih sering.
4. Pola Makan Rendah Serat
Kurangnya asupan sayur, buah, dan biji-bijian dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan meningkatkan risiko pembentukan polip di usus.
5. Konsumsi Makanan Tinggi Lemak dan Olahan
Makanan cepat saji, daging merah berlemak, dan makanan olahan mengandung lemak jenuh yang berkaitan erat dengan peningkatan risiko kanker usus besar.
6. Kurang Aktivitas Fisik
Gaya hidup sedentari atau terlalu banyak duduk tanpa olahraga rutin berkontribusi terhadap peradangan dan metabolisme yang buruk dalam tubuh.
7. Kelebihan Berat Badan dan Obesitas
Indeks massa tubuh yang tinggi telah terbukti meningkatkan risiko kanker kolorektal, serta menurunkan peluang kesembuhan jika kanker muncul.
8. Kebiasaan Merokok
Zat kimia dalam rokok dapat merusak sel-sel usus dan memicu mutasi DNA yang berujung pada pertumbuhan sel kanker.
9. Konsumsi Alkohol Berlebihan
Minum alkohol secara rutin dan dalam jumlah tinggi dapat mengganggu keseimbangan hormon dan merusak dinding usus, meningkatkan risiko kanker.
10. Penyakit Kronis Seperti Diabetes dan Radang Usus
Penderita diabetes tipe 2, penyakit Crohn, atau kolitis ulseratif memiliki risiko lebih tinggi karena adanya peradangan jangka panjang pada saluran cerna.
Tahapan Diagnosis yang Menyeluruh
Diagnosis kanker kolorektal melibatkan beberapa prosedur medis. Pemeriksaan dimulai dari tes darah untuk melihat kemungkinan anemia atau peningkatan kadar CEA (penanda kanker). Langkah berikutnya adalah pemeriksaan pencitraan seperti CT scan atau MRI untuk melihat penyebaran.
Kolonoskopi tetap menjadi standar emas untuk deteksi kanker usus besar. Dalam prosedur ini, dokter bisa langsung melihat kondisi usus dan melakukan biopsi jika ditemukan kelainan. Pemeriksaan lain seperti sigmoidoskopi atau proktoskopi juga bisa digunakan, tergantung pada kebutuhan.
Skrining tidak hanya untuk pasien bergejala, tapi juga untuk mereka yang berisiko tinggi. Alodokter menyarankan orang berusia di atas 45 tahun untuk melakukan skrining rutin. Diskusikan dengan dokter mengenai jenis skrining yang tepat serta jadwal skriningnya.
Pencegahan Kanker Kolorektal
Meskipun tidak semua kasus kanker kolorektal dapat dicegah, ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi risiko:
- Pola Makan Sehat: Konsumsi makanan tinggi serat, buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian. Batasi lemak jenuh, daging merah, dan daging olahan.
- Aktivitas Fisik Teratur: Lakukan olahraga secara rutin untuk menjaga kesehatan tubuh.
- Menghindari Merokok dan Konsumsi Alkohol Berlebihan: Berhenti merokok dan batasi konsumsi alkohol.
- Skrining: Pemeriksaan skrining, seperti kolonoskopi, sangat dianjurkan untuk deteksi dini, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko tinggi. Diskusikan dengan dokter tentang kapan dan seberapa sering Anda perlu melakukan skrining.
Informasi ini bersifat umum dan untuk tujuan edukasi. Selalu konsultasikan dengan dokter untuk diagnosis dan pengobatan yang tepat. Gejala dan penyebab kanker kolorektal dapat bervariasi, dan penting untuk mendapatkan perawatan medis profesional jika Anda mengalami gejala yang mengkhawatirkan.
Pertanyaan Seputar Topik
Apa yang dimaksud dengan kanker kolorektal?
Kanker kolorektal adalah kanker yang berkembang di usus besar atau rektum, yang dapat mengancam jiwa jika tidak terdeteksi dan diobati dengan tepat.
Siapa yang berisiko terkena kanker kolorektal?
Orang yang berisiko tinggi termasuk mereka yang memiliki riwayat keluarga kanker kolorektal, berusia di atas 50 tahun, atau memiliki kondisi medis tertentu seperti penyakit radang usus.
Bagaimana cara mendeteksi kanker kolorektal?
Pemeriksaan skrining seperti kolonoskopi adalah metode yang efektif untuk mendeteksi kanker kolorektal sejak dini.
Apakah kanker kolorektal dapat dicegah?
Meskipun tidak semua kasus dapat dicegah, mengadopsi pola makan sehat, berolahraga, dan melakukan skrining secara teratur dapat mengurangi risiko.