Panduan Keselamatan Ketika Gunung Meletus, dari Persiapan hingga Pascaerupsi

6 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Panduan keselamatan ketika gunung meletus menjadi bekal penting bagi warga yang tinggal di sekitar kawasan rawan bencana vulkanik. Pengetahuan ini membantu masyarakat mengambil keputusan yang tepat sebelum, saat, dan setelah erupsi terjadi.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat sejumlah gunung api di Indonesia berstatus Siaga hingga Awas pada awal September 2026, termasuk Gunung Anak Krakatau, Sinabung, dan Lewotobi Laki-laki. Kondisi ini membuat pemahaman mengenai langkah keselamatan semakin mendesak untuk dimiliki setiap keluarga.

Melansir dari US Geological Survey (USGS), banyak korban jiwa akibat erupsi justru muncul karena minimnya kesiapan menghadapi bahaya sekunder seperti abu vulkanik dan lahar, bukan semata letusan itu sendiri. Memahami tanda bahaya sejak dini pun dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa.

Berikut adalah Panduan keselamatan ketika gunung meletus Liputan6.com dari berbagai sumber, Minggu (6/9/2026). 

Pentingnya Panduan Keselamatan Ketika Gunung Meletus

Indonesia berada di jalur Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire, kawasan pertemuan tiga lempeng tektonik aktif yang membuat negeri ini memiliki ratusan gunung api. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam Buku Saku Tanggap Tangkas Tangguh Menghadapi Bencana (BNPB, 2019) menyebutkan bahwa posisi geologis ini membuat Indonesia rentan terhadap gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, dan berbagai bencana geologi lain.

Kepala PVMBG Badan Geologi, Rita Susilawati, mengungkapkan Indonesia memiliki 127 gunung api aktif sehingga erupsi pada beberapa gunung dapat terjadi bersamaan tanpa saling memicu satu sama lain. Fakta ini menegaskan bahwa ancaman erupsi bukan kejadian langka, melainkan risiko yang harus terus diwaspadai sepanjang tahun.

Pada akhir Agustus hingga awal September 2026, enam gunung api tercatat mengalami erupsi hampir bersamaan, yakni Gunung Ibu, Semeru, Lewotobi Laki-laki, Ili Lewotolok, Anak Krakatau, dan Sinabung. Situasi ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak bagi warga yang tinggal di sekitar kawasan rawan bencana gunung api.

Kenali Bahaya Utama Saat Erupsi Gunung Berapi Terjadi

Bahaya erupsi gunung api terbagi menjadi bahaya primer yang muncul bersamaan dengan letusan dan bahaya sekunder yang muncul setelahnya. Berdasarkan penjelasan BNPB (2019) dan BPBD Daerah Istimewa Yogyakarta, terdapat enam ancaman utama yang wajib dikenali masyarakat di kawasan rawan bencana.

Awan panas merupakan aliran material vulkanik yang mengalir mengikuti lembah dengan suhu mencapai 300–700 derajat Celsius dan kecepatan lebih dari 70 kilometer per jam. Aliran lava adalah magma yang meleleh ke permukaan dengan suhu sangat tinggi dan mampu merusak segala bentuk infrastruktur yang dilaluinya.

Selain itu, ada gas vulkanik beracun seperti CO2, SO2, H2S, HCl, HF, dan H2SO4 yang tidak berwarna dan tidak berbau, sehingga sulit dideteksi indra manusia. Lontaran material pijar dengan suhu sekitar 200 derajat Celsius dapat mencapai radius ratusan meter dari puncak, sementara hujan abu vulkanik menyebar mengikuti arah angin dan dapat mengganggu pernapasan.

Bahaya terakhir adalah lahar letusan, yaitu banjir material vulkanik yang tercampur air dan biasanya terjadi pada gunung berapi yang memiliki danau kawah. Mengenali keenam jenis bahaya ini menjadi dasar dari seluruh langkah keselamatan yang akan dibahas pada bagian berikutnya.

Mengenal Status Aktivitas dan Kawasan Rawan Bencana Gunung Api

Untuk memantau kondisi gunung api, PVMBG menetapkan empat tingkat status aktivitas yang wajib dipahami masyarakat sekitar kawasan rawan bencana. Status ini menjadi acuan utama kapan warga harus mulai waspada hingga kapan evakuasi wajib dilakukan.

Level Status Penjelasan
I Normal Aktivitas gunung api tidak menunjukkan kelainan berdasarkan pengamatan visual, kegempaan, dan gejala vulkanik lain.
II Waspada Muncul kelainan aktivitas berupa perubahan visual, kegempaan, atau gejala vulkanik lain.
III Siaga Peningkatan aktivitas semakin nyata dan analisis data menunjukkan kecenderungan mengarah ke letusan.
IV Awas Letusan awal sudah mulai terjadi berupa abu atau asap, dan letusan utama diperkirakan segera menyusul.

Sumber: Buku Saku Tanggap Tangkas Tangguh Menghadapi Bencana, BNPB (2019).

Selain status aktivitas, PVMBG juga menetapkan Kawasan Rawan Bencana (KRB) yang terbagi menjadi tiga tingkat. KRB III merupakan kawasan puncak dan sekitarnya yang sangat berpotensi terlanda awan panas, aliran lava, dan gas beracun. KRB II mencakup wilayah yang berpotensi terlanda awan panas, hujan abu lebat, hingga aliran lahar, sedangkan KRB I meliputi daerah sepanjang aliran sungai yang berpotensi terlanda lahar dan hujan abu.

Warga dapat memantau perkembangan status gunung api secara resmi melalui laman magma.esdm.go.id atau aplikasi MAGMA Indonesia yang dikelola PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM. Menghindari informasi tidak resmi dan hanya mengikuti sumber pemerintah menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan menghadapi erupsi, terutama di tengah maraknya kabar simpang siur saat letusan berlangsung.

Langkah Persiapan Sebelum Gunung Meletus (Pra-Bencana)

Tahap persiapan menjadi fondasi paling menentukan dalam menghadapi ancaman erupsi. BPBD DIY dan BNPB sama-sama menekankan pentingnya memperhatikan arahan resmi PVMBG mengenai perkembangan aktivitas gunung api sebagai langkah pertama.

Berikutnya, keluarga perlu menyiapkan rencana darurat yang mencakup identifikasi titik kumpul, nomor kontak penting, rute evakuasi, serta lokasi mematikan aliran air, gas, dan listrik. Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada anggota keluarga rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas, karena mereka membutuhkan bantuan tambahan saat proses evakuasi berlangsung.

Salah satu persiapan konkret adalah menyiapkan Tas Siaga Bencana (TSB) untuk kebutuhan minimal tiga hari. Menurut BNPB, isi tas ini idealnya terdiri atas beberapa kelompok kebutuhan dasar berikut.

Kategori Contoh Barang
Perlindungan pernapasan dan mata Masker, kacamata pelindung
Logistik makanan dan minuman Makanan ringan tahan lama, air minum untuk 3 hari
Penerangan dan komunikasi Senter, baterai cadangan, radio atau ponsel dengan power bank
Dokumen dan keuangan Uang tunai, fotokopi surat penting (KTP, akta, sertifikat)
Kesehatan Kotak P3K dan obat-obatan pribadi
Pakaian dan kebersihan Pakaian ganti, jas hujan, perlengkapan mandi

Sumber: Buku Saku Tanggap Tangkas Tangguh Menghadapi Bencana, BNPB (2019).

Selain menyiapkan logistik, warga juga perlu mengetahui jalur evakuasi dan lokasi shelter yang telah ditetapkan pihak berwenang, sekaligus menyiapkan skenario cadangan apabila dampak letusan meluas di luar prediksi ahli.

Apa yang Harus Dilakukan Saat Erupsi Terjadi

Ketika status gunung api dinyatakan Siaga atau Awas dan instruksi evakuasi diberikan, warga wajib segera menuju shelter atau lokasi aman yang telah ditentukan. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) dalam panduannya menegaskan bahwa cara terbaik melindungi diri saat erupsi adalah mengikuti arahan otoritas setempat, baik untuk evakuasi maupun berlindung di tempat.

Bila berada di dalam ruangan saat abu vulkanik turun, tutup seluruh jendela, pintu, dan ventilasi, lalu matikan sistem pendingin udara agar abu tidak masuk ke dalam rumah. Jika terpaksa berada di luar ruangan, kenakan masker atau kain basah untuk menutup hidung dan mulut, gunakan kacamata pelindung, serta hindari penggunaan lensa kontak karena berisiko menyebabkan iritasi kornea, sebagaimana disarankan International Volcanic Health Hazard Network (IVHHN).

Warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai berhulu di gunung berapi harus mewaspadai potensi lahar, terutama saat hujan turun. CDC menyarankan segera bergerak ke dataran yang lebih tinggi apabila mendengar peringatan lahar, serta menghindari lembah dan bantaran sungai selama proses evakuasi berlangsung.

Sebisa mungkin hindari mengemudi kendaraan saat hujan abu tebal karena jarak pandang berkurang drastis dan abu dapat merusak mesin kendaraan. Apabila terjebak di ruang terbuka saat terjadi lontaran material, BNPB menganjurkan segera mencari perlindungan di balik struktur bangunan yang kokoh dan melindungi kepala dari kemungkinan reruntuhan material pijar.

Menghadapi Dampak Susulan: Abu Vulkanik dan Lahar Dingin

Dampak erupsi tidak selalu berhenti begitu letusan utama usai. Menurut Horwell dan Baxter dalam publikasi "The Health Hazards of Volcanic Ash: A Guide for the Public" (2007) yang diterbitkan IVHHN bersama USGS, partikel abu vulkanik berukuran sangat halus, bahkan kurang dari 10 mikron, sehingga mampu terhirup jauh ke dalam paru-paru dan memicu gangguan pernapasan.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita gangguan pernapasan atau jantung perlu ekstra waspada terhadap paparan abu berkepanjangan. Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila muncul gejala sesak, batuk berkepanjangan, atau iritasi mata yang tidak kunjung membaik.

Selain dampak kesehatan, warga di sekitar aliran sungai yang berhulu di gunung berapi harus tetap mewaspadai bahaya lahar dingin, yaitu banjir material vulkanik yang terbawa hujan deras meski erupsi utama sudah mereda. BPBD DIY mengingatkan warga untuk memperhatikan bentangan kiri dan kanan sungai guna mengantisipasi luapan lahar dingin, terutama pada musim penghujan.

Membersihkan atap rumah dari timbunan abu vulkanik juga perlu segera dilakukan karena beban abu yang menumpuk berisiko merobohkan struktur atap. Namun, proses pembersihan sebaiknya dilakukan setelah abu benar-benar berhenti turun dan kondisi dinyatakan aman oleh pihak berwenang.

Langkah Pascabencana dan Pemulihan

Fase pascabencana sering kali terlupakan, padahal tahap ini sama pentingnya dengan tahap sebelum dan saat erupsi. BPBD DIY menekankan bahwa warga yang harus tinggal lebih lama di shelter perlu memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, termasuk pendampingan khusus bagi anak-anak dan remaja agar tekanan psikologis akibat bencana dapat diminimalkan.

Warga juga diimbau untuk tetap memakai masker dan kacamata pelindung selama berada di wilayah terdampak abu vulkanik, sekaligus terus memantau perkembangan informasi resmi melalui radio atau pengumuman petugas di lapangan. Kembali ke rumah hanya boleh dilakukan setelah pihak berwenang menyatakan kondisi telah aman.

Perhatian terhadap kesehatan keluarga tidak boleh diabaikan pada masa pemulihan ini. Membersihkan lingkungan dari sisa material vulkanik, memastikan sumber air bersih tidak tercemar, dan memeriksakan diri bila mengalami keluhan pernapasan menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan pascaerupsi.

Kontak Darurat dan Sumber Informasi Resmi

Saat status gunung api meningkat, masyarakat sebaiknya hanya mengacu pada informasi resmi dari instansi berwenang agar terhindar dari simpang siur kabar yang justru dapat memicu kepanikan.

Instansi Peran Utama
PVMBG (Badan Geologi Kementerian ESDM) Memantau aktivitas gunung api dan menetapkan status level Normal hingga Awas
BNPB Koordinasi penanggulangan bencana tingkat nasional
BPBD Provinsi/Kabupaten/Kota Koordinasi penanganan darurat dan evakuasi di tingkat daerah
BMKG Informasi cuaca dan potensi tsunami akibat erupsi di wilayah pesisir
Basarnas Operasi pencarian dan pertolongan korban bencana

Sumber: Buku Saku Tanggap Tangkas Tangguh Menghadapi Bencana, BNPB (2019); MAGMA Indonesia, PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM.

Masyarakat juga dapat mengunduh aplikasi resmi seperti MAGMA Indonesia, Info BMKG, dan inaRISK BNPB untuk memantau perkembangan status bencana secara langsung dari gawai masing-masing.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Mitigasi Erupsi

Apa yang harus dilakukan pertama kali saat mendengar gunung meletus?

Segera ikuti arahan resmi PVMBG dan BPBD setempat, kenakan masker serta kacamata pelindung, lalu menuju shelter atau titik kumpul yang telah ditentukan.

Apakah aman mengendarai kendaraan saat hujan abu vulkanik turun?

Sebaiknya dihindari karena abu vulkanik mengurangi jarak pandang secara drastis dan berpotensi merusak mesin kendaraan.

Bagaimana cara mengetahui status terkini gunung api di Indonesia?

Pantau laman magma.esdm.go.id atau aplikasi MAGMA Indonesia yang dikelola PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |