Liputan6.com, Jakarta - Gunung Anak Krakatau kembali mengalami peningkatan aktivitas erupsi pada September 2026 ini. Kondisi tersebut membuat lokasi Gunung Anak Krakatau kembali banyak dicari, terutama karena gunung api ini berada di kawasan perairan yang terletak di antara Pulau Jawa dan Sumatra.
Nama Krakatau sendiri memiliki sejarah panjang. Gunung api yang kini dikenal sebagai Anak Krakatau tumbuh dari kawasan kaldera yang terbentuk setelah letusan besar Krakatau pada 1883.
Lantas, di mana sebenarnya lokasi Gunung Krakatau dan seberapa dekat letaknya dengan Pulau Jawa maupun Sumatra? Berikut penjelasan tentang lokasi Gunung Anak Krakatau, dirangkum Liputan6.com, Minggu (6/9/2026).
Lokasi Gunung Anak Krakatau
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331962/original/068004600_1787591242-1001595493.jpg)
Perbesar
Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A yang tumbuh di kawasan kaldera Krakatau di tengah Selat Sunda. Anak Krakatau berada di tengah Selat Sunda, sehingga posisinya relatif berada di antara ujung barat Pulau Jawa dan ujung selatan Pulau Sumatra. Gunung ini memisahkan Pulau Jawa dan Sumatra.
Secara geografis, gunung api ini berada di sekitar 6°06′ Lintang Selatan dan 105°25′ Bujur Timur. Secara administratif, Gunung Anak Krakatau termasuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
Lokasi Gunung Anak Krakatau relatif lebih dekat dengan pesisir Lampung di Sumatra. Namun, aktivitas erupsinya dapat berdampak pada wilayah di kedua pulau tersebut, terutama melalui sebaran abu vulkanik.
Gunung Anak Krakatau tumbuh di kawasan kaldera Krakatau yang terbentuk setelah letusan besar 1883. Aktivitas vulkanik kembali muncul pada akhir 1927, kemudian kerucut baru muncul di atas permukaan laut pada awal 1928 dan terus tumbuh melalui aktivitas erupsi.
Kronologi Erupsi Sejak 4 September 2026
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9341647/original/042504100_1788670066-Screenshot__474_.jpg)
Perbesar
Status Gunung Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026. Sejak status tersebut ditetapkan, aktivitas erupsi terus dipantau oleh Badan Geologi dan telah terjadi lebih dari 240 kali erupsi hingga awal September 2026.
Pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB, Gunung Anak Krakatau mulai mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh. Erupsi tersebut menampilkan fenomena lava fountain atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava. Berdasarkan data pengamatan PVMBG, tercatat gempa letusan dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi 21.600 detik.
Aktivitas erupsi berlanjut hingga Sabtu, 5 September 2026. Semburan merah menyala terlihat secara terus-menerus, sementara suara dentuman dan getaran dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung.
Namun, khusus dentuman yang terdengar di Bandung Raya, BMKG menyatakan fenomena tersebut bukan disebabkan oleh gempa bumi maupun fenomena cuaca lokal. BMKG juga menilai kecil kemungkinan suara tersebut berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau dan menyebut sumbernya masih memerlukan kajian lebih lanjut.
Pada hari yang sama, sebaran abu vulkanik terpantau hingga ketinggian sekitar 50.000 kaki atau 15 kilometer. Kondisi tersebut berdampak pada wilayah udara dan penerbangan, sehingga BMKG menerbitkan informasi terkait sebaran abu vulkanik dan sejumlah bandara mengalami penutupan sementara pada waktu yang berbeda.
Memasuki Minggu, 6 September 2026, pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terus dilakukan. Berdasarkan analisis citra satelit pada pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu. Pada ketinggian hingga 20.000 kaki, abu bergerak ke arah timur laut hingga selatan, sedangkan pada ketinggian hingga 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya hingga barat laut.
Dampak Erupsi bagi Masyarakat dan Penerbangan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3898569/original/064615000_1641722635-markus-winkler-Gm5d3JVmCW0-unsplash.jpg)
Perbesar
Sebaran abu vulkanik dari erupsi ini meluas cukup jauh dari pusat letusan. Berdasarkan analisis BMKG pada Minggu pagi, sebaran abu mencakup sejumlah wilayah, termasuk DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu.
Sejumlah bandara turut terdampak sebaran abu vulkanik, termasuk Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, dan Budiarto. Penutupan dilakukan pada waktu berbeda dan operasional bandara dapat berubah mengikuti kondisi sebaran abu serta keputusan otoritas penerbangan.
Apakah Erupsi Ini Berpotensi Memicu Tsunami?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288587/original/061784900_1783327073-1001433500.jpg)
Perbesar
Badan Geologi menyatakan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi dan keruntuhan pada 22 Desember 2018 masih relatif kecil sehingga tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meski demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi gunung api tetap dipantau secara intensif.
Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak panik menyikapi aktivitas ini, sekaligus diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi soal potensi tsunami. Rekomendasi resmi tetap sama: masyarakat, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Lokasi Gunung Anak Krakatau
1. Di mana lokasi Gunung Anak Krakatau?
Gunung Anak Krakatau berada di kawasan kaldera Krakatau, di tengah Selat Sunda, dan secara administratif termasuk Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
2. Kapan Gunung Anak Krakatau mulai mengalami erupsi menerus?
Erupsi menerus mulai terjadi pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan disertai fenomena lava fountain atau lava air mancur.
3. Apa status Gunung Anak Krakatau saat ini?
Gunung Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026.
4. Seberapa tinggi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau?
Sebaran abu vulkanik terpantau hingga sekitar 50.000 kaki atau 15 kilometer dan meluas ke sejumlah wilayah.
5. Apakah masyarakat boleh mendekati Gunung Anak Krakatau?
Tidak. Masyarakat, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan mendekati atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9341638/original/086087300_1788669892-Rumah_Depan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9341686/original/006911400_1788674660-71c7307a-6e18-4bd1-8ff5-959e325f72fd.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/9341600/original/062280300_1788665735-20260906_102107.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9341601/original/020480400_1788665891-7b57422c-0965-45ce-b537-90b121a8c35c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9288587/original/061784900_1783327073-1001433500.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9341223/original/052908100_1788592343-1001631471.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5543608/original/009620500_1775030492-sumur_di_rumah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9324076/original/043586700_1786689093-XtdtqQ1b9jSj3fGdj1vxNzEHfOUqn8m1mIoNvs1v.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9341341/original/070699300_1788602849-Gemini_Generated_Image_63jnsr63jnsr63jn.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9341314/original/083553400_1788599584-04102eb8-6e43-4527-ab18-c153385ae00a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9341302/original/086492100_1788598792-Gemini_Generated_Image_xysa7kxysa7kxysa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9339125/original/016706400_1788401943-Gemini_Generated_Image_66grs766grs766gr.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5380819/original/067063100_1760434364-sssssw.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9341252/original/000048700_1788595521-dfa9622c-af89-4ab5-b910-f40ce4486e87.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9341289/original/060186500_1788597369-Gemini_Generated_Image_8ywijm8ywijm8ywi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9287487/original/060540700_1783229718-melati_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9311799/original/018374000_1785462080-watermarked_img_12876681287243653704.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7814268/original/065287400_1780631863-16748699804316069778.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9341141/original/050546200_1788582957-Gemini_Generated_Image_7yil2e7yil2e7yil.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9341149/original/022815400_1788583376-c04bd955-aa1a-4732-ad0c-1aa581f1b882.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336150/original/025769500_1788141275-4887a07b-cbfa-4c27-87dd-a34a2ddf4af9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6707818/original/004530300_1779526004-1779525648.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336522/original/062149400_1788164466-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326731/original/044655800_1787034649-01M09H5EZC0CJF22ZHH9BPEA9C.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514575/original/008264000_1772095176-unnamed__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336528/original/070709900_1788164536-Poison_Dart_Frog.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336176/original/026556300_1788144002-32234.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3144625/original/098363800_1591334410-Foto_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9337050/original/022337900_1788230032-1de3d558-1975-4c43-b4f2-118d1bd51876.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9337142/original/081564900_1788234228-Noda_Bekas_Keringat_di_Bantal.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9332963/original/050260600_1787725598-1280px-Siliwangi_in_Lampegan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7182742/original/004905700_1779978836-pexels-bulat-5678622.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9337293/original/019623200_1788239716-56d48274-58d6-4330-a2d5-7c8cc37e4557.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336588/original/048843200_1788166989-2b16fa11-1670-4e28-b029-72a189aecfd4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9337139/original/089359100_1788234193-outi-marjaana-5eu96L3hob4-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336191/original/048055400_1788145496-pexels-nerea-arance-205949445-11860562.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8263241/original/026820600_1781870752-Budidaya_Azolla_sebagai_Pakan_Alternatif.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310320/original/033268000_1754903814-Depositphotos_243089644_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336566/original/005951400_1788166224-pexels-anntarazevich-5629138.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502254/original/062020500_1770974864-beautiful-asian-girl-sleeps-her-bed-with-white-sheets-warm-winter-duvet-smiling-her-sleep-drea.jpg)