Liputan6.com, Jakarta Beberapa tahun terakhir, istilah penyakit ‘ain semakin sering terdengar di tengah masyarakat. Banyak yang mengaitkannya dengan pandangan mata yang penuh iri, dengki, atau bahkan kekaguman berlebihan hingga dapat menimbulkan penyakit, kerusakan, bahkan kematian. Meskipun terdengar sulit dinalar secara medis, dalam Islam, ‘ain adalah fenomena nyata yang diakui oleh Rasulullah SAW dan para ulama, serta dibuktikan dalam banyak riwayat.
Pembahasan tentang ain menjadi penting karena dampaknya yang serius, tidak hanya pada fisik, tetapi juga mental dan hubungan sosial. Tanpa pemahaman yang benar, seseorang bisa saja tanpa sadar menjadi penyebab ‘ain atau bahkan terkena dampaknya. Oleh karena itu, memahami definisi, penyebab, dan cara mencegahnya merupakan langkah penting dalam menjaga diri dan lingkungan dari bahaya yang tidak terlihat ini.
Pengertian ‘Ain
Secara bahasa, kata “‘ain” berasal dari bahasa Arab yang berarti mata. Dalam konteks syariat, ‘ain adalah gangguan atau penyakit yang disebabkan oleh pandangan mata seseorang, baik karena rasa iri dan dengki (hasad), maupun karena kekaguman yang berlebihan tanpa disertai doa keberkahan. Pandangan tersebut membawa pengaruh buruk pada orang atau benda yang dipandang, atas izin Allah.
Para ulama menjelaskan bahwa mekanisme ‘ain bermula dari reaksi hati yang tidak baik, entah karena iri atau kagum yang kemudian “tersalurkan” melalui pandangan mata. Reaksi ini diibaratkan seperti racun yang secara halus “menyentuh” objek yang dipandang. Hal ini tidak terbatas pada manusia saja; hewan, tanaman, dan bahkan benda mati dapat terkena ‘ain sehingga rusak atau binasa.
Berbeda dengan penyakit medis yang dapat dijelaskan secara ilmiah, ‘ain bersifat gaib dan hanya dapat dipahami melalui dalil syar’i. Oleh karena itu, cara pencegahan dan pengobatannya pun tidak bisa hanya mengandalkan upaya medis, melainkan memerlukan perlindungan dan ikhtiar sesuai tuntunan Rasulullah.
Sejarah dan Pengakuan Adanya ‘Ain
Keberadaan ‘ain telah diakui sejak masa Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim, beliau bersabda:
العين حق، ولو كان شيء سابق القدر سبقته العين
“Ain itu benar-benar ada! Andaikan ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, sungguh ‘ain itu yang bisa” (HR. Muslim).
Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun segala sesuatu terjadi atas takdir Allah, ‘ain adalah fenomena nyata yang memiliki pengaruh besar.
Kisah yang sering dijadikan contoh adalah peristiwa yang menimpa sahabat Sahl bin Hunaif. Dalam hadits dari Abu Umamah bin Sahl, ia berkata:
اغتسل أَبِي سَهْلُ بْنُ حُنَيْفٍ بِالْخَرَّارِ، فَنَزَعَ جُبَّةً كَانَتْ عَلَيْهِ وَعَامِرُ بْنُ رَبِيعَةَ يَنْظُرُ، قَالَ: وَكَانَ سَهْلٌ رَجُلاً أَبْيَضَ، حَسَنَ الْجِلْدِ، قَالَ: فَقَالَ عَامِرُ بْنُ رَبيعَةَ: مَا رَأَيْتُ كَالْيَوْمِ وَلا جِلْدَ عَذْرَاءَ، فَوُعِكَ سَهْلٌ مَكَانَهُ، فَاشْتَدَّ وَعْكُهُ، فَأُتِي رَسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – فَأُخْبِرَ أَنَّ سَهْلاً وُعِكَ وَأَنَّهُ غَيرُ رَائِحٍ مَعَكَ يَا رسول الله، فَاَتَاهُ رَسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ سَهْل بالَّذِي كَانَ مِنْ شَأنِ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ، فَقَالَ رَسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم -: “عَلاَمَ يَقْتُلُ أًحَدُكمْ أَخَاهُ؟ أَلا بَرَّكْتَ؟، إِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ، تَوَضَّأْ لَهُ”. فَتَوَضَأَ لَهُ عَامِرُ بْنُ رَبِيعَةَ، فَرَاحَ سَهْل مَعَ رَسُولِ الله – صلى الله عليه وسلم – لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ
“Suatu saat ayahku, Sahl bin Hunaif, mandi di Al Kharrar. Ia membuka jubah yang ia pakai, dan ‘Amir bin Rabi’ah ketika itu melihatnya. Dan Sahl adalah seorang yang putih kulitnya serta indah. Maka ‘Amir bin Rabi’ah pun berkata: “Aku tidak pernah melihat kulit indah seperti yang kulihat pada hari ini, bahkan mengalahkan kulit wanita gadis”. Maka Sahl pun sakit seketika di tempat itu dan sakitnya semakin bertambah parah. Hal ini pun dikabarkan kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, “Sahl sedang sakit dan ia tidak bisa berangkat bersamamu, wahai Rasulullah”. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun menjenguk Sahl, lalu Sahl bercerita kepada Rasulullah tentang apa yang dilakukan ‘Amir bin Rabi’ah. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Mengapa seseorang menyakiti saudaranya? Mengapa engkau tidak mendoakan keberkahan? Sesungguhnya penyakit ‘ain itu benar adanya, maka berwudhulah untuknya!”. ‘Amir bin Rabi’ah lalu berwudhu untuk disiramkan air bekas wudhunya ke Sahl. Maka Sahl pun sembuh dan berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam” (HR. Malik dalam Al-Muwatha’ dishahihkan Al Albani).
Para sahabat dan ulama setelahnya juga mengakui fenomena ini. Banyak riwayat mencatat kejadian orang yang tiba-tiba sakit atau harta benda yang rusak tanpa sebab jelas, yang kemudian disimpulkan terkena ‘ain. Semua ini menjadi pelajaran agar umat Islam berhati-hati dalam memandang dan memuji, serta selalu mengaitkan segala kebaikan dengan keberkahan dari Allah.
Penyebab Terjadinya ‘Ain
Penyakit ‘ain dapat terjadi karena beberapa faktor. Para ulama merincikan penyebabnya sebagai berikut:
1. Pandangan Disertai Hasad (Iri & Dengki)
Hasad adalah perasaan tidak suka melihat nikmat yang Allah berikan kepada orang lain, disertai keinginan agar nikmat itu hilang. Ketika hasad diiringi dengan pandangan tajam kepada objek yang dibenci, hal ini bisa menjadi sebab ‘ain.
Rasa hasad membuat hati kotor dan memunculkan energi negatif yang, dengan izin Allah, dapat membahayakan yang dipandang. Rasulullah memerintahkan umatnya untuk berlindung dari keburukan orang yang hasad, sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Falaq ayat 5.
وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ ࣖ
wa min syarri ḫâsidin idzâ ḫasaddan
Artinya: Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.
Bila dibiarkan, sifat hasad bukan hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga membuka pintu bagi setan untuk menebarkan keburukan. Oleh karena itu, menghilangkan hasad dari hati adalah salah satu kunci pencegahan ‘ain.
2. Pandangan Kagum Tanpa Menyebut Nama Allah
Tidak semua ‘ain berasal dari kebencian. Bahkan kekaguman murni tanpa kebencian sekalipun bisa menjadi sebab ‘ain jika tidak disertai doa keberkahan. Misalnya, seseorang yang memuji kecantikan atau kesuksesan orang lain, tetapi lupa mengucapkan “MasyaAllah” atau “Allahumma baarik ‘alaih”.
Kisah Sahl bin Hunaif menjadi contoh bagaimana pandangan kagum saja bisa membuat orang lain sakit.
Hal ini menunjukkan bahwa niat baik sekalipun harus diiringi dengan adab Islami. Dengan menyebut nama Allah, kita mengakui bahwa semua kebaikan berasal dari-Nya, sehingga pandangan kita tidak menimbulkan mudarat.
3. Rasa Ujub dan Riya (Memamerkan Kelebihan)
Ujub adalah rasa bangga berlebihan pada diri sendiri, sedangkan riya adalah beramal atau menampilkan sesuatu untuk mendapatkan pujian manusia. Kedua sifat ini membuat seseorang cenderung memamerkan nikmat yang ia miliki, baik secara langsung maupun melalui media sosial.
Sikap ini rentan memancing iri atau kekaguman orang lain yang berlebihan, sehingga berpotensi menimbulkan ‘ain.
Islam mengajarkan umatnya untuk bersikap tawadhu (rendah hati) dan menjaga privasi nikmat. Memamerkan harta, kesuksesan, atau kebahagiaan pribadi secara berlebihan justru bisa menjadi pintu keburukan bagi diri sendiri.
4. Kurang Berdzikir dan Memohon Perlindungan
Dzikir adalah benteng spiritual dari segala keburukan, termasuk ‘ain. Ketika seseorang lalai dari dzikir, terutama dzikir pagi dan petang, ia kehilangan “perisai” yang melindungi dari pandangan buruk.
Banyak riwayat menunjukkan bahwa Rasulullah SAW membacakan doa perlindungan untuk cucunya, Hasan dan Husain, agar terhindar dari ‘ain.
Kebiasaan berdzikir juga menjaga hati tetap bersih dari hasad dan ujub, sehingga kita bukan hanya terlindung dari terkena ‘ain, tetapi juga dari menjadi penyebabnya.
Dampak dan Bahaya ‘Ain
Penyakit ‘ain memiliki dampak yang luas, baik pada individu maupun lingkungan. Berikut beberapa bahayanya:
1. Menimbulkan Penyakit Fisik atau Mental
Banyak kasus menunjukkan bahwa ‘ain dapat menyebabkan seseorang sakit mendadak tanpa sebab medis yang jelas. Gejalanya bisa berupa rasa lemas, pusing, nyeri, atau gangguan psikis seperti gelisah dan depresi.
Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa melemahkan kesehatan secara menyeluruh.
Selain itu, tekanan mental akibat ‘ain bisa membuat seseorang kehilangan semangat hidup, menurunkan produktivitas, bahkan mempengaruhi hubungan sosialnya.
2. Merusak Benda Mati
‘Ain tidak hanya menyerang manusia. Hewan, tanaman, bahkan barang-barang pun bisa rusak akibat pandangan ‘ain. Misalnya, tanaman yang layu mendadak atau kendaraan yang tiba-tiba rusak tanpa sebab teknis jelas.
Al-Qur’an mengisyaratkan hal ini dalam QS. Al-Kahfi ayat 39, di mana seseorang diajarkan untuk mengucapkan “MasyaAllah, laa quwwata illa billah” saat melihat kebunnya. Kerusakan ini seringkali sulit dijelaskan secara logis, sehingga pencegahannya tetap mengacu pada adab memandang dan berdoa.
وَلَوْلَآ اِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۙ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ ۚاِنْ تَرَنِ اَنَا۠ اَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَّوَلَدًاۚ .
Walau lâ idz dakhalta jannataka qulta mâ syâ'allâhu lâ quwwata illâ billâh, in tarani ana aqalla mingka mâlaw wa waladâ
Artinya: Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan ”Masya Allah, la quwwata illa billah” (Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud), tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah, sekalipun engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu.
3. Potensi Menyebabkan Kematian
Dalam salah satu hadits, Rasulullah SAW menyebut bahwa sebagian besar kematian umatnya, setelah takdir Allah, disebabkan oleh ‘ain. Ini menunjukkan betapa seriusnya dampak penyakit ini.
Meskipun secara kasat mata tidak terlihat, ‘ain bisa menjadi pemicu penyakit berat yang mengarah pada kematian.
Pernyataan ini bukan untuk menakuti, tetapi untuk mengingatkan agar umat Islam selalu menjaga lisan, pandangan, dan hati dari sifat-sifat yang bisa menimbulkan ‘ain.
Cara Mencegah Menjadi Penyebab ‘Ain
Mencegah lebih baik daripada mengobati. Dalam konteks ‘ain, pencegahan tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga melindungi orang lain dari pandangan kita. Berikut langkah-langkahnya:
1. Mengucapkan Doa Keberkahan Saat Kagum
Saat melihat sesuatu yang menakjubkan pada orang lain, biasakan mengucapkan doa keberkahan seperti “Baarakallahu fiik” atau “Allahumma baarik ‘alaih”.
Doa ini menjadi pengakuan bahwa segala kebaikan berasal dari Allah, sekaligus memutus potensi munculnya ‘ain.
Kebiasaan ini sebaiknya diterapkan dalam semua situasi, baik secara langsung maupun di media sosial, agar setiap pujian kita menjadi doa, bukan bumerang.
2. Menghilangkan Rasa Hasad
Membersihkan hati dari iri dan dengki adalah langkah utama mencegah ‘ain. Hasad tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga membakar pahala kita sendiri, sebagaimana api memakan kayu bakar.
Cara menghilangkannya adalah dengan mendoakan kebaikan bagi orang yang kita iri, serta mengingat bahwa semua nikmat adalah pemberian Allah yang dibagi sesuai hikmah-Nya.
Dengan hati yang lapang, pandangan kita akan bersih dari energi negatif yang bisa menimbulkan ‘ain.
3. Menjaga Privasi Nikmat
Tidak semua kebahagiaan atau keberhasilan perlu dipublikasikan. Menjaga privasi nikmat adalah cara bijak untuk menghindari pandangan iri atau kagum berlebihan dari orang lain.
Rasulullah SAW menganjurkan untuk merahasiakan sebagian rezeki, karena tidak semua orang mampu menyikapinya dengan hati bersih.
Hal ini semakin relevan di era media sosial, di mana memamerkan pencapaian seringkali dilakukan tanpa menyadari risiko ‘ain yang mengintai.
People Also Ask
1. Apa itu penyakit ‘ain dalam Islam?
Penyakit ‘ain adalah gangguan yang disebabkan oleh pandangan mata penuh hasad atau kagum berlebihan tanpa menyebut nama Allah.
2. Apakah ‘ain bisa menyerang benda mati?
Ya, hewan, tanaman, dan barang bisa terkena ‘ain sehingga rusak atau binasa.
3. Bagaimana cara menghindari ‘ain saat memuji orang?
Ucapkan doa keberkahan seperti “MasyaAllah” atau “Allahumma baarik ‘alaih”.
4. Apakah ‘ain bisa menyebabkan kematian?
Berdasarkan hadits, ‘ain berpotensi menyebabkan kematian atas izin Allah.
5. Apakah semua iri hati menimbulkan ‘ain?
Tidak, tetapi setiap ‘ain berasal dari hati yang hasad atau kagum tanpa menyebut nama Allah.