Liputan6.com, Jakarta - Sikap saat menghadapi kelangkaan air kini menjadi perhatian serius seiring meningkatnya tekanan terhadap sumber daya air bersih di berbagai belahan dunia. Melansir dari UN-Water, sekitar 3,2 miliar orang tinggal di kawasan pertanian dengan tingkat kekurangan air tinggi hingga sangat tinggi, dan 1,2 miliar di antaranya hidup di wilayah yang benar-benar kekurangan air.
Indonesia turut merasakan tekanan serupa, mulai dari menyusutnya debit sejumlah sungai besar hingga terbatasnya akses air bersih di beberapa daerah. Kondisi ini membuat kebiasaan dan sikap warga sehari-hari menjadi penentu penting bagi keberlangsungan air bersih di masa depan.
Bukan sekadar imbauan moral, sikap bijak terhadap air terbukti secara ilmiah mampu menekan konsumsi air rumah tangga secara nyata. Momentum Hari Pemantauan Air Sedunia menjadi pengingat bahwa menjaga air adalah tanggung jawab bersama, bukan semata tugas pemerintah.
Berikut adalah sikap saat menghadapi kelangkaan air dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Jumat (18/9/2026).
Mengenal Hari Pemantauan Air Sedunia dan Urgensinya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301299/original/052332300_1784449314-foto5.jpg)
Perbesar
Hari Pemantauan Air Sedunia atau World Water Monitoring Day diperingati setiap 18 September. Peringatan ini pertama kali dicetuskan pada 2003 oleh America's Clean Water Foundation (ACWF), organisasi yang berfokus meningkatkan kesadaran masyarakat sipil tentang pentingnya memantau sumber air secara teratur.
Seiring waktu, penyelenggaraan peringatan ini berpindah tangan ke EarthEcho International, organisasi lingkungan yang didirikan untuk mengenang ahli kelautan Philippe Cousteau. Nama kegiatan pun berkembang menjadi EarthEcho Water Challenge, namun esensinya tetap sama, yakni mengajak masyarakat dunia memeriksa kualitas sumber air di sekitar mereka secara mandiri dan berkala.
Momentum ini relevan untuk terus digaungkan, sebab air bukan sumber daya yang tak terbatas. Setiap tetes yang tercemar atau terbuang percuma berkontribusi pada semakin sempitnya ruang gerak generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.
Mengapa Kelangkaan Air Menjadi Ancaman yang Nyata
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9307726/original/035540600_1785064661-cid5.jpg)
Perbesar
Skala krisis air di dunia sudah berada pada level mengkhawatirkan. Melansir dari UNESCO World Water Development Report 2024, kurang lebih separuh populasi dunia mengalami kelangkaan air parah pada setidaknya satu bulan dalam setahun, sementara seperempat populasi menghadapi tingkat tekanan air "sangat tinggi" karena memakai lebih dari 80 persen pasokan air tawar tahunan yang tersedia.
Data UNICEF menambahkan gambaran itu dengan menyebut sekitar empat miliar orang, atau hampir dua pertiga populasi dunia, mengalami kelangkaan air parah setidaknya satu bulan setiap tahun. Kelompok perempuan dan anak-anak kerap menanggung beban terberat, sebab merekalah yang biasanya ditugaskan mengambil air dari sumber yang letaknya kian jauh.
Di dalam negeri, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui laman resminya pu.go.id menyebut penyebab utama krisis air meliputi pencemaran badan air, deforestasi, serta pemanfaatan air permukaan dan air tanah secara berlebihan. Ketiga faktor ini berjalan beriringan dan saling memperparah, sehingga krisis air yang terjadi bukan hanya soal kuantitas, melainkan juga kualitas.
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian PU turut mencatat bahwa persoalan ini makin pelik di wilayah kepulauan kecil. Dari total 2.780 miliar meter kubik air yang dimiliki Indonesia per tahun, hanya sekitar 4 persen yang tersedia di pulau-pulau kecil, dan dari jumlah itu hanya seperempatnya yang benar-benar bisa dikelola untuk kebutuhan domestik, irigasi, perikanan, dan peternakan.
Ragam Sikap Menghadapi Kelangkaan Air yang Bisa Diterapkan Sehari-hari
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7918731/original/072400900_1780750521-34927.jpg)
Perbesar
Menghadapi kenyataan di atas, kepedulian saja tidak cukup. Diperlukan sikap nyata dan langkah konkret yang bisa dimulai dari rumah, lalu diperluas ke lingkungan tempat tinggal dan komunitas yang lebih besar.
1. Sikap Sadar akan Nilai Air
Langkah pertama dan paling mendasar adalah membangun kesadaran bahwa air bersih adalah sumber daya terbatas, bukan sesuatu yang selalu tersedia tanpa batas. Sikap ini menjadi fondasi bagi seluruh perubahan perilaku selanjutnya, karena seseorang yang menyadari nilai air cenderung lebih berhati-hati saat menggunakannya.
Kesadaran ini bisa dipupuk lewat kebiasaan sederhana, seperti memperhatikan tagihan air bulanan, mengamati kondisi sumur atau saluran air di lingkungan sekitar, hingga mengikuti informasi terkini soal status ketersediaan air di daerah masing-masing.
2. Sikap Hemat dalam Pemakaian Air Harian
Sikap hemat air menjadi wujud paling nyata dari kepedulian terhadap kelangkaan air. Kebiasaan kecil seperti mematikan keran saat menggosok gigi, memperbaiki keran atau pipa yang bocor, hingga menggunakan air bekas cucian untuk menyiram tanaman, jika dilakukan konsisten oleh banyak keluarga, dapat memberi dampak besar terhadap ketersediaan air secara kolektif.
Kementerian PUPR melalui program Gerakan Hemat Air secara khusus mendorong masyarakat memanfaatkan air secara efisien dan efektif sembari terus meningkatkan kesadaran terhadap pelestarian lingkungan. Program semacam ini hanya akan berhasil apabila sikap hemat air benar-benar tertanam dalam kebiasaan harian, bukan sekadar slogan musiman.
3. Sikap Menjaga Kualitas dan Kelestarian Sumber Air
Menghemat pemakaian saja tidak cukup jika sumber air di sekitar tetap tercemar. Sikap menjaga kebersihan sungai, sumur, dan daerah tangkapan air sama pentingnya dengan menghemat pemakaian air di rumah.
Tindakan sederhana seperti tidak membuang sampah maupun limbah rumah tangga ke saluran air, menanam pohon di sekitar daerah resapan, serta mendukung program konservasi hutan, turut menjaga siklus air tetap sehat. Sikap ini relevan dengan temuan bahwa deforestasi dan pencemaran menjadi dua penyebab utama krisis air, sebagaimana disampaikan Kementerian PUPR melalui laman resminya.
4. Sikap Kolaboratif dan Gotong Royong dalam Komunitas
Kelangkaan air adalah persoalan bersama yang membutuhkan solusi kolektif, bukan hanya upaya individu. Sikap gotong royong, seperti bergiliran menggunakan air dari sumber yang terbatas, ikut memantau kualitas air lingkungan, atau membangun sarana penampungan air hujan komunal, menjadi bentuk nyata kepedulian yang berdampak lebih luas.
Semangat inilah yang menjadi inti dari peringatan Hari Pemantauan Air Sedunia, yakni mengajak warga biasa, bukan hanya ilmuwan atau pemerintah, untuk turut memantau dan merawat sumber air di lingkungannya masing-masing.
5. Sikap Terbuka terhadap Inovasi dan Kebijakan Pengelolaan Air
Sikap adaptif terhadap teknologi dan kebijakan baru turut menentukan keberhasilan menghadapi kelangkaan air. Menerima penggunaan alat hemat air, mendukung program daur ulang air limbah, hingga mematuhi kebijakan pembatasan penggunaan air saat musim kemarau panjang merupakan bagian dari sikap ini.
Pemerintah, melalui Kementerian PUPR, telah membangun berbagai infrastruktur seperti bendungan dan instalasi pengolahan air untuk menjaga ketersediaan air baku. Namun, infrastruktur sebaik apa pun tidak akan optimal tanpa dukungan sikap masyarakat yang selaras dengan tujuan kebijakan tersebut.
Mengapa Sikap Lebih Menentukan daripada Sekadar Aturan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3649890/original/055221300_1638364887-pexels-pixabay-459270_1_.jpg)
Perbesar
Penelitian di bidang psikologi lingkungan menunjukkan bahwa sikap individu memiliki peran besar dalam membentuk perilaku hemat air, bahkan lebih kuat dibanding sekadar aturan yang dipaksakan. Savari, Mombeni, dan Izadi (2022) dalam jurnal Scientific Reports mengungkapkan bahwa faktor sosial dan psikologis, termasuk sikap dan norma personal, menjadi penentu utama kesediaan rumah tangga mengadopsi perilaku pembatasan pemakaian air, terlebih di wilayah yang rawan kekeringan.
Temuan tersebut sejalan dengan riset Willis, Stewart, Panuwatwanich, Williams, dan Hollingsworth (2011) di Journal of Environmental Management, yang menemukan bahwa sikap masyarakat terhadap konservasi air turut memengaruhi tingkat konsumsi air di level rumah tangga secara signifikan. Artinya, mengubah cara pandang seseorang terhadap air sama pentingnya dengan membangun infrastruktur maupun menerbitkan kebijakan pembatasan.
Dengan kata lain, sikap terhadap kelangkaan air bukan sekadar respons emosional sesaat, melainkan variabel yang dapat diukur dan terbukti memengaruhi jumlah air yang benar-benar dihemat oleh sebuah keluarga.
Sikap dan Aksi Nyata Menghadapi Kelangkaan Air
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3471989/original/009403500_1622705304-000_9BA6ZK.jpg)
Perbesar
| Sadar akan nilai air | Memantau tagihan dan kondisi sumber air rumah | Membangun kepedulian jangka panjang |
| Hemat air harian | Menutup keran saat tidak digunakan, memperbaiki kebocoran | Mengurangi pemborosan air rumah tangga |
| Menjaga kelestarian sumber air | Tidak membuang limbah ke saluran air, menjaga area resapan | Mempertahankan kualitas air jangka panjang |
| Gotong royong komunitas | Bergiliran memakai air, membangun penampungan air hujan bersama | Meratakan akses air di lingkungan |
| Terbuka pada inovasi dan kebijakan | Memakai alat hemat air, mendukung daur ulang air limbah | Mempercepat solusi jangka menengah-panjang |
Dampak Jika Kelangkaan Air Terus Diabaikan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5339586/original/009814200_1757065230-6.jpg)
Perbesar
Kelangkaan air yang dibiarkan tanpa perubahan sikap masyarakat berpotensi memperparah kesenjangan sosial, sebab hanya kelompok berkecukupan yang mampu membeli air bersih dalam jumlah cukup ketika pasokan menipis. Sektor pertanian dan pangan turut terancam, mengingat air adalah kebutuhan mutlak bagi keberlangsungan produksi hasil bumi.
Dari sisi kesehatan, keterbatasan akses air bersih meningkatkan risiko penyakit yang berhubungan dengan sanitasi buruk. Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat bahwa perbaikan akses air, sanitasi, dan kebersihan dapat menyelamatkan sekitar 1,4 juta jiwa setiap tahun, sebuah angka yang menegaskan betapa eratnya kaitan antara pengelolaan air dan keselamatan manusia.
Sikap menghadapi kelangkaan air pada akhirnya bukan tentang siapa yang paling peduli di atas kertas, melainkan siapa yang benar-benar konsisten mempraktikkannya dalam keseharian. Mulai dari menutup keran rapat-rapat, menjaga kebersihan sumber air, hingga mendukung kebijakan pengelolaan air yang berkelanjutan, setiap langkah kecil memiliki dampak kumulatif yang besar bagi generasi mendatang.
Peringatan Hari Pemantauan Air Sedunia setiap 18 September menjadi pengingat tahunan bahwa krisis air bukan persoalan jauh di negara lain, melainkan tantangan yang juga dihadapi Indonesia. Sikap bijak yang dimulai dari rumah sendiri hari ini akan menentukan seberapa aman ketersediaan air bersih untuk anak cucu di masa depan.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Sikap saat Menghadapi Kelangkaan Air
1. Apa itu Hari Pemantauan Air Sedunia?
Hari Pemantauan Air Sedunia atau World Water Monitoring Day diperingati setiap 18 September. Peringatan ini dicetuskan America's Clean Water Foundation pada 2003 untuk mengajak masyarakat memantau kualitas sumber air di lingkungannya sendiri.
2. Apa sikap paling penting saat menghadapi kelangkaan air di rumah?
Sikap paling mendasar adalah menyadari bahwa air bersih adalah sumber daya terbatas, lalu diikuti kebiasaan hemat air harian seperti menutup keran rapat dan segera memperbaiki kebocoran.
3. Mengapa sikap masyarakat lebih menentukan daripada aturan pemerintah dalam mengatasi kelangkaan air?
Riset ilmiah, termasuk Savari, Mombeni, dan Izadi (2022) di Scientific Reports, menunjukkan faktor psikologis seperti sikap dan norma personal menjadi penentu utama kesediaan rumah tangga menghemat air, sehingga kebijakan tanpa perubahan sikap masyarakat cenderung kurang efektif.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9351678/original/090943000_1789710293-Gemini_Generated_Image_lydok8lydok8lydo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9351664/original/080547700_1789709463-6a3404f6-6d76-48fe-9e6a-90d53bacda3c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5298192/original/083676200_1753751719-7712aa1b-ea8a-47b2-8fed-e5dce5ffd0f5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488201/original/084620800_1769741228-ilustrasi_pohon_mangga.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9351481/original/068893600_1789698708-3be4efac-89fc-4275-879a-cda657b49c86.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5483970/original/082254600_1769410021-Jambu_Air_Varietas_Kerdil__Kesan_Tropis_yang_Teduh.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9328901/original/000875000_1787213211-HL_Ternak_Lele.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9351431/original/089450800_1789695786-Gemini_Generated_Image_2ehjug2ehjug2ehj.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5511573/original/006744400_1771913090-unnamed__66_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9335001/original/016091900_1787908253-01M13M1GQVBMK6FVBCEJQQT5J4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9351421/original/082695900_1789695322-d982a227-ee1a-43b5-a660-42b0c5cdebe8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9351408/original/000030500_1789694734-Gemini_Generated_Image_lvuunalvuunalvuu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9351054/original/090711600_1789638883-Rumah_Desa_dengan_Dinding_Bata.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9351238/original/037667300_1789646690-aed690a7-934c-43f6-9c60-45d511276952.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9310872/original/091773200_1785378352-watermarked_img_9606818118915072403.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9351220/original/084904700_1789645950-4e924e66-5abe-45b0-a4d9-063dd1e40211.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9351185/original/026562700_1789644575-Desain_rumah_sederhana_dengan_taman_tapi_tetap_punya_area_parkir.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9350919/original/094207800_1789634755-kebun_5.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9351043/original/036839300_1789638680-b9f0eb4e-457f-49d0-b228-134e388fa1da.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9351026/original/067817500_1789637498-ca73bee7-db3d-4c2a-a369-0cd618878198.jpeg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336150/original/025769500_1788141275-4887a07b-cbfa-4c27-87dd-a34a2ddf4af9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6707818/original/004530300_1779526004-1779525648.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336522/original/062149400_1788164466-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326731/original/044655800_1787034649-01M09H5EZC0CJF22ZHH9BPEA9C.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514575/original/008264000_1772095176-unnamed__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336528/original/070709900_1788164536-Poison_Dart_Frog.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336176/original/026556300_1788144002-32234.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3144625/original/098363800_1591334410-Foto_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9337050/original/022337900_1788230032-1de3d558-1975-4c43-b4f2-118d1bd51876.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9337142/original/081564900_1788234228-Noda_Bekas_Keringat_di_Bantal.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9332963/original/050260600_1787725598-1280px-Siliwangi_in_Lampegan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9337293/original/019623200_1788239716-56d48274-58d6-4330-a2d5-7c8cc37e4557.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7182742/original/004905700_1779978836-pexels-bulat-5678622.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336588/original/048843200_1788166989-2b16fa11-1670-4e28-b029-72a189aecfd4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9337139/original/089359100_1788234193-outi-marjaana-5eu96L3hob4-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336191/original/048055400_1788145496-pexels-nerea-arance-205949445-11860562.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8263241/original/026820600_1781870752-Budidaya_Azolla_sebagai_Pakan_Alternatif.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310320/original/033268000_1754903814-Depositphotos_243089644_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502254/original/062020500_1770974864-beautiful-asian-girl-sleeps-her-bed-with-white-sheets-warm-winter-duvet-smiling-her-sleep-drea.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336566/original/005951400_1788166224-pexels-anntarazevich-5629138.jpg)