Liputan6.com, Jakarta - Meskipun kini lipstik telah dianggap sebagai sesuatu yang biasa sebagai alat kosmetik, sejarah lipstick sesungguhnya memiliki perjalanan cukup panjang. Sebelum membahas lebih jauh, perlu diketahui, sejarah riasan telah ditemukan sejak 6.000 tahun yang lalu, di mana fungsinya melampaui sekadar estetika, namun juga memiliki makna simbolis dan fungsional. Kosmetik pertama kali lahir di Mesir Kuno, dengan riasan mata seperti eyeliner yang menyimbolkan kekayaan.
Sebagaimana diansir dari laman Natural History Museum of Utah, lipstik juga berfungsi sebagai pelindung dari sengatan matahari dan angin gurun yang keras, serta diyakini memiliki kekuatan penyembuhan dan magis. Sampai akhirnya, berbagai perubahan sosial dan politik memengaruhi bagaimana lipstik diterima di masyarakat, hingga dijadikan simbol emansipasi wanita.
Yuk, kembali ke masa awal saat lipstik kali pertama ditemukan. Di bawah ini akan dipaparkan sejarah lipstick Mesir kuno, dilansir Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa (28/7/2026).
Penemuan Lipstick dan Rutinitas Kecantikan Zaman Dulu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5507640/original/046961600_1771505586-fashionista-girl-woman-white-background-stylish-lady.jpg)
Perbesar
Melansir laman ThoughtCo, orang Mesopotamia kelas atas disebut sebagai penemu lipstik pertama kali. Mereka mengoleskan permata berharga yang dihancurkan ke bibir mereka. Itu terjadi pada waktu 2500 SM hingga 1000 SM yang lalu. Sementara menurut History of Cosmetics, evolusi terbesar pembuatan lipstik terjadi di Mesir kuno di mana masyarakat menggunakannya bukan hanya membuat mereka terlihat lebih cantik tetapi juga sebagai sarana untuk melindungi diri dari terik matahari dan angin gurun.
Berdasarkan informasi dari Natural History Museum of Utah, sekitar 4.000 tahun lalu, tepatnya pada masa Kerajaan Mesir, perempuan bangsawan sudah memiliki rutinitas kecantikan yang cukup maju. Mereka melakukan perawatan kulit seperti eksfoliasi untuk membersihkan sel kulit mati, menggunakan masker wajah untuk menjaga kelembapan, serta menghilangkan bulu tubuh dengan campuran madu dan gula. Teknik tersebut kini dikenal kembali dengan istilah sugaring dan menjadi salah satu metode alami pengganti waxing.
Setelah melakukan perawatan tubuh, para perempuan bangsawan Mesir biasanya akan dirias menggunakan berbagai kosmetik. Mereka memakai eyeshadow, pewarna bibir merah, serta riasan mata hitam khas Mesir yang disebut kohl. Selain berfungsi untuk memperindah tampilan mata, kohl juga dipercaya dapat membantu melindungi mata dari cahaya matahari gurun yang menyilaukan.
Bagi masyarakat Mesir Kuno, kosmetik memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar mempercantik diri. Produk dan perlengkapan riasan juga memiliki nilai simbolis serta berkaitan dengan kepercayaan spiritual. Mereka meyakini bahwa penggunaan makeup dapat memberikan perlindungan dari berbagai pengaruh buruk dan gangguan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk efek dari panasnya sinar matahari.
Lipstick di Abad Pertengahan Masyarakat Mesir Kuno
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5336170/original/068413900_1756863883-element5-digital-ceWgSMd8rvQ-unsplash.jpg)
Perbesar
Di abad pertengahan, masyarakat Mesir Kuno menjadikan warna lipstik sebagai simbol status dan kedudukan sosial. Sementara bagi masyarakat Yunani Kuno justru pada masa itu memandang lipstik sebagai sesuatu yang tidak pantas dan identik dengan kalangan pekerja seks komersial (PSK). Bahkan, di Yunani Kuno pernah terdapat aturan yang mewajibkan para pekerja seks komersial mengenakan riasan mencolok, termasuk pewarna bibir berwarna merah seperti wine, ketika berada di ruang publik. Mereka yang tidak mengikuti aturan tersebut dapat dikenai hukuman. Menurut Gabriela Hernandez, penulis buku Classic Beauty: The History of Makeup, para perempuan penghibur pada masa itu memang diwajibkan menggunakan makeup dan lipstik agar mudah dikenali oleh masyarakat.
Pandangan negatif terhadap bibir merah tidak berhenti di masa Yunani Kuno. Memasuki abad pertengahan, penggunaan lipstik dan kosmetik juga mengalami penolakan, terutama karena pengaruh kuat ajaran agama Kristen di Eropa. Gereja pada masa itu mengecam penggunaan riasan wajah karena dianggap bertentangan dengan nilai moral dan kesederhanaan.
Bahkan, bibir yang diberi warna merah sering dikaitkan dengan hal-hal mistis dan dianggap sebagai simbol hubungan dengan kekuatan jahat. Akibatnya, perempuan yang mengenakan lipstik pada abad pertengahan kerap dicurigai memiliki praktik sihir atau dianggap sebagai penyihir.
Ratu Elizabeth 1 dan Pengaruhnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5185515/original/026219100_1744436642-Liptik.jpg)
Perbesar
Di tengah stigma negatif dan aturan yang ketat terhadap penggunaan kosmetik, Ratu Elizabeth I justru tampil berbeda. Sang ratu dikenal gemar memakai lipstik berwarna merah terang karena meyakini bahwa warna tersebut memiliki kekuatan khusus. Ia percaya bibir merah bukan hanya mempercantik penampilan, tetapi juga mampu menangkal penyakit dan memperpanjang harapan hidup.
Namun, di balik popularitas lipstik merah pada masa pemerintahannya, terdapat risiko besar bagi kesehatan. Banyak produk pewarna bibir saat itu dibuat menggunakan campuran timah putih, bahan beracun yang belum diketahui dampaknya secara luas. Menurut Gabriela Hernandez, penulis buku Classic Beauty: The History of Makeup, Ratu Elizabeth I bahkan meracik sendiri kosmetiknya. Meski begitu, sebagian besar lipstik pada era tersebut tetap mengandung timah putih yang dapat menumpuk di dalam tubuh dan secara perlahan menyebabkan keracunan bagi penggunanya.
Evolusi Abad ke-19 dan 20
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5159830/original/087998900_1741761265-Lipstik.jpg)
Perbesar
Pada akhir abad ke-19, perkembangan lipstik modern mulai memasuki era baru ketika para pembuat parfum di Prancis memperkenalkan pewarna bibir dalam bentuk tabung yang lebih praktis. Inovasi tersebut membuat lipstik semakin mudah digunakan dan dikenal oleh masyarakat luas. Memasuki tahun 1920-an, popularitas lipstik semakin meningkat berkat para bintang film bisu yang menjadikan warna merah pekat dan ungu gelap sebagai ciri khas penampilan mereka. Sejak saat itu, lipstik mulai berubah dari sekadar produk kosmetik menjadi bagian penting dalam dunia mode dan gaya hidup.
Peran lipstik semakin kuat selama Perang Dunia II, ketika warna bibir merah berani dianggap sebagai simbol semangat, ketahanan, dan rasa percaya diri di tengah masa sulit. Penggunaan lipstik tidak hanya berkaitan dengan kecantikan, tetapi juga menjadi bentuk ekspresi kekuatan dan optimisme. Hingga akhir abad ke-20, lipstik telah berkembang menjadi ikon universal yang melambangkan kemewahan, keanggunan, serta pemberdayaan diri bagi banyak orang di seluruh dunia.
Pada tahun 1884, sebuah perusahaan parfum di , Perancing, Guelain, Perancis, menjadi perusahaan pertama yang memproduksi lipstik secara komersial. Lipstik tersebtu terbuat dari lemak rusa, beeswax, dan minyak kastor. Namun, lipstik pada masa ini masih dibungkus dengan kertas sutra.
Tren Lipstick yang Terus Berkembang Sampai Kini
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5159833/original/043051900_1741761266-Mencoba_lipstik.jpg)
Perbesar
Perkembangan industri kecantikan menunjukkan bahwa konsumen kini tidak hanya mencari produk yang mempercantik, tetapi juga memberikan manfaat tambahan. Hal ini membuat lipstik dengan kandungan skincare semakin berkembang pada 2026.
Formula yang mengandung pelembap, minyak alami, vitamin, hingga bahan aktif untuk menjaga kesehatan bibir akan semakin banyak ditemukan. Lipstik tidak lagi hanya berfungsi sebagai pewarna, tetapi juga menjadi bagian dari perawatan kulit.
Meskipun warna natural semakin populer, warna-warna berani tetap memiliki tempat dalam dunia kecantikan. Lipstik merah klasik, plum, burgundy, hingga warna eksperimental tetap diminati oleh mereka yang ingin tampil lebih percaya diri.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Sejarah Lipstick Mesir Kuno
1. Kapan lipstik mulai digunakan di Mesir Kuno?
Lipstik dan kosmetik lainnya telah digunakan di Mesir Kuno sejak sekitar 6.000 tahun yang lalu.
2. Siapa saja yang menggunakan lipstik di Mesir Kuno?
Baik pria maupun wanita di Mesir Kuno menggunakan lipstik, terutama kalangan atas, sebagai penanda status sosial.
3. Apa tujuan utama penggunaan lipstik di Mesir Kuno selain untuk kecantikan?
Selain estetika, lipstik juga digunakan untuk melindungi bibir dari sengatan matahari dan angin gurun, serta diyakini memiliki kekuatan penyembuhan dan magis.
4. Bahan-bahan apa saja yang digunakan untuk membuat lipstik di Mesir Kuno?
Bahan-bahan termasuk bunga, oker merah, sisik ikan, lilin lebah, serta pigmen dari kumbang karmin dan semut. Beberapa formulasi awal juga menggunakan bahan beracun seperti yodium dan bromine mannite.
5. Bagaimana peran Cleopatra dalam sejarah lipstik Mesir Kuno?
Cleopatra dikenal mempopulerkan lipstik merah yang khas, dibuat dari campuran bunga, oker merah, sisik ikan, semut yang dihancurkan, karmin, dan lilin lebah.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9301150/original/094409300_1784440557-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309331/original/046597200_1785225006-Screenshot_2026-07-28_144314.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309397/original/002385800_1785226530-f6a041fa-fbea-4530-9130-73555e3a8690.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309196/original/047640000_1785220740-e96b5b43-b5e3-418d-824b-a36651b90110.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9306242/original/040603200_1784869122-a33479f2-b2bc-458e-bf35-e4e039b9b40b.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4667493/original/014528400_1701240616-Ilustrasi_diri_sendiri__sisi_gelap__berjuang__sendirian.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309087/original/092335900_1785218628-ca3521c0-3bcb-4a35-90ab-638663ca1077.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309063/original/059032100_1785218010-pexels-prathsnap-13220059.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309301/original/011119200_1785224616-pexels-julio-lopez-75309646-29502353.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309300/original/080125900_1785224525-3a91fba6-7d33-4e2f-b253-51d372103fc4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309190/original/076406600_1785220577-Screenshot_2026-07-28_133500.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1664236/original/009277500_1501494869-Pajak6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5195249/original/095060800_1745333291-friends_23-2148168152.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309168/original/057444300_1785220202-Tumpek_Krulut.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5423479/original/045396700_1764063975-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9308981/original/006531300_1785213582-hl.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309014/original/097077300_1785215054-65e388d6-68ba-428d-bf63-26bc02a98118.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9308900/original/044120500_1785208928-7849d3dc-0ef8-4d6a-9906-bbee5b77772c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309061/original/007112500_1785217927-kalender_islam_bulan_Agustus.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5552830/original/094815200_1775832773-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5551751/original/092211600_1775740607-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4789531/original/047657400_1711842914-20240331-Malam_Paskah-AFP_5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5545675/original/091145500_1775204582-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5541835/original/099746700_1774921684-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5541806/original/020142900_1774918571-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5541755/original/022614200_1774891755-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5542101/original/053321400_1774933354-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5558460/original/066569600_1776419680-HL_mangga.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5545506/original/095111700_1775196399-Gemini_Generated_Image_qunmakqunmakqunm.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7026414/original/064378700_1779801039-Gemini_Generated_Image_bb1cq2bb1cq2bb1c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5560536/original/020239000_1776672350-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5449723/original/039403000_1766112570-Advertorial-Aplikasi_Alpha_Inv_Des25-01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5541296/original/058179000_1774858088-c44cf3d7-d077-4b05-9674-769fab1081ed.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5542211/original/004703900_1774936638-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5547853/original/042614700_1775473865-dpr1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5550117/original/093812400_1775637545-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559831/original/019905700_1776645721-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5520996/original/003480100_1772675440-unnamed__57_.jpg)