Profil Pierre Tendean dan Jejak Jejak Patriotismenya dalam Tragedi G30S/PKI

2 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Pierre Tendean adalah perwira militer Indonesia yang gugur sebagai martir dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S) demi melindungi Jenderal A.H. Nasution. Seorang blasteran Minahasa dan Prancis, ia membawa karakter disiplin serta integritas tinggi yang ditempa sejak masa pendidikan di militer.

Kehadirannya di tengah konflik politik nasional tahun 1960-an menjadi bukti nyata bahwa loyalitas seorang ajudan mampu melampaui rasa takut akan kematian. Pengorbanan nyawanya di Lubang Buaya mencerminkan komitmen penuh terhadap sumpah prajurit yang ia pegang teguh hingga akhir hayat.

Berikut Liputan6.com ulas lengkap pembahasannya, Senin (19/1/2026).

Profil Lengkap Pierre Tendean

Nama Lengkap: Pierre Andries Tendean.

Tempat, Tanggal Lahir: Jakarta, 21 Februari 1939.

Pendidikan Militer: Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) Bandung, Angkatan 1958.

Pangkat Terakhir: Kapten Czi (Anumerta).

Jabatan Terakhir: Ajudan Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan / Kepala Staf Angkatan Bersenjata (Menko Hankam/Kasab).

Orang Tua: Dr. A.L. Tendean dan Maria Elizabeth Cornet.

Tanda Kehormatan: Pahlawan Revolusi (SK Presiden No. 111/KOTI/1965).

Tanggal Wafat: 1 Oktober 1965 di Lubang Buaya, Jakarta.

Awal Karier dan Penugasan Intelijen Berbahaya

Memulai karier sebagai lulusan ATEKAD pada tahun 1961, ia langsung terjun ke medan penugasan yang menantang di Sumatera Utara. Melansir dari laman resmi Pusat Sejarah TNI, ia menjabat sebagai Komandan Peleton Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II/Bukit Barisan. Kemampuan teknis dan kedisiplinannya yang menonjol membuatnya cepat dikenal di kalangan perwira tinggi sebagai prajurit yang cakap.

Ketangkasannya membawa ia masuk ke dalam dunia intelijen militer, di mana ia mendapatkan pelatihan khusus di Bogor untuk tugas-tugas infiltrasi. Selama masa Konfrontasi Indonesia-Malaysia (Dwikora), ia dikirim untuk memimpin misi intelijen di garis depan. Tugas ini sangat berisiko tinggi karena mengharuskan ia masuk ke wilayah musuh untuk mengumpulkan data strategis guna kepentingan pertahanan kedaulatan negara.

Keberhasilan misi-misi tersebut membuat kariernya melesat, hingga akhirnya ia ditarik ke Jakarta untuk menjabat sebagai ajudan Jenderal A.H. Nasution. Jabatan ini merupakan posisi prestisius sekaligus penuh tanggung jawab besar mengingat kondisi politik yang sangat dinamis pada pertengahan 1965. Di sinilah loyalitas Pierre Tendean diuji secara langsung dalam pusaran sejarah besar bangsa Indonesia.

Malam Pengorbanan di Jalan Teuku Umar

Pada dini hari 1 Oktober 1965, pasukan Tjakrabirawa mengepung kediaman Jenderal A.H. Nasution dengan tujuan melakukan penculikan. Melansir dari arsip Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, situasi saat itu sangat kacau karena tembakan dilepaskan secara membabi buta hingga melukai Ade Irma Suryani. Pierre yang sedang beristirahat di paviliun ajudan segera terbangun dan menghadapi pasukan bersenjata tersebut dengan berani.

Dalam kegelapan dan desakan senjata, para penculik menanyakan keberadaan Jenderal Nasution kepada setiap orang yang mereka temui. Tanpa ragu sedikit pun, Pierre melangkah maju dan mengaku bahwa dirinya adalah Nasution untuk memberikan waktu bagi sang Jenderal melarikan diri. Tindakan nekat dan heroik ini berhasil mengecoh pasukan penculik yang segera meringkusnya dan membawanya pergi dari rumah tersebut.

Keyakinan pasukan penculik bahwa mereka telah mendapatkan target utama membuat pencarian terhadap Jenderal Nasution dihentikan sementara. Pengorbanan diri tersebut menjadi faktor penentu keselamatan Jenderal Nasution, meskipun harga yang harus dibayar adalah nyawa sang ajudan sendiri.

Akhir Hayat dan Warisan Sang Patriot

Pierre dibawa ke Lubang Buaya dalam kondisi tertawan namun tetap mempertahankan martabatnya sebagai seorang perwira TNI. Melansir dari catatan sejarah Perpustakaan Nasional RI, ia mengalami penyiksaan bersama para petinggi Angkatan Darat lainnya sebelum akhirnya ditembak mati.

Jasadnya ditemukan beberapa hari kemudian di dalam sebuah sumur tua, mengakhiri hidup seorang pemuda yang seharusnya menikah pada bulan November 1965.

Kematian tragis ini mengguncang bangsa, namun pengabdiannya segera mendapatkan penghargaan tertinggi melalui kenaikan pangkat anumerta. Sebagai penghormatan, namanya kini diabadikan di banyak kota besar di Indonesia sebagai nama jalan protokol. Hal ini dilakukan agar masyarakat selalu teringat pada nilai-nilai keberanian yang ia tunjukkan di malam yang kelam tersebut.

Monumen Lubang Buaya kini menjadi saksi bisu perjuangan terakhirnya yang penuh dengan penderitaan fisik namun kokoh secara mental. Keteguhan hati dalam menjaga sumpah prajurit hingga napas terakhir menjadikannya teladan moral bagi korps militer maupun masyarakat sipil.

FAQ

Siapa sebenarnya Pierre Tendean?

Beliau adalah perwira militer dan pahlawan revolusi yang menjadi ajudan Jenderal A.H. Nasution.

Kapan Pierre Tendean wafat?

Beliau wafat pada tanggal 1 Oktober 1965 akibat peristiwa G30S/PKI.

Mengapa beliau dianggap sangat heroik?

Karena dengan sengaja mengaku sebagai Jenderal Nasution agar pimpinannya bisa menyelamatkan diri dari penculikan.

Apa pangkat terakhir beliau?

Pangkat terakhir yang diberikan adalah Kapten Czi Anumerta.

Di mana beliau dimakamkan?

Jenazah beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |