Perbedaan Senang dan Bahagia: Memahami Makna Mendalam di Balik Dua Emosi yang Sering Tertukar

3 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta Kata "senang" dan "bahagia" kerap digunakan bergantian dalam percakapan sehari-hari, padahal keduanya menyimpan makna yang cukup berbeda. Memahami perbedaan senang dan bahagia menjadi langkah penting, karena secara fisiologis kebahagiaan berbeda dari kesenangan, meskipun keduanya sama-sama terasa menyenangkan.

Banyak orang mengejar kesenangan sesaat - seperti membeli barang baru atau menikmati hiburan - lalu merasa kosong ketika perasaan itu cepat memudar. Kondisi ini terjadi karena kesenangan bersifat sementara, sedangkan kebahagiaan bersifat berkelanjutan.

Dari perspektif psikologi dan neurosains modern, perbedaan senang dan bahagia kini dapat diukur secara ilmiah melalui aktivitas neurotransmitter di dalam otak. Berikut ulasan lengkap mengenai perbedaan keduanya, dilengkapi pandangan para ahli serta langkah konkret untuk membangun kebahagiaan sejati dalam hidup.

Dilansir dari Psychology Today, kebahagiaan secara fisiologis berbeda dari kesenangan karena kebahagiaan dimediasi oleh neurotransmitter asetilkolin dan sistem saraf parasimpatik, sehingga kepuasan dan ketenangan adalah deskriptor kebahagiaan yang jauh lebih tepat dibandingkan kesenangan.

Baca juga: Pengertian Kebahagiaan, Tanda, Mitos, dan Cara Menjadi Bahagia

Pengertian Senang dan Bahagia Menurut Psikologi

Dalam konteks psikologi, senang atau kesenangan (pleasure) didefinisikan sebagai perasaan positif yang muncul ketika seseorang menikmati sesuatu, dan biasanya disebabkan oleh rangsangan eksternal yang melibatkan pancaindra. Menerima hadiah, menyantap makanan favorit, atau menonton film yang menghibur merupakan contoh umum dari perasaan senang. Kesenangan bersifat tidak stabil, dan sensasi yang ditimbulkannya bisa cepat berubah menjadi netral atau bahkan tidak menyenangkan.

Matthieu Ricard, biksu Buddha sekaligus mantan ahli biologi molekuler yang dijuluki "Orang Paling Bahagia di Dunia", dikutip dari LifeEdited menyatakan, "Kebahagiaan adalah keadaan kepuasan batin, bukan pemuasan hasrat yang tak terpuaskan terhadap hal-hal di luar diri."

Sementara itu, bahagia atau kebahagiaan (happiness) merupakan kondisi emosional yang jauh lebih mendalam dan stabil. Kebahagiaan adalah sensasi batin yang tidak bergantung pada pancaindra - di dalamnya terdapat ketenangan dan kedamaian serta kepuasan dari dalam diri. Seseorang dapat tetap merasa bahagia meskipun sedang menghadapi tantangan, karena kebahagiaan tidak bergantung pada stimulasi konstan atau imbalan eksternal dan bisa bertahan bahkan di masa-masa sulit, memberikan rasa puas dan ketahanan.

Perbedaan mendasar lainnya terletak pada dampak jangka panjang kedua emosi tersebut. Kesenangan cenderung menciptakan siklus keinginan yang terus bertambah - semakin banyak mendapatkan, semakin banyak yang diinginkan. Kebahagiaan justru menumbuhkan rasa cukup dan kedamaian. Inilah mengapa seseorang yang memiliki segalanya secara materi belum tentu merasa bahagia, sedangkan orang dengan kehidupan sederhana justru bisa merasakan ketenangan jiwa yang mendalam.

Baca juga: Indikator Kebahagiaan yang Sering Terlewat dalam Kehidupan

Perbedaan Senang dan Bahagia dari Sisi Neurosains: Dopamin vs Serotonin

Ilmu saraf modern memberikan penjelasan yang sangat menarik tentang mengapa senang dan bahagia terasa berbeda, secara harfiah, di dalam otak manusia. Dua neurotransmitter utama berperan di balik perbedaan ini, yakni dopamin dan serotonin. Sebagaimana disampaikan ahli endokrinologi pediatrik Robert Lustig melalui Les Mills, dopamin dan serotonin merupakan dua zat biokimia berbeda, dua neurotransmitter berbeda, di dua area otak yang berbeda.

Serotonin diasosiasikan dengan perasaan bahagia, fokus, dan tenang, sedangkan dopamin lebih selaras dengan perasaan imbalan (reward) dan motivasi - ketika seseorang mendapatkan lonjakan dopamin cepat, ia menciptakan sensasi kesenangan sesaat. Menerima pujian, makan makanan lezat, atau berbelanja daring merupakan aktivitas yang memicu pelepasan dopamin di otak. Namun, dopamin bersifat eksitatorik yang membuat neuron berhenti membuat dirinya mudah diakses, sehingga seiring waktu semakin sulit mendapatkan sensasi kesenangan yang sama - dan yang lebih penting, dopamin menurunkan regulasi serotonin.

Robert Lustig, dikutip dari Les Mills menyatakan, "Semakin banyak kesenangan yang kamu kejar, semakin tidak bahagia kamu akan menjadi."

Sebaliknya, kesenangan terutama dimediasi oleh dopamin yang paling dikenal karena fungsi mobilisasi, pendekatan, motivasi, rasa ingin tahu, serta pencarian imbalan dan tujuan. Memahami mekanisme ini membantu menjelaskan mengapa membeli barang baru hanya menghadirkan rasa senang sesaat, sementara membangun hubungan bermakna dengan orang terdekat memberikan kebahagiaan yang jauh lebih langgeng. Perbedaan senang dan bahagia bukan sekadar perbedaan semantik, melainkan perbedaan mendasar dalam cara otak memproses kedua pengalaman tersebut.

Baca juga: Manfaat Kebahagiaan dari Hidup Sederhana dan Cara Menerapkannya

7 Perbedaan Utama antara Kesenangan dan Kebahagiaan

Ada banyak cara untuk memetakan perbedaan senang dan bahagia secara lebih terperinci. Dr. Robert Lustig, profesor emeritus dari University of California San Francisco, membedakan kesenangan dan kebahagiaan dengan menekankan perbedaan fundamental keduanya. Berikut tujuh perbedaan utama yang patut dipahami setiap orang.

Mengacu pada riset Dr. Lustig melalui Medium, terdapat tujuh perbedaan kunci antara kesenangan dan kebahagiaan: kesenangan berumur pendek, kebahagiaan berumur panjang; kesenangan bersifat fisik (visceral), kebahagiaan bersifat abstrak (ethereal); kesenangan berorientasi mengambil, kebahagiaan berorientasi memberi; kesenangan bisa dicapai melalui substansi, kebahagiaan tidak; kesenangan dialami sendirian, kebahagiaan dialami dalam kelompok sosial; kesenangan berlebihan mengarah pada kecanduan, sementara tidak ada istilah kecanduan kebahagiaan; serta kesenangan terkait dopamin dan kebahagiaan terkait serotonin.

  1. Durasi. Kesenangan berlangsung singkat, mungkin hanya beberapa menit atau jam. Kebahagiaan bertahan jauh lebih lama dan bisa menjadi kondisi hidup yang menetap ketika seseorang memiliki fondasi batin yang kuat.
  2. Sifat. Kesenangan dirasakan secara fisik dan indrawi - seperti rasa nikmat saat makan atau sensasi segar setelah mandi. Kebahagiaan lebih abstrak dan dirasakan sebagai ketenangan batin yang melampaui pengalaman fisik semata.
  3. Orientasi. Kesenangan berorientasi pada mengambil atau menerima, sedangkan kebahagiaan justru tumbuh dari memberi dan berkontribusi kepada orang lain.
  4. Substansi. Kesenangan bisa dicapai melalui zat tertentu seperti makanan manis, kafein, atau bahkan alkohol. Kebahagiaan tidak pernah bisa diperoleh dari substansi apa pun.
  5. Konteks Sosial. Kesenangan sering kali dialami secara individual, sementara kebahagiaan biasanya tumbuh dalam konteks sosial - bersama keluarga, di komunitas, atau dalam hubungan bermakna.
  6. Risiko. Kesenangan yang dikejar secara berlebihan berpotensi mengarah pada kecanduan, baik terhadap gula, media sosial, belanja, maupun hal lainnya. Tidak ada risiko serupa pada kebahagiaan - seseorang tidak akan pernah "kecanduan" terlalu bahagia.
  7. Neurotransmitter. Kesenangan didorong oleh dopamin yang bersifat eksitatorik, sedangkan kebahagiaan dikaitkan dengan serotonin yang bersifat inhibitorik dan mendukung kesejahteraan jangka panjang.

Baca juga: Kata-Kata Hidup Sederhana tapi Bermakna agar Lebih Bersyukur

Mengapa Mengejar Kesenangan Justru Bisa Menurunkan Kebahagiaan

Fenomena mengejar kesenangan secara terus-menerus dikenal dalam psikologi sebagai jebakan hedonis (hedonic treadmill). Istilah ini menggambarkan kondisi di mana seseorang membutuhkan stimulus yang semakin besar untuk merasakan tingkat kesenangan yang sama. Ketika seseorang terbiasa membeli barang baru setiap pekan, misalnya, sensasi senangnya semakin berkurang dari waktu ke waktu dan mendorong keinginan untuk membeli lebih banyak lagi. Siklus ini bisa berlangsung tanpa akhir, dan pada titik tertentu justru menimbulkan kekosongan batin yang sulit dijelaskan.

George A. Sheehan, penulis dan filsuf kebahagiaan Amerika, dikutip dari BrainyQuote menyatakan, "Kebahagiaan berbeda dari kesenangan. Kebahagiaan berkaitan dengan perjuangan, ketahanan, dan pencapaian."

Dosis dopamin tinggi yang terkonsentrasi di area tertentu di otak dikaitkan dengan sikap terlalu kompetitif, agresif, dan kurangnya pengendalian impuls - dan juga diasosiasikan dengan gangguan makan berlebihan, kecanduan, serta berbagai kondisi kesehatan mental dan gangguan suasana hati. Hubungan kompleks antara dopamin dan serotonin menjelaskan mengapa kecanduan dan depresi sering disebut sebagai dua sisi dari mata uang yang sama. Ketika seseorang terlalu banyak mengejar kesenangan melalui media sosial, makanan cepat saji, atau belanja berlebihan, kadar dopamin meningkat dan secara paradoks justru menekan produksi serotonin. Fenomena ini sangat relevan di era digital saat ini, di mana notifikasi dan konten viral menyediakan pasokan dopamin hampir tanpa batas.

Eckhart Tolle, penulis dan pemikir spiritual terkemuka, dikutip dari Medium menyatakan, "Kesenangan selalu berasal dari sesuatu di luar diri, sedangkan sukacita muncul dari dalam."

Memahami mekanisme ini bukan berarti seseorang harus menghindari kesenangan sama sekali. Menikmati pemandangan indah, menyantap makanan lezat, atau mendengarkan musik favorit tetap merupakan bagian sehat dari kehidupan. Yang perlu diwaspadai adalah ketika kesenangan menjadi satu-satunya tolok ukur kebaikan hidup, sehingga mengabaikan aspek yang sesungguhnya membangun kebahagiaan jangka panjang. Orang yang memahami perbedaan senang dan bahagia cenderung lebih bijak dalam mengalokasikan energi serta waktu mereka, memilih aktivitas yang memberikan kepuasan mendalam alih-alih hanya mengejar sensasi sesaat.

Baca juga: Sikap Elegan agar Bisa Hidup Bahagia Meski Gaji Pas-Pasan

Baca juga: Kelebihan Orang yang Bahagia saat Menikmati Waktu Sendirian

Cara Membangun Kebahagiaan Sejati dalam Kehidupan Sehari-hari

Jika kesenangan bergantung pada faktor eksternal, maka kebahagiaan sejati dapat dibangun secara internal melalui kebiasaan dan pola pikir tertentu. Riset selama hampir satu abad memberikan petunjuk yang sangat jelas tentang apa yang benar-benar membuat manusia bahagia - dan jawabannya bukan harta, bukan pula ketenaran.

Seperti yang diberitakan World Economic Forum, Harvard Study of Adult Development merupakan studi kebahagiaan terpanjang di dunia yang dimulai sejak 1938 dan menemukan bahwa kualitas hubungan interpersonal adalah faktor terpenting dalam menentukan kebahagiaan seseorang. Robert Waldinger, psikiater dan profesor di Harvard Medical School yang memimpin studi tersebut, dikutip dari Harvard Gazette menyatakan, "Temuan yang mengejutkan adalah bahwa hubungan kita dan seberapa bahagia kita dalam hubungan tersebut memiliki pengaruh kuat terhadap kesehatan kita."

  1. Membangun hubungan yang berkualitas. Temuan paling konsisten dari riset Harvard selama lebih dari delapan dekade menunjukkan bahwa kualitas hubungan - kehangatan emosional, kepercayaan, dan dukungan - merupakan prediktor tunggal terpenting dari kebahagiaan dan kesehatan jangka panjang, bukan seberapa banyak orang yang dikenal, melainkan seberapa aman dan terhubung perasaan seseorang. Luangkan waktu untuk mempererat ikatan dengan keluarga, sahabat, dan komunitas.
  2. Mempraktikkan rasa syukur setiap hari. Menghargai hal-hal kecil dalam hidup - kesehatan, secangkir kopi hangat di pagi hari, atau kehadiran orang tersayang - dapat menggeser fokus dari kekurangan menuju kelimpahan. Kebiasaan menuliskan tiga hal yang disyukuri setiap malam terbukti meningkatkan kepuasan hidup secara signifikan.
  3. Menemukan tujuan hidup yang bermakna. Memiliki arah yang jelas dalam hidup memberikan alasan untuk terus melangkah, bahkan saat menghadapi rintangan. Tujuan ini tidak harus besar - bisa berupa kontribusi kecil kepada lingkungan sekitar, pengembangan keterampilan baru, atau menjalankan nilai-nilai spiritual secara konsisten.
  4. Memberi dan berkontribusi kepada sesama. Salah satu temuan yang konsisten dalam riset kebahagiaan adalah bahwa memberi - baik berupa waktu, ilmu, maupun bantuan - menghasilkan kebahagiaan yang jauh lebih besar dibandingkan menerima. Kesenangan berorientasi pada mengambil, sedangkan kebahagiaan tumbuh dari memberi.
  5. Menjaga kesehatan fisik secara rutin. Olahraga teratur merangsang produksi serotonin dan endorfin, dua neurotransmitter yang mendukung suasana hati positif dan kebahagiaan berkelanjutan. Berjalan kaki selama 30 menit setiap hari sudah cukup untuk memberikan dampak nyata pada kesejahteraan emosional.
  6. Membatasi paparan kesenangan berlebihan. Mengurangi waktu di media sosial, membatasi belanja impulsif, dan menghindari konsumsi makanan berlebihan membantu menjaga keseimbangan dopamin-serotonin di otak. Digital detox secara berkala bisa menjadi langkah sederhana namun berdampak besar untuk meningkatkan kebahagiaan batin.

Baca juga: Tips Hidup Bahagia yang Bisa Diterapkan Setiap Hari

Baca juga: Tips Sederhana untuk Bisa Hidup Nyaman dan Bahagia

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Perbedaan Senang dan Bahagia

Apa perbedaan utama antara senang dan bahagia?

Senang adalah respons emosional singkat yang dipicu oleh faktor eksternal seperti membeli barang baru atau menerima hadiah, sedangkan bahagia merupakan kondisi batin yang lebih mendalam dan bertahan lama. Secara neurosains, kesenangan didorong oleh hormon dopamin yang bersifat sesaat, sementara kebahagiaan terkait dengan serotonin yang menghadirkan ketenangan berkelanjutan. Seseorang bisa merasa senang tanpa merasa bahagia, namun orang yang bahagia umumnya mampu menikmati kesenangan dengan lebih bermakna.

Apakah orang yang selalu senang pasti merasa bahagia?

Tidak selalu. Seseorang bisa terus-menerus mengejar kesenangan - misalnya melalui hiburan, belanja, atau makanan - tetapi tetap merasa hampa di dalam hati. Kebahagiaan memerlukan elemen yang lebih dari sekadar kesenangan, seperti hubungan yang bermakna, tujuan hidup yang jelas, dan rasa syukur atas apa yang dimiliki. Justru, mengejar kesenangan secara berlebihan bisa menurunkan kadar serotonin di otak dan menjauhkan seseorang dari kebahagiaan sejati.

Bagaimana cara sederhana untuk lebih bahagia setiap hari?

Langkah paling sederhana yang didukung oleh riset ilmiah adalah memperkuat hubungan sosial, mempraktikkan rasa syukur, dan rutin berolahraga. Harvard Study of Adult Development yang berlangsung selama lebih dari 85 tahun menemukan bahwa kualitas hubungan dengan orang terdekat merupakan prediktor terkuat dari kebahagiaan jangka panjang. Selain itu, mengurangi paparan berlebihan terhadap media sosial dan belanja impulsif dapat membantu menjaga keseimbangan neurotransmitter di otak agar rasa bahagia lebih mudah dirasakan setiap hari.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |