Liputan6.com, Jakarta - Lihat tumpukan galon bekas di sudut rumah? Jangan buru-buru dibuang. Itu bisa jadi "harta terpendam" yang menghasilkan uang jutaan rupiah setiap bulannya. Banyak yang beranggapan beternak ikan butuh lahan luas dan modal besar, padahal kenyataannya tidak selalu demikian.
Kini, dengan alat ternak dari galon bekas, siapa pun bisa memulai budidaya ikan skala mikro. Metode ini adalah solusi cerdas mengatasi keterbatasan lahan dan modal, cocok untuk pemula yang ingin mencoba usaha sampingan dari rumah.
Artikel ini akan memberikan panduan langkah demi langkah yang teruji untuk membuat alat ternak dari galon bekas yang efektif. Kami akan mengupas tuntas pemilihan komoditas unggulan seperti ikan gabus, lele, belut, strategi perawatan harian, hingga teknik panen yang menghasilkan keuntungan melimpah. Siap mengubah barang bekas jadi sumber penghasilan? Simak panduan selengkapnya berikut ini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Jumat (16/1/2026).
Mengapa Galon Bekas Jadi Pilihan Utama?
Membangun kolam beton atau tanah membutuhkan biaya ratusan ribu hingga jutaan rupiah, belum lagi kebutuhan lahan yang luas. Di sisi lain, alat ternak dari galon bekas menawarkan biaya awal yang hampir nol. Galon bekas sering kali bisa didapat gratis atau dibeli dengan harga sangat murah, sekitar Rp 5.000 - Rp 20.000 per buah.
Keunggulan lain adalah fleksibilitasnya. Anda bisa menempatkan kolam galon di teras, balkon, garasi, atau sudut halaman yang sempit. Sistem ini juga modular; Anda bisa mulai dari 2-3 galon sebagai percobaan, kemudian menambah jumlahnya secara bertahap seiring dengan pengalaman dan modal yang bertambah, seperti kisah sukses Pak Joko dengan belutnya.
Terakhir, menggunakan alat ternak dari galon bekas adalah langkah nyata dalam daur ulang kreatif yang ramah lingkungan. Selain mengurangi sampah plastik, metode ini menjadi media belajar budidaya yang minim risiko finansial. Jika gagal di satu galon, Anda tidak kehilangan modal besar dan bisa langsung memperbaiki kesalahan.
Persiapan Memilih & Mempersiapkan Galon Bekas
Langkah pertama menuju kesuksesan adalah mempersiapkan media dengan benar. Tidak semua galon bekas bisa langsung digunakan. Pilihlah galon yang masih dalam kondisi baik: tidak retak, pecah, atau penyok parah. Pastikan juga galon bebas dari bau kimia atau sisa minuman yang menyengat, seperti bekas deterjen atau oli.
Setelah mendapatkan galon yang sesuai, lakukan sterilisasi. Cuci galon hingga bersih menggunakan sabun dan air, lalu bilas hingga benar-benar tidak ada sisa busa. Deterjen yang tertinggal bisa beracun bagi ikan. Setelah dicuci, keringkan galon di tempat yang teduh.
Selanjutnya, lakukan modifikasi dasar. Potong bagian atas galon (sekitar 10-15 cm dari mulut) menggunakan cutter atau gergaji besi untuk memudahkan akses pemberian pakan dan pengontrolan ikan. Buat juga lubang kecil di bagian bawah atau samping dekat dasar sebagai saluran drainase atau tempat memasang selang aerator. Amplas bagian tepi potongan agar tidak tajam.
3 Pilihan Komoditas Unggulan untuk Ternak Galon
Memilih jenis ikan yang tepat adalah kunci keberhasilan. Tidak semua ikan cocok dengan ruang terbatas dalam galon. Pilihlah jenis yang tangguh, tahan terhadap fluktuasi kualitas air, dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Berikut tiga komoditas yang telah terbukti sukses dibudidayakan dalam alat ternak dari galon bekas.
1. Ikan Gabus
Ikan gabus menjadi primadona karena nilai jualnya yang tinggi dan stabil, berkisar antara Rp 35.000 hingga Rp 50.000 per kilogram. Permintaannya kuat, terutama dari pasar kesehatan dan rumah sakit, berkat kandungan albuminnya yang berguna untuk mempercepat penyembuhan luka dan meningkatkan daya tahan tubuh.
Untuk budidaya di galon, gunakan ukuran 19 liter dengan kapasitas maksimal 5-8 ekor bibit berukuran 5-7 cm. Penggunaan aerator mini adalah keharusan mutlak karena ikan gabus membutuhkan suplai oksigen yang memadai. Dari segi keuntungan, berdasarkan perhitungan yang ada, modal per galon diperkirakan sekitar Rp 70.000 - Rp 80.000. Dengan perawatan intensif selama 5-6 bulan, satu galon berpotensi menghasilkan pendapatan kotor sekitar Rp 222.000.
2. Ikan Lele
Ikan lele adalah pilihan klasik yang tak pernah salah untuk pemula. Keunggulan utamanya terletak pada ketahanannya terhadap penyakit dan kondisi air yang kurang ideal, pertumbuhannya yang sangat cepat, serta pasarnya yang sangat luas dan mudah dijangkau. Perawatannya pun relatif lebih mudah dibanding komoditas lain.
Untuk galon berkapasitas 20 liter, jumlah bibit yang ideal adalah 5-10 ekor. Meski lele dikenal tahan, pemasangan aerator tetap sangat disarankan untuk menjaga kadar oksigen terlarut, terutama jika jumlah ikan mendekati batas maksimal. Siklus panen lele juga lebih singkat, yakni sekitar 2-3 bulan, sehingga modal dapat berputar lebih cepat.
3. Belut
Budidaya belut menawarkan keunikan karena media yang digunakan bukan air, melainkan campuran lumpur sawah, jerami busuk, dan kompos. Komoditas ini memiliki harga jual yang premium, sekitar Rp 35.000 - Rp 40.000 per kilogram, dan nilainya bisa melonjak lebih tinggi jika dijual dalam bentuk olahan seperti keripik belut, belut crispy, atau sate belut.
Satu galon dapat menampung sekitar 50 ekor bibit belut. Kisah inspiratif Pak Joko membuktikan potensinya yang besar. Dari pengelolaan 20 galon belut, ia berhasil meraih keuntungan bersih sekitar Rp 2,5 juta per periode pemeliharaan 6 bulan, menunjukkan bahwa skala usaha ini bisa dikembangkan dengan sangat baik.
Panduan Langkah Demi Langkah Membuat & Mengoperasikan Alat Ternak
Memiliki galon dan memilih komoditas saja tidak cukup. Untuk hasil panen yang melimpah, Anda harus menerapkan langkah-langkah operasional yang tepat dan konsisten. Berikut adalah enam langkah kunci yang harus diikuti.
Langkah 1: Modifikasi Galon sesuai Kebutuhan
Modifikasi galon disesuaikan dengan jenis ternak. Untuk ikan seperti gabus atau lele, setelah memotong bagian atasnya, buatlah lubang kecil di sisi galon (dekat bibir potongan) sebagai tempat memasang selang aerator. Jangan lupa siapkan penutup dari jaring atau kawat ram untuk mencegah ikan melompat keluar, terutama untuk ikan gabus yang terkenal aktif. Untuk budidaya belut, modifikasinya berbeda. Bagian atas galon dipotong seluruhnya. Galon kemudian diisi dengan media berlapis, mulai dari dasar berupa lumpur sawah, diikuti lapisan jerami busuk yang sudah dibasahi, dan dapat ditambahkan kompos. Pastikan media tidak dipadatkan terlalu keras agar belut dapat bergerak dan membuat liang dengan leluasa.
Langkah 2: Penyiapan Media dan Sistem Pendukung
Penyiapan media juga berbeda. Untuk kolam ikan, isi galon dengan air bersih hingga mencapai 70-80% kapasitasnya. Biarkan air mengendap setidaknya 24 jam agar klorin menguap dan suhunya stabil. Setelah itu, pasang aerator dan pastikan gelembung udara menyebar secara merata di seluruh bagian air. Untuk media belut, setelah semua bahan dimasukkan, basahi media hingga mencapai tingkat kelembaban yang tepat, mirip dengan kondisi tanah sawah. Media harus lembab tetapi tidak sampai menggenang air atau justru terlalu kering. Setelah media siap, tutup galon dengan kawat ram.
Langkah 3: Pemilihan & Penebaran Bibit Unggul
Kualitas bibit menentukan sekitar 50% keberhasilan budidaya. Pilihlah bibit yang sehat dengan ciri-ciri gerakan lincah, tubuh mulus tanpa luka atau bercak putih, ukuran seragam, dan mata yang jernih. Sebelum ditebar, lakukan proses aklimatisasi yang benar. Caranya dengan mengapungkan plastik atau wadah berisi bibit di atas permukaan air/media dalam galon selama 15-30 menit. Tujuannya untuk menyamakan suhu. Setelah itu, campurkan air dari galon ke dalam wadah bikit sedikit demi sedikit sebelum akhirnya melepaskan bibit ke dalam galon. Patuhi selalu kapasitas ideal dan hindari menebar bibit berlebihan karena akan memicu stres, kanibalisme, dan kematian.
Langkah 4: Manajemen Pakan dan Perawatan Harian
Manajemen pakan dan perawatan rutin adalah inti dari budidaya. Untuk ikan gabus dan lele, gunakan pelet berkualitas dengan kandungan protein tinggi (minimal 35%). Sementara untuk belut, berikan pakan alami seperti cacing tanah, bekicot, atau ikan rucah kecil. Beri makan 2-3 kali sehari dengan porsi yang habis dalam 5-10 menit. Pemberian pakan berlebih adalah kesalahan umum yang membuat air cepat kerut dan berbau. Perawatan harian meliputi pengecekan kualitas air (perhatikan kejernihan dan bau), membersihkan sisa pakan yang mengendap, serta memastikan aerator berfungsi dengan baik sepanjang waktu.
Langkah 5: Pengendalian Hama & Penyakit
Penyakit pada ternak galon umumnya bersumber dari kondisi lingkungan yang buruk. Penyebab utamanya adalah air yang kotor akibat penumpukan sisa pakan dan kotoran, pemberian pakan yang berlebihan, serta stres pada ikan akibat kepadatan tinggi atau suhu ekstrem. Langkah pencegahan terbaik adalah melakukan penggantian air sebagian (sekitar 20-30%) secara rutin setiap 2-3 hari. Jaga juga kebersihan area sekitar galon. Jika ditemukan ikan yang menunjukkan gejala sakit seperti lesu, berenang miring, atau nafsu makan hilang, segera pisahkan ke galon karantina untuk mencegah penularan.
Langkah 6: Strategi Panen dan Pasca Panen
Momen panen adalah puncak dari semua kerja keras. Ikan siap panen ditandai dengan ukuran tubuh yang seragam dan telah mencapai bobot konsumsi, sekitar 150-200 gram per ekor untuk ikan, dan ukuran sebesar 2-3 jari untuk belut. Teknik panennya dengan mengurangi volume air secara perlahan menggunakan selang siphon, lalu gunakan serok halus untuk menangkap ikan. Hindari menangkap dengan tangan langsung. Untuk menjaga kualitas pasca panen, jika dijual dalam keadaan hidup, simpan ikan di wadah bersih berisi air segar yang diberi aerasi. Jika dijual dalam keadaan segar mati, segera bersihkan ikan dan simpan dalam wadah berisi es batu untuk mempertahankan kesegarannya.
Analisis Modal Awal dan Potensi Keuntungan
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, mari kita bahas analisis modal awal dan potensi keuntungan dari alat ternak dari galon bekas untuk ketiga komoditas unggulan. Perhitungan ini bersifat perkiraan dan dapat bervariasi tergantung kondisi lokal, harga bahan, dan efisiensi perawatan.
Mari kita mulai dengan ikan gabus. Modal awal yang dibutuhkan per galon berkisar antara Rp 70.000 hingga Rp 80.000, yang sudah mencakup galon, aerator, bibit, dan perlengkapan lainnya. Dengan masa pemeliharaan 5-6 bulan, satu galon berpotensi menghasilkan panen sekitar 6 kilogram dari 40 ekor ikan dengan berat per ekor 150 gram. Mengingat harga jual ikan gabus di pasaran antara Rp 35.000 hingga Rp 50.000 per kilogram, pendapatan kotor per galon dapat mencapai Rp 210.000 hingga Rp 300.000.
Berbeda dengan ikan gabus, budidaya lele menawarkan siklus yang lebih cepat. Modal per galon sedikit lebih rendah, sekitar Rp 50.000 - Rp 70.000. Dalam waktu 2-3 bulan, dari 10 ekor bibit, Anda bisa memanen sekitar 2 kilogram lele. Dengan harga jual yang lebih terjangkau, yaitu Rp 20.000 - Rp 25.000 per kilogram, pendapatan kotor per galon untuk lele berkisar Rp 40.000 hingga Rp 50.000. Meski angka per galonnya lebih kecil, kecepatan panennya memungkinkan perputaran modal yang lebih sering.
Untuk budidaya belut, komponen modalnya unik karena memerlukan media khusus. Modal awal per galon diperkirakan sekitar Rp 115.000, yang sudah termasuk biaya untuk lumpur, jerami, dan kompos. Perlu dicatat, galon dan media ini dapat digunakan berulang kali untuk siklus berikutnya. Sama seperti gabus, belut memerlukan waktu 5-6 bulan untuk dipanen. Satu galon dapat menghasilkan sekitar 6 kilogram belut. Dengan kisaran harga jual Rp 35.000 - Rp 40.000 per kilogram, potensi pendapatan kotornya mencapai Rp 210.000 - Rp 240.000 per galon per siklus.
Dari analisis ini, terlihat jelas bahwa slogan modal kecil untuk alat ternak dari galon bekas bukanlah isapan jempol belaka. Meskipun keuntungan dari satu unit galon mungkin tampak terbatas, kekuatan sejati dari model bisnis ini terletak pada skalabilitas dan pengulangannya. Dengan konsistensi dalam perawatan, keuntungan dari satu galon tidak hanya dapat diulang setiap siklus, tetapi juga dapat dilipatgandakan secara eksponensial dengan menambah jumlah galon secara bertahap. Inilah yang menjadikannya sebuah usaha mikro dengan potensi pertumbuhan yang sangat menarik.
FAQ (Pertanyaan Umum Seputar Alat Ternak dari Galon Bekas)
Q: Apakah semua jenis ikan bisa dibudidayakan di galon bekas?
A: Tidak. Pilih ikan yang tahan dengan kondisi padat dan fluktuasi kualitas air, seperti gabus, lele, atau belut. Ikan seperti nila atau gurami membutuhkan ruang lebih luas dan kualitas air yang lebih stabil sehingga kurang cocok untuk media galon yang terbatas.
Q: Berapa lama waktu yang dibutuhkan dari bibit hingga panen?
A: Waktu panen bervariasi tergantung jenis ikan dan kualitas perawatan. Ikan lele memiliki siklus tercepat, yaitu sekitar 2-3 bulan. Ikan gabus dan belut memerlukan waktu lebih lama, yaitu 5-6 bulan, untuk mencapai ukuran konsumsi optimal. Pemberian pakan bernutrisi tinggi dapat mempercepat pertumbuhan.
Q: Bagaimana mengatasi bau tidak sedap dari kolam galon?
A: Bau tidak sedap adalah indikator utama air yang kotor. Solusinya terdiri dari tiga langkah: pertama, beri pakan secukupnya agar tidak ada sisa yang membusuk. Kedua, lakukan penggantian air sebagian (20-30%) secara rutin setiap 2-3 hari. Ketiga, pastikan aerator bekerja dengan baik karena suplai oksigen yang cukup membantu proses penguraian limbah alami yang tidak menimbulkan bau busuk.
Q: Bisakah ternak galon ini dilakukan di apartemen?
A: Bisa, dengan beberapa catatan penting. Pilihlah komoditas yang lebih adaptif seperti lele. Pastikan struktur balkon atau area penempatan kuat menahan beban beberapa galon berisi air. Anda juga memerlukan sumber listrik untuk menyalakan aerator dan perlu mempertimbangkan sistem pembuangan air saat melakukan pergantian air. Sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan pengelola apartemen.
Q: Dimana mendapatkan bibit yang berkualitas?
A: Untuk mendapatkan bibit yang sehat, carilah sumber yang terpercaya seperti peternak bibit lokal yang memiliki reputasi baik, Balai Benih Ikan (BBI) milik pemerintah, atau bergabung dengan kelompok peternak setempat. Sebisa mungkin hindari membeli bibit di pasar umum tanpa mengetahui asal-usul dan riwayat kesehatannya.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477275/original/082821900_1768814680-Jenderal_Nasution_menerima_pataka_yang_dibawa_Pierre_Tendean__Wikimedia_Commons_.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5474712/original/007652600_1768531933-thlt-lcx-WshjU5cSNU8-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5470929/original/037705500_1768270638-gambar_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477304/original/090387100_1768815453-wsww.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4791002/original/040193800_1711974703-significance-of-the-lord-jesus-appearance-to-thomas-cb9bdcafc8e2acaf5686ece3472cfede.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477241/original/066608000_1768813249-Pohon_Kelengkeng_Dataran_Rendah__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477197/original/036027500_1768811880-Sistem_Rak_Kawat_Bertingkat__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4484593/original/019224800_1687936756-taya-dianna-vUm1axCwADI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477116/original/088071200_1768809389-kambing_etawa122.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5476859/original/081138100_1768800526-Ilustrasi_Bakwan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5357212/original/000924300_1758522381-Gemini_Generated_Image_bslfndbslfndbslf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5463856/original/086442200_1767672193-unnamed-14.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477122/original/067736900_1768809627-Galon_untuk_Rumah_Kaca_Mini__Portable_Greenhouse___Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477300/original/041442800_1768815360-Gemini_Generated_Image_3k1z8t3k1z8t3k1z_2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477186/original/077202300_1768810922-teras_rumah_penuh_dengan_lumut_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5476939/original/032605500_1768803778-Ternak_Ikan_Lele_Bioflok_di_Ember__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5465699/original/097720000_1767774335-unnamed-36.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473832/original/097649200_1768459306-Manfaatkan_Limbah_Dapur___Pertanian_sebagai_Pakan_Utama.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5476920/original/065979900_1768803193-Tanaman_Vertikal.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477008/original/022554900_1768806161-Jualan_smoothies__Gemini_AI_.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363574/original/067634200_1758951074-Gemini_Generated_Image_d15sird15sird15s.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3936591/original/031031300_1645054040-james-wheeler-HJhGcU_IbsQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5370599/original/040845800_1759561568-Gamis_Simple_tapi_elegan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/824391/original/082843900_1425877386-09032015-waduksermo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364103/original/064641000_1759040675-Gemini_Generated_Image_29nq7729nq7729nq.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363765/original/004808300_1758963234-Gemini_Generated_Image_uopfavuopfavuopf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378510/original/035461500_1760253518-Gemini_Generated_Image_8zg0bc8zg0bc8zg0.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364053/original/005894200_1759037147-MixCollage-28-Sep-2025-12-02-PM-3646.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364186/original/001233300_1759045126-Gemini_Generated_Image_f3ya1kf3ya1kf3ya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5367398/original/025212100_1759305132-warung_sembako_hemat_modal_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363279/original/031529000_1758892895-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363368/original/004460100_1758935700-rumah_mezanine_lahan_terbatas_8a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362914/original/028470800_1758876982-8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5360969/original/078803200_1758771480-Gemini_Generated_Image_wiqr94wiqr94wiqr.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5402608/original/032362000_1762254271-unnamed_-_2025-11-04T171618.678.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5360305/original/022331900_1758704064-DGDFE.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363521/original/015394700_1758947659-ChatGPT_Image_27_Sep_2025__11.33.34.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5394858/original/039789400_1761643209-gelang5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363486/original/078379500_1758945634-dapur_dan_ruang_tamu_scandinavian_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363511/original/082081900_1758946742-ChatGPT_Image_27_Sep_2025__11.16.03.jpg)