Liputan6.com, Jakarta - Kemampuan anak mengenali, memahami, dan mengelola emosinya tidak tumbuh begitu saja. Salah satu lingkungan pertama yang mengajarkan keterampilan tersebut adalah keluarga, terutama melalui cara orang tua merespons tangisan, kemarahan, kesalahan, dan pendapat anak. Karena itu, kebiasaan orang tua yang dapat merusak EQ anak penting dikenali sejak dini agar pola pengasuhan tidak justru menghambat perkembangan emosionalnya.
Orang tua tentu tidak selalu bisa bersikap tenang. Ada kalanya rasa lelah, tekanan pekerjaan, atau masalah rumah tangga membuat respons terhadap anak menjadi lebih keras dari yang diinginkan. Namun, yang perlu diperhatikan adalah pola yang terjadi berulang kali, karena anak belajar bukan hanya dari nasihat, melainkan juga dari cara orang dewasa di sekitarnya menghadapi emosi.
EQ atau emotional quotient sering dikaitkan dengan kemampuan mengenali emosi diri, mengelola perasaan, memahami orang lain, serta membangun hubungan sosial. Keterampilan ini berkembang melalui pengalaman sehari-hari. Ketika anak terus-menerus menerima respons yang membuatnya takut, malu, atau merasa tidak boleh memiliki emosi, proses belajar tersebut dapat terganggu. berikut ulasan Liputan6.com, Jumat (14/8/2026).
Mengapa Pola Asuh Berpengaruh terhadap EQ Anak?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318336/original/074590700_1786092118-IMG_2395.jpeg)
Perbesar
Perkembangan emosional anak sangat berkaitan dengan interaksi yang dialaminya bersama orang tua. Anak yang masih belajar mengenali emosinya membutuhkan orang dewasa untuk membantu memberi nama pada perasaan, memahami penyebabnya, dan menemukan cara yang lebih tepat untuk merespons.
Penelitian dalam Journal of Family Psychology yang tersedia melalui National Institutes of Health (NIH) menemukan hubungan antara pengasuhan keras (harsh parenting) dan kemampuan regulasi emosi anak. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengasuhan keras dari ibu maupun ayah berpengaruh terhadap regulasi emosi anak, yang kemudian berkaitan dengan perilaku agresif di sekolah.
Studi yang sama juga menjelaskan bahwa anak dapat mempelajari strategi respons emosional negatif dari interaksi dengan orang tua, lalu membawanya ke lingkungan lain, termasuk hubungan dengan teman sebaya. Dengan kata lain, rumah menjadi tempat anak pertama kali belajar bagaimana kemarahan, konflik, dan perbedaan pendapat seharusnya dihadapi.
Hal ini tidak berarti satu kesalahan orang tua akan langsung membuat EQ anak rusak. Yang lebih perlu diperhatikan adalah pola interaksi negatif yang terjadi berulang dan menjadi kebiasaan.
1. Sering Membentak Saat Anak Melakukan Kesalahan
Membentak merupakan salah satu bentuk komunikasi keras yang cukup mudah muncul ketika orang tua sedang kehilangan kesabaran. Anak mungkin langsung berhenti melakukan sesuatu karena takut, tetapi kepatuhan tersebut belum tentu berarti ia memahami mengapa perilakunya keliru.
Penelitian yang dimuat dalam Journal of Family Psychology memasukkan berteriak, perintah negatif yang berulang, menyebut anak dengan nama yang merendahkan, ekspresi kemarahan, ancaman fisik, hingga agresi sebagai bagian dari pola pengasuhan keras. Penelitian tersebut menemukan adanya kaitan antara emosi negatif orang tua, pengasuhan keras, dan kesulitan anak dalam mengatur emosinya.
Daripada mengatakan, “Kamu memang susah sekali diatur!”, orang tua dapat menjelaskan perilakunya secara spesifik. Misalnya, “Mama tidak suka ketika kamu melempar mainan karena bisa mengenai orang lain. Kalau sedang marah, coba bilang apa yang membuatmu kesal.”
Cara ini tetap memberikan batasan, tetapi anak mendapatkan kesempatan memahami hubungan antara tindakan, akibat, dan emosi.
2. Memberi Label Buruk pada Kepribadian Anak
Ucapan seperti “kamu nakal”, “pemalas”, “cengeng”, atau “memang tidak bisa diandalkan” dapat membuat masalah perilaku terasa seperti masalah kepribadian. Padahal, anak sedang berada dalam proses belajar.
Ketika kesalahan terus dilekatkan pada identitasnya, anak dapat kesulitan membedakan antara “aku melakukan sesuatu yang salah” dan “aku adalah anak yang buruk”. Perbedaan tersebut penting bagi perkembangan konsep diri.
Komunikasi yang lebih sehat berfokus pada perilaku. Misalnya, “Kamu meninggalkan buku setelah selesai belajar. Yuk, kita biasakan mengembalikannya ke tempat semula,” lebih konstruktif daripada “Kamu memang pemalas.”
Dengan begitu, anak memahami bahwa perilaku dapat diperbaiki tanpa merasa dirinya sebagai pribadi yang tidak berharga.
3. Membandingkan Anak dengan Saudara atau Temannya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5468130/original/059477700_1767942202-silbiling-playing-together-their-room.jpg)
Perbesar
“Lihat kakakmu, dia bisa.”
Kalimat semacam ini mungkin terdengar seperti motivasi, tetapi dapat membuat anak memandang kemampuan dirinya melalui pencapaian orang lain. Jika terus berulang, anak bisa mengembangkan rasa tidak cukup baik atau merasa kasih sayang orang tua bergantung pada prestasi.
Perbandingan juga dapat mengganggu hubungan antarsaudara. Anak bukan hanya merasa kalah, tetapi bisa melihat saudaranya sebagai pesaing untuk mendapatkan pengakuan orang tua.
Lebih baik orang tua membandingkan anak dengan proses perkembangannya sendiri. “Dulu kamu masih kesulitan membaca kalimat panjang, sekarang sudah bisa menyelesaikan satu halaman,” memberikan pesan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui latihan.
4. Menganggap Tangisan sebagai Bentuk Kelemahan
“Jangan menangis.”
“Anak laki-laki tidak boleh cengeng.”
“Sudah, tidak usah lebay.”
Ucapan seperti itu mungkin dimaksudkan agar anak cepat tenang. Namun, jika terus menjadi respons terhadap kesedihan, anak dapat belajar bahwa emosi tertentu tidak boleh ditampilkan.
Padahal, menangis merupakan salah satu cara anak mengekspresikan keadaan emosionalnya. Tugas orang tua bukan selalu menghentikan tangisan secepat mungkin, melainkan membantu anak memahami apa yang sedang dirasakannya.
Orang tua bisa mengatakan, “Kamu kelihatannya kecewa karena mainannya rusak. Tidak apa-apa merasa sedih. Setelah agak tenang, kita cari tahu apa yang bisa dilakukan.”
Validasi semacam ini bukan berarti membenarkan semua perilaku anak. Perasaan dapat diterima, sementara perilaku tetap perlu diarahkan.
5. Menggunakan Rasa Bersalah untuk Mengendalikan Anak
Rasa bersalah dapat menjadi alat kontrol yang kuat. Misalnya, “Mama sudah capek bekerja demi kamu, kok kamu masih seperti ini?” atau “Kalau kamu sayang Ayah, seharusnya kamu menurut.”
Masalahnya, anak akhirnya belajar membuat keputusan berdasarkan ketakutan mengecewakan orang tua, bukan karena memahami konsekuensi tindakannya.
Menurut ulasan Parents mengenai pola pengasuhan yang merugikan perkembangan anak, penggunaan rasa bersalah secara berlebihan dapat membuat anak merasa tidak mampu mengambil keputusan sendiri. Anak bahkan bisa memilih menyembunyikan keputusan atau masalahnya karena takut menghadapi reaksi orang tua.
Untuk membangun EQ, orang tua sebaiknya menjelaskan konsekuensi secara langsung. “Kalau kamu tidak mengerjakan tugas, besok kamu mungkin kesulitan mengikuti pelajaran,” lebih membantu daripada membuat anak merasa berutang secara emosional.
6. Tidak Mampu Mengendalikan Emosi Sendiri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5386748/original/030282500_1761022620-mother-scolding-her-daughter-living-room.jpg)
Perbesar
Anak belajar regulasi emosi dengan mengamati orang dewasa. Jika setiap masalah diselesaikan dengan teriakan, ancaman, bantingan pintu, atau perlakuan diam berkepanjangan, anak memperoleh contoh bahwa emosi kuat harus dilampiaskan kepada orang lain.
Temuan dalam penelitian yang tersimpan pada PDF yang Anda lampirkan memperlihatkan bahwa disregulasi emosi orang tua dalam pengasuhan keras berkaitan dengan kemampuan anak mengatur emosinya. Bahkan, anak dapat membawa strategi emosi negatif yang dipelajarinya dari orang tua ke hubungan dengan teman sebaya.
Karena itu, orang tua tidak harus selalu tenang. Yang lebih realistis adalah menunjukkan cara kembali tenang. Misalnya, “Ayah sedang sangat marah. Ayah mau duduk sebentar supaya tidak bicara dengan emosi.”
Kalimat tersebut justru menjadi pelajaran EQ yang berharga: marah boleh, tetapi seseorang tetap bertanggung jawab atas cara mengekspresikannya.
7. Mengabaikan atau Menyangkal Perasaan Anak
Anak yang mengatakan takut kemudian dijawab, “Ah, tidak ada yang perlu ditakutkan,” mungkin merasa orang tuanya sedang menenangkan. Namun, respons tersebut dapat membuat anak merasa bahwa pengalaman emosionalnya tidak valid.
Parents juga menyoroti perilaku menyangkal realitas emosional anak, termasuk mengatakan bahwa anak terlalu sensitif atau membesar-besarkan masalah. Jika pola tersebut terus berlangsung, anak dapat mulai meragukan persepsi dan perasaannya sendiri.
Respons yang lebih membantu adalah mengakui pengalaman anak tanpa harus selalu menyetujui kesimpulannya.
“Kamu memang merasa takut. Mama mungkin melihat situasinya berbeda, tetapi Mama mau dengar apa yang membuat kamu takut.”
Dengan begitu, anak belajar bahwa perasaan dapat dibicarakan dan diperiksa bersama.
8. Terlalu Mengontrol Semua Pilihan Anak
Orang tua memiliki tanggung jawab untuk memberikan batasan, tetapi pengawasan yang berlebihan dapat membuat anak tidak memperoleh ruang untuk belajar mengambil keputusan.
Parents mencatat bahwa kontrol berlebihan dapat muncul dalam bentuk menentukan hampir seluruh aktivitas anak, mengawasi pergaulan secara berlebihan, atau terlalu banyak mendikte masa depan anak. Pola semacam itu juga dapat membuat anak menjauh atau menyembunyikan sesuatu dari orang tua.
EQ tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengendalikan emosi, tetapi juga dengan kesadaran diri dan keterampilan sosial. Kesempatan memilih secara bertahap membantu anak belajar mempertimbangkan konsekuensi, menghadapi kekecewaan, serta bertanggung jawab atas keputusan.
Orang tua tetap dapat memberikan batasan sesuai usia, tetapi sebaiknya menyediakan ruang untuk memilih. Misalnya, anak boleh memilih antara mengikuti kursus menggambar atau olahraga selama keduanya sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan keluarga.
9. Mengancam dengan Kehilangan Kasih Sayang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5261986/original/088866500_1750732620-young-child-suffering-abuse-with-shadow.jpg)
Perbesar
Ancaman seperti “Kalau kamu terus begitu, Mama tidak mau sayang lagi” mungkin membuat anak langsung menurut. Namun, pesan emosional yang diterima anak jauh lebih berat: kasih sayang orang tua dianggap bisa hilang ketika ia berperilaku tidak sesuai harapan.
Anak membutuhkan rasa aman untuk berkembang. Ketika hubungan terasa bergantung pada kepatuhan, ia dapat menjadi sangat takut melakukan kesalahan atau justru menyembunyikan masalah agar tidak kehilangan penerimaan.
Disiplin seharusnya membantu anak memahami batasan, bukan membuatnya meragukan keamanan hubungan dengan orang tua.
10. Menyeret Anak ke Konflik Orang Tua
Anak sebaiknya tidak dijadikan pembawa pesan, hakim, atau tempat mencurahkan konflik antara orang dewasa. Meminta anak memilih pihak, misalnya “Kamu pilih ikut Ayah atau Ibu?”, dapat menempatkannya dalam tekanan emosional yang bukan tanggung jawabnya.
Menurut Parents, melibatkan anak dalam konflik antarpasangan dapat meningkatkan kecemasan dan rasa bersalah. Anak bisa merasa bertanggung jawab atas kondisi emosional orang tuanya.
Dalam jangka panjang, kondisi seperti ini dapat menyulitkan anak memahami batas antara emosinya sendiri dan emosi orang lain. Padahal, kemampuan mengenali batas tersebut merupakan bagian penting dari kematangan emosional.
11. Memberikan Perlakuan Diam sebagai Hukuman
Diam untuk mengambil waktu menenangkan diri berbeda dengan sengaja mengabaikan anak untuk menghukum atau memanipulasinya.
Jika orang tua berkata, “Ibu butuh waktu 15 menit untuk tenang, setelah itu kita bicara,” anak mendapatkan kejelasan. Sebaliknya, mendiamkan anak tanpa penjelasan dapat membuatnya bertanya-tanya apakah dirinya masih diterima.
Menurut materi Parents, anak membutuhkan konsistensi emosional agar merasa aman dan dapat mengembangkan keterampilan menghadapi emosi. Orang tua dapat menetapkan jarak sementara saat emosi memuncak, tetapi hubungan tetap perlu dipulihkan melalui komunikasi.
Memperbaiki Pola Asuh Tidak Harus Menunggu Menjadi Orang Tua Sempurna
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5502738/original/036549000_1771036928-pexels-olly-3819760.jpg)
Perbesar
Mengetahui kebiasaan orang tua yang dapat merusak EQ anak bukan berarti setiap orang tua yang pernah membentak otomatis telah merusak perkembangan anaknya. Pengasuhan merupakan proses panjang dan tidak ada orang tua yang selalu berhasil mengendalikan emosi dalam setiap situasi.
Hal yang penting adalah kemampuan memperbaiki hubungan setelah terjadi kesalahan. Jika orang tua terlanjur berteriak, ia dapat kembali setelah suasana tenang dan berkata, “Tadi Ayah berteriak. Cara Ayah bicara tidak tepat. Ayah tetap tidak setuju dengan perilakumu, tetapi Ayah seharusnya menjelaskannya dengan lebih tenang.”
Penelitian dalam PDF yang dilampirkan juga menekankan pentingnya intervensi yang membantu orang tua mengelola emosi negatif, bukan hanya mengubah perilaku disiplin. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan kemarahan orang tua merupakan bagian penting dalam upaya mengurangi dampak pengasuhan keras terhadap regulasi emosi anak.
Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menciptakan suasana keluarga yang berbeda. Anak belajar bahwa marah tidak harus berujung pada menyakiti, kesalahan tidak membuat seseorang menjadi buruk, dan konflik dapat diselesaikan melalui percakapan.
Pada akhirnya, EQ tidak diajarkan hanya melalui buku atau nasihat. Anak terutama mempelajarinya dari apa yang dilihat dan dialami setiap hari. Cara orang tua meminta maaf, menghadapi frustrasi, mendengarkan keluhan, menetapkan batasan, dan memperbaiki kesalahan merupakan pelajaran emosional yang jauh lebih nyata bagi anak.
Pertanyaan Seputar Perkembangan Otak Anak
1. Kapan perkembangan otak anak paling pesat?
Perkembangan otak berlangsung sejak sebelum lahir dan terus terjadi sepanjang masa kanak-kanak hingga remaja. Masa awal kehidupan merupakan periode penting karena pengalaman, hubungan, lingkungan, dan stimulasi ikut membentuk perkembangan berbagai kemampuan, termasuk bahasa, sosial, dan pengaturan emosi.
2. Apakah sering dimarahi dapat memengaruhi kemampuan anak mengatur emosi?
Pola pengasuhan keras yang berulang berkaitan dengan kesulitan regulasi emosi anak. Penelitian dalam Journal of Family Psychology yang menjadi bagian dari PDF rujukan menunjukkan bahwa pengasuhan keras dari orang tua berkaitan dengan regulasi emosi anak dan kemudian dengan masalah perilaku seperti agresivitas.
3. Apakah menangis buruk bagi perkembangan otak anak?
Tidak. Menangis merupakan salah satu bentuk ekspresi emosi. Yang penting adalah anak secara bertahap belajar mengenali perasaan dan menemukan cara mengelolanya. Orang tua dapat membantu dengan menenangkan, memberi nama pada emosi, dan mengajarkan strategi menghadapi masalah.
4. Apakah meminta maaf kepada anak setelah membentak dapat memperbaiki keadaan?
Meminta maaf merupakan langkah penting dalam memperbaiki hubungan. Selain menunjukkan tanggung jawab, orang tua juga memberi contoh bahwa seseorang dapat mengakui kesalahan, memperbaiki perilaku, dan memulihkan hubungan setelah konflik.
5. Bagaimana cara membantu perkembangan EQ anak di rumah?
Mulailah dari hal sederhana: dengarkan anak tanpa langsung menghakimi, bantu ia memberi nama pada emosi, tetapkan batasan dengan jelas, hindari penghinaan dan perbandingan, serta tunjukkan cara mengelola kemarahan. Orang tua juga dapat mengatakan apa yang sedang dirasakan dan bagaimana cara menanganinya agar anak mempunyai contoh nyata tentang regulasi emosi.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9324351/original/007055200_1786701012-95f03c2b-28ef-457a-b4e4-c3ba599422a2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9304454/original/044912700_1784716046-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9324245/original/085629700_1786696100-dan-cutler-eqwMMvuV9X8-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5172999/original/096301300_1742805000-adult-woman-with-winter-hat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9324271/original/098897500_1786696832-10659.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517501/original/057726700_1772430593-unnamed__18_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9324177/original/020537600_1786693500-Pintu_Geser_Panel_Kisi-Kisi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9324228/original/043754600_1786694688-84db6e51-09b0-46d6-81cc-6c62740871f2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5308653/original/090961500_1754551515-ChatGPT_Image_Aug_7__2025__02_22_09_PM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9324027/original/011104700_1786688759-HL_lantai.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9323985/original/014554900_1786686616-081687d3-3944-4770-813e-a9f3dc65d22b.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5437507/original/004850100_1765254944-IMG-20251209-WA0006.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293745/original/018415000_1783747452-tabebuya_5a.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9323963/original/007708900_1786684217-1a62ee7b-fa8b-4cb5-821a-f7095fdc051d.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9311259/original/039619600_1785395510-HUTRI81_FA_Logo_Vektor_Main_Logo_Merah_Hitam_Latar_Putih.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9323796/original/017955300_1786675756-tangga_spiral.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9323772/original/091108900_1786674289-e9e03f04-ed1c-4c15-98b9-6c8602439afe.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9323760/original/082048000_1786673778-HL_pagar_rumah.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6707818/original/004530300_1779526004-1779525648.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5557096/original/065659700_1776318001-Gambar_Rumah_Sederhana_6x9_di_Kampung_Dekat_Sawah_yang_Jadi_Tren_Desain_2026.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5558460/original/066569600_1776419680-HL_mangga.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5560536/original/020239000_1776672350-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566397/original/034900000_1777180569-Desain_Rumah_50_Juta_dengan_Ventilasi_Silang_Alami_Model_Teras_Ganda.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7026414/original/064378700_1779801039-Gemini_Generated_Image_bb1cq2bb1cq2bb1c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559831/original/019905700_1776645721-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5705844/original/009190100_1778588694-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566459/original/099990000_1777186387-Cara_Cepat_Bersihkan_Kulkas_Tanpa_Bongkar_Semua_Isi_dan_Tetap_Bersih_Maksimal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5753994/original/053180300_1778655561-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5570927/original/085307900_1777551328-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5569841/original/046143800_1777456700-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5565766/original/098117700_1777086011-unnamed__30_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559169/original/005017800_1776523941-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5697309/original/087148900_1778575609-Gemini_Generated_Image_fqdhcafqdhcafqdh.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5568461/original/001756800_1777360580-kre1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5560766/original/050726300_1776682615-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5560608/original/012737700_1776674546-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566874/original/055492400_1777259351-1.jpg)