Ingin Hidup Santai dan Berpenghasilan? Ini 7 Tips Slow Living ala Pengusaha di Yogyakarta

6 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Di sudut Minggir, Sleman, seorang pria duduk di depan mesin jahitnya. Tangannya menjahit karung goni bekas menjadi tas. Tidak ada target harian yang terpampang di dinding, tidak ada investor yang menelepon, tidak ada laporan penjualan yang harus disetor setiap minggu. Namun bisnis kecilnya, yang ia beri nama Gunagoni, telah berdiri lebih dari sepuluh tahun.

Andreas Bimo Wijoseno bukan pengusaha yang bercita-cita membangun imperium. Mantan jurnalis ini justru sengaja memilih jalan yang berlawanan, bekerja pelan, hidup cukup, dan menolak setiap tawaran yang berpotensi mengubah ritme hidupnya menjadi tekanan. Pilihan itu, bagi sebagian orang, terdengar naif. Bagi Bimo, itulah satu-satunya cara bertahan yang masuk akal.

Dalam dunia yang terus mendorong orang untuk lebih cepat, lebih besar, dan lebih produktif, kisah Gunagoni menawarkan perspektif yang berbeda. Bukan tentang bagaimana meraih sukses dalam semalam, melainkan tentang bagaimana membangun sesuatu yang berkelanjutan, dengan cara yang tidak mengorbankan kewarasan. Berikut tujuh pelajaran yang bisa dipetik dari perjalanannya.

1. Menolak Godaan Scale Up

Ketika bisnis seseorang mulai menunjukkan tanda-tanda hidup, tekanan untuk memperbesar hampir selalu datang. Dari teman, dari seminar wirausaha, dari konten media sosial yang memuja pertumbuhan tanpa henti. Bimo pernah menghadapi tekanan serupa. Namun jawabannya tetap tidak.

“Kalau sudah masuk industri, targetnya naik terus. Rakus. Nanti malah bikin sampah lagi,” kata Bimo kepada reporter Liputan6.com pada Senin (8/6/2026).

Baginya, logika industri yang mengejar target naik tanpa batas hanya akan menghasilkan satu hal, yakni keserakahan yang berujung pada produksi berlebih, limbah, dan kelelahan. Gunagoni sengaja dijaga tetap kecil, bukan karena keterbatasan, melainkan karena pilihan yang disengaja. Ukuran bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Pelajaran ini berlaku luas. Seorang karyawan yang terus memaksakan diri mengambil proyek di luar kapasitasnya, atau seorang pengusaha kecil yang berutang demi ekspansi yang belum tentu perlu, keduanya sedang mengorbankan keberlanjutan demi angka. Bertahan di ukuran yang terkelola dengan baik, dan menikmati prosesnya, adalah strategi yang sering diremehkan namun terbukti tahan lama.

2. Hadir Setiap Hari, Tanpa Obsesi Angka

Ada kesalahpahaman umum tentang slow living, bahwa ia identik dengan kemalasan, dengan hari-hari yang berlalu tanpa hasil. Bimo membuktikan sebaliknya. Setiap hari ia duduk di depan mesin jahitnya, bukan karena ada target yang harus dipenuhi, melainkan karena itu adalah ritme alami kerjanya. Ia menganalogikannya dengan kehidupan petani. 

“Tidak dihitung kapasitasnya. Yang penting setiap hari berkarya. Seperti petani, setiap hari ke sawah,” katanya.

Prinsip ini mudah diterapkan dalam keseharian. Alih-alih menetapkan target produksi yang menekan, fokuslah pada kehadiran harian, menyelesaikan satu pekerjaan dengan tuntas sebelum berpindah ke yang lain. Konsistensi yang tenang, dalam jangka panjang, menghasilkan lebih banyak daripada sprint yang menguras tenaga lalu berhenti.

3. Relasi adalah Modal yang Tidak Terlihat di Neraca

Gunagoni tidak lahir dari rencana bisnis yang tersusun rapi. Ia lahir dari kebiasaan Bimo menyusuri pasar-pasar tradisional bersama istrinya sambil mengamati, berbincang, dan sesekali membeli barang bekas yang menarik perhatiannya. Karung goni seharga tiga ribu rupiah yang ia temukan di grosir kacang, misalnya, kemudian menjadi bahan baku pertama Gunagoni.

“Aku senang jalan-jalan. Tidak ada strategi khusus. Ya dijalani saja,” katanya.

Dari perjalanan tanpa agenda itulah jaringannya terbentuk, kenalan dengan pedagang, teman yang menyarankan ide produk baru, komunitas pasar alternatif yang memberinya ruang berjualan. Tidak ada satu pun dari itu yang datang melalui strategi pemasaran formal. Semuanya tumbuh dari kehadiran yang tulus dan konsisten di tengah komunitas.

Pelajaran yang bisa dipetik sederhana, bahwa modal terbesar dalam usaha sering kali bukan uang, melainkan kepercayaan dan kedekatan yang dibangun perlahan. Meluangkan waktu untuk hadir di komunitas, di lingkungan sekitar, dalam percakapan yang tidak selalu berorientasi bisnis, adalah investasi jangka panjang yang sulit dinilai dengan angka, namun nyata dampaknya.

4. Ketahanan Tumbuh dari Konsistensi, Bukan dari Validasi

Pada tahun-tahun pertama, Gunagoni tidak mendapat sambutan yang hangat dari lingkungan sekitar. Ide menjahit karung goni bekas menjadi tas dan topi dianggap ganjil, bahkan tidak serius. Skeptisisme semacam itu lazim dihadapi siapa saja yang mencoba keluar dari pola yang sudah mapan.

Bimo tidak merespons dengan argumen panjang atau upaya meyakinkan orang-orang di sekitarnya. Ia cukup terus bekerja. Hasilnya berbicara sendiri dalam rentang waktu yang panjang. Sepuluh tahun kemudian, Gunagoni masih berdiri, sementara banyak usaha yang lahir dengan modal dan ambisi lebih besar justru tidak bertahan.

“Awal-awal dulu, banyak yang bilang aneh. Masa jualan tas dari karung goni bekas?” Ungkapnya.

Ini mengingatkan pada prinsip lama yang sering terlupakan dalam budaya serba instan, yakni ketahanan sebuah usaha dibangun dari konsistensi yang tenang, bukan dari gelombang viral yang cepat mereda. Tidak perlu dikenal banyak orang, cukup dikenal baik oleh mereka yang benar-benar peduli.

5. Kecintaan pada Pekerjaan adalah Bahan Bakar yang Tidak Habis

Bimo tidak pernah memulai Gunagoni dengan pertanyaan: “Bisnis apa yang paling menguntungkan saat ini?” Ia memulai dari kesenangan yang sudah lama ia miliki, yakni mengoleksi barang bekas, menjelajahi pasar, menemukan potensi dalam benda-benda yang orang lain lewatkan begitu saja. Gunagoni, dalam pengertian ini, adalah perpanjangan alami dari siapa dirinya.

“Memang dasarnya saya senang barang bekas. Senang jalan-jalan. Ya itu saja yang dijalani,” ungkap Bimo.

Itulah yang membuatnya bertahan. Ketika keuntungan fluktuatif dan pasar tidak selalu bersahabat, kecintaan pada pekerjaan menjadi alasan untuk tetap duduk di depan mesin jahit setiap pagi. Tidak ada rasa terpaksa, tidak ada momen di mana ia bertanya-tanya mengapa harus melakukan ini.

Bagi siapa saja yang sedang mempertimbangkan untuk memulai usaha atau mengubah arah karier, pertanyaan paling jujur yang perlu dijawab bukanlah “Apakah ini akan menghasilkan?” melainkan “Apakah ini sesuatu yang ingin saya kerjakan bahkan ketika hasilnya belum terlihat?” Kecintaan pada pekerjaan bukan jaminan sukses, namun ia adalah bekal yang membuat perjalanan panjang menjadi mungkin untuk ditempuh.

6. Otonomi adalah Kemewahan yang Perlu Dijaga

Bimo pernah ditawari berbagai program pembinaan dari institusi pemerintah maupun swasta. Ia menolak hampir semuanya. Alasannya bukan antinstitusi, melainkan karena ia sadar bahwa setiap program datang dengan ekspektasi tumbuh ke arah tertentu, memenuhi standar tertentu, dan pada akhirnya menyesuaikan diri dengan logika pasar yang justru ingin ia hindari.

Kekhawatirannya bukan tanpa dasar. Banyak usaha kecil yang kehilangan karakternya setelah masuk dalam program percepatan bisnis, seperti produk yang semula unik berubah menjadi seragam, pemilik yang semula kreatif berubah menjadi manajer produksi yang dikejar angka. Gunagoni, dengan segala keterbatasannya, tetap punya suara dan karakter yang khas justru karena Bimo menjaga otonominya.

"Saya malas ikut pelatihan. Nanti jadi penurut. Dilatih supaya mengikuti aturan, nanti saya terpola,” ungkap Bimo.

Tentu, ada bantuan eksternal yang layak diterima, terutama yang tidak datang dengan syarat mengubah arah atau mempercepat pertumbuhan melampaui kapasitas yang nyaman. Yang perlu dijaga adalah kemampuan untuk berkata tidak pada tawaran yang tampak menggiurkan namun berpotensi mengorbankan kendali atas cara dan ritme kerja yang selama ini menjadi kekuatan.

7. Mendefinisikan Ulang Kata ‘Cukup’

Dalam ekonomi yang mengukur keberhasilan dengan angka, pendapatan, aset, jumlah karyawan, pernyataan Bimo tentang “cukup bayar listrik dan beli pulsa” terdengar seperti kekalahan. Padahal, di balik kesederhanaan itu tersimpan prinsip yang justru sering luput dari diskusi tentang kewirausahaan, bahwa serakah bukan hanya soal moral, melainkan soal keberlanjutan.

Usaha yang terus dipaksa tumbuh melampaui kebutuhan nyatanya akan membutuhkan lebih banyak sumber daya, lebih banyak tenaga, lebih banyak kompromi. Pada titik tertentu, ia tidak lagi melayani pemiliknya, melainkan pemiliknyalah yang melayani usaha itu. Bimo memilih untuk tidak sampai ke titik tersebut.

Mendefinisikan batas “cukup” secara jujur dan personal adalah langkah yang lebih sulit dari yang terlihat, karena ia menuntut kejujuran terhadap diri sendiri. Apa yang benar-benar dibutuhkan, dan apa yang sekadar diinginkan karena terpengaruh standar orang lain. Namun begitu batas itu ditemukan, ia menjadi kompas yang sangat andal dalam setiap keputusan, baik dalam hal bisnis maupun urusan pribadi.

Sepuluh tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk membuktikan bahwa sebuah pendekatan bisa bertahan. Gunagoni bukan fenomena viral, bukan kisah sukses dalam pengertian konvensional yang diukur dengan omzet dan jumlah cabang. Ia adalah bukti bahwa usaha yang dijalankan dengan kesadaran tentang batas, tentang nilai, tentang apa yang benar-benar penting, bisa tumbuh dengan cara yang tidak tergesa-gesa namun kokoh.

Pertanyaan Seputar Slow Living

Q: Apakah slow living sama dengan tidak produktif?

A: Tidak. Slow living bukan tentang bekerja lebih sedikit, melainkan tentang bekerja dengan ritme yang berkelanjutan. Bimo tetap hadir dan berkarya setiap hari—hanya saja tanpa tekanan target yang menjadikan pekerjaan sebagai sumber kecemasan. Produktivitas yang sehat justru lebih mudah dicapai ketika seseorang tidak berada dalam kondisi kelelahan kronis.

Q: Apakah pendekatan ini cocok untuk semua profesi?

A: Prinsip-prinsip di atas paling relevan bagi pekerja kreatif, wirausahawan kecil, dan mereka yang memiliki fleksibilitas dalam mengatur ritme kerjanya sendiri. Profesi yang memerlukan respons cepat dan terikat prosedur ketat—seperti tenaga medis atau pemadam kebakaran—tentu memiliki konteks yang berbeda. Namun esensi slow living—tentang menjaga keseimbangan dan menolak tekanan yang tidak perlu—tetap bisa diadaptasi secara universal.

Q: Bagaimana jika masih memiliki tanggungan finansial yang besar?

A: Slow living bukan pelarian dari tanggung jawab. Jika masih ada utang atau kewajiban finansial yang signifikan, prioritas pertama adalah menyelesaikannya. Prinsip-prinsip ini paling efektif diterapkan sebagai cara menata ulang pola kerja setelah beban mendesak teratasi—bukan sebagai alasan untuk menundanya.

Q: Dari mana memulai jika rutinitas saat ini sudah sangat padat?

A: Perubahan besar yang tiba-tiba jarang bertahan lama. Lebih efektif memulai dari pergeseran kecil yang konsisten: pulang tepat waktu hari ini, meluangkan satu jam tanpa gawai minggu ini, mengurangi satu komitmen yang paling menguras energi bulan ini. Perubahan sejati biasanya terjadi bukan melalui keputusan dramatis, melainkan melalui kebiasaan baru yang dibangun perlahan.

Q: Apakah menerima investasi atau pinjaman bertentangan dengan prinsip ini?

A: Tidak secara otomatis. Yang perlu dipertimbangkan adalah syarat yang menyertainya. Investasi yang menuntut percepatan pertumbuhan di luar kapasitas yang nyaman, atau pinjaman yang menciptakan tekanan baru, berpotensi merusak keseimbangan yang selama ini dijaga. Bimo sendiri bukan menolak bantuan eksternal secara prinsip—ia menolak bantuan yang datang dengan kehilangan kendali sebagai harganya.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |