Liputan6.com, Jakarta - Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) pernah menjadi simbol kekuatan dan kewibawaan di ekosistem Pulau Jawa. Sebagai predator puncak, keberadaannya menandai kesehatan hutan yang masih perawan. Namun, kini satwa megah ini lebih sering dibicarakan sebagai legenda daripada fakta.
Di satu sisi, dunia ilmiah secara resmi telah menyatakan kepunahannya sejak puluhan tahun lalu. Di sisi lain, laporan penampakan dari masyarakat dan cerita turun-temurun seolah menolak keputusan itu, menciptakan teka-teki konservasi yang memikat.
Artikel ini akan mengupas tuntas misteri harimau jawa. Kami akan menelusuri jejak sejarah, menganalisis argumen ilmiah dari dua kubu yang bertolak belakang, dan mengulas temuan DNA terbaru untuk menjawab pertanyaan utama: apakah harimau jawa benar-benar sudah punah? Jadi simak pembahasan selengkapnya berikut ini, sebagaimana telah Liputan6.com dari berbagai sumber, Jumat (16/1/2026).
Mengenal Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica)
Harimau jawa adalah subspesies harimau sunda yang hanya hidup secara alami di Pulau Jawa. Satwa endemik ini dulunya tersebar luas, dari ujung barat di Taman Nasional Ujung Kulon (Banten) hingga ujung timur di Taman Nasional Meru Betiri (Jawa Timur).
Sebagai karnivor terbesar yang pernah menghuni Jawa, harimau ini memainkan peran krusial dalam menjaga keseimbangan rantai makanan. Sayangnya, populasi mereka menyusut drastis akibat tiga tekanan utama:
- Perburuan liar untuk diambil kulitnya atau karena dianggap sebagai hama.
- Konflik dengan manusia yang mengakibatkan banyak individu terbunuh.
- Hilang dan terfragmentasinya habitat secara masif akibat alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan, dan permukiman.
Kepunahan yang Dideklarasikan
Pada 1980-an, International Union for Conservation of Nature (IUCN) secara resmi mengategorikan harimau jawa dalam status Punah (Extinct). Keputusan ini didasari oleh penampakan terakhir yang diverifikasi secara ilmiah pada tahun 1976 di Taman Nasional Meru Betiri.
Setelah deklarasi kepunahan, berbagai upaya survei ekstensif tetap dilakukan untuk memastikan. Ekspedisi dan pemasangan ratusan kamera jebakan (camera trap) di kawasan seperti Meru Betiri, Ujung Kulon, dan Alas Purwo selama puluhan tahun tidak pernah berhasil mendapatkan bukti visual (foto atau video) keberadaannya. Kegagalan ini semakin mengukuhkan status kepunahannya di mata banyak ahli, dan fokus konservasi pun beralih ke menyelamatkan kerabat terdekatnya yang masih ada, yakni Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas).
Para ahli yang meyakini kepunahan memiliki argumen yang kuat berdasarkan ekologi dan bukti lapangan:
- Habitat Sudah Terlalu Sempit: Hariyo T. Wibisono dari Forum Konservasi Macan Tutul Jawa (FORMATA) menyatakan, satu ekor harimau membutuhkan wilayah jelajah antara 40 hingga 300 kilometer persegi. Dengan kondisi hutan Jawa yang kini sangat terfragmentasi dan dikelilingi permukiman, mustahil ada ruang yang cukup untuk menopang populasi harimau yang layak.
- Tidak Ada Bukti Visual yang Valid: Tony Sumampau dari Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (FOKSI) menegaskan, jika masih ada, pasti akan sering terlihat atau terekam kamera. Puluhan tahun tanpa satu pun bukti foto/video dari kamera jebakan adalah bukti kuat ketiadaan mereka.
- Kesalahan Identifikasi: Sebagian besar laporan penampakan, jejak kaki, atau cakaran yang dilaporkan sebagai harimau jawa, setelah diteliti ternyata berasal dari Macan Tutul Jawa. Kedua satwa ini sering kali tertukar oleh masyarakat awam.
Meski status resminya punah, sejumlah pihak tetap gigih meyakini bahwa harimau jawa masih mungkin bersembunyi di sudut-sudut hutan Jawa yang tersisa.
Peneliti seperti Didik Raharyono dari Peduli Karnivora Jawa (PKJ) telah melakukan berbagai ekspedisi mandiri selama lebih dari 20 tahun untuk mengumpulkan bukti. Klaim keberadaan ini juga didukung oleh kesaksian masyarakat lokal yang terus bermunculan dari berbagai daerah, seperti di lereng Gunung Wilis (2020) dan Sukabumi Selatan (2019), meski sering kali tanpa bukti fisik yang meyakinkan.
Analisis DNA BRIN 2024: Rambut Penuh Misteri di Sukabumi
Temuan paling menarik dan ilmiah datang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pada Maret 2024, peneliti Wirdateti mengungkap hasil analisis DNA terhadap sehelai rambut yang ditemukan di pagar kebun di Desa Cipeundeuy, Sukabumi Selatan, pada Agustus 2019.
- Proses Analisis: Rambut tersebut dianalisis dan DNA-nya dibandingkan dengan spesimen harimau jawa koleksi Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) dari tahun 1930, serta dengan subspesies harimau lain (Sumatera, Benggala) dan Macan Tutul Jawa.
- Hasil Penelitian: Analisis filogenetik menunjukkan bahwa sampel rambut Sukabumi berada dalam kelompok genetik yang sama dengan spesimen harimau jawa museum, dan terpisah dari kelompok harimau lainnya.
- Kesimpulan BRIN: Penting untuk dicatat: BRIN menyimpulkan bahwa temuan ini belum cukup untuk membuktikan bahwa harimau jawa masih hidup di alam liar. Pernyataan resmi mereka menekankan bahwa diperlukan studi lapangan dan bukti lebih lanjut (seperti foto atau video) untuk konfirmasi. Temuan ini hanya menunjukkan kemiripan genetik, bukan keberadaan populasi.
- Tanggapan dari Ahli Lain: Skeptisisme tetap ada. Hariyo T. Wibisono mengkritik bahwa temuan ini belum dipublikasikan sebagai full paper ilmiah yang lengkap, sehingga validitasnya sebagai bukti final masih dipertanyakan.
Setelah menimbang semua bukti, narasi tentang harimau jawa terbelah. Di satu sisi, status resmi kepunahan, tidak adanya bukti visual selama hampir 50 tahun, dan kondisi habitat yang sangat kritis merupakan argumen yang sangat kuat dan logis.
Di sisi lain, temuan genetik terbaru yang menarik (meski belum konklusif) dan kesaksian masyarakat yang konsisten menyisakan celah keraguan yang sangat kecil.
Secara ekologis, kemungkinan adanya populasi harimau jawa yang lestari dan berkelanjutan di Jawa saat ini sangat tidak mungkin, mendekati mustahil. Namun, spekulasi tentang adanya satu atau beberapa individu terakhir (the last survivors) yang masih berkeliaran — meski peluangnya tipis — tidak dapat dipungkiri seratus persen tanpa survei menyeluruh di setiap sudut hutan Jawa.
Terlepas dari statusnya, misteri harimau jawa memberikan pelajaran konservasi yang mahal, bahwa hilangnya habitat adalah pukulan mematikan yang tak terbendung. Semangat untuk mencari sang raja hutan yang hilang kini harus dialihkan menjadi upaya nyata untuk menyelamatkan Macan Tutul Jawa dan sisa-sisa hutan di Pulau Jawa, agar tragedi kepunahan yang sama tidak terulang pada satwa endemik lainnya.
FAQ Umum Seputar Harimau Jawa
Q: Apakah harimau jawa benar-benar sudah punah?
A: Secara resmi, YA. IUCN dan otoritas konservasi global telah mendeklarasikannya sebagai spesies Punah (Extinct) sejak 1980-an. Meski ada temuan menarik, belum ada bukti yang cukup kuat untuk membatalkan status resmi ini.
Q: Kapan terakhir kali harimau jawa terlihat secara ilmiah?
A: Penampakan terakhir yang diverifikasi dan diakui secara ilmiah terjadi pada tahun 1976 di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur.
Q: Apa bedanya harimau jawa dan macan tutul jawa?
A: Perbedaan utama:
- Ukuran: Harimau jawa jauh lebih besar.
- Corak: Harimau jawa memiliki loreng (garis-garis), sedangkan macan tutul jawa memiliki totol (rosette).
- Status: Harimau jawa dinyatakan punah, sementara macan tutul jawa masih ada tetapi kritis (Critically Endangered).
Q: Bagaimana dengan temuan DNA rambut oleh BRIN? Bukankah itu bukti?
A: Temuan BRIN (2024) menunjukkan kemiripan genetik yang menarik. Namun, BRIN sendiri menyatakan bahwa ini BUKAN bukti final bahwa harimau jawa masih hidup. Rambut bisa saja berasal dari spesimen tua yang terbawa arus atau sebab lain. Bukti kehadiran populasi hidup membutuhkan foto, video, atau temuan biologis lain yang berulang.
Q: Apa penyebab utama kepunahan harimau jawa?
A: Penyebab utamanya adalah hilangnya habitat secara masif akibat pembukaan hutan untuk pertanian dan pemukiman. Faktor pendukung lainnya adalah perburuan langsung dan konflik dengan manusia yang mengakibatkan banyak harimau terbunuh.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477275/original/082821900_1768814680-Jenderal_Nasution_menerima_pataka_yang_dibawa_Pierre_Tendean__Wikimedia_Commons_.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5474712/original/007652600_1768531933-thlt-lcx-WshjU5cSNU8-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5470929/original/037705500_1768270638-gambar_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477304/original/090387100_1768815453-wsww.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4791002/original/040193800_1711974703-significance-of-the-lord-jesus-appearance-to-thomas-cb9bdcafc8e2acaf5686ece3472cfede.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477241/original/066608000_1768813249-Pohon_Kelengkeng_Dataran_Rendah__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477197/original/036027500_1768811880-Sistem_Rak_Kawat_Bertingkat__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4484593/original/019224800_1687936756-taya-dianna-vUm1axCwADI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477116/original/088071200_1768809389-kambing_etawa122.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5476859/original/081138100_1768800526-Ilustrasi_Bakwan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5357212/original/000924300_1758522381-Gemini_Generated_Image_bslfndbslfndbslf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5463856/original/086442200_1767672193-unnamed-14.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477122/original/067736900_1768809627-Galon_untuk_Rumah_Kaca_Mini__Portable_Greenhouse___Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477300/original/041442800_1768815360-Gemini_Generated_Image_3k1z8t3k1z8t3k1z_2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477186/original/077202300_1768810922-teras_rumah_penuh_dengan_lumut_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5476939/original/032605500_1768803778-Ternak_Ikan_Lele_Bioflok_di_Ember__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5465699/original/097720000_1767774335-unnamed-36.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473832/original/097649200_1768459306-Manfaatkan_Limbah_Dapur___Pertanian_sebagai_Pakan_Utama.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5476920/original/065979900_1768803193-Tanaman_Vertikal.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477008/original/022554900_1768806161-Jualan_smoothies__Gemini_AI_.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363574/original/067634200_1758951074-Gemini_Generated_Image_d15sird15sird15s.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3936591/original/031031300_1645054040-james-wheeler-HJhGcU_IbsQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5370599/original/040845800_1759561568-Gamis_Simple_tapi_elegan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/824391/original/082843900_1425877386-09032015-waduksermo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364103/original/064641000_1759040675-Gemini_Generated_Image_29nq7729nq7729nq.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363765/original/004808300_1758963234-Gemini_Generated_Image_uopfavuopfavuopf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378510/original/035461500_1760253518-Gemini_Generated_Image_8zg0bc8zg0bc8zg0.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364053/original/005894200_1759037147-MixCollage-28-Sep-2025-12-02-PM-3646.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364186/original/001233300_1759045126-Gemini_Generated_Image_f3ya1kf3ya1kf3ya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5367398/original/025212100_1759305132-warung_sembako_hemat_modal_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363279/original/031529000_1758892895-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363368/original/004460100_1758935700-rumah_mezanine_lahan_terbatas_8a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362914/original/028470800_1758876982-8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5360969/original/078803200_1758771480-Gemini_Generated_Image_wiqr94wiqr94wiqr.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5402608/original/032362000_1762254271-unnamed_-_2025-11-04T171618.678.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5360305/original/022331900_1758704064-DGDFE.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363521/original/015394700_1758947659-ChatGPT_Image_27_Sep_2025__11.33.34.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5394858/original/039789400_1761643209-gelang5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363486/original/078379500_1758945634-dapur_dan_ruang_tamu_scandinavian_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363511/original/082081900_1758946742-ChatGPT_Image_27_Sep_2025__11.16.03.jpg)