Hardiknas Diperingati Tanggal 2 Mei, Begini Cara Memaknai Pendidikan ala Ki Hadjar Dewantara

3 hours ago 3
  • Mengapa Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap tanggal 2 Mei?
  • Apa dasar hukum penetapan Hari Pendidikan Nasional?
  • Apa makna dari semboyan 'Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani'?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Setiap 2 Mei, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan hari lahir Ki Hadjar Dewantara, sebagai tokoh yang dikenal dalam perkembangan pendidikan di Indonesia. Peringatan ini menjadi pengingat akan peran pendidikan dalam membentuk kualitas manusia dan arah pembangunan bangsa.

Hardiknas diperingati di berbagai tempat, mulai dari sekolah hingga instansi pemerintah. Kegiatan yang dilakukan beragam, seperti upacara bendera, penggunaan pakaian adat, hingga kegiatan kreatif yang melibatkan siswa dan tenaga pendidik. Melalui kegiatan tersebut, perhatian kembali diarahkan pada kondisi pendidikan yang terus berkembang dan perlu ditingkatkan.

Melalui momentum ini, masyarakat diajak melihat kembali makna pendidikan dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah perubahan zaman, pemahaman tentang pendidikan perlu terus disesuaikan agar tetap sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Simak informasinya berikut, dirangkum Liputan6 selengkapnya.

Hardiknas Diperingati Setiap Tanggal 2 Mei

Mengutip bpmpriau.kemendikdasmen.go.id, Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) selalu diperingati setiap tanggal 2 Mei dan telah menjadi agenda nasional yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Pada hari tersebut, berbagai instansi pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, menyelenggarakan upacara bendera. Upacara ini bertujuan untuk meneguhkan peran pendidikan sebagai instrumen penting dalam mencetak generasi Indonesia yang maju dan berkontribusi bagi pembangunan nasional.

Selain upacara bendera, peringatan Hardiknas juga diisi dengan beragam kegiatan edukatif dan kreatif. Sekolah-sekolah sering mengadakan perlombaan bagi siswa dan pengajar, seperti lomba cerdas cermat, lomba menulis puisi bertema pendidikan, dan pameran karya seni siswa. Diskusi pendidikan dan seminar juga kerap diselenggarakan untuk membahas isu-isu terkini dalam dunia pendidikan, serta menjadi ajang refleksi terhadap kondisi pendidikan yang memerlukan perbaikan.

Meskipun Hardiknas bukan hari libur nasional, semangat peringatannya tetap terasa di seluruh penjuru negeri. Pada tahun 2026, tanggal 2 Mei bertepatan dengan hari Sabtu, sehingga kegiatan belajar mengajar tetap libur mengikuti jadwal akhir pekan. Peringatan ini menjadi kesempatan untuk mengenang jasa Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, serta meneguhkan komitmen bersama dalam membangun sumber daya manusia Indonesia yang unggul.

Asal Usul Penetapan Hardiknas di Tanggal 2 Mei

Penetapan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional tidak terlepas dari sosok Ki Hadjar Dewantara, seorang pahlawan nasional yang dikenal sebagai pelopor pendidikan di Indonesia. Tanggal tersebut merupakan hari kelahirannya, yaitu 2 Mei 1889. Pemerintah Republik Indonesia secara resmi menetapkan tanggal ini sebagai Hardiknas melalui Keputusan Presiden (Keppres) RI Nomor 316 Tahun 1959, yang dikeluarkan pada tanggal 16 Desember 1959.

Penetapan ini merupakan bentuk penghormatan atas jasa besar Ki Hadjar Dewantara dalam memajukan pendidikan di tanah air. Beliau lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat dari lingkungan bangsawan Pakualaman di Yogyakarta. Sejak muda, Ki Hadjar Dewantara menunjukkan sikap kritis terhadap kebijakan pemerintah kolonial Belanda, terutama dalam bidang pendidikan yang saat itu hanya mengutamakan anak-anak keturunan Belanda dan kalangan bangsawan.

Semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara dalam membangkitkan kesadaran nasional melalui pendidikan diwujudkan dengan mendirikan Perguruan Taman Siswa pada tahun 1922. Lembaga pendidikan ini bertujuan mulia, yaitu membangun manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, merdeka lahir batin, luhur akal budi, cerdas, berketerampilan, serta sehat jasmani dan rohaninya. Taman Siswa hadir untuk menyediakan layanan pendidikan yang setara bagi masyarakat pribumi, dengan sistem among yang memanusiakan manusia dan berjiwa kekeluargaan.

Memaknai Semboyan Pendidikan Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani

Filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara dikenal dengan semboyan "Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani". Semboyan ini memiliki makna mendalam dan menjadi landasan penting dalam dunia pendidikan Indonesia. "Ing Ngarsa Sung Tulada" berarti "di depan, memberi teladan". Ini menekankan bahwa seorang pendidik harus menjadi contoh yang baik bagi peserta didiknya, menunjukkan sikap dan perilaku yang patut ditiru.

Bagian kedua, "Ing Madya Mangun Karsa", memiliki arti "di tengah, membangun semangat". Semboyan ini menjelaskan peran pendidik yang berada di tengah-tengah peserta didik untuk membimbing, memotivasi, dan menciptakan prakarsa atau ide-ide baru. Pendidik diharapkan mampu membangkitkan semangat belajar dan mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan minat dan bakat mereka.

Terakhir, "Tut Wuri Handayani" berarti "di belakang, memberikan dorongan". Semboyan ini menegaskan bahwa pendidik harus memberikan dukungan, arahan, dan kebebasan kepada peserta didik untuk berkembang secara mandiri, tanpa mengekang. Semboyan ini tetap relevan sebagai panduan bagi pendidik untuk menciptakan lingkungan belajar yang berpusat pada peserta didik, mendorong pemikiran kritis, kreativitas, dan pengembangan karakter.

Peran Ki Hadjar Dewantara di Bidang Pendidikan Saat Itu

Ki Hadjar Dewantara, yang lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, adalah seorang tokoh sentral dalam sejarah pendidikan Indonesia. Beliau berasal dari keluarga bangsawan Kadipaten Pakualaman, Yogyakarta. Meskipun sempat menempuh pendidikan kedokteran di STOVIA, beliau tidak menyelesaikannya karena kondisi kesehatan. Setelah itu, beliau memilih jalur jurnalistik, bekerja sebagai wartawan di berbagai surat kabar.

Peran Ki Hadjar Dewantara dalam pendidikan semakin nyata ketika beliau aktif dalam organisasi Budi Utomo pada tahun 1908, mensosialisasikan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa. Beliau secara tegas menentang sistem pendidikan kolonial Belanda yang diskriminatif, yang hanya memberikan akses pendidikan kepada anak-anak Belanda atau orang kaya. Kritik kerasnya terhadap kebijakan kolonial ini bahkan menyebabkan beliau diasingkan ke Belanda.

Sekembalinya dari pengasingan, pada tahun 1922, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa atau Perguruan Nasional Taman Siswa di Yogyakarta. Taman Siswa menjadi lembaga pendidikan pertama di Indonesia yang memberikan kesempatan bagi pribumi untuk memperoleh hak pendidikan. Sistem pendidikan yang diterapkan di Taman Siswa mengedepankan nilai kemanusiaan, kekeluargaan, dan pendidikan yang memerdekakan.

Cara Memaknai Pendidikan ala Ki Hadjar Dewantara agar Tidak Hilang di Masa Mendatang

Memaknai pendidikan ala Ki Hadjar Dewantara agar tidak hilang di masa mendatang memerlukan pemahaman mendalam terhadap filosofi beliau yang holistik dan humanis. Ki Hadjar Dewantara mengungkapkan bahwa hakikat pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Pendidikan harus berorientasi pada anak, memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan.

Untuk menjaga relevansi filosofi ini, pendidikan di masa depan perlu terus menerapkan sistem among yang berjiwa kekeluargaan, bersendikan kodrat alam sebagai syarat kemajuan, dan kemerdekaan sebagai syarat menghidupkan kekuatan lahir dan batin anak. Ini berarti pendidikan harus menghargai keunikan setiap peserta didik, mendorong kemandirian berpikir, dan mengembangkan potensi mereka secara utuh. Pendidik berperan sebagai penuntun, bukan penentu, yang membimbing peserta didik menemukan jalannya sendiri.

Selain itu, pendidikan harus tetap berakar pada kebudayaan asli Indonesia, dengan mengambil nilai-nilai dari luar secara selektif dan adaptif. Ini berarti pendidikan tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai karakter, kebangsaan, dan kemanusiaan. Dengan demikian, pendidikan akan menghasilkan generasi yang terampil, berakhlak baik, bijaksana, serta memiliki kesadaran sosial yang tinggi untuk membangun masyarakat yang inklusif dan berkeadilan.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Topik

Q: Mengapa Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap tanggal 2 Mei?

A: Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap tanggal 2 Mei karena bertepatan dengan hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara.

Q: Apa dasar hukum penetapan Hari Pendidikan Nasional?

A: Hari Pendidikan Nasional ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) RI Nomor 316 Tahun 1959.

Q: Apa makna dari semboyan 'Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani'?

A: Semboyan ini berarti 'di depan, memberi teladan; di tengah, membangun semangat; di belakang, memberikan dorongan'.

Q: Apa peran utama Ki Hadjar Dewantara dalam pendidikan Indonesia?

A: Peran utama Ki Hadjar Dewantara adalah memperjuangkan hak pendidikan bagi kaum pribumi dan mendirikan Perguruan Taman Siswa.

Q: Apakah Hari Pendidikan Nasional merupakan hari libur nasional?

A: Tidak, Hari Pendidikan Nasional bukan merupakan hari libur nasional.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |