7 Cara Membuat Silase Pakan Ternak di Ember, Cocok untuk Pemula dan Lahan Sempit

9 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Ketersediaan pakan hijauan seringkali menjadi tantangan utama bagi peternak, terutama saat musim kemarau panjang. Kondisi ini menuntut inovasi dalam pengelolaan pakan agar nutrisi ternak tetap terpenuhi sepanjang tahun. Salah satu solusi efektif yang banyak diterapkan adalah pembuatan silase, sebuah metode pengawetan pakan yang praktis dan efisien.

Silase merupakan pakan hijauan ternak yang diawetkan melalui proses fermentasi dalam kondisi anaerob, yaitu tanpa udara. Proses ini memungkinkan pakan dapat disimpan dalam jangka waktu yang sangat lama, mulai dari 3-6 bulan hingga mencapai 1 tahun. Tujuannya adalah untuk menjaga kandungan nutrisi hijauan atau bahan pakan lainnya, sehingga peternak tidak lagi kesulitan mendapatkan pakan segar di luar musim tanam atau saat pasokan minim.

Metode pembuatan silase melibatkan aktivitas bakteri atau mikroba seperti Lactis Acidi dan Streptococcus yang berkembang biak secara anaerob, menghasilkan asam susu dan menurunkan derajat keasaman (pH) hingga sekitar 4. Proses ini tidak hanya mempertahankan kualitas pakan, tetapi juga meningkatkan daya cerna dan produktivitas ternak. Bagi peternak pemula atau yang memiliki lahan terbatas, membuat silase di ember adalah pilihan yang sangat direkomendasikan karena kesederhanaan dan efisiensinya.

Persiapan Bahan Baku Hijauan Pilihan

Langkah fundamental dalam pembuatan silase adalah pemilihan dan persiapan bahan baku hijauan yang berkualitas. Hijauan segar menjadi kunci utama untuk mendapatkan hasil silase yang optimal, dengan berbagai pilihan seperti rumput gajah, rumput raja, odot, atau setaria.

Pentingnya memilih bahan yang segar tidak hanya terletak pada kualitas nutrisi awal, tetapi juga pada keberhasilan proses fermentasi itu sendiri. Hijauan yang segar memiliki kandungan karbohidrat yang cukup untuk diubah menjadi asam laktat oleh bakteri, memastikan fermentasi berjalan efisien dan menghasilkan silase yang baik.

Peternak disarankan untuk memanen hijauan pada saat kandungan nutrisinya berada di puncak, yaitu ketika masih hijau dan belum terlalu tua. Pemilihan jenis rumput yang tepat dan kondisinya yang prima akan sangat memengaruhi karakteristik akhir silase, termasuk aroma, warna, dan nilai gizi yang akan dikonsumsi ternak.

Proses Pencacahan untuk Efisiensi Pemadatan

Setelah bahan baku hijauan terkumpul, langkah selanjutnya adalah pencacahan menjadi potongan-potongan kecil. Ukuran ideal untuk potongan ini berkisar antara 5 hingga 10 cm, yang dapat dicapai menggunakan mesin pencacah (chopper) atau secara manual.

Tujuan utama dari pencacahan hijauan menjadi ukuran yang lebih kecil adalah untuk memfasilitasi pemadatan yang maksimal di dalam wadah. Potongan yang seragam dan kecil memungkinkan bahan pakan untuk saling mengisi ruang, mengurangi celah udara yang tidak diinginkan.

Pemadatan yang rapat ini sangat krusial karena prinsip pembuatan silase adalah menciptakan kondisi anaerobik, yaitu tanpa oksigen. Dengan meminimalkan ruang udara, pertumbuhan bakteri pembusuk dapat dihambat, dan bakteri asam laktat yang menguntungkan dapat bekerja secara optimal untuk fermentasi.

Pelayuan Opsional untuk Kontrol Kadar Air

Pelayuan adalah tahapan opsional yang dapat dilakukan setelah pencacahan, dengan tujuan mengurangi kadar air dalam hijauan. Proses ini dilakukan hingga kadar air hijauan mencapai sekitar 60-70%, kondisi yang dianggap ideal untuk fermentasi silase.

Mengurangi kadar air melalui pelayuan membantu mencegah hijauan cepat rusak dan memastikan proses fermentasi berlangsung secara optimal. Kadar air yang terlalu tinggi dapat memicu pertumbuhan bakteri yang tidak diinginkan dan menghasilkan silase berkualitas rendah atau bahkan busuk.

Pelayuan dapat dilakukan dengan cara menjemur hijauan sebentar di bawah sinar matahari langsung, atau jika tersedia, menggunakan mesin pengering. Metode pengeringan yang dipilih harus hati-hati agar tidak menghilangkan terlalu banyak nutrisi atau membuat hijauan menjadi terlalu kering.

Pencampuran Aditif Peningkat Kualitas

Untuk meningkatkan kualitas silase dan mempercepat proses fermentasi, penambahan aditif sangat dianjurkan. Aditif yang umum digunakan meliputi dedak atau bekatul, molase (gula merah/gula pasir), dan probiotik seperti EM-4 peternakan.

Dedak atau bekatul biasanya ditambahkan sekitar 2,5% hingga 5% dari total bahan silase, berfungsi sebagai sumber karbohidrat mudah larut yang dibutuhkan bakteri asam laktat. Molase, sekitar 3% dari bahan silase, juga berperan sebagai sumber energi bagi bakteri fermentasi.

Proses pencampurannya dimulai dengan melarutkan probiotik EM-4 dan molase dalam air bersih, lalu larutan tersebut disiramkan secara merata ke seluruh tumpukan hijauan yang sudah dicacah. Setelah itu, bahan-bahan diaduk hingga tercampur sempurna, memastikan aditif terdistribusi merata untuk fermentasi yang konsisten.

Pengisian dan Pemadatan Optimal dalam Ember

Pengisian hijauan ke dalam ember harus disertai dengan pemadatan yang maksimal. Setiap lapisan hijauan yang dimasukkan perlu ditekan kuat-kuat untuk mengeluarkan udara yang terperangkap di dalamnya.

Pemadatan yang efektif adalah kunci keberhasilan silase karena menciptakan lingkungan anaerobik yang esensial. Tanpa kondisi kedap udara, bakteri pembusuk akan berkembang biak, bukan bakteri asam laktat yang diinginkan, sehingga silase bisa gagal atau busuk.

Pastikan tidak ada ruang kosong tersisa di dalam ember setelah semua hijauan dimasukkan dan dipadatkan. Pemadatan yang sempurna akan memaksimalkan aktivitas bakteri asam laktat dan mempercepat pencapaian kondisi asam yang stabil.

Penutupan Kedap Udara untuk Fermentasi Sukses

Setelah pengisian dan pemadatan selesai, ember harus ditutup dengan sangat rapat untuk memastikan kondisi kedap udara yang mutlak. Ini adalah langkah kritis yang tidak boleh diabaikan dalam pembuatan silase.

Kondisi kedap udara yang sempurna sangat penting agar bakteri asam susu dapat bekerja tanpa hambatan dan mencegah kontaminasi oleh oksigen yang dapat memicu pertumbuhan jamur atau bakteri pembusuk. Jika ada udara yang masuk, proses fermentasi akan terganggu dan silase bisa rusak.

Jika menggunakan kantong plastik bening di dalam ember, ikat ujung kantong dengan karet atau tali sebelum menutup ember. Kemudian, pastikan penutup ember juga tertutup rapat dan tidak ada celah. Keberhasilan fermentasi sangat bergantung pada seberapa baik ember tertutup dari paparan udara luar.

Durasi Fermentasi dan Indikator Silase Berkualitas

Ember yang sudah tertutup rapat kemudian disimpan di tempat yang teduh dan aman untuk memulai proses fermentasi. Durasi fermentasi silase dapat bervariasi, mulai dari 5-7 hari, 14 hari, hingga 6-8 minggu, tergantung pada bahan baku dan kondisi lingkungan.

Selama periode ini, mikroorganisme akan mengubah karbohidrat dalam hijauan menjadi asam laktat, yang secara bertahap menurunkan pH dan mengawetkan pakan. Penting untuk tidak membuka ember selama proses fermentasi agar kondisi anaerob tetap terjaga.

Silase yang berhasil memiliki beberapa ciri khas yang mudah dikenali: aroma asam yang segar, warna pakan yang masih hijau atau kuning kehijauan, tekstur rumput yang masih jelas, tidak berjamur, tidak berlendir, dan mengumpal saat digenggam. Indikator-indikator ini menunjukkan bahwa silase siap diberikan kepada ternak sebagai pakan berkualitas.

5 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Topik

1. Apa itu silase dan mengapa penting bagi peternak?

Silase adalah pakan hijauan yang diawetkan melalui proses fermentasi dalam kondisi tanpa udara (anaerob). Silase penting karena dapat disimpan selama berbulan-bulan hingga satu tahun, sehingga peternak tetap memiliki cadangan pakan berkualitas saat musim kemarau atau ketika hijauan segar sulit diperoleh.

2. Berapa lama proses fermentasi silase di dalam ember?

Lama fermentasi silase bervariasi, umumnya antara 14 hari hingga 8 minggu tergantung jenis bahan, suhu lingkungan, dan kualitas fermentasi. Selama proses berlangsung, ember harus tetap tertutup rapat agar kondisi anaerob tetap terjaga.

3. Bagaimana ciri-ciri silase yang berkualitas baik?

Silase yang berhasil memiliki aroma asam segar seperti tape, warna hijau atau kuning kehijauan, tidak berjamur, tidak berlendir, dan tekstur hijauan masih terlihat jelas. Jika silase berbau busuk atau berwarna hitam pekat, kemungkinan proses fermentasi gagal.

4. Mengapa hijauan perlu dicacah sebelum dibuat silase?

Pencacahan membantu memudahkan proses pemadatan di dalam ember sehingga udara dapat dikeluarkan secara maksimal. Kondisi tanpa udara sangat penting untuk mendukung pertumbuhan bakteri asam laktat yang berperan dalam proses fermentasi dan pengawetan pakan.

5. Apakah silase harus menggunakan EM4 dan molase?

Penggunaan EM4 dan molase tidak selalu wajib, tetapi sangat dianjurkan. EM4 membantu mempercepat fermentasi dengan menambah populasi mikroba menguntungkan, sedangkan molase menyediakan sumber gula yang dibutuhkan bakteri untuk menghasilkan asam laktat dan meningkatkan kualitas silase.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |