Liputan6.com, Yogyakarta - Rumah Makan Jejamuran dikenal sebagai restoran ikonik di Sleman yang menyajikan beragam olahan jamur dengan cita rasa khas dan unik. Rumah makan ini didirikan oleh Ratidjo Harjo Suwarno pada tahun 2006. 20 tahun berdiri, Jejamuran yang terletak di Jalan Pandowoharjo, Sleman, Yogyakarta ini selalu ramai setiap harinya.
Usaha rumah makan Jejamuran ini ramah bagi pengunjung karena memiliki area yang luas dengan pilihan tempat makan indoor dan outdoor. Suasananya pun sejuk dan nyaman, ditambah adanya playground anak yang cocok untuk keluarga yang membawa anak kecil.
Ditemui pada (14/4/2026), Ratidjo menceritakan tentang perjalanannya membangun usaha rumah makan Jejamuran. Bermula dari mengenalkan sajian jamur kepada tetangga, kini rumah makannya selalu menjadi pilihan untuk warga Jogja ataupun luar Jogja kumpul bersama keluarga.
Suara hujan deras menemani momen saat Ratidjo menjelaskan berbagai macam jamur di lobi rumah makannya. Keberadaan beragam jenis tanaman jamur tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung yang datang.
Pernah Menjadi Laden Tukang hingga Bekerja di Perusahaan Batik
Sebelum menjadi pebisnis sukses seperti sekarang, Ratidjo pernah bekerja sebagai peladen atau pembantu tukang. Semasa sekolahnya dulu, ia juga kerap membantu orang tuanya sepulang sekolah.
"Dan waktu saya selesai sekolah itu, saya membantu orang tua saya. Saya pernah menjadi pembantu tukang. Ada tukangnya, saya ngaduk-ngaduk pasir itu pernah," kata Ratidjo mengenang masa lalunya.
Perjalanan panjang Ratidjo penuh lika-liku. Selain pernah menjadi pembantu tukang, Ratidjo juga pernah bekerja di Perusahaan Batik Bintang Bersinar pada tahun 1965-1966 tepat setelah ia lulus di bangku SMK pada 1965.
Semangat Ratidjo tak pernah pudar meski sudah usia senja. Sebelum tahun 1997 mendirikan CV Volva Indonesia dan tahun 2006 mendirikan Resto Jejamuran, pada tahun 1968-1980 Ratidjo di PT Dieng Djaya di Bidang Pengembangan Budidaya Jamur Kancing.
Memulai dengan Mengedukasi Masyarakat tentang Jamur
Bertahun-tahun belajar tentang budidaya jamur, Ratidjo kemudian memperkenalkan jamur kepada tetangga dan kerabat. Pebisnis berusia 82 tahun ini ungkap bahwa jika dulu banyak orang yang menganggap jamur beracun, sehingga takut untuk mengonsumsinya.
"Tidak semua jamur yang tumbuh di halaman, tidak semua bisa dimakan. Ada yang beracun, akhirnya ada keragunan, akhirnya jadi takut," jelas Ratidjo.
Mengenang masa saat mengenalkan sajian jamur kepada para tetangga bersama sang istri, Ratidjo mengungkapkan bahwa hal tersebut dijalaninya selama tiga tahun. Berawal dari keinginan untuk mengedukasi masyarakat tentang olahan jamur, usaha tersebut kini berkembang menjadi sebuah bisnis.
"Kemudian, saya dengan ibu membuat masakan jamur. Kita jual dari rumah ke rumah, tujuannya untuk mengedukasi masakan-masakan jamur. Kita jelaskan, bahwa jamur ini segar, jamur itu tidak beracun. Itu hampir tiga tahun saya sosialisasi dengan masyarakat," kata Ratidjo.
Dengan tujuan mulia untuk mengedukasi masyarakat mengenai olahan jamur, Ratidjo membagikannya secara gratis kepada para tetangga. Namun, saat itu beberapa tetangga sempat menolak karena khawatir akan keracunan.
"Tapi orang Indonesia itu, waktu saya jual pertama, tidak mau beli. Takut keracunan, takut mati. Tapi setelah saya bilang gratis itu tidak takut mati," cerita Ratidjo.
Bangun Warung Makan Pertama Kali dengan Modal Rp200.000
Perjalanannya penuh lika-liku, Ratidjo tetap gigih untuk mengenalkan jamur kepada masyarakat. Setelah mengedukasi masyarakat melalui cara memperkenalkannya dari rumah ke rumah tetangga, kemudian Ratidjo membangun warung makan bersama sang istri.
"Kemudian saya bikin warung makan seperti ini. Ini Jejamuran pertama kali dibangun," kata Ratidjo sembari memperlihatkan foto rumah makan Jejamuran pertama kali.
Kesuksesan Ratidjo adalah bukti kerja keras berbuah manis. Sebelum berkembang seperti saat ini, Ratidjo membangun rumah makan Jejamuran dengan modal awal sekitar Rp200.000. Bahkan, berbagai perlengkapan rumah makan seperti meja dan kursi dibelinya dari pasar loak.
"Waktu itu saya hanya punya danaan Rp200.000, saya pergi ke pasar luar beli meja kursi untuk melengkapi rumah makan," cerita Ratidjo.
Dibantu BRI Tahun 2006, Usaha Makin Berkembang
Pada tahun 2006, Ratidjo mendapatkan bantuan pinjaman dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebesar Rp25 juta untuk mengembangkan usahanya. Melalui dana tersebut, Ratidjo kemudian mulai mengganti sejumlah perlengkapan usaha dan melakukan pengembangan pada rumah makannya.
"Saya dibantu BRI waktu itu Rp25.000.000 tahun 2006. Kemudian baru kita bangun, kita bangun, tamunya banyak," kata Ratidjo.
Jejamuran kian dikenal dan jumlah pengunjungnya terus bertambah. Ratidjo pun mengenang momen saat kapasitas kursi di rumah makannya kala itu masih terbatas, hingga akhirnya ia bekerja sama dengan pihak RT untuk membantu memenuhi kebutuhan pengunjung.
"Akhirnya juga kursi saya kurang. Tidak mencukupi untuk memenuhi jumlah konsumen yang datang. Akhirnya saya berkolaborasi dengan Pak RT," tambah pria kelahiran 16 April 1944 itu.
Menjadi UMKM Terbaik Tahun 2019
Ratidjo mulai membangun bisnis Jejamuran pada tahun 2006 saat usianya menginjak 62 tahun. Setelah melalui berbagai jatuh bangun dalam menjalankan usaha, Jejamuran akhirnya meraih penghargaan sebagai UMKM terbaik pada tahun 2019.
"Jejamuran itu luar biasa. Akhirnya 2019 saya mendapatkan penghargaan menjadi UMKM terbaik," cerita Ratidjo.
Sembari menceritakan tentang penghargaan yang diraihnya setelah 13 tahun membangun usaha, Ratidjo memperlihatkan public figure hingga pakar kuliner yang pernah datang ke rumah makannya lewat layar screen.
Mantan Wakil Presiden Boediono, Try Sutrisno, Chris John, Bondan Winarno, Andi F. Noya, hingga Dahlan Iskan merupakan beberapa tokoh publik yang pernah mengunjungi rumah makan Jejamuran milik Ratidjo Harjo Suwarno.
Belum lama ini di laman Instagram Resto Jejamuran pada 11 Mei 2026, Titiek Soeharto berkunjung ke resto yang sudah berdiri sejak 2006 ini. Kehadirannya menarik perhatian pengunjung, yang kemudian secara bergantian berfoto bersama Titiek Soeharto.
Produksi 100 Kilogram Sehari
Usai dari Resto Jejamuran, rombongan kemudian bertolak ke Agrowisata Jejamuran yang lokasinya tidak jauh dari resto. Di lokasi tersebut, pengunjung diajak berkeliling melihat budidaya 34 jenis jamur dengan didampingi pemandu, Ahmad Arif Nugroho.
Resto Jejamuran memiliki 34 jenis jamur yang dibudidayakan sendiri. Seluruh jamur tersebut terus diawasi agar kualitasnya tetap terjaga, mulai dari proses budidaya dan panen hingga akhirnya disajikan kepada pelanggan Resto Jejamuran.
"Kami tahu medianya, kami tahu prosesnya. Kami awasi juga tumbuhnya. Jadi kami berani pastikan jamur yang tumbuh aman dikonsumsi," kata Ahmad Arif.
Untuk panen harian, Arif mengungkapkan bahwa hasil panen jamur untuk kebutuhan Resto Jejamuran bisa mencapai 100 kilogram per hari. Jumlah tersebut merupakan gabungan dari seluruh jenis jamur. Satu jenis jamur biasanya dapat diolah menjadi dua menu berbeda.
"Kalau support-nya ke Jejamuran, rata-rata sehari itu bisa 100 kilo untuk semua jenis jamur," jelas Arif.
"Kalau untuk menu, karena tadi kami punya 34 jenis jamur. Untuk menu, minimal kami punya 64 jenis jamur atau 64 menu karena 1 jamur bisa jadi 2 menu," tambahnya.
Penyaluran KUR BRI Dilakukan Secara Transparan
Kisah Ratidjo hanyalah satu dari jutaan pelaku usaha yang terbantu berkat akses pinjaman modal dari BRI. Salah satu layanan yang paling dirasakan manfaatnya bagi para perintis usaha seperti dirinya adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Mengutip laman resmi BRI yang dirilis pada (5/2/2026), hingga akhir Desember 2025, sekitar 18 dari setiap 100 rumah tangga di Indonesia tercatat telah mengakses fasilitas KUR BRI, mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Secara kumulatif, sejak 2015 hingga akhir 2025, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp1.435 triliun kepada sekitar 46,4 juta penerima.
Melalui penyaluran KUR yang dilakukan secara hati-hati, transparan, dan akuntabel, BRI optimistis dapat terus berperan dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, meningkatkan kesejahteraan petani, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan yang inklusif dan berkelanjutan.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan bahwa KUR merupakan instrumen strategis BRI dalam mendukung sektor usaha mikro dan sektor produktif.
"Melalui KUR, BRI berupaya menghadirkan pembiayaan yang mudah diakses, tepat sasaran, serta berkelanjutan. BRI tidak hanya memberikan akses modal, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas usaha agar pelaku UMKM, termasuk petani, dapat tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan," ujar Hery Gunardi.
Hery menambahkan bahwa BRI terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, kelompok tani, hingga penyuluh pertanian, guna memastikan penyaluran KUR memberikan dampak ekonomi yang nyata.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6928330/original/030381400_1779698374-jukut_2.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6933101/original/020575900_1779702736-Sistem_Integrasi_Lengkap_____Kebun___Ayam___Lele___Maggot___Kompos.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6927125/original/048495400_1779697291-ChatGPT_Image_May_25__2026__03_20_12_PM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4420595/original/063665100_1683615104-Ujian_Tulis_Berbasis_Komputer__UTBK__dalam_rangka_Seleksi_Nasional_Berdasarkan_Tes__SNBT_-ARBAS_9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6930928/original/070220800_1779700978-Untitledd.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6935907/original/083142600_1779704888-WhatsApp_Image_2026-05-23_at_11.14.33_PM__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6927181/original/003164300_1779697319-sarang_burung_walet.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6922427/original/022281800_1779692938-Gemini_Generated_Image_vg0wp2vg0wp2vg0w.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6300024/original/045699400_1779174537-Gemini_Generated_Image_23vsad23vsad23vs.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6921391/original/077186700_1779691749-1112081227344759272.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6826820/original/016446300_1779615644-nangoma.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6920153/original/042044100_1779690662-2036510328567788463.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3562890/original/030557800_1630923116-WhatsApp_Image_2021-09-06_at_17.05.56.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2496577/original/008779500_1543376991-Headline.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6915474/original/039819600_1779686372-Untitlede.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5520909/original/063221900_1772664980-kelin.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4573773/original/021416200_1694591354-20230913111830__fpdl.in__quran-being-held-hands-close-up_23-2148444089_normal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6912860/original/032238700_1779683308-cover_roaster.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5569223/original/036885800_1777434201-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6914627/original/070353100_1779685281-ChatGPT_Image_May_25__2026__12_00_42_PM.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5530617/original/099175500_1773466166-mud1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489268/original/078646900_1769835675-Jualan_buah_goreng__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495984/original/028777500_1770452855-unnamed__11_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488893/original/092856000_1769769033-WhatsApp_Image_2026-01-30_at_16.18.07.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490815/original/001976100_1770026229-jualan_es.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2262540/original/075447500_1530187074-Channa_stri_060627_7960_jtgno_ed_resize.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485519/original/025563700_1769510053-kebun_rumah_dengan_kombinasi_pohon_buah_dan_tanaman_hias_4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485348/original/055676200_1769503980-Gemini_Generated_Image_ykbuwykbuwykbuwy_2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490648/original/042458000_1770019622-desain_kebun_sayur_pakai_kaleng__4_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5465808/original/017884500_1767776738-Gemini_Generated_Image_n3iemzn3iemzn3ie.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488293/original/093524200_1769746071-tirai_jendela1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481611/original/052294200_1769139472-Untitled_design__10_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488684/original/047569800_1769760902-kue_dari_tepung_mocaf5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495904/original/087503600_1770444952-Gemini_Generated_Image_7ycbx87ycbx87ycb.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5446768/original/019579900_1765941166-Ikan_lele_dipanen.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5494885/original/067165400_1770347594-telur_bebek.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4878087/original/027138900_1719566267-IMG_2916.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5492871/original/061346200_1770188299-ChatGPT_Image_4_Feb_2026__13.57.45.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488443/original/005923400_1769750774-Panen_kacang_panjang__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3931642/original/069846400_1644592691-pexels-alleksana-6478943_1_.jpg)