- Mana yang lebih cepat balik modal, lele atau ayam?
- Berapa modal minimal ternak lele?
- Apakah ternak ayam selalu untung?
Baca artikel ini 5x lebih cepat
Liputan6.com, Jakarta - Memulai usaha ternak sering menjadi pilihan menarik bagi masyarakat desa maupun pelaku usaha kecil karena dianggap memiliki pasar yang jelas dan kebutuhan konsumsi yang stabil sepanjang tahun. Namun ketika dihadapkan pada pilihan antara ternak lele atau ayam, banyak calon peternak justru bingung menentukan mana yang lebih menguntungkan secara realistis. Keduanya sama-sama populer, mudah dipelajari, dan bisa dimulai dalam skala kecil, tetapi struktur biaya, risiko, serta potensi keuntungannya sangat berbeda.
Di satu sisi, lele dikenal tahan banting, fleksibel dalam sistem pemeliharaan, serta cocok untuk lahan terbatas. Di sisi lain, ayam broiler menawarkan perputaran modal jauh lebih cepat dengan potensi omzet besar dalam waktu singkat. Agar tidak salah langkah, penting memahami perbandingan secara menyeluruh mulai dari modal, biaya produksi, risiko, hingga stabilitas harga pasar sebelum benar-benar memutuskan terjun ke salah satunya.
Biaya Pakan dan Efisiensi Produksi
Biaya pakan merupakan komponen terbesar dalam usaha ternak, baik untuk lele maupun ayam, karena dapat menyumbang lebih dari 60% total biaya produksi dalam satu siklus. Kesalahan dalam manajemen pakan sering menjadi penyebab utama kerugian, bukan karena harga jual yang rendah, tetapi karena biaya operasional yang membengkak tanpa disadari. Oleh sebab itu, memahami efisiensi konversi pakan menjadi bobot tubuh sangat penting sebelum memulai usaha.
Pada ternak lele, pakan biasanya berbentuk pelet dengan kandungan protein tertentu yang disesuaikan dengan usia ikan. Rasio konversi pakan (FCR) lele umumnya berkisar antara 1–1,2, artinya untuk menghasilkan 1 kg lele dibutuhkan sekitar 1–1,2 kg pakan. Jika harga pakan rata-rata Rp10.000 per kg dan kebutuhan pakan dalam satu siklus mencapai 150 kg, maka total biaya pakan bisa menyentuh Rp1,5 juta. Namun lele memiliki keunggulan karena bisa dikombinasikan dengan pakan alternatif seperti maggot atau limbah dapur untuk menekan biaya.
Sementara itu, ayam broiler memiliki FCR sekitar 1,5–1,7, tergantung kualitas pakan dan manajemen kandang. Artinya, untuk menghasilkan 1 kg bobot ayam dibutuhkan sekitar 1,6 kg pakan. Jika harga pakan Rp8.500–9.000 per kg, dan dalam satu siklus 500 ekor ayam membutuhkan sekitar 1,5–1,7 ton pakan, maka biaya pakan bisa mencapai Rp13–15 juta. Angka ini menunjukkan bahwa usaha ayam sangat sensitif terhadap fluktuasi harga pakan.
Secara efisiensi, ayam memang tumbuh lebih cepat, tetapi ketergantungannya pada pakan pabrikan membuat margin keuntungan sangat dipengaruhi harga pasar. Lele lebih fleksibel dalam strategi penghematan, meskipun pertumbuhannya sedikit lebih lama. Oleh karena itu, efisiensi produksi pada kedua usaha ini sangat bergantung pada kedisiplinan pemberian pakan dan pengelolaan teknis harian.
Simulasi Keuntungan
A. Simulasi Ternak Ayam
Dalam skala 500 ekor, dengan asumsi tingkat kematian 5%, maka ayam yang bisa dipanen sekitar 475 ekor. Jika rata-rata berat panen 1,9 kg dan harga jual Rp23.000 per kg, maka total bobot panen sekitar 902 kg dengan omzet sekitar Rp20,7 juta. Ini terlihat sangat menjanjikan dalam waktu hanya 30–35 hari.
Namun perlu dikurangi biaya produksi seperti pakan Rp14 juta, DOC Rp4 juta, vitamin dan operasional Rp1 juta, serta biaya kandang penyusutan sekitar Rp500 ribu per siklus. Total biaya bisa mencapai Rp19,5 juta, sehingga laba bersih berkisar Rp1–1,5 juta per siklus. Keuntungan ini bisa lebih tinggi jika harga pasar naik, tetapi juga bisa turun drastis saat harga ayam jatuh.
B. Simulasi Ternak Lele
Untuk 1.000 ekor lele dengan tingkat hidup 90%, maka panen sekitar 900 ekor. Jika rata-rata ukuran panen 8 ekor per kg, maka total berat sekitar 112 kg. Dengan harga jual Rp20.000 per kg, omzet sekitar Rp2,2 juta per siklus selama 2,5–3 bulan.
Biaya produksi terdiri dari benih Rp350 ribu, pakan Rp1,5 juta, serta operasional Rp300 ribu, sehingga total biaya sekitar Rp2,15 juta. Laba bersih berkisar Rp100–500 ribu tergantung efisiensi. Walau terlihat kecil, usaha ini bisa ditingkatkan skalanya dengan menambah kolam sehingga total keuntungan akumulatif lebih besar.
Risiko Usaha dan Tingkat Kematian
A. Risiko pada Ayam
Ayam broiler sangat sensitif terhadap perubahan cuaca, ventilasi kandang, dan serangan penyakit seperti ND atau flu burung. Kesalahan kecil dalam manajemen bisa menyebabkan kematian massal dalam waktu singkat. Selain itu, stres akibat kepadatan kandang juga dapat menurunkan nafsu makan dan memperlambat pertumbuhan.
Risiko lainnya adalah fluktuasi harga pasar yang tidak stabil. Saat produksi melimpah secara nasional, harga bisa turun di bawah biaya produksi sehingga peternak merugi meskipun panen berhasil. Oleh karena itu, usaha ayam membutuhkan manajemen intensif dan kesiapan mental menghadapi ketidakpastian harga.
B. Risiko pada Lele
Lele relatif lebih tahan terhadap kondisi lingkungan, tetapi kualitas air menjadi faktor utama keberhasilan. Air yang kotor, kadar amonia tinggi, atau kekurangan oksigen dapat menyebabkan pertumbuhan lambat hingga kematian massal. Penggantian air dan manajemen kepadatan tebar sangat menentukan.
Selain itu, risiko harga lele biasanya muncul saat panen raya di suatu wilayah sehingga pasokan melimpah. Namun secara umum, fluktuasinya tidak sedrastis ayam. Dengan pengelolaan air yang baik, tingkat kematian lele cenderung lebih rendah dibanding ayam.
Stabilitas Harga dan Permintaan Pasar
Permintaan ayam di Indonesia sangat tinggi karena menjadi sumber protein utama masyarakat. Konsumsi ayam meningkat drastis saat Ramadan, Lebaran, dan musim hajatan. Hal ini membuka peluang keuntungan besar dalam waktu singkat, terutama jika panen bertepatan dengan kenaikan harga pasar.
Namun tingginya permintaan juga diimbangi oleh produksi massal dari perusahaan besar sehingga persaingan sangat ketat. Ketika produksi nasional meningkat, harga bisa jatuh dan membuat peternak mandiri kesulitan menutup biaya produksi. Fluktuasi ini menjadi tantangan utama dalam bisnis ayam.
Lele memiliki pasar yang lebih stabil, terutama untuk warung makan, pecel lele, dan pasar tradisional. Konsumsi cenderung konsisten setiap hari tanpa lonjakan musiman ekstrem. Hal ini membuat harga relatif lebih tenang meskipun tetap bisa turun saat panen raya.
Selain itu, lele memiliki keunggulan karena bisa dipasarkan dalam berbagai ukuran sesuai kebutuhan pembeli, sehingga lebih fleksibel dalam strategi penjualan. Stabilitas inilah yang membuat banyak pemula merasa lebih aman memulai usaha dari budidaya lele dibanding ayam broiler.
Cocok untuk Siapa?
A. Ayam
Ternak ayam cocok untuk peternak yang memiliki modal cukup besar dan siap mengelola usaha secara intensif setiap hari. Usaha ini menuntut disiplin tinggi, pengawasan rutin, serta kesiapan menghadapi risiko harga yang fluktuatif. Jika dikelola dengan baik, perputaran modal yang cepat dapat mempercepat pertumbuhan usaha.
Selain itu, ayam lebih cocok bagi mereka yang memiliki akses pasar langsung atau kemitraan dengan perusahaan integrator, sehingga risiko harga dapat ditekan. Tanpa jaringan pemasaran yang kuat, potensi keuntungan bisa tergerus oleh permainan harga di tingkat pengepul.
B. Lele
Lele sangat cocok untuk pemula dengan modal terbatas dan lahan sempit. Sistem kolam terpal atau bioflok memungkinkan budidaya dilakukan bahkan di pekarangan rumah. Pengelolaannya lebih fleksibel dan tidak membutuhkan pengawasan seintensif ayam.
Lele juga cocok bagi mereka yang ingin belajar usaha ternak secara bertahap tanpa tekanan fluktuasi harga ekstrem. Skala usaha dapat diperbesar perlahan sesuai kemampuan modal dan pengalaman teknis yang semakin matang.
Mana yang Lebih Menguntungkan?
Jika dilihat dari potensi nominal keuntungan per siklus, ayam memang lebih unggul karena mampu menghasilkan laba jutaan rupiah dalam waktu sekitar satu bulan. Namun keuntungan tersebut datang dengan risiko yang lebih besar, terutama dari sisi penyakit dan fluktuasi harga pasar yang tidak menentu.
Sebaliknya, lele menawarkan stabilitas dan risiko yang lebih rendah, meskipun margin per siklus terlihat lebih kecil. Dalam jangka panjang, usaha lele dapat memberikan keuntungan konsisten jika skala produksi ditingkatkan secara bertahap dan efisiensi pakan dijaga.
Pada akhirnya, pilihan terbaik sangat bergantung pada kondisi modal, kesiapan manajemen, dan toleransi terhadap risiko. Bagi pemula dengan dana terbatas, lele bisa menjadi langkah awal yang lebih aman. Sementara bagi yang siap bermain cepat dengan manajemen ketat, ayam broiler dapat menjadi pilihan yang lebih agresif dan berpotensi lebih cuan.
Pertanyaan dan Jawaban
1. Mana yang lebih cepat balik modal, lele atau ayam?
Ayam lebih cepat karena panen sekitar 30–35 hari, sedangkan lele 2,5–3 bulan.
2. Berapa modal minimal ternak lele?
Skala kecil 1.000 ekor bisa dimulai dengan Rp3–4 juta.
3. Apakah ternak ayam selalu untung?
Tidak selalu, karena harga pasar sangat fluktuatif dan tergantung momentum.
4. Mana yang lebih mudah untuk pemula?
Lele umumnya lebih mudah karena lebih tahan terhadap perubahan lingkungan.
5. Apakah pakan menjadi biaya terbesar?
Ya, baik lele maupun ayam, pakan menyumbang lebih dari 60% biaya produksi.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510753/original/073903300_1771837740-Kandang_Ayam.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510610/original/004124300_1771833007-Model_Atap_Teras_Rumah_Baja_Ringan_Minimalis.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510543/original/064351800_1771831630-Cat_Pagar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510548/original/045691000_1771831651-Gemini_Generated_Image_wg0n4dwg0n4dwg0n_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510524/original/045993200_1771830870-earth_tone_3a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5498524/original/021480400_1770709985-Anakan_ikan_cupang__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3291225/original/089683900_1604906961-EX7WXSmWAAQMq-X.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510482/original/059956400_1771829877-Cara_Membasmi_Rayap_Di_Kusen_Tanpa_Bongkar.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5410270/original/086160900_1762927275-Sarang_Kecoa_di_Celah_Lantai.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510454/original/085350000_1771828768-Usaha_Ternak_Rumah_Tipe_36.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510334/original/094452000_1771825982-Gemini_Generated_Image_iqsow5iqsow5iqso_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510312/original/043364600_1771824567-unnamed__5_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510685/original/071622900_1771835144-unnamed__29_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510267/original/046723900_1771824169-Gemini_Generated_Image_am5cg4am5cg4am5c_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510661/original/078446900_1771834574-Model_Pagar_Rumah_Kecil_Warna_Netral_Biar_Terlihat_Lega.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510158/original/041805700_1771820493-Untitled_design__10_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5250058/original/018575800_1749706430-batik_balita.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510583/original/034946600_1771832431-HHL.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510479/original/080171700_1771829680-unnamed__11_.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5402608/original/032362000_1762254271-unnamed_-_2025-11-04T171618.678.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417414/original/006322500_1763533451-rumah_dengan_taman_mini_indoor.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5394858/original/039789400_1761643209-gelang5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4606463/original/068658200_1696995206-super-snapper-UFrd8csYr1w-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392924/original/013002900_1761535927-unnamed_-_2025-10-27T102956.910.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5394904/original/053731000_1761643560-surat_kesepakatan_bersama.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5394882/original/098461600_1761643402-desain_rumah_kecil__4_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5394720/original/024442300_1761638556-closeup-hands-passing-contract-unrecognizable-businessman.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429077/original/070740500_1764573200-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424174/original/010000300_1764135175-AI_Repair-Pro-image-9.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5287705/original/038778900_1752830948-ChatGPT_Image_18_Jul_2025__16.28.33.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5394809/original/038370900_1761641292-gelang_emas_kecil_elegan__4_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5394044/original/017340400_1761624269-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427532/original/056138500_1764394611-unnamed_-_2025-11-29T123454.290.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5393361/original/050313500_1761551943-unnamed_-_2025-10-27T145111.111.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5393562/original/073696600_1761559881-Wanita_menyeberangi_jembatan_tengah_hutan_di_Sukabumi__Pexels_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392886/original/079409300_1761534480-unnamed_-_2025-10-27T094621.736.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5381238/original/046456800_1760496797-Gemini_Generated_Image_old8yzold8yzold8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5393186/original/082510300_1761545503-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429140/original/035614400_1764575033-1.jpg)