Liputan6.com, Jakarta - Belakangan ini, kimpul mendadak menjadi perbincangan di media sosial setelah muncul dalam berbagai konten yang viral. Banyak warganet yang sebelumnya belum familiar dengan umbi lokal ini akhirnya penasaran dengan apa itu kimpul.
Popularitas kimpul meningkat berkat kreator konten asal Bantul dengan username @black.sheep8208 di TikTok dan Instagram. Kreator tersebut bereksperimen mengganti bahan utama berbagai menu populer dengan kimpul. Mulai dari mashed potato, potato au gratin, hingga lasagna, semuanya dibuat menggunakan umbi yang selama ini lebih sering dijumpai di pasar tradisional atau kebun warga.
Konten kimpul yang konsisten membuat warganet terkimpul-kimpul. Istilah kimpul akhirnya viral di media sosial. Lalu, apa sebenarnya kimpul? berikut ulasan lengkap tentang kimpul dan bagaimana ia bisa viral, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Senin (3/8/2026).
Keviralan Kimpul di Media Sosial
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314440/original/089944900_1785747137-kimpul.jpg)
Perbesar
Popularitas kimpul di media sosial bermula dari unggahan seorang kreator konten asal Bantul dengan akun @black.sheep8208 yang gemar mengolah umbi lokal tersebut menjadi berbagai hidangan kekinian. Alih-alih menggunakan bahan seperti resep aslinya, ia mengganti bahan utama dengan kimpul untuk membuat aneka makanan bergaya Barat. Mulai dari mashed potato, potato wedges, potato au gratin, arancini, dumpling, hingga lasagna.
Setiap videonya dibuka dengan narasi sederhana yang kemudian menjadi ciri khas, seperti, "Hari ini saya mau makan potato wedges, tapi karena tidak punya kentang, saya ganti kimpul." ujarnya di akun TikTok @black.sheep8208.
Format video yang konsisten, dipadukan dengan hasil masakan yang menarik, membuat konten tersebut cepat menyebar di berbagai platform media sosial. Banyak warganet yang awalnya tidak mengenal kimpul menjadi penasaran dengan umbi lokal ini. Sementara yang lain mengapresiasi upaya memperkenalkan kembali bahan pangan lokal melalui pendekatan yang kreatif dan mudah diterima generasi muda.
Tak lama kemudian, kalimat "tapi karena tidak punya..., saya ganti kimpul" berkembang menjadi sebuah meme. Warganet mulai mengadaptasi pola kalimat tersebut ke dalam berbagai situasi sehari-hari yang tidak lagi berkaitan dengan makanan.
Misalnya, "Hari ini saya mau nge-date sama pacar, tapi karena tidak punya pacar, saya ganti kimpul," atau berbagai versi lain yang bernada humor dan absurd. Pergeseran makna ini membuat kata "kimpul" tak lagi sekadar merujuk pada nama umbi, melainkan menjadi bagian dari tren di media sosial yang terus direka ulang oleh para pengguna internet.
Di balik viralnya meme tersebut, popularitas kimpul justru membawa dampak positif. Umbi yang sebelumnya lebih dikenal di pasar tradisional dan pedesaan kini kembali mendapat perhatian publik sebagai bahan pangan lokal yang bisa diolah menjadi beragam menu modern. Konten @black.sheep8208 secara langsung memperkuat kampanye diversifikasi pangan berbasis komoditas lokal.
Apa itu Kimpul?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314441/original/091662100_1785747138-Xanthos_sagitt_140518-0335_bgr.jpg)
Perbesar
Menurut Direktorat Jenderal Tanaman Pangan - Kementan RI, Kimpul merupakan salah satu jenis umbi-umbian yang masih satu kelompok dengan talas. Tanaman yang memiliki nama ilmiah Xanthosoma sagittifolium Schott ini juga dikenal sebagai talas Belitung, sedangkan dalam bahasa Inggris sering disebut Blue Taro, cocoyam atau tannia.
Mengutip Plantamor, di Indonesia, kimpul dikenal dengan beragam nama sesuai daerahnya. Sebagian masyarakat menyebutnya talas Belitung, sementara di daerah lain lebih populer dengan nama kimpul, talas kimpul, busil, atau bote. Meski memiliki sebutan yang berbeda, semuanya merujuk pada spesies tanaman yang sama.
Secara fisik, kimpul merupakan tanaman herba tahunan yang dapat tumbuh hingga sekitar dua meter. Tanaman ini memiliki batang semu yang terbentuk dari pelepah daun serta menghasilkan umbi yang tumbuh mengelilingi pangkal batang. Menariknya, bakal umbi yang tidak tertutup tanah dapat berkembang menjadi tunas baru sehingga berfungsi sebagai calon tanaman berikutnya.
Kimpul berasal dari wilayah beriklim tropis basah, dengan daerah persebaran alami mulai dari Kosta Rika hingga berbagai kawasan di Amerika Selatan. Meski belum diketahui secara pasti kapan masuk ke Indonesia, kini kimpul telah menyebar hampir di seluruh wilayah Nusantara, termasuk daerah beriklim kering.
Nama ilmiah Xanthosoma sagittifolium pertama kali diperkenalkan oleh ahli botani asal Austria, Heinrich Wilhelm Schott, pada tahun 1832. Hingga kini, tanaman tersebut tetap dikenal sebagai salah satu umbi lokal yang memiliki potensi besar sebagai sumber pangan alternatif sekaligus bahan baku berbagai olahan tradisional maupun modern.
Kaya Karbohidrat dan Mudah Dicerna
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314442/original/001926300_1785747139-c78c5eb4-5f21-44a2-8a18-ef8164434eb0.jpg)
Perbesar
Kimpul dikenal sebagai sumber karbohidrat dengan kandungan pati yang tinggi. Keunggulan lainnya adalah ukuran granula pati yang relatif kecil sehingga lebih mudah dicerna tubuh dibandingkan beberapa jenis umbi lainnya. Karena karakteristik tersebut, kimpul berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku makanan bayi, lansia, maupun orang yang memiliki gangguan pencernaan atau penyakit kronis.
Menurut berbagai penelitian, umbi kimpul juga mengandung serat pangan, pati resisten, vitamin B3, mineral seperti kalium dan tembaga, serta senyawa bioaktif, termasuk flavonoid dan diosgenin. Kandungan tersebut berkontribusi terhadap kesehatan pencernaan sekaligus mendukung fungsi tubuh secara umum.
"Talas kimpul/belitung merupakan makanan sumber karbohidrat, rendah lemak dan indeks glikemiksnya rendah. Talas kimpul juga mengandung zat gizi yang bermanfaat untuk kesehatan. Ada kandungan serat pangan, pati resisten, mineral tembaga dan kalium, vitamin B3 dan komponen bioaktif diogenin serta flavonoid." ujar Evy Damayanthi, Guru Besar Ilmu Gizi IPB University, dikutip dari keterangan resmi IPB University pada 2023.
Selain rendah lemak, kimpul juga memiliki indeks glikemik yang relatif rendah dan tidak mengandung gluten. Hal ini membuatnya menjadi salah satu alternatif bahan pangan yang menarik bagi masyarakat yang ingin menerapkan pola makan lebih sehat.
Sebagaimana umbi-umbian lainnya, kimpul memiliki peluang besar sebagai sumber karbohidrat alternatif selain beras. Oleh karena itu, tanaman ini mulai dipromosikan dalam program diversifikasi pangan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
IPB University juga menilai kimpul memiliki potensi menghasilkan pati resisten tipe III (RS3), yaitu jenis pati yang memberikan manfaat bagi kesehatan usus dan metabolisme tubuh.
"Talas kimpul dapat dianggap sebagai bahan baku yang layak untuk mendapatkan pati resisten tipe III (RS3). Pati resisten ini bagus untuk kesehatan karena mencegah penyakit kardiovaskular, kanker kolon, diabetes, obesitas dan osteoporosis. Pati resisten juga menyehatkan usus, memudahkan penyerapan zat gizi mikro hingga meningkatkan jumlah mikroorganisme probiotik dalam tubuh." ujar Evy Damayanthi.
Mudah Dibudidayakan di Pekarangan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314443/original/022295200_1785747139-Xanthosoma_sagittifolium.jpg)
Perbesar
Selain memiliki nilai gizi yang tinggi, kimpul juga dikenal sebagai tanaman yang relatif mudah dibudidayakan. Tanaman ini cukup toleran terhadap kondisi kering, menyukai lahan yang agak teduh, dan dapat tumbuh di pekarangan maupun lahan kosong tanpa memerlukan perawatan yang rumit.
Menurut Direktorat Jenderal Tanaman Pangan - Kementan RI, salah satu keunggulan tanaman kimpul adalah kemudahan dalam budidayanya. Tanaman ini mampu tumbuh dengan baik di lahan kering dan lebih menyukai lokasi yang agak teduh atau tidak terkena sinar matahari secara langsung sepanjang hari. Meski hasil panen yang optimal tetap memerlukan perawatan dan kondisi tanah yang sesuai, kimpul tetap bisa ditanam di pekarangan rumah maupun lahan kosong yang belum dimanfaatkan, sehingga cocok dijadikan tanaman cadangan pangan keluarga.
Kimpul menghasilkan umbi yang tumbuh mengelilingi pangkal batang secara bertingkat dari bagian bawah hingga ke atas. Pada awal pertumbuhannya, bakal umbi berbentuk benjolan kecil yang semakin membesar seiring perkembangan tanaman. Menariknya, jika benjolan tersebut tidak tertutup tanah, bagian tersebut akan memunculkan tunas baru. Karena itu, umbi kimpul sebenarnya juga berfungsi sebagai calon batang yang dapat berkembang menjadi tanaman baru.
Produktivitasnya pun cukup tinggi. Dalam budidaya yang baik, kimpul dapat menghasilkan hingga sekitar 25 ton umbi per hektare dengan masa panen sekitar delapan bulan setelah tanam. Karena toleran terhadap berbagai kondisi lingkungan dan minim serangan penyakit, kimpul dinilai cocok dikembangkan sebagai tanaman pangan lokal yang berkelanjutan.
Kimpul dan Diversifikasi Pangan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314444/original/028665400_1785747139-ce7d5df0-1a5c-4962-a983-87e9ae11705e.jpg)
Perbesar
Meski memiliki nilai gizi yang baik dan mudah dibudidayakan, kimpul masih belum sepopuler singkong, ubi jalar, maupun kentang. Di banyak daerah, tanaman ini lebih sering ditanam sebagai tanaman sampingan atau bahkan tumbuh liar di pekarangan. Pemanfaatannya pun umumnya masih terbatas sebagai umbi rebus atau gorengan sehingga nilai ekonominya belum berkembang secara optimal.
Di sinilah konten kreator seperti Black Sheep menghadirkan sudut pandang yang berbeda. Kreator tersebut menunjukkan bahwa umbi lokal tersebut dapat menggantikan kentang dalam berbagai hidangan modern dan kekinian. Pendekatan yang ringan, kreatif, dan mudah ditiru membuat kimpul tidak lagi dipandang sebagai makanan tradisional semata, melainkan sebagai bahan pangan yang fleksibel dan relevan dengan selera masyarakat saat ini.
Fenomena tersebut secara tidak langsung juga memperkenalkan konsep diversifikasi pangan kepada publik. Diversifikasi pangan bukan sekadar mengajak masyarakat mengurangi konsumsi beras atau gandum. Melainkan memperluas pilihan sumber karbohidrat dengan memanfaatkan komoditas lokal yang selama ini kurang dimanfaatkan.
Ketika kimpul dapat menggantikan kentang dalam berbagai resep populer, masyarakat memperoleh contoh nyata bahwa bahan pangan lokal mampu menghasilkan hidangan dengan cita rasa dan tampilan yang tidak kalah menarik. Dampaknya tidak hanya mendorong masyarakat untuk mengenal dan mengonsumsi pangan lokal, tetapi juga membuka peluang peningkatan nilai ekonomi kimpul di tingkat petani.
Dengan demikian, viralnya konten kimpul bukan sekadar menghadirkan tren baru di media sosial. Di balik popularitas tersebut, terbuka peluang untuk mendorong diversifikasi pangan melalui pemanfaatan komoditas lokal yang selama ini kurang mendapat perhatian.
Pertanyaan Seputar Kimpul
Apakah kimpul sama dengan talas?
Tidak sepenuhnya. Kimpul dan talas sama-sama berasal dari famili Araceae, tetapi merupakan spesies yang berbeda. Kimpul memiliki nama ilmiah Xanthosoma sagittifolium, sedangkan talas yang umum dibudidayakan di Indonesia umumnya berasal dari spesies Colocasia esculenta.
Apa manfaat kimpul bagi kesehatan?
Kimpul merupakan sumber karbohidrat yang rendah lemak dan memiliki indeks glikemik relatif rendah. Umbinya juga mengandung serat pangan, pati resisten, vitamin B3, kalium, tembaga, serta senyawa bioaktif seperti flavonoid dan diosgenin yang bermanfaat bagi kesehatan.
Mengapa kimpul dianggap cocok untuk diversifikasi pangan?
Kimpul dapat menjadi sumber karbohidrat alternatif selain beras. Tanaman ini mudah dibudidayakan, mampu tumbuh di berbagai kondisi lahan, serta dapat diolah menjadi beragam produk pangan sehingga berpotensi mendukung ketahanan pangan nasional.
Apa saja olahan yang bisa dibuat dari kimpul?
Selain direbus dan digoreng, kimpul dapat diolah menjadi keripik, kerupuk, perkedel, stik kimpul, sayur, dodol, hingga tepung. Tepung kimpul kemudian bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku roti, mi, brownies, cookies, bakso, dan berbagai produk pangan lainnya.
Apakah kimpul bisa menggantikan beras?
Kimpul tidak harus sepenuhnya menggantikan beras, tetapi dapat menjadi sumber karbohidrat alternatif dalam pola makan sehari-hari. Pemanfaatan kimpul sebagai pangan lokal merupakan salah satu bentuk diversifikasi pangan untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis bahan pokok.
Di mana tanaman kimpul dapat tumbuh?
Kimpul dapat tumbuh di daerah tropis dan relatif toleran terhadap kondisi kering. Tanaman ini bisa dibudidayakan di lahan pertanian, pekarangan rumah, maupun lahan yang kurang produktif dengan perawatan yang relatif sederhana.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9314675/original/050077800_1785758688-Gemini_Generated_Image_wfc8jewfc8jewfc8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9314705/original/022478400_1785762573-2148817315.webp)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9314618/original/022873000_1785754289-429eeddc-d0d0-4af5-a09b-9f710ec7831b.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5235847/original/008548600_1748436881-horny-short-haired-lady-glasses-with-red-lipstick-is-emotionally-exulting-while-sitting-working-place-with-laptop-croissant.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9314594/original/030955300_1785753426-cover_kamar_ma2.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309591/original/061486000_1785231667-lvKo5C4PN9YjGg2WFYDxJZeDvfVVKhX4R7MF7tU7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9314426/original/053768000_1785746431-cf183256-5cd0-45f7-8e11-a40dbf522189.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9314549/original/032157700_1785750004-Screenshot_2026-08-03_163641.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9314650/original/052106600_1785757058-8e48a670-ea89-44a0-9fe1-b137c318bf66.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9314408/original/041447700_1785745559-aaeb7dc0-664b-48a5-944c-34555c649b3a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9312602/original/005893800_1785517565-20260729_143041.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9310148/original/009606600_1785307828-WhatsApp_Image_2026-07-29_at_13.25.11__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9314499/original/020393700_1785748568-808e030b-e79a-476e-a021-b961f72cbfd0.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9314336/original/061717700_1785743416-covvver.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9314387/original/079947600_1785744927-af427c65-3e77-4691-ab85-7572b59c6669.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3219334/original/048020600_1598421990-foodism360-WnKdAAo2Rvw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9314519/original/001355200_1785748934-Screenshot_2026-08-03_162052.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9314423/original/009652100_1785746426-Ide_Hadiah_Lomba_17_Agustus_di_Bawah_Rp_20_Ribu.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5324325/original/041742200_1755847092-Image__1___1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9314532/original/047401300_1785749377-fd7cb4ca-845d-4cee-ab7d-8fc93994016c.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5552830/original/094815200_1775832773-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5551751/original/092211600_1775740607-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5557096/original/065659700_1776318001-Gambar_Rumah_Sederhana_6x9_di_Kampung_Dekat_Sawah_yang_Jadi_Tren_Desain_2026.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5449723/original/039403000_1766112570-Advertorial-Aplikasi_Alpha_Inv_Des25-01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5550117/original/093812400_1775637545-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5558460/original/066569600_1776419680-HL_mangga.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5560536/original/020239000_1776672350-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6707818/original/004530300_1779526004-1779525648.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5547853/original/042614700_1775473865-dpr1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7026414/original/064378700_1779801039-Gemini_Generated_Image_bb1cq2bb1cq2bb1c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559831/original/019905700_1776645721-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5705844/original/009190100_1778588694-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566397/original/034900000_1777180569-Desain_Rumah_50_Juta_dengan_Ventilasi_Silang_Alami_Model_Teras_Ganda.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5551685/original/058687600_1775734917-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5547126/original/096181400_1775447470-Depan_Rumah_Coran_Minimalis.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5552513/original/006756700_1775811347-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5552216/original/002387500_1775803995-0L5A8532.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5554504/original/042133400_1776073478-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5547679/original/050257200_1775467202-1.jpg)