7 Sayuran yang Sebaiknya Tidak Dibeli Kalengan, Ini Alasannya

5 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Belanja bahan makanan praktis kerap membuat sayuran kalengan jadi pilihan karena tahan lama dan mudah disimpan. Namun tidak semua jenis sayuran cocok melewati proses pengalengan. Beberapa sayuran yang sebaiknya tidak dibeli kalengan justru kehilangan rasa, tekstur, bahkan nilai gizinya setelah melalui proses tersebut.

Proses pengalengan melibatkan pemanasan suhu tinggi dan perendaman dalam cairan selama berbulan-bulan sebelum sampai ke rak toko. Cara ini efektif membuat makanan awet, tetapi berdampak buruk pada sayuran dengan tekstur renyah atau kandungan air tinggi. Hasilnya, sayuran berubah lembek dan rasa aslinya memudar signifikan.

Pada artikel ini, Liputan6.com telah mereangkum dari berbagai sumber beberapa sayuran yang sebaiknya tidak dibeli kalengan, Senin (10/8/2026). Mari simak ulasan selengkapnya di bawah ini.

1. Asparagus

Asparagus kerap disebut sebagai sayuran yang paling sering direkomendasikan untuk tidak dibeli dalam bentuk kalengan. Tekstur renyah khas asparagus segar hilang total setelah melalui proses perendaman panas berkepanjangan, digantikan tekstur lembek yang jauh dari kesan segar dan menggugah selera.

Perubahan warna juga menjadi masalah utama pada asparagus kalengan. Hijau cerah yang identik dengan sayuran ini berubah menjadi lebih kusam, membuat tampilannya kurang menarik saat disajikan. Warna pucat ini juga kerap dikaitkan dengan hilangnya sebagian kandungan nutrisi selama proses pemanasan.

Selain tekstur dan warna, asparagus kalengan sering meninggalkan lapisan berlendir yang tidak ditemukan pada versi segar maupun beku. Bagi yang ingin tetap praktis, asparagus beku menjadi alternatif lebih baik karena mempertahankan tekstur dan rasa jauh lebih dekat dengan kondisi aslinya.

2. Wortel

Wortel segar dikenal dengan rasa manis alami dan tekstur renyah yang menjadi favorit banyak orang, baik dimakan langsung maupun diolah menjadi berbagai hidangan. Sayangnya, karakteristik khas ini nyaris hilang sepenuhnya ketika wortel melalui proses pengalengan dalam waktu lama.

Panas tinggi selama pengalengan memecah struktur serat wortel sehingga teksturnya berubah lembek dan mudah hancur. Rasa manis alami yang menjadi ciri khas wortel segar juga ikut berkurang drastis, digantikan rasa hambar yang cenderung monoton dan kurang menggugah selera saat disantap.

Dibandingkan wortel segar, versi kalengan kurang cocok untuk hidangan yang mengandalkan tekstur renyah seperti tumisan atau salad. Wortel beku menjadi opsi lebih baik karena proses pembekuan cepat mampu mempertahankan lebih banyak tekstur dan rasa asli dibandingkan metode pengalengan konvensional.

3. Jagung

Jagung menjadi salah satu sayuran yang paling diperdebatkan dalam daftar sayuran yang sebaiknya tidak dibeli kalengan. Beberapa sumber kuliner justru memasukkan jagung kalengan sebagai salah satu produk kalengan terbaik, namun tidak sedikit pula chef yang menentangnya secara tegas.

Sebagian ahli menilai jagung kalengan sebagai pilihan yang sebaiknya dihindari sama sekali. Jagung segar dinilai jauh lebih unggul karena teksturnya lebih renyah, selain mudah ditemukan hampir sepanjang tahun di pasaran dengan kualitas yang jauh lebih baik.

Sebagai alternatif, jagung beku dinilai jauh lebih unggul karena mampu mempertahankan rasa manis dan tekstur renyah biji jagung dengan lebih baik dibandingkan dengan proses pengalengan.

4. Buncis Potong

Buncis potong atau cut green beans kerap mengalami perubahan tekstur signifikan setelah melalui proses pengalengan. Kandungan air yang tinggi pada sayuran ini membuatnya menjadi sangat berair dan lembek begitu dikemas dalam kaleng, jauh berbeda dari tekstur renyah buncis segar.

Selain masalah tekstur, buncis kalengan juga kerap meninggalkan rasa khas kaleng atau sedikit rasa logam yang mengalahkan rasa asli sayuran tersebut. Rasa ini muncul akibat interaksi antara kandungan sayuran dengan kemasan kaleng selama proses penyimpanan dalam jangka waktu panjang.

Bagi yang membutuhkan buncis untuk hidangan bertekstur renyah seperti tumisan atau salad, versi segar maupun beku jauh lebih disarankan. Buncis kalengan lebih cocok digunakan untuk hidangan berkuah yang tidak terlalu mengandalkan tekstur renyah dari sayuran itu sendiri.

5. Bayam

Bayam segar dikenal kaya klorofil yang memberikan warna hijau cerah dan menjadi salah satu indikator kesegaran sayuran ini. Sayangnya, proses pengalengan merusak kandungan klorofil tersebut sehingga warna hijau segar bayam berubah menjadi lebih kusam dan kurang menarik.

Tekstur bayam kalengan juga menjadi sorotan karena berubah menyerupai rumput basah yang lembek dan kurang menggugah selera. Perubahan ini membuat bayam kalengan kurang ideal digunakan pada hidangan yang mengandalkan tekstur daun segar seperti salad atau tumisan sederhana.

Selain soal tekstur dan warna, kandungan natrium pada bayam kalengan cenderung melonjak signifikan dibandingkan versi segar maupun beku. Bagi yang memperhatikan asupan garam harian, hal ini menjadi pertimbangan tambahan sebelum memilih bayam kalengan sebagai bahan masakan sehari-hari.

6. Jamur

Jamur segar sebenarnya sudah memiliki tekstur yang tidak disukai sebagian orang karena cenderung kenyal dan berair saat dimasak. Kondisi ini justru semakin parah ketika jamur melalui proses pengalengan, membuat teksturnya menjadi lebih lembek dan kehilangan struktur aslinya secara signifikan.

Rasa jamur kalengan juga cenderung hambar dan kurang beraroma dibandingkan jamur segar yang baru dipetik atau dimasak langsung. Proses perendaman dalam cairan kaleng selama berbulan-bulan membuat aroma khas jamur yang menjadi daya tarik utamanya ikut memudar cukup drastis.

Untuk hidangan yang mengandalkan tekstur jamur seperti tumisan atau sup krim, jamur segar maupun beku tetap menjadi pilihan lebih baik. Jamur kalengan umumnya hanya cocok digunakan sebagai pelengkap topping pada hidangan tertentu yang tidak terlalu mengutamakan tekstur.

7. Paprika

Paprika segar dikenal dengan warna cerah dan tekstur renyah yang khas, menjadikannya bahan favorit untuk tumisan, salad, hingga hidangan panggang. Sayangnya, karakteristik menarik ini banyak berkurang begitu paprika melalui proses pengalengan dalam waktu lama.

Panas tinggi selama pengalengan membuat daging paprika menjadi lembek dan kehilangan sensasi renyah yang biasa didapat dari versi segar. Warna cerah paprika juga cenderung memudar dan terlihat kusam, sementara rasa manis serta sedikit pedas khasnya ikut berkurang signifikan setelah proses tersebut.

Paprika kalengan umumnya kurang cocok digunakan pada hidangan yang mengandalkan tekstur renyah seperti salad atau tumisan cepat. Paprika segar maupun beku tetap menjadi pilihan lebih baik, sementara versi kalengan lebih sesuai untuk campuran saus atau hidangan berkuah yang tidak mengutamakan tekstur.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Sayuran yang Sebaiknya Tidak Dibeli Kalengan

1. Mengapa asparagus tidak disarankan dibeli dalam bentuk kalengan?

Asparagus kalengan mengalami perubahan tekstur menjadi lembek dan berlendir, disertai perubahan warna menjadi kehijauan-zaitun yang kusam akibat proses pemanasan panjang selama pengalengan.

2. Apakah jagung kalengan benar-benar harus dihindari?

Sebagian chef menyarankan untuk menghindarinya, meski beberapa sumber lain masih merekomendasikan jagung kalengan sebagai salah satu produk kalengan yang cukup baik dibandingkan sayuran lain.

3. Sayuran kalengan apa yang paling banyak kehilangan nutrisi?

Bayam kalengan mengalami kerusakan klorofil yang signifikan disertai peningkatan kandungan natrium, sehingga nilai gizinya berubah cukup jauh dibandingkan bayam segar maupun beku.

4. Apakah sayuran beku lebih baik daripada sayuran kalengan?

Secara umum, sayuran beku lebih unggul karena proses pembekuan cepat mampu mempertahankan tekstur, rasa, dan nutrisi lebih baik dibandingkan proses pengalengan yang menggunakan panas tinggi.

5. Untuk apa sebaiknya paprika kalengan digunakan?

Paprika kalengan lebih cocok digunakan sebagai campuran saus atau hidangan berkuah, bukan untuk salad maupun tumisan karena tekstur renyah dan warna cerahnya sudah banyak berkurang setelah dikalengkan.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |