7 Kesalahan Petani yang Bikin Selalu Rugi, Rejo Farm Yogyakarta Ungkap Akar Masalahnya

3 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Ada sebuah ironi yang berulang setiap tahun di dunia pertanian Indonesia. Justru di saat panen raya, ketika ladang berlimpah hasil, petani malah jatuh ke titik terendah. Harga cabai yang biasanya menyentuh Rp120.000 per kilogram bisa terjun bebas ke angka Rp10.000. Bawang, tomat, terong memiliki polanya sama. Petani sudah keluar modal untuk bibit, pupuk, dan tenaga kerja, tapi hasilnya tak menutup biaya produksi. Seolah-olah, semakin giat bertani, semakin dalam kerugian.

Di sebuah sudut desa bernama Rejodani, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta ada seorang pemuda bernama Dimas Christy Kusuma Putra yang memilih jalan berbeda. Ia mendirikan Rejo Farm Sociopreneur Integrated Farming. Rejo Farm bukan sekadar ladang biasa, melainkan sebuah ekosistem pertanian yang menggabungkan ilmu teknik, biologi, kimia, manajemen, hingga pemasaran dalam satu konsep utuh. Dari lahan seluas 1,7 hektar di Rejodani, Rejo Farm kini telah berkembang ke lima lokasi dengan lebih dari 300 orang terlibat, 70 persen di antaranya adalah generasi muda.

Ketika ditanya soal akar masalah petani Indonesia, Dimas tidak ragu menjawab dengan lugas. "Petani itu sering kalah di harga karena supply lebih besar dari demand," katanya kepada reporter Liputan6.com pada Senin (11/5/2026).

Tapi bagi Dimas, itu baru permukaan. Di balik anjloknya harga saat panen raya, ada tujuh kesalahan fundamental yang dilakukan petani kita yang dilakukan jauh sebelum benih pertama ditancapkan ke tanah.

1. Bertani Tanpa Menganggapnya Sebagai Profesi

Bayangkan seorang penjual tahu yang tiap hari hanya menjual 50 biji. Dengan harga jual standar, itu jauh dari cukup untuk menghidupi keluarga. Tapi ia terus melakukannya karena "sudah terbiasa" atau "ikut-ikutan". Inilah gambaran yang, menurut Dimas, paling tepat melukiskan situasi banyak petani di Indonesia, bertani tanpa target, tanpa kalkulasi, dan tanpa visi yang jelas.

Salah satu kesalahan petani paling mendasar adalah tidak menetapkan target pendapatan sejak awal. Kebanyakan petani turun ke sawah karena warisan tradisi, bukan karena pilihan profesi yang disadari penuh. Akibatnya, tidak ada pertanyaan mendasar yang dijawab, "Berapa luas lahan yang dibutuhkan? Berapa biaya produksi yang harus ditanggung? Berapa harga jual minimal agar tidak rugi?"

"Tentukan dulu kamu mau bertani sebagai profesi atau sekadar hobi. Kalau profesi, harus ada target. Minimal perbulan kamu butuh berapa? Sebut angka, katakanlah Rp4 juta. Baru setelah itu hitung mundur, dari mana bisa mencapai itu," kata Dimas tentang target yang harus dimiliki seorang petani.

2. Hanya Fokus pada Produksi, Tidak Komprehensif

Ada yang salah dalam cara berpikir mayoritas petani kita, di mana semua energi, waktu, dan modal dicurahkan untuk satu hal, yakni bagaimana agar panen sebanyak mungkin. Tapi tak ada yang memikirkan apa yang terjadi setelah panen. Dan di sinilah kerugian dimulai.

Ketika musim tanam berakhir dan seluruh petani di suatu wilayah panen serentak, pasar langsung kebanjiran komoditas yang sama. Harga pun runtuh. Petani yang sudah berjuang berbulan-bulan terpaksa menjual di bawah harga pokok produksi. Ini bukan nasib buruk, ini adalah akibat logis dari tidak memikirkan praproduksi, produksi, dan pascaproduksi sebagai satu kesatuan.

Rejo Farm mengembangkan diversifikasi produk sebagai jawaban. Dimas memberi contoh yang mengejutkan, yakni pepaya. Kebanyakan orang hanya memikirkan buahnya. Tapi getah pepaya mengandung senyawa bernama papain, zat anti-radang yang sangat efektif untuk terapi jerawat dan berbagai kondisi kulit. Nilai ekonomi satu tetes papain bisa jauh melampaui nilai buahnya sendiri. 

"Dari satu komoditas, bisa lahir banyak turunan produk," ujar Dimas.

3. Tidak Memahami Hukum Supply & Demand

Ini adalah mekanisme paling sederhana dalam ekonomi, namun paling sering diabaikan oleh petani. Ketika semua orang menanam cabai, semua orang akan panen cabai pada waktu bersamaan. Penawaran (supply) meledak, sementara permintaan (demand) tetap. Harga jatuh. Petani rugi. Siklus ini berulang musim demi musim.

Salah satu kesalahan petani yang paling mahal adalah ikut arus komoditas mainstream  tanpa analisis pasar sama sekali. Padahal, Dimas menegaskan, ada segmen kebutuhan besar yang belum terlayani, misalnya buah-buahan premium berkualitas standar. 

"Kenapa buah-buah premium selalu produk impor? Apakah kita tidak bisa memproduksinya? Atau memang belum ada yang mau melakukannya secara profesional?" kata Dimas.

Ia mencontohkan melon. Sampai hari ini, hampir tidak ada petani Indonesia yang mampu memproduksi melon berkualitas tinggi secara kontinu dan terstandarisasi. Sementara di sisi lain, pasar untuk melon premium, lele berkualitas, dan nila segar yang konsisten sangat terbuka lebar. Peluang itu nyata, hanya saja tidak terlihat oleh petani yang tidak pernah membaca kebutuhan pasar.

4. Metode Bertani Tidak Profesional & Tidak Terstandarisasi

Pernahkah Anda membayangkan sebuah restoran tanpa resep standar? Setiap koki memasak sesuai perasaan, hasilnya berbeda tiap hari, dan pelanggan tidak pernah tahu rasa apa yang akan mereka dapatkan. Tidak ada restoran sukses yang berjalan seperti itu. Tapi ironisnya, itulah yang terjadi di sebagian besar usaha tani di Indonesia.

Ketiadaan SOP (Standard Operating Procedure) yang jelas adalah kesalahan petani yang berdampak langsung pada kualitas dan keberlanjutan produksi. Tanpa SOP, hasil panen tidak konsisten. Kualitas hari ini bisa sangat berbeda dengan minggu depan. Pembeli seperti hotel, restoran, dan supermarket premium tidak bisa mengandalkan pasokan yang kualitasnya tidak terjamin.

"Kalau kita mau membuat farm yang profesional, orang pertama yang saya tugaskan bukan petani, tapi insinyur. Untuk mendesain infrastruktur supaya semua utilitas efektif, penggunaan air efisien, cost produksi rendah," kata Dimas.

Di Rejo Farm, sistem dibangun berlapis. Pertama, insinyur mendesain infrastruktur agar efisien dan estetis. Lalu ahli biologi memastikan ekosistem mikroba di lahan sehat dan bebas patogen. Kemudian ahli kimia merancang formula pupuk dan pestisida dengan dosis yang tepat. Baru setelah semua siap, SOP operasional dibuat, dan petani menjalankannya. Hasilnya, kualitas yang konsisten, karena tidak bergantung pada intuisi semata.

5. Tidak Pernah Berpikir soal Ketahanan Produksi Sendiri

Ada paradoks yang nyaris lucu dalam pertanian Indonesia, negara dengan kekayaan alam berlimpah, tapi petaninya bergantung pada pupuk kimia impor, pestisida sintetis buatan luar negeri, bahkan infrastruktur dari bahan yang diimpor. Setiap kali nilai tukar rupiah melemah, biaya produksi petani melonjak, padahal harga jual hasil panen tidak ikut naik.

Ini adalah jebakan ketergantungan yang membuat marjin keuntungan petani semakin tipis dari tahun ke tahun. Dan menurut Dimas, ini adalah kesalahan petani yang bisa diatasi jika ada kemauan untuk berpikir lebih mandiri. Rejo Farm membuktikannya dengan membangun ketahanan produksi dari bawah, yakni dengan membuat pupuk organik sendiri dari limbah yang tersedia di sekitar seperti kotoran sapi, log jamur bekas, dan cangkang telur.

Bahkan untuk infrastruktur, Rejo Farm memilih bambu sebagai bahan utama, bukan besi impor. Bambu banyak tumbuh di Indonesia, murah, kuat, dan menciptakan lapangan kerja bagi petani bambu di sekitar lahan. Inilah yang Dimas sebut sirkular ekonomi, di mana setiap keputusan pembelian diarahkan untuk memperkuat ekosistem lokal, bukan mengalirkan uang ke luar negeri.

6. Tidak Mengelola Limbah & Mengabaikan Prinsip Zero Waste

Di kebanyakan lahan pertanian konvensional, limbah organik dibiarkan membusuk di sudut lahan. Bau menyengat, lalat berdatangan, dan tetangga mengeluh. Padahal yang membusuk itu bukan masalah, itu adalah potensi yang belum dimanfaatkan.

Salah satu prinsip inti Rejo Farm adalah integrated farming zero waste, di mana tidak ada satu pun hasil sampingan dari proses produksi yang terbuang sia-sia. Limbah organik dari dapur dan lahan diolah menjadi maggot (Black Soldier Fly/BSF), yang kemudian menjadi pakan ayam atau ikan. Kotoran ayam menjadi pupuk. Cangkang telur diolah menjadi suplemen kalsium. Sisa ikan menjadi tepung pakan. Setiap output dari satu siklus menjadi input untuk siklus berikutnya.

"Mimpi besar kami adalah bisa menyerap sampah organik sampai puluhan ribu ton per hari. Caranya? Kita beli limbah organik dari masyarakat. Orang yang enggak punya pekerjaan bisa dapat penghasilan dari mengumpulkan sampah organik," ungkap Dimas.

7. Stigma Negatif dan Mindset yang Salah tentang Pertanian

Di banyak desa di Indonesia, ada percakapan yang terulang dari generasi ke generasi, "Jangan jadi petani seperti Bapak. Cari kerja yang lebih baik." Para petani tua yang telah bertahun-tahun berjuang dengan marjin tipis dan ketidakpastian harga justru menjadi penghalang terbesar bagi regenerasi pertanian. Anak-anak muda yang tumbuh melihat orang tua mereka bersusah payah di sawah pun kehilangan minat.

Ini adalah kesalahan petani dalam dimensi budaya. Mereka mewariskan stigma, bukan ilmu. Dan stigma itu diperparah oleh cara belajar yang salah. Bahkan Dimas menegaskan bahwa pertanian bukan hanya cangkul dan pupuk. Ini bisnis yang butuh insinyur, ahli biologi, ahli kimia, manajer, marketer, bahkan desainer. Anak muda harus melihat pertanian seperti startup, bukan warisan kuno yang membebani.

Rejo Farm membuktikan bahwa pertanian bisa menjadi karir yang menarik bagi generasi muda, asal pendekatannya berubah. Tujuh puluh persen tim Rejo Farm adalah Gen Z. Mereka bukan hanya menanam, melaikan juga merancang sistem IoT untuk monitoring kondisi tanah, meneliti hormon, dan mengembangkan teknik presisi pertanian (precision farming) untuk menekan biaya produksi. Ini bukan pertanian nenek moyang. Ini pertanian masa depan.

FAQ Tentang Bertani

Q: Mengapa petani selalu merugi saat panen raya, padahal hasil panen melimpah?

A: Karena panen raya berarti semua petani memanen komoditas yang sama secara bersamaan. Supply meledak jauh melampaui demand, sehingga harga anjlok drastis. Di atas itu, sebagian besar petani tidak memiliki strategi pascaproduksi, tidak ada diversifikasi produk, tidak ada akses pasar alternatif, dan tidak ada produk olahan yang bisa menyerap kelebihan panen. Hasilnya, petani terpaksa menjual di bawah harga pokok produksi.

Q: Apa yang dimaksud dengan sociopreneur di Rejo Farm, dan apa bedanya dengan pertanian biasa?

A: Sociopreneur dalam konteks Rejo Farm berarti setiap kegiatan pertanian harus menghasilkan dampak sosial yang nyata, minimal menciptakan lapangan kerja baru, mentransfer pengetahuan kepada komunitas sekitar, dan menarik anak muda untuk melihat pertanian sebagai karir yang menjanjikan. Berbeda dengan pertanian konvensional yang hanya berorientasi pada hasil panen, Rejo Farm membangun ekosistem yang memberdayakan masyarakat di setiap lini, dari praproduksi, produksi, hingga pascaproduksi.

Q: Apakah Rejo Farm menggunakan pestisida kimia? Bagaimana mereka mengelola hama?

A: Rejo Farm menerapkan pendekatan berlapis. Prioritas pertama adalah solusi biologis, menggunakan bakteri dan jamur probiotik yang menjaga ekosistem lahan tetap sehat dan menekan pertumbuhan hama secara alami. Jika solusi biologis tidak mencukupi, barulah pestisida kimia digunakan, tetapi dengan dosis yang diformulasikan secara presisi oleh ahli kimia, bukan asal semprot. Pendekatan ini meminimalkan dampak buruk terhadap tanaman, tanah, dan manusia.

Q: Bagaimana cara memulai bertani sebagai profesi, bukan sekadar hobi atau tradisi?

A: Langkah pertama adalah menetapkan target pendapatan bulanan yang konkret, misalnya Rp4 juta per bulan. Dari sana, hitung mundur: komoditas apa yang bisa menghasilkan angka itu, berapa luas lahan yang dibutuhkan, dan berapa harga jual minimal agar tidak rugi. Langkah kedua: belajar dengan benar. Jangan hanya dari YouTube atau dari orang yang juga belajar dari YouTube. Magang, bergabung dengan farm yang sudah terbukti berhasil, atau belajar langsung dari pakarnya. Rejo Farm sendiri terbuka untuk semua kalangan yang ingin belajar — dari pelajar SD hingga kelompok tani dan perguruan tinggi.

Q: Apa itu integrated farming zero waste di Rejo Farm, dan bagaimana cara kerjanya?

A: Integrated farming zero waste adalah sistem di mana semua output dari satu proses menjadi input bagi proses lain — tidak ada yang terbuang. Contoh siklus nyata di Rejo Farm: limbah organik dari dapur dan lahan → diolah menjadi maggot (BSF) → maggot menjadi pakan ayam dan ikan → kotoran ayam menjadi pupuk organik → cangkang telur menjadi suplemen kalsium untuk tanaman. Infrastruktur dibangun dari bambu lokal, bukan besi impor, sehingga menciptakan permintaan bagi petani bambu di sekitar farm. Setiap keputusan dirancang untuk memperkuat sirkular ekonomi lokal.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |