7 Kebiasaan Finansial Buruk Gen Z yang Patut Diwaspadai, Hindari Jebakan Keuangan

8 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Gaji besar ternyata bukan jaminan finansial sehat. Banyak anak muda saat ini dengan pendapatan tinggi justru kesulitan menabung dan hidup dari gaji ke gaji, terjebak dalam paradoks tidak memiliki simpanan meski penghasilan mereka tergolong layak. Fenomena ini menjadi tantangan besar bagi stabilitas masa depan generasi ini.

Fakta mengejutkan dari survei Bank of America yang diterbitkan Reuters mengungkapkan bahwa 42% individu Gen Z mengakui bergantung pada gaji bulanan (paycheck to paycheck), dan bahkan di antara mereka yang berpenghasilan tinggi, angka ketergantungan ini tetap mencapai 29%. Di balik gaya hidup glamor yang sering dipamerkan di media sosial, banyak Gen Z yang sebenarnya berjuang keras secara finansial sebelum gaji berikutnya tiba.

Artikel ini akan mengidentifikasi kebiasaan finansial buruk yang umum terjadi di kalangan Generasi Z dan memberikan solusi praktis untuk mengatasinya. Bagi Anda, baik dari kalangan Gen Z, milenial, maupun siapa pun yang ingin memperbaiki manajemen keuangan, panduan ini akan membantu Anda melangkah menuju kebebasan finansial yang lebih stabil. Jadi simak pembahasan selengkapnya berikut ini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Sabtu (4/7/2026).

1. Terjebak dalam Jebakan Pay Later

Ledakan aplikasi belanja online seperti Shopee, TikTok Shop, dan program pembayaran cicilan untuk ponsel serta elektronik menciptakan kebiasaan konsumen baru yang berisiko. Pakar keuangan Beth Kobliner menekankan bahwa model "Beli Sekarang, Bayar Nanti" atau Buy Now, Pay Later (BNPL) menjadi jebakan yang tak terlihat. Membayar sejumlah kecil uang di muka membuat konsumen kehilangan perasaan "mengeluarkan uang," sehingga lebih mudah menyelesaikan transaksi yang sebenarnya tidak direncanakan.

Data menunjukkan bahwa 59% anak muda telah menggunakan layanan BNPL, dan 57% di antaranya mengalami keterlambatan pembayaran karena pengelolaan rencana cicilan yang buruk. Hal ini menunjukkan bahwa kemudahan akses kredit sering kali disalahgunakan tanpa perhitungan matang terhadap kemampuan bayar di masa depan.

Cara mengatasinya adalah dengan membatasi penggunaan BNPL hanya untuk kebutuhan mendesak dan terencana. Hitung total biaya sebelum membeli, jangan hanya melihat cicilan kecil per bulan, dan buatlah aturan tegas jika Anda tidak bisa membayar tunai, sebaiknya jangan dibeli dengan cicilan. Pastikan untuk mencatat semua kewajiban cicilan agar tidak menumpuk di kemudian hari.

2. Inflasi Gaya Hidup Akibat Tekanan Media Sosial (FOMO)

Setiap hari, melihat teman-teman mengunggah foto perjalanan, mobil baru, jam tangan bermerek, atau makanan mahal di media sosial menciptakan tekanan psikologis yang sangat besar. Rasa takut ketinggalan atau Fear of Missing Out (FOMO) menyebabkan banyak anak muda jatuh ke dalam kondisi "inflasi gaya hidup", yakni meningkatkan biaya hidup secara otomatis seiring kenaikan pendapatan, alih-alih menabung kelebihan penghasilan tersebut.

Untuk mengatasinya, ingatlah bahwa media sosial hanyalah highlight reel atau kumpulan momen terbaik, bukan realitas penuh dari kehidupan seseorang. Bedakan dengan tegas antara kebutuhan dan keinginan sebelum melakukan pembelian. Tetapkan batas pengeluaran yang jelas untuk hiburan dan gaya hidup, serta fokuslah pada tujuan finansial jangka panjang daripada validasi sosial sementara. Melakukan digital detox secara berkala juga dapat membantu mengurangi tekanan untuk terus mengikuti tren.

3. Keliru Menganggap Investasi sebagai Perjudian

Survei oleh majalah Fortune mengungkapkan bahwa 25% anak muda menganggap perjudian online dan pasar prediksi sebagai bentuk investasi serius. Sekitar setengah dari anak muda yang disurvei memiliki atau pernah memiliki mata uang kripto, pasar yang dikenal dengan volatilitas ekstrem. Kurangnya pengetahuan dasar dikombinasikan dengan keinginan kaya raya secara instan menyebabkan banyak orang menyamakan investasi dengan judi.

Cara mengatasinya, pelajarilah dasar-dasar investasi sebelum terjun, seperti memahami diversifikasi, profil risiko, dan horizon investasi. Mulailah dengan jumlah kecil sambil terus memperdalam ilmu. Hindari skema "cepat kaya" yang tidak realistis dan ingatlah bahwa investasi yang baik adalah untuk jangka panjang, bukan spekulasi harian. Konsultasikan dengan perencana keuangan bersertifikat, bukan sekadar mengikuti saran influencer.

4. Mudah Terpengaruh oleh Pakar Keuangan Gadungan di Media Sosial

Statistik menunjukkan bahwa 79% anak muda menerima nasihat keuangan dari platform video pendek. Fortune memperingatkan bahwa tidak semua orang dengan banyak pengikut benar-benar memahami keuangan pribadi. Konten sensasional, janji keuntungan besar, atau kiat cepat kaya sebagian besar dibuat hanya untuk menarik perhatian atau memikat pemirsa ke dalam kelompok penipuan.

Cara mengatasinya, Anda harus selalu memverifikasi kredibilitas sumber informasi keuangan. Cari referensi dari lembaga resmi seperti OJK (Otoritas Jasa Keuangan) atau BI (Bank Indonesia) dan profesional bersertifikat. Jangan pernah percaya pada janji keuntungan instan yang tidak realistis. Gunakan akal sehat Anda: jika suatu penawaran terdengar terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, biasanya itu adalah penipuan.

5. Mengabaikan Dana Darurat dan Investasi Aset Digital

Kesalahan terbesar yang sering terjadi adalah tidak memiliki dana cadangan tunai sama sekali. Banyak anak muda rela menghabiskan uang untuk saham, kripto, atau aset digital lainnya, tetapi saldo di rekening tabungan mereka hampir nol. Para ahli dari Bank of America mencatat bahwa kurangnya jaring pengaman tunai membuat kaum muda sangat rentan terhadap kejadian tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan atau keadaan darurat keluarga.

Cara mengatasinya, targetkan dana darurat minimal setara dengan 3-6 bulan pengeluaran rutin Anda. Sisihkan 5-10% gaji secara otomatis ke rekening terpisah setiap bulan sebagai prioritas utama sebelum menyentuh investasi berisiko tinggi. Ingat, jangan pernah menginvestasikan uang yang seharusnya menjadi dana darurat.

6. Doom Spending, Belanja Impulsif Akibat Stres

Doom spending menggambarkan perilaku konsumsi berlebihan di tengah ketidakpastian ekonomi atau krisis pribadi. Banyak Gen Z menggunakan belanja sebagai pelarian dari masalah emosional, memberikan kepuasan sementara namun memperburuk masalah keuangan jangka panjang. Fenomena ini semakin marak pasca-pandemi COVID-19, di mana banyak orang merespons pesimisme masa depan dengan memuaskan keinginan saat ini secara berlebihan.

Untuk mengatasinya, bangun kesadaran finansial dengan mencatat semua pengeluaran. Kurangi penggunaan kartu kredit dan beralihlah ke uang tunai atau debit. Latih mindfulness untuk mengelola stres tanpa harus berbelanja. Jika perilaku ini sudah sulit dikendalikan, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional.

7. Hidup Tanpa Anggaran dan Tidak Merencanakan Tujuan Finansial

Banyak Gen Z merasa "lumayan tahu" soal pengeluaran, tetapi tidak menuliskan atau memonitor arus kas secara konkret. Akibatnya, gaji habis sebelum akhir bulan. Selain itu, tidak adanya tujuan finansial jangka panjang membuat mereka hanya fokus pada kepuasan jangka pendek, bukan pada pencapaian masa depan.

Cara mengatasinya, buatlah anggaran sederhana dengan metode 50/30/20: 50% untuk kebutuhan pokok, 30% untuk keinginan atau hiburan, dan 20% untuk tabungan dan investasi. Catat pemasukan dan pengeluaran selama sebulan, lalu evaluasi. Tetapkan tujuan SMART (Spesifik, Terukur, Dapat Dicapai, Relevan, Berbatas Waktu) dan gunakan aplikasi keuangan untuk memantau progres Anda.

Pertanyaan Seputar Keuangan Gen Z

Q: Apa itu Gen Z dan mengapa mereka rentan terhadap masalah keuangan?

A: Gen Z adalah generasi yang lahir antara tahun 1997-2012. Mereka rentan karena tumbuh di era digital dengan kemudahan belanja online, tekanan media sosial, dan kurangnya pendidikan finansial formal. Survei menunjukkan 42% dari mereka hidup dari gaji ke gaji.

Q: Apa yang dimaksud dengan doom spending?

A: Doom spending adalah perilaku belanja berlebihan sebagai respons terhadap stres atau ketidakpastian ekonomi. Ini adalah pelarian emosional yang memberikan kepuasan sesaat namun merusak stabilitas keuangan jangka panjang.

Q: Apa itu BNPL dan mengapa berbahaya?

A: BNPL (Buy Now, Pay Later) adalah skema cicilan dengan uang muka kecil. Bahayanya, konsumen kehilangan "rasa sakit" saat mengeluarkan uang, sehingga sering memicu konsumsi berlebih. Data menunjukkan 57% pengguna BNPL mengalami keterlambatan pembayaran.

Q: Berapa banyak dana darurat yang ideal untuk Gen Z?

A: Dana darurat ideal adalah 3-6 kali pengeluaran bulanan. Sisihkan secara otomatis 5-10% gaji Anda ke rekening terpisah.

Q: Apakah investasi di kripto aman untuk Gen Z?

A: Kripto memiliki volatilitas tinggi dan risiko besar. Tidak disarankan bagi pemula tanpa pemahaman mendalam. Mulailah dengan instrumen stabil setelah memahami dasar investasi.

Q: Bagaimana cara membedakan investasi dan judi?

A: Investasi didasarkan pada analisis dan perencanaan jangka panjang. Judi adalah spekulasi murni tanpa dasar dengan harapan untung cepat. 

Q: Bagaimana cara mengatasi FOMO dalam berbelanja?

A: Ingat bahwa media sosial adalah versi terbaik dari kehidupan orang lain. Batasi waktu di media sosial dan fokus pada tujuan keuangan pribadi Anda.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |