7 Cara Mahasiswa Hukum Agar Cepat Menguasai Teori, Ini Wejangan Penting dari Dosen Ilmu Hukum di Jogja

2 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Memahami teori hukum sering menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa program studi hukum yang baru memasuki bangku perkuliahan. Ruang lingkup ilmu hukum yang luas, mulai dari asas, konsep, hingga berbagai sistem hukum, membuat sebagian mahasiswa menganggap perkuliahan hukum hanya berfokus pada hafalan pasal dan peraturan perundang-undangan.

Anggapan tersebut dinilai kurang tepat oleh Muhammad Irfan Al Aziz, selaku pengajar Ilmu Hukum Universitas Terbuka (UT) yang memiliki fokus kajian pada Hukum Adat, Hukum Islam, dan Peradilan Agama. Lulusan Program Studi Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dan Magister Hukum Tata Negara UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu menilai bahwa pemahaman hukum yang baik justru berawal dari kemampuan memahami konsep dasar dan cara berpikir hukum secara sistematis.

Berdasarkan pengalaman mengajar, Irfan melihat bahwa terdapat sejumlah kebiasaan dan pendekatan belajar yang dapat membantu mahasiswa lebih mudah memahami teori hukum sekaligus mengaitkannya dengan realitas yang terjadi di tengah masyarakat. Langkah-langkah tersebut dapat mulai diterapkan sejak semester pertama sebagai bekal untuk mengikuti perkuliahan dan membangun kemampuan analisis hukum secara bertahap.

"Untuk mindset, yang jelas perlu ditanamkan tentang dasar-dasar hukum terlebih dahulu agar bisa berdiskusi dan menyampaikan pemikiran-pemikiran tentang teori hukum dan keselarasannya di masyarakat," kata Muhammad Irfan Al Aziz, saat ditemui Liputan6 di salah satu working space di Sleman, Sabtu (23/5).

Lantas, kebiasaan apa saja yang perlu dibangun agar mahasiswa hukum agar lebih mudah memahami teori dan mengembangkan pola pikir hukum sejak awal perkuliahan? Berikut 7 cara yang dapat dicona para mahasiswa sebagai bekal pembelajaran.

1. Kuasai Dasar-Dasar Hukum Terlebih Dahulu

Berdasarkan fakta di lapangan, mahasiswa hukum sering kali terburu-buru mempelajari materi yang kompleks tanpa memahami fondasi dasarnya. Padahal, dasar-dasar hukum menjadi bekal utama untuk memahami berbagai cabang ilmu hukum yang akan dipelajari pada semester berikutnya.

Pemahaman terhadap konsep hukum, asas hukum, subjek hukum, hak, kewajiban, dan sistem hukum, akan membantu mahasiswa mengikuti perkuliahan dengan lebih mudah. Bekal tersebut juga menjadi dasar dalam menyusun argumentasi hukum yang logis dan menjawab permasalahan di masyarakat. Semakin kuat pemahaman terhadap fondasi hukum, semakin mudah mahasiswa menganalisis teori maupun kasus yang berkembang di masyarakat dan dunia peradilan.

"Yang jelas itu, perlu ditanamkan terlebih dahulu istilah-istilah hukum dasar, agar bisa berdiskusi dan menyampaikan pemikiran tersebut saat berada di kelas. Dari sana, akan membuka kesadaran mahasiswa bahwa hukum di Indonesia itu sangat dapat berkembang, sehingga tidak perlu dipahami secara baku dan kaku," terang Irfan.

2. Pahami Perbedaan Common Law dan Civil Law

Salah satu materi dasar yang penting dipahami mahasiswa hukum adalah sistem hukum yang berlaku di berbagai negara. Pengetahuan ini membantu mahasiswa memahami bagaimana suatu perkara diputuskan dan dasar hukum yang digunakan.

Menurut Irfan, terdapat sistem Common Law yang menjadikan putusan hakim atau yurisprudensi sebagai acuan utama dalam memutus perkara. Sistem ini dikenal dengan prinsip precedent atau stare decisis dan banyak diterapkan di Inggris serta Amerika Serikat. Sementara Indonesia menganut sistem Civil Law, yaitu sistem hukum yang bertumpu pada undang-undang tertulis dan terkodifikasi. 

"Nah, kata kunci seperti Common Law, yakni putusan hakim atau pengadilan (yurisprudensi) yang berasas precedent atau stare decisis. Lalu, Civil Law, atau hukum kontinental yang tertulis dalam undang-undang, termasuk Hukum Adat dan Hukum Agama yang masing-masing biasanya diterapkan di beberapa daerah di Indonesia bisa dan harus diperdalam di awal kegiatan perkuliahan," tutur dosen muda 29 tahun itu.

3. Fokus Memahami Teori, Bukan Menghafalnya

Kemudian, banyak mahasiswa juga masih menganggap keberhasilan kuliah hukum ditentukan oleh kemampuan menghafal pasal atau teori tertentu. Padahal, pemahaman konsep jauh lebih penting dibandingkan kemampuan mengingat bunyi aturan secara harfiah.

Teori hukum seharusnya dipahami dalam konteks penerapannya di masyarakat dan tidak sekedar acuan pada teks book. Dengan memahami latar belakang dan tujuan suatu aturan, mahasiswa akan lebih mudah menjelaskan relevansi hukum terhadap berbagai persoalan yang muncul.

Pendekatan ini juga membantu mahasiswa menyusun argumentasi hukum yang lebih kuat ketika menghadapi tugas, diskusi kelas, maupun penelitian akademik.

4. Rajin Membaca Putusan Pengadilan

Teori hukum akan lebih mudah dipahami apabila mahasiswa melihat langsung penerapannya dalam perkara nyata. Salah satu sumber belajar yang paling efektif menurut Irfan adalah putusan pengadilan, terkait kasus-kasus yang banyak diperbincangkan masyarakat.

Melalui putusan hakim, mahasiswa dapat memahami bagaimana suatu aturan digunakan untuk menyelesaikan sengketa, dasar pertimbangan hukum yang dipakai, serta argumentasi yang dibangun dalam sebuah perkara. Dari sana, juga turut diketahui bahwa fungsi hukum seharusnya menjadi pembela dan pedoman perilaku untuk membawa perubahan sosial.

Kebiasaan membaca putusan juga membantu mahasiswa mengenali hubungan antara teori, asas hukum, dan praktik peradilan yang sesungguhnya.

5. Ikuti Perkembangan Kasus Hukum Terkini

Masih terkait dengan putusan peradilan, hukum sendiri menurut Irfan akan terus berkembang dan selalui mengikuti perubahan sosial, ekonomi, politik, dan teknologi. Karena itu, mahasiswa kembali ditekankan bahwa tidak cukup hanya belajar dari buku teks atau materi kuliah.

Kasus hukum yang sedang menjadi perhatian publik dapat dijadikan sarana belajar yang efektif. Mahasiswa dapat mencoba menghubungkan teori yang dipelajari dengan fakta dan persoalan yang muncul dalam kasus tersebut. Lalu, bagaimana letak kesalahan dan siapa saja yang terlibat juga terabaikan haknya. Dengan cara ini, pemahaman terhadap teori hukum menjadi lebih kontekstual dan tidak terlepas dari realitas yang terjadi di masyarakat.

"Kalau menurut saya, mahasiswa itu jangan hanya teks book, artinya dia banyak menghapal teori, menghapal undang-undang, lalu terjebak dalam realisme hukum yang hanya satu sudut pandang. Caranya adalah dengan update kasus-kasus hukum yang saat ini sedang terangkat di media, lalu mengelaborasikannya dengan pengetahuan hukum (think law) yang sudah dipelajari," tegasnya.

6. Latih Critical Thinking Sejak Awal Kuliah

Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu keterampilan yang paling dibutuhkan dalam dunia hukum. Mahasiswa perlu terbiasa mempertanyakan, menganalisis, dan mengevaluasi suatu persoalan dari berbagai sudut pandang.

Critical thinking membantu mahasiswa memahami alasan di balik suatu aturan serta menguji apakah argumentasi yang digunakan sudah sesuai dengan prinsip hukum yang berlaku. Kemampuan ini dapat dilatih melalui diskusi, analisis kasus, simulasi peradilan, maupun pembahasan putusan pengadilan yang kompleks.

"Lalu, ada kesalahan lainnya, yakni mengabaikan critical thinking. Gini, menurut saya, ini sering diabaikan. Ketika ada materi argumentasi hukum, mahasiswa lantas kesulitas membedahnya. Padahal, critical thinking ini sangat penting untuk argumentasi hukum dan melogikakannya dengan kasus. Jadi teruslah melatih critical thinking, bisa dengan menelaah kasus, lalu belajar simulasi peradilan, atau mempelajari putusan-putusan pengadilan. Biasakan itu agar, keilmuan tertanam dan bisa digunakan saat belajar di kelas," tambah dosen yang juga sempat menjadi jurnalis ini.

7. Seimbangkan Teori dan Praktik Hukum

Terakhir, menurut Irfan, pemahaman teori akan semakin kuat apabila diimbangi dengan pengalaman praktik. Mahasiswa hukum sebaiknya tidak hanya fokus pada perkuliahan di kelas, tetapi juga mencari pengalaman belajar di luar kampus.

Kegiatan seperti magang di lembaga bantuan hukum, mengikuti klinik hukum, organisasi kemahasiswaan, maupun peradilan semu dapat membantu mahasiswa memahami penerapan teori dalam dunia nyata.

Ketika teori dan praktik berjalan seimbang, mahasiswa akan lebih siap menghadapi tantangan akademik sekaligus memiliki bekal yang kuat saat memasuki profesi hukum setelah lulus.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Topik

Apakah mahasiswa hukum harus menghafal banyak pasal?

Tidak. Pemahaman konsep, asas, dan penerapan hukum lebih penting dibandingkan hafalan semata.

Apa itu Common Law?

Common Law adalah sistem hukum yang menjadikan putusan hakim atau yurisprudensi sebagai acuan utama dalam memutus perkara.

Apa itu Civil Law?

Civil Law adalah sistem hukum yang bertumpu pada undang-undang tertulis dan menjadi sistem yang digunakan di Indonesia.

Mengapa mahasiswa hukum perlu membaca putusan pengadilan?

Karena putusan pengadilan membantu memahami penerapan teori dan aturan hukum dalam kasus nyata.

Apa kunci cepat memahami teori hukum?

Menguasai dasar hukum, memahami sistem hukum, membaca putusan, mengikuti isu hukum terkini, dan melatih kemampuan berpikir kritis.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |