6 Tips Penting Sebelum Bangun Rumah Menurut Arsitek Muda Magelang, Bisa Cegah Kerugian

3 hours ago 1
  • Apa kesalahan paling sering saat membangun rumah?
  • Apakah membangun rumah harus memakai jasa arsitek?
  • Mengapa pencahayaan rumah penting?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Membangun rumah tidak cukup hanya menyiapkan dana dan membeli material. Banyak orang langsung memulai pembangunan tanpa perencanaan yang jelas, sehingga di tengah proses muncul masalah seperti biaya yang membengkak, pembagian ruang yang tidak sesuai kebutuhan, hingga hasil akhir rumah yang kurang nyaman ditempati.

Arsitek muda asal Magelang, Jawa Tengah, Ar. Dwiwangga Sang Nalendra Hadi, menilai kesalahan saat membangun rumah umumnya terjadi karena pemilik belum memahami kebutuhan dasar hunian yang akan digunakan dalam jangka panjang. Akibatnya, sejumlah keputusan penting diambil secara terburu-buru ketika pembangunan sudah berjalan.

Menurut Dwiwangga, risiko kerugian dapat dikurangi jika pemilik rumah lebih dulu menentukan fungsi ruang, menyesuaikan pilihan material dengan kebutuhan, serta menyusun perencanaan sebelum pembangunan dimulai. Ia juga menyarankan agar pemilik rumah berkonsultasi dengan arsitek atau tenaga teknis agar proses pembangunan lebih terarah dan hasil akhirnya sesuai harapan.

Untuk itu, Liputan6 menghadirkan 6 tips penting sebelum membangun rumah agar terhindar dari masalah dan pengeluaran yang tidak perlu. Simak selengkapnya, kami rangkum, Sabtu (9/5).

1. Tentukan Kebutuhan Rumah Sejak Awal

Disampaikan arsitek berusia 25 tahun itu, banyak orang membangun rumah berdasarkan tren namun, kurang menggali kebutuhan dari penghuninya. Akibatnya, beberapa ruang menjadi jarang digunakan, sedangkan ruang utama justru terasa sempit. Kondisi ini sering membuat pemilik rumah kembali melakukan renovasi dalam waktu singkat dan mengeluarkan biaya tambahan yang sebenarnya dapat dihindari sejak awal.

Sebelum membangun rumah, pemilik perlu menentukan fungsi setiap ruang secara jelas. Misalnya, rumah digunakan untuk keluarga besar, bekerja dari rumah, atau tempat usaha kecil. Penentuan kebutuhan sejak awal membantu proses perencanaan menjadi lebih terarah sehingga pembangunan tidak berjalan tanpa tujuan yang pasti.

Dwiwangga kemudian menyarankan pemilik rumah mengenali aktivitas yang paling sering dilakukan di rumah. Jika penghuni lebih banyak berkegiatan di ruang makan atau ruang kerja, maka area tersebut perlu menjadi prioritas. Cara ini membantu rumah tetap nyaman digunakan tanpa harus menambah ruang baru setelah pembangunan selesai.

"Kalau sekarang kebutuhan masyarakat akan hunian jadi lebih simpel. Bahkan orang-orang juga mulai memikirkan kembali konsep rumah yang minimalis karena mudah dari segi perawatan dan juga lebih menitikberatkan fungsinya, daripada style," terangnya, saat dihubungi Liputan6 beberapa waktu lalu, melalui sambungan telepon. 

2. Jangan Membangun Rumah Tanpa Gambar

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah memulai pembangunan tanpa gambar kerja. Banyak pemilik rumah langsung mempercayakan proses pembangunan kepada tukang tanpa panduan yang jelas. Situasi ini sering menimbulkan perubahan ukuran ruang, posisi bangunan yang tidak sesuai, hingga biaya tambahan karena pekerjaan harus diulang.

Gambar rumah berfungsi sebagai panduan utama selama proses pembangunan berlangsung. Dengan adanya gambar, pekerja memahami ukuran ruang, posisi pintu, jalur sirkulasi, hingga pembagian area rumah secara lebih jelas. Hal ini membantu pembangunan berjalan lebih terarah dan mengurangi risiko kesalahan di lapangan.

Menurutnya, banyak kasus kerugian muncul karena pembangunan dilakukan tanpa perencanaan visual yang matang. Bahkan ada bangunan yang akhirnya dibongkar ulang karena tata ruang tidak mendukung keamanan dan fungsi rumah. Karena itu, gambar rumah menjadi bagian penting sebelum proses pembangunan dimulai.

"Kalau membangun hunian memang sangat diperlukan adanya gambar sebagai petujuk. Ini tidak bisa didelegasi langsung soalnya ke pelaksana. Jadi, gambar bisa berfungsi sebagai panduan, agar hasilnya tidak berantakan," katanya.

3. Pilih Material Sesuai Fungsi Ruangan

Kemudian, pemilihan material sering dianggap hal sepele saat membangun rumah. Padahal penggunaan material yang tidak sesuai dapat memengaruhi kenyamanan penghuni serta biaya perawatan rumah dalam jangka panjang. Kesalahan memilih material juga membuat tampilan rumah cepat berubah dan tidak sesuai harapan.

Dijelaskan bahwa setiap ruang memiliki kebutuhan berbeda. Misalnya kamar mandi memerlukan material yang mendukung pencahayaan dan mudah dibersihkan. Sementara ruang yang sering terkena panas matahari perlu menggunakan material yang membantu mengurangi suhu di dalam rumah agar tidak menimbulkan rasa gerah.

Selain itu, pemilik rumah perlu memperhatikan keamanan material yang digunakan. Beberapa rumah masih memakai bahan yang berisiko bagi kesehatan seperti asbes. Karena itu, pemilihan material sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga fungsi serta dampaknya bagi penghuni rumah dalam jangka panjang.

"Contoh misalnya kita mau terang di kamar mandi, ya kita harusnya pilih material yang cerah," kata Dwiwangga.

4. Perhatikan Pencahayaan dan Sirkulasi Udara

Rumah yang sehat tidak selalu identik dengan ukuran besar. Salah satu faktor penting adalah pencahayaan dan sirkulasi udara yang cukup. Banyak rumah dibangun dengan bukaan minim sehingga ruangan terasa lembap, panas, dan kurang nyaman digunakan untuk aktivitas sehari-hari.

Pencahayaan alami membantu rumah terasa lebih terang pada siang hari tanpa bergantung penuh pada lampu. Selain menghemat penggunaan listrik, cahaya matahari juga membantu menjaga kondisi ruang tetap kering. Rumah yang terlalu tertutup berisiko memunculkan kelembapan yang dapat memengaruhi kenyamanan penghuni.

Sirkulasi udara juga perlu diperhatikan sejak tahap perencanaan. Penempatan jendela dan ventilasi harus mendukung aliran udara masuk dan keluar secara seimbang. Dengan aliran udara yang baik, suhu ruangan lebih stabil dan rumah terasa lebih nyaman ditempati tanpa penggunaan pendingin ruangan secara berlebihan.

5. Pahami Aturan Bangunan di Daerah Setempat

Lalu, sebelum membangun rumah, pemilik perlu memahami aturan bangunan yang berlaku di daerah masing-masing. Banyak orang mengabaikan hal ini karena fokus pada desain dan biaya pembangunan. Padahal setiap daerah memiliki ketentuan terkait jarak bangunan, area hijau, hingga batas penggunaan lahan.

Aturan tersebut dibuat untuk menjaga keamanan lingkungan dan fungsi kawasan permukiman. Misalnya kewajiban menyediakan area resapan air atau batas jumlah bangunan di atas lahan tertentu. Jika aturan tidak dipenuhi, proses pembangunan dapat mengalami kendala saat pengurusan izin maupun saat pemeriksaan lapangan.

Arsitek menyarankan masyarakat tidak membangun rumah secara terburu-buru tanpa memahami ketentuan yang berlaku. Dengan memahami aturan sejak awal, proses pembangunan dapat berjalan lebih lancar dan mengurangi risiko perubahan desain di tengah proses pembangunan yang berpotensi menambah biaya.

6. Konsultasikan Rencana dengan Arsitek

Dirinya menambahkan, bahwa sebagian orang masih menganggap jasa arsitek hanya menambah biaya pembangunan. Padahal konsultasi dengan arsitek justru membantu pemilik rumah menghindari kesalahan yang dapat menimbulkan kerugian lebih besar. Arsitek membantu menyusun kebutuhan ruang, alur bangunan, hingga penggunaan lahan agar lebih sesuai kebutuhan.

Konsultasi juga membantu pemilik rumah memahami kondisi bangunan sebelum proses pembangunan dimulai. Misalnya arah cahaya matahari, posisi ventilasi, serta pembagian ruang yang mendukung aktivitas penghuni. Hal ini penting karena rumah tidak hanya digunakan untuk tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang beraktivitas setiap hari.

Untuk itu, Dwiwangga juga menekankan bahwa sebelum membangun, pemilik perlu berkonsultasi dengan jasa arsitek yang dipercaya agar membantu dalam menentukan prioritas penggunaan anggaran. Cara ini membuat pengeluaran lebih terkendali dan proses pembangunan menjadi lebih aman.

"Pokoknya jangan pernah takut untuk berkonsultasi dengan arsitek. Nah orang kan selalu menganggap bahwa arsitek itu mahal, tapi justru biaya mahal itu bisa terjadi ketika pelaksanaan di lapangan tidak terencana dengan matang. Sebagai contoh, saya pernah nemuin kasus di mana si pemilik ingin mendirikan bangunan lebih dari 3 lantai, tanpa konsultasi arsitek. Kemudian, langsung saja memperkerjakan tukang tanpa ada petunjuk gambar, sampai akhirnya boncos. Ujung-ujungnya harus demolish total (dibongkar total). Nah, ini kan sangat merugikan. Jadi ketika Anda menggunakan jasa arsitek, kerugian seperti itu bisa dihindari, " tambah lulusan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia itu.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Topik

Apa kesalahan paling sering saat membangun rumah?

Kesalahan yang paling sering terjadi adalah membangun rumah tanpa perencanaan matang, tanpa gambar kerja, dan tanpa memperhitungkan kebutuhan penghuni dalam jangka panjang.

Apakah membangun rumah harus memakai jasa arsitek?

Tidak wajib, tetapi menggunakan jasa arsitek membantu pemilik rumah mengurangi risiko salah desain, pemborosan biaya, dan masalah tata ruang.

Mengapa pencahayaan rumah penting?

Pencahayaan membantu rumah terasa lebih nyaman, mengurangi kelembapan, dan mendukung aktivitas penghuni tanpa bergantung penuh pada lampu.

Bagaimana cara menghemat biaya saat membangun rumah?

Cara menghemat biaya adalah membuat perencanaan sejak awal, menentukan prioritas pembangunan, dan menghindari perubahan desain saat proses pembangunan berlangsung.

Apa yang harus diprioritaskan sebelum bangun rumah?

Hal yang perlu diprioritaskan adalah kebutuhan ruang, gambar rumah, anggaran pembangunan, serta kondisi lahan dan lingkungan sekitar rumah.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |