Liputan6.com, Jakarta - Berhadapan dengan hewan yang terlihat agresif atau galak bisa menjadi situasi yang menegangkan bagi banyak orang. Baik itu hewan peliharaan yang sedang stres, hewan liar yang merasa terancam, maupun hewan yang sedang melindungi wilayah atau anaknya, perilaku agresif dapat muncul secara tiba-tiba. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi tersebut berisiko menyebabkan gigitan, cakaran, atau cedera lainnya yang membahayakan manusia maupun hewan itu sendiri.
Banyak orang secara refleks mencoba mendekati, memegang, atau bahkan mengusir hewan agresif dengan cara yang kurang tepat. Padahal, tindakan yang terburu-buru justru dapat membuat hewan merasa semakin terancam dan meningkatkan kemungkinan terjadinya serangan. Memahami bahasa tubuh hewan serta mengetahui cara merespons situasi dengan tenang merupakan langkah penting untuk menjaga keselamatan semua pihak yang terlibat.
Menurut para praktisi kesehatan hewan, menghadapi hewan agresif sebaiknya dilakukan dengan pendekatan yang mengutamakan keamanan dan meminimalkan stres pada hewan. Menjaga jarak, menghindari gerakan yang memicu ancaman, serta menggunakan bantuan alat atau tenaga profesional dalam kondisi tertentu dapat membantu mengurangi risiko gigitan dan cakaran. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengetahui langkah-langkah yang tepat saat berhadapan dengan hewan yang menunjukkan perilaku agresif.
Lantas bagaimana saja cara menghadapi hewan agresif atau galak tanpa membahayakan diri sendiri dari gigitan dan cakaran? Berikut penjelasan lebih lengkap dan mendalam secara eksklusif dari drh. Winda Hermin Ayulian (30) kepada Liputan6.com.
1. Jangan Langsung Mendekati atau Memegang Hewan Secara Tiba-Tiba
Menurut drh. Winda Hermin Ayulian, hal pertama yang perlu diperhatikan saat menghadapi hewan yang terlihat agresif atau galak adalah tidak langsung mendekati atau memegangnya tanpa mengetahui kondisi yang sedang dialami hewan tersebut. Banyak orang melakukan kesalahan dengan berasumsi bahwa hewan hanya perlu ditenangkan melalui sentuhan. Padahal, bagi hewan yang sedang merasa terancam, kehadiran manusia yang mendadak justru dapat dianggap sebagai ancaman tambahan.
"Pastikan jangan langsung mendekati secara tiba-tiba ataupun langsung memegang tanpa mengetahui kondisi hewan tersebut," ujar drh. Winda saat dihubungi Liputan6.com melalui pesan teks pada Kamis (7/5/2026).
Perilaku agresif pada hewan tidak selalu muncul karena sifatnya yang galak. Dalam banyak kasus, agresivitas merupakan bentuk komunikasi bahwa hewan sedang merasa tidak nyaman, takut, stres, atau sedang mengalami kondisi tertentu yang membuatnya ingin menjaga jarak. Ketika seseorang langsung meraih tubuh hewan atau mencoba menggendongnya tanpa pendekatan yang tepat, hewan dapat bereaksi secara spontan dengan menggigit, mencakar, menggeram, atau berusaha melarikan diri.
Oleh karena itu, penting untuk memberi ruang kepada hewan terlebih dahulu. Biarkan hewan mengenali keberadaan Anda dari jarak aman sebelum melakukan interaksi lebih lanjut. Dengan menghindari gerakan tiba-tiba dan tidak memaksakan kontak fisik sejak awal, risiko terjadinya serangan dapat berkurang secara signifikan. Langkah sederhana ini sering kali menjadi faktor penentu apakah interaksi akan berlangsung aman atau justru berakhir dengan cedera.
2. Pahami Penyebab Hewan Menjadi Agresif
Drh. Winda menjelaskan bahwa hewan yang agresif bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti trauma, rasa sakit, maupun upaya mempertahankan diri karena merasa lingkungannya tidak aman. Karena itu, penting untuk memahami bahwa agresivitas bukanlah perilaku yang muncul tanpa alasan. Hewan biasanya menunjukkan respons tersebut sebagai mekanisme perlindungan diri ketika menghadapi situasi yang dianggap berbahaya.
"Hewan yang agresif bisa disebabkan karena adanya trauma, adanya rasa sakit ataupun pertahanan diri dari serangan karena lingkungan tidak aman," tambahnya.
Hewan yang pernah mengalami perlakuan kasar, kecelakaan, atau pengalaman buruk dengan manusia sering kali memiliki tingkat kewaspadaan yang lebih tinggi. Mereka dapat menunjukkan sikap defensif bahkan terhadap orang yang sebenarnya berniat baik. Selain itu, hewan yang sedang sakit atau mengalami cedera sering kali lebih sensitif terhadap sentuhan karena rasa nyeri yang dirasakan. Dalam kondisi seperti ini, tindakan sederhana seperti menyentuh bagian tubuh tertentu dapat memicu reaksi agresif.
Faktor lingkungan juga berperan besar. Hewan yang merasa terpojok, terkurung, atau berada di tempat yang ramai dan bising dapat mengalami stres yang memicu perilaku agresif. Dengan mencoba memahami penyebab yang mendasari perilaku tersebut, seseorang dapat menentukan pendekatan yang lebih tepat. Pemahaman ini membantu mengurangi kesalahan dalam berinteraksi sekaligus meningkatkan keselamatan bagi manusia dan hewan.
3. Hilangkan Rasa Takut dan Keraguan Saat Berinteraksi
Menurut drh. Winda Hermin Ayulian, seseorang sebaiknya menghilangkan rasa takut atau ragu ketika ingin melakukan kontak dengan hewan. Hewan memiliki insting yang sangat baik dalam membaca bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan energi yang ditunjukkan manusia. Ketika seseorang terlihat gugup, takut, atau tidak percaya diri, hewan dapat menangkap sinyal tersebut dan menjadi semakin waspada.
"Pastikan kita menghilangan rasa takut ataupun ragu jika ingin kontak dengan hewan karena mereka memiliki insting dapat merasakan energi kita," lanjut drh. Winda.
Rasa takut sering kali memunculkan gerakan yang tidak konsisten, seperti mundur secara tiba-tiba, menghindari kontak, atau bergerak secara tidak terduga. Bagi sebagian hewan, perilaku ini dapat dianggap sebagai tanda ancaman atau situasi yang tidak biasa. Akibatnya, hewan menjadi lebih defensif dan berpotensi menunjukkan respons agresif untuk melindungi dirinya.
Bukan berarti seseorang harus bersikap berani secara berlebihan atau mengabaikan risiko yang ada. Sikap yang dibutuhkan adalah tenang, percaya diri, dan tetap berhati-hati. Ketenangan membantu menciptakan suasana yang lebih nyaman bagi hewan sehingga mereka tidak merasa perlu untuk mempertahankan diri secara agresif. Semakin stabil bahasa tubuh yang ditunjukkan manusia, semakin besar peluang hewan untuk menerima kehadirannya dengan baik.
4. Amati Kondisi Hewan dan Dekati Secara Perlahan
Sebelum melakukan kontak langsung, drh. Winda menyarankan untuk mengamati terlebih dahulu kondisi hewan dan memastikan apakah situasinya aman untuk didekati. Pengamatan ini penting untuk membaca tanda-tanda perilaku yang ditunjukkan hewan, seperti posisi telinga, ekor, mata, suara, maupun postur tubuh secara keseluruhan. Tanda-tanda tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai tingkat kenyamanan atau stres yang sedang dialami hewan.
"Amati kondisi hewan apakah aman untuk didekati, dekati secara perlahan dan yakin," tegas dokter hewan yang praktik di Sukowati Petshop Sragen.
Hewan yang masih siap menerima kehadiran manusia biasanya menunjukkan bahasa tubuh yang relatif santai. Sebaliknya, hewan yang merasa terancam dapat memperlihatkan tanda-tanda seperti menggeram, mendesis, menegakkan bulu, memperlihatkan gigi, atau terus memantau pergerakan orang di sekitarnya. Jika tanda-tanda ini muncul, pendekatan harus dilakukan dengan ekstra hati-hati atau bahkan ditunda hingga kondisi lebih memungkinkan.
Apabila hewan terlihat cukup tenang, lakukan pendekatan secara perlahan dan penuh keyakinan. Hindari berlari, membungkuk secara mendadak, atau melakukan kontak fisik secara paksa. Pendekatan yang bertahap memberi kesempatan bagi hewan untuk mengenali keberadaan manusia dan menilai bahwa situasi tersebut tidak mengancam. Dengan cara ini, proses interaksi dapat berlangsung lebih aman dan minim risiko.
5. Gunakan Makanan sebagai Pemancing dan Lindungi Diri Sebelum Kontak Langsung
Drh. Winda juga menjelaskan bahwa makanan dapat digunakan sebagai pemancing untuk membantu membangun kepercayaan hewan. Dalam banyak situasi, makanan menjadi alat yang efektif untuk mengalihkan perhatian sekaligus menciptakan asosiasi positif terhadap kehadiran manusia. Dengan memberikan makanan dari jarak aman, hewan memiliki kesempatan untuk merasa lebih nyaman tanpa harus dipaksa melakukan kontak langsung.
Meski demikian, penggunaan makanan tidak boleh membuat seseorang lengah terhadap potensi bahaya. Hewan yang sebelumnya tampak tenang tetap dapat menunjukkan perilaku agresif secara mendadak apabila merasa terancam atau terganggu. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan respons hewan selama proses pendekatan dan tidak terburu-buru menganggap situasi sudah sepenuhnya aman.
Selain itu, drh. Winda menekankan pentingnya melindungi diri sebelum melakukan kontak langsung dengan hewan. Gunakan perlengkapan yang sesuai apabila diperlukan, seperti sarung tangan, pakaian berlengan panjang, atau alat bantu lain yang dapat mengurangi risiko gigitan dan cakaran. Kewaspadaan harus tetap dijaga karena respons agresif bisa muncul secara tiba-tiba. Dengan kombinasi pendekatan yang tepat, penggunaan makanan sebagai pemancing, dan perlindungan diri yang memadai, risiko cedera dapat ditekan sekaligus membantu hewan merasa lebih aman saat berinteraksi dengan manusia.
"Sediakan makanan juga bisa sebagai pemancing. Pastikan kita juga melindungi diri sebelum kontak langsung karena mendadak ketika agresif bisa mengigit ataupun mencakar," tutupnya.
Pertanyaan & Jawaban Seputar Cara Menghadapi Hewan Agresif atau Galak Tanpa Membahayakan Diri Sendiri
1. Mengapa hewan bisa tiba-tiba menjadi agresif?
Jawaban: Hewan dapat menjadi agresif karena berbagai alasan, seperti merasa takut, mengalami trauma, merasakan sakit akibat penyakit atau cedera, melindungi wilayahnya, atau merasa terancam oleh lingkungan sekitar. Agresivitas sering kali merupakan bentuk pertahanan diri, bukan semata-mata karena hewan memiliki sifat galak.
2. Apa yang harus dilakukan saat pertama kali melihat hewan yang tampak agresif?
Jawaban: Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menjaga jarak dan menghindari gerakan mendadak. Amati bahasa tubuh hewan dari kejauhan untuk menilai apakah situasi cukup aman. Jangan langsung mendekati atau mencoba memegang hewan sebelum memahami kondisinya.
3. Apakah aman langsung memegang hewan yang terlihat ketakutan?
Jawaban: Tidak disarankan. Hewan yang ketakutan sering kali lebih mudah bereaksi secara defensif. Meskipun terlihat lemah atau membutuhkan bantuan, pendekatan yang terlalu cepat dapat memicu gigitan atau cakaran sebagai bentuk perlindungan diri.
4. Bagaimana cara mengetahui bahwa hewan sedang merasa terancam?
Jawaban: Beberapa tanda yang umum terlihat antara lain menggeram, mendesis, memperlihatkan gigi, menegakkan bulu, menatap tajam, menurunkan posisi tubuh untuk bersiap menyerang, atau mencoba menjauh sambil terus mengawasi sekitar. Tanda-tanda ini menunjukkan bahwa hewan sedang tidak nyaman atau waspada.
5. Mengapa rasa takut dari manusia dapat memengaruhi perilaku hewan?
Jawaban: Hewan memiliki insting yang tajam untuk membaca bahasa tubuh dan energi di sekitarnya. Ketika seseorang terlihat sangat takut, gugup, atau ragu-ragu, hewan dapat menangkap sinyal tersebut dan menjadi lebih waspada, sehingga interaksi berisiko menjadi lebih sulit.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7609596/original/012795500_1780394563-kaktus_rumah.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7608573/original/086424200_1780393261-16958483433874980112.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5403520/original/049590400_1762329479-plesteran.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7606027/original/003572500_1780390487-3458354445860861260.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7604878/original/030875700_1780389181-515984220213883969.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425552/original/031830400_1764230290-Rumah_dengan_Void_atau_Plafon_Tinggi___Ventilasi_Atas__Stack_Effect_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7603217/original/057918300_1780387143-hl1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7602222/original/069801100_1780386037-Gemini_Generated_Image_g0k92ng0k92ng0k9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489345/original/066845500_1769844566-Gemini_Generated_Image_9q00pf9q00pf9q00.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5493764/original/082160400_1770266489-bc9d4ce8-c2a2-4217-98ec-637c660d2b1f.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7597947/original/006853900_1780381307-Gemini_Generated_Image_ku670wku670wku67.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7606544/original/074753900_1780390887-lantai_area_jemur3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7603910/original/008947500_1780388086-Ide_Pohon_Kecil_yang_Rimbun_Tapi_Akar_Tetap_Aman_untuk_Rumah_Model_Pohon_Bungur.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7596877/original/055233700_1780380038-Rumah_Kampung_Halaman_Hijau.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4121708/original/031333200_1660292093-pexels-anton-4132538.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7596792/original/006179500_1780379963-HL_lele.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7600102/original/029009500_1780383884-6d808f3d-8cc3-49a6-bf64-f1fda336ad2c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5219740/original/066733700_1747226370-coworking-man-woman-with-gadgets.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5563686/original/057037800_1776914098-WhatsApp_Image_2026-04-23_at_10.09.04__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7600083/original/048638500_1780383664-Ilustrasi_panen_lele.jpeg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5530617/original/099175500_1773466166-mud1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5492506/original/054894600_1770176162-unnamed-55.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495984/original/028777500_1770452855-unnamed__11_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490815/original/001976100_1770026229-jualan_es.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488293/original/093524200_1769746071-tirai_jendela1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5494885/original/067165400_1770347594-telur_bebek.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495904/original/087503600_1770444952-Gemini_Generated_Image_7ycbx87ycbx87ycb.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5492871/original/061346200_1770188299-ChatGPT_Image_4_Feb_2026__13.57.45.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3931642/original/069846400_1644592691-pexels-alleksana-6478943_1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5494011/original/017794000_1770274657-Cara_Menyimpan_Sapu__Pel__dan_Ember_di_Rumah_Sempit.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5492840/original/043115600_1770187373-meja_dapur_2a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5492380/original/072358800_1770172634-Cara_Menghilangkan_Lendir_di_Kolam_Ikan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5492387/original/037658000_1770172644-sekat_ruangan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5491442/original/095963800_1770095940-Jenis_Alas_Kandang_Ayam.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5494532/original/088044000_1770295769-0L5A4471.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533446/original/043365700_1773737304-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522319/original/072750000_1772755216-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502437/original/033356900_1770980242-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5377307/original/015426200_1760087940-f.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5472726/original/005463500_1768374194-budidaya_ikan_konsumsi_di_rumah5.jpg)