11 Ternak Modal Rp3 Juta di Desa yang Menjanjikan dan Mudah Dikembangkan

15 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Ternak modal Rp3 juta di desa menjadi topik yang semakin banyak dicari, terutama oleh masyarakat yang ingin memulai usaha dari kampung halaman dengan modal terbatas. Ya, banyak peluang di sektor peternakan yang dapat dimulai dengan modal terbatas,  dan tentunya sangat cocok bagi pemula yang ingin mencari penghasilan tambahan. Konsep ini selain berpeluang menguntungkan, juga mudah dijalankan.

Peluang usaha ternak di desa memiliki daya tarik tersendiri karena ketersediaan lahan, sumber daya alam, serta pasar lokal yang stabil. Berbagai jenis ternak dapat dibudidayakan dengan siklus panen yang cepat, memungkinkan perputaran modal yang efisien dan hasil yang segera terlihat. Hal ini penting untuk menjaga keberlanjutan usaha bagi para pelaku bisnis mikro, sekaligus meminimalkan risiko kerugian.

Untuk itulah, bagi Anda yang ingin berbisnis, mari menyimak inspirasi 11 ide ternak modal Rp3 juta di desa berdasarkan ulasan Liputan6.com dilansir berbagai sumber pada Jumat (27/2/2026).

1. Ternak Ayam Kampung

Usaha ternak ayam kampung, khususnya jenis super, Joper, atau KUB, menjadi pilihan populer karena modal yang dibutuhkan relatif kecil dan perawatannya tidak terlalu rumit. Ayam KUB (Kampung Unggul Balitnak) memiliki daya tahan yang lebih kuat terhadap penyakit dibandingkan ayam ras pedaging biasa. Ini menjadikannya solusi ideal bagi para pemula yang ingin mencoba peruntungan di bidang peternakan.

Untuk memulai, modal awal sekitar Rp300 ribu hingga Rp1 juta sudah cukup untuk mendapatkan puluhan bibit Day Old Chick (DOC) beserta pakan awalnya. Untuk skala yang sedikit lebih besar, yaitu 100 ekor bibit beserta pakan awal, modal yang dibutuhkan berkisar antara Rp1.500.000 hingga Rp2.000.000. Estimasi modal awal untuk 50 ekor DOC ayam kampung, pakan awal, kandang sederhana, serta vitamin dan obat dasar adalah sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta.

Ayam kampung super dikenal memiliki pertumbuhan yang lebih cepat dan dapat dipanen dalam waktu 60 hingga 70 hari. Potensi keuntungan bersih per periode panen bisa mencapai Rp500.000–1 juta, bahkan untuk skala 100 ekor ayam KUB, potensi keuntungan bersih dapat mencapai Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per siklus panen. Perawatannya relatif mudah dan pakan dapat disesuaikan dengan bahan lokal untuk menekan biaya operasional.

2. Budidaya Ikan Lele Kolam Terpal

Budidaya ikan lele sangat menjanjikan karena permintaan pasar yang stabil dan tinggi di berbagai daerah. Lele dikenal sebagai "ikan tangguh" yang bisa bertahan hidup meski dalam kondisi air yang kurang optimal, serta mudah dibudidayakan. Ini menjadikannya salah satu ternak modal Rp3 juta di desa yang menguntungkan.

Modal awal untuk usaha ini bisa dimulai dengan minim sekitar Rp300.000 untuk kolam terpal, bibit, dan pakan awal. Untuk satu kolam terpal berdiameter 2 meter dengan 1.000 ekor benih lele, modal berkisar antara Rp1,5 juta hingga Rp1,8 juta, termasuk pakan selama 3 bulan. Estimasi modal awal untuk satu kolam terpal 2x3 meter meliputi kolam dan rangka (Rp400.000–700.000), bibit 1.000 ekor (Rp200.000–300.000), pakan awal (Rp500.000–800.000), serta obat dan vitamin sekitar Rp100.000.

Siklus panen ikan lele tergolong cepat, yaitu sekitar 2-3 bulan untuk ukuran konsumsi. Dengan modal awal Rp1,5 juta hingga Rp1,8 juta, omzet dapat mencapai Rp3,3 juta dengan keuntungan bersih sekitar Rp1,5 juta per panen. Budidaya lele mudah dijalankan oleh pemula karena perawatannya relatif sederhana dan dapat dilakukan di lahan sempit menggunakan kolam terpal atau ember besar.

3. Ternak Burung Puyuh

Usaha ternak burung puyuh menawarkan perputaran modal yang cepat dan potensi keuntungan yang menarik. Telur dan daging burung puyuh memiliki citarasa lezat dan banyak digunakan sebagai olahan kuliner, menjadikannya komoditas yang diminati.

Untuk memulai usaha puyuh pedaging skala kecil (misalnya 100 ekor), modal yang dibutuhkan bisa dimulai dari Rp500.000 hingga Rp1.000.000. Ini mencakup pembelian bibit, pakan awal, serta pembuatan kandang sederhana. Modal ternak burung puyuh cukup terjangkau, dengan bibit sekitar Rp8 ribu per ekor, kandang sekitar Rp200 ribu, dan pakan Rp10 ribu per kilonya.

Burung puyuh pedaging memiliki siklus panen yang sangat singkat, yaitu sekitar 25-30 hari sejak menetas hingga siap jual. Puyuh petelur dapat mulai menghasilkan telur setiap hari setelah mencapai usia 45 hari, memberikan pemasukan rutin. Usaha ini tidak memerlukan lahan yang luas, sehingga cocok dijalankan di lingkungan pedesaan dan bagi peternak pemula yang menginginkan perputaran uang cepat.

4. Ternak Kelinci

Ternak kelinci pedaging semakin diminati karena modalnya relatif terjangkau dan perawatannya tidak terlalu rumit. Kelinci memiliki banyak manfaat, baik sebagai hewan peliharaan, sumber daging, maupun penghasil bulu.

Modal untuk indukan kelinci lokal jantan sekitar Rp150 ribu dan betina Rp160 ribu, sementara harga indukan kelinci pedaging bisa berkisar Rp200.000-Rp600.000. Untuk memulai, Anda perlu membeli beberapa pasang kelinci (Rp100 ribu - Rp150 ribu per pasang) dan kandang yang mulai dari Rp200 ribu. Modal awal yang dibutuhkan untuk sepasang indukan berkualitas beserta kandang baterai sekitar Rp1 juta.

Kelinci memiliki masa pertumbuhan yang relatif singkat sehingga dapat dipanen lebih cepat. Hewan ini juga dikenal cepat berkembang biak dan memiliki tingkat reproduksi yang tinggi. Setiap induk kelinci dapat melahirkan 4 hingga 5 kali dalam setahun dengan rata-rata 6 anak per kelahiran, dengan potensi pendapatan dari 3 induk bisa mencapai Rp4 juta hingga Rp5 juta per tahun. Pakan kelinci relatif murah karena dapat memanfaatkan rumput liar, daun singkong, atau limbah sayuran.

5. Ternak Jangkrik

Jangkrik merupakan komoditas peternakan yang menguntungkan dengan modal relatif kecil dan permintaan pasar yang stabil. Terutama sebagai pakan burung dan ikan, jangkrik memiliki pasar yang jelas.

Biaya awal yang diperlukan dalam budidaya 1 box jangkrik sampai dengan panen adalah sekitar Rp565.000. Usaha ini bahkan bisa dimulai dengan modal minim sekitar Rp200.000. Estimasi modal awal meliputi telur jangkrik seharga Rp200 ribu per kilo, kotak tempat hidup jangkrik seharga Rp20 ribu - Rp100 ribu, dan pakan jangkrik mulai dari Rp15 ribu.

Masa panen jangkrik tergolong singkat, berkisar antara 25 hingga 30 hari. Siklus hidup yang cepat dan mudah berkembang biak memungkinkan hasil panen didapatkan dalam waktu singkat. Perawatan jangkrik tergolong mudah, hanya perlu memberikan pakan berupa sisa sayuran atau daun pisang kering serta menjaga kelembapan suhu.

6. Ternak Bebek Petelur/Pedaging

Usaha ternak bebek menjanjikan keuntungan besar, baik dari telur maupun dagingnya, terutama bagi masyarakat pedesaan. Bebek sangat cocok untuk diternak di pedesaan lantaran identik dengan lokasi umbaran yang luas.

Modal untuk memulai usaha bebek bisa disesuaikan, bahkan dengan Rp1.000.000 hingga Rp3.000.000. Skala usaha dapat disesuaikan dengan ketersediaan modal awal.

Bebek pedaging dapat dipanen dalam waktu 45 hingga 60 hari, sementara bebek petelur dapat menghasilkan telur setiap hari. Siklus produksi yang cepat ini memastikan perputaran modal yang efisien. Bebek termasuk salah satu unggas yang tangguh dan tidak mudah terjangkit penyakit, sehingga tidak perlu perawatan khusus. Pakannya cukup dengan dedak atau keong mas yang relatif mudah didapatkan dan murah harganya.

7. Ternak Ikan Nila

Ikan nila adalah jenis ikan air tawar yang memiliki permintaan tinggi di pasar, bahkan di tahun 2026 tetap menjadi primadona di warung-warung makan dan rumah makan. Ini menjadikannya salah satu ternak modal Rp3 juta di desa yang menguntungkan.

Modal pembuatan kolam (jika menggunakan tenaga sendiri) dan pembelian 1.000 benih nila ukuran 3-5 cm adalah sekitar Rp2 juta. Modal awal untuk memulai usaha ternak ikan nila termasuk biaya pembuatan kolam, bibit ikan, dan pakan. Ikan ini mudah dibudidayakan dan memiliki tingkat pertumbuhan yang cepat. Masa panen biasanya berlangsung 3-5 bulan untuk mencapai ukuran konsumsi. 

8. Ternak Cacing Tanah

Cacing tanah memiliki banyak manfaat, baik sebagai pakan ternak maupun sebagai bahan baku pupuk organik (vermicompost). Produk dari ternak cacing seperti kompos dan pupuk cair memiliki permintaan tinggi di pasar, terutama di kalangan petani organik.

Ide bisnis peternakan modal kecil ini sangat terjangkau, mulai dari Rp200.000 sampai Rp800.000. Modal awal relatif kecil, meliputi biaya pembelian bibit cacing dan media tanam seperti kotoran ternak atau sampah organik.

Cacing memiliki siklus reproduksi yang cepat, sehingga hasil panen bisa didapatkan dalam waktu singkat. Dengan manajemen yang baik, usaha ini bisa memberikan keuntungan yang konsisten dan berkelanjutan. Usaha ternak cacing tidak memerlukan lahan yang luas dan bisa dilakukan di pekarangan rumah.

9. Budidaya Maggot BSF (Black Soldier Fly)

Budidaya maggot (larva Black Soldier Fly/BSF) merupakan salah satu peluang usaha paling menarik di desa. Permintaan pakan alami untuk ikan, unggas, dan reptil terus meningkat, menjadikan maggot alternatif pakan yang lebih murah, bergizi tinggi, dan ramah lingkungan.

Modal untuk budidaya maggot relatif kecil, bisa dimulai dari skala rumahan menggunakan ember, box plastik, atau rak kayu. Ini menjadikannya salah satu ternak modal Rp3 juta di desa yang menguntungkan dan mudah dijalankan.

Siklus panen maggot sangat cepat, yaitu 10-14 hari, memungkinkan perputaran uang yang sangat cepat. Permintaan tinggi dan stabil datang dari pembudidaya lele, nila, patin, peternak ayam dan bebek, pemilik burung kicau, hingga toko pakan ternak. Maggot dapat memanfaatkan limbah organik sebagai pakan, sehingga biaya operasional dapat ditekan.

10. Budidaya Cacing Sutra

Budidaya cacing sutra juga merupakan peluang usaha yang menjanjikan karena permintaan pakan alami untuk ikan, unggas, dan reptil terus meningkat. Cacing sutra memiliki kandungan nutrisi tinggi yang sangat dibutuhkan.

Modal relatif kecil, bisa dimulai dari skala rumahan menggunakan ember, box plastik, atau rak kayu. Estimasi modal awal biasanya hanya untuk membeli bibit cacing sutra, wadah/baskom, media tumbuh seperti dedak atau ampas tahu, dan sedikit pakan tambahan. Totalnya berkisar antara Rp50.000 hingga Rp150.000 tergantung skala budidaya.

Siklus panen cacing sutra cepat, yaitu 15-25 hari, memungkinkan perputaran uang yang sangat cepat. Usaha ini memiliki pasar yang stabil untuk penjualan rutin. Budidayanya bisa dilakukan di wadah kecil atau ember bertingkat, sangat cocok untuk ternak modal Rp3 juta di desa yang mudah dijalankan.

11. Budidaya Kutu Air

Kutu air, seperti moina atau daphnia, banyak dibutuhkan sebagai pakan alami untuk ikan hias dan ikan konsumsi karena kandungan nutrisinya tinggi. Ini menjadikannya komoditas penting dalam industri perikanan.

Modal sekitar Rp50 ribu sudah cukup untuk membeli bibit kultur awal dan menyiapkan wadah sederhana seperti baskom. Angka ini menunjukkan betapa terjangkaunya usaha ini untuk pemula.

Permintaan pakan alami yang konstan membuat usaha ternak kutu air memiliki pasar jelas dan berkelanjutan. Budidaya ini sangat cocok untuk pemula dengan anggaran terbatas dan merupakan salah satu ternak modal Rp3 juta di desa yang menguntungkan.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Topik

1. Apa saja jenis ternak yang bisa dimulai dengan modal Rp3 juta di desa?

Jenis ternak yang bisa dimulai dengan modal Rp3 juta di desa antara lain ayam kampung, lele, burung puyuh, kelinci, jangkrik, bebek, ikan nila, cacing tanah, maggot BSF, cacing sutra, dan kutu air.

2. Mengapa usaha ternak ini cocok untuk pemula di desa?

Usaha ternak ini cocok untuk pemula di desa karena modalnya relatif kecil, perawatannya mudah, siklus panennya cepat, dan dapat memanfaatkan sumber daya serta lahan terbatas di desa.

3. Berapa potensi keuntungan dari ternak modal Rp3 juta di desa?

Potensi keuntungan bervariasi tergantung jenis ternak, namun beberapa seperti ayam kampung bisa mencapai Rp500 ribu-Rp2 juta per panen, dan lele bisa mencapai Rp1,5 juta per panen.

4. Apakah ternak ini membutuhkan lahan yang luas?

Sebagian besar jenis ternak ini tidak membutuhkan lahan yang luas, bahkan bisa dilakukan di pekarangan rumah, kolam terpal, atau wadah sederhana seperti ember.

5. Bisakah usaha ternak modal kecil berkembang besar?

Bisa, jika keuntungan diputar kembali dan dikelola secara konsisten.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |