Liputan6.com, Jakarta - Profesi pelukis sering kali dipandang sebagai dunia yang sepenuhnya digerakkan oleh kreativitas dan ekspresi artistik. Namun dalam praktiknya, seorang pelukis juga perlu memahami bagaimana cara menjalankan usaha dari karya yang dihasilkan. Tanpa strategi yang tepat, karya seni yang memiliki nilai estetika tinggi belum tentu mampu menjangkau pasar atau mendapatkan apresiasi yang luas dari masyarakat.
Bagi sebagian seniman, menjaga keberlangsungan profesi sebagai pelukis memerlukan komitmen yang kuat, kemampuan membangun relasi, serta strategi memperkenalkan karya kepada publik. Hal ini juga dirasakan oleh Agus Nuryanto, seorang seniman seni rupa asal Sleman yang telah lama menekuni dunia lukis dengan ciri khas karya bertema wayang.
Hal inilah yang dilakukan Agus Nuryanto (55), pelukis asal Dusun Dagen, Kelurahan Sidoarum, Godean, Sleman. Sudah hobi menggambar sejak kecil, ia mulai fokus terjun ke dunia seni lukis pada tahun 2020 dengan membuat pameran tunggal berjudul "Agus Nuryanto" di Hotel Melia Purosani, Kota Yogyakarta. Lalu bagaimana strateginya dalam mengembangkan karya seninya sebagai salah satu ladang bisnisnya? Berikut selengkapnya.
Menentukan Komitmen Awal dalam Dunia Seni Lukis
Menjalankan usaha sebagai pelukis tidak hanya bergantung pada kemampuan menggambar, tetapi juga pada keseriusan dalam menjadikan seni sebagai bagian dari perjalanan hidup. Agus Nuryanto menilai bahwa komitmen menjadi fondasi utama agar seorang pelukis dapat terus berkarya sekaligus membangun peluang ekonomi dari karya yang dihasilkan.
Komitmen tersebut juga menjadi dorongan untuk tetap berkarya meskipun menghadapi berbagai tantangan, baik dari sisi pasar maupun kondisi pribadi. Bagi seorang pelukis, keyakinan terhadap pilihan profesi menjadi faktor penting agar tetap konsisten menghasilkan karya.
“Kalau saya sebenarnya ini melukis kan bagian daripada kehidupan saya. Jadi menurut saya bahwa orang itu harus sesuai dengan janji, artinya meyakini janjinya dengan diri sendiri. Kalau saya mempunyai niat dari dulu pengin melukis ya mau tidak mau komitmen itu harus tetap kita jalankan, apapun risikonya karena sudah menjadi janji,” ungkapnya saat ditemui Liputan6.com di rumahnya pada Rabu (12/3).
Membangun Komunitas sebagai Dukungan Karier
Selain komitmen pribadi, seorang pelukis juga membutuhkan lingkungan yang mendukung untuk berkembang. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan membangun atau bergabung dalam komunitas seniman. Melalui komunitas, para pelukis dapat saling berbagi pengalaman, berdiskusi, hingga mengadakan kegiatan seni secara bersama.
Pada tahun 2000, Agus bersama rekan-rekannya pernah membentuk sebuah komunitas bernama Kelompok Sepi, singkatan dari Kelompok Seniman Pinggiran. Komunitas ini menjadi wadah bagi para seniman yang memiliki minat yang sama untuk tetap aktif berkarya meskipun memiliki keterbatasan akses terhadap jaringan seni yang lebih luas.
“Kelompok sepi itu kelompok seniman pinggiran. Kata pinggiran ini memberikan asumsi bahwa kelompok ini tidak punya akses secara legalitas, akses secara kesenian, akses secara apapun. Kita hanya meyakini bahwa kita punya kelompok yang mempunyai hobi yang sama. Jadi kita memang tidak punya kemampuan untuk mengakses birokrasi, tidak punya kenalan kolektor, tidak punya akses sponsor dan sebagainya,” ungkap Agus.
Menyelenggarakan Pameran untuk Memperluas Pasar
Dalam dunia seni rupa, pameran memiliki peran penting sebagai sarana memperkenalkan karya kepada publik. Pameran tidak hanya menjadi ruang untuk menampilkan karya, tetapi juga menjadi kesempatan bagi pelukis untuk memperluas jaringan dengan berbagai pihak yang berkaitan dengan dunia seni.
Melalui pameran, pelukis dapat bertemu dengan penikmat seni, kurator, hingga kolektor yang berpotensi membeli karya. Oleh karena itu, pameran sering kali menjadi strategi utama dalam memperkenalkan karya sekaligus membuka peluang ekonomi bagi para pelukis.
“Nah, usaha-usaha untuk bisa tetap eksis itu kan seniman diwajibkan secara tidak tertulis harus mengadakan pameran. Pameran itu menjaga eksistensi. Dengan pameran ini akan ketemu berbagai banyak orang termasuk kolektor. Nah, di dalam pertemuan dengan kolektor itu diharapkan akan terjadi penghargaan, bahasanya terjual lah gitu,” katanya.
Menghitung Strategi Pameran Secara Matang
Meskipun identik dengan kreativitas, penyelenggaraan pameran tetap memerlukan perencanaan yang matang. Agus menilai bahwa seorang pelukis perlu menghitung berbagai aspek sebelum mengadakan pameran, mulai dari lokasi, biaya, hingga siapa saja yang akan diundang.
Perhitungan tersebut penting karena pameran tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan seni, tetapi juga berkaitan dengan peluang transaksi karya. Tanpa perencanaan yang tepat, sebuah pameran berpotensi menimbulkan kerugian bagi pelukis yang menyelenggarakannya.
“Pameran itu sebenarnya bagaimana membuat pameran, itu otomatis menghitung kalkulasi di mana saya pameran, cost-nya harus sampai berapa dan sebagainya. Terus untuk bisa menjadi terkoleksi itu juga memilih siapa yang membuka dan siapa yang diundang. Jadi pameran itu harus dikalkulasi tempatnya, bagaimana tempatnya, terus siapa yang membuka dan siapa yang diundang,” kata Agus.
Membangun Relasi dengan Kolektor Seni
Dalam menjalankan usaha di bidang seni lukis, relasi dengan kolektor menjadi salah satu faktor penting. Kolektor merupakan pihak yang memiliki ketertarikan untuk mengoleksi karya seni dan sering kali menjadi pasar utama bagi para pelukis.
Hubungan dengan kolektor biasanya terbangun melalui berbagai kegiatan seni seperti pameran atau pertemuan dalam komunitas seni. Dari pertemuan tersebut, pelukis memiliki kesempatan untuk memperkenalkan karya sekaligus membangun jaringan yang dapat mendukung perkembangan kariernya.
“Dengan pameran ini akan ketemu berbagai banyak orang termasuk kolektor. Nah, di dalam kolektor, di dalam pertemuan dengan kolektor itu diharapkan akan terjadi penghargaan, ya bahasanya terjual lah gitu. Nah, seperti itu, jadi bagaimana cara menjual lukisan salah satunya dengan pameran,” ujarnya.
Menjadikan Pameran sebagai Bagian dari Strategi Penjualan
Dalam dunia seni rupa, proses penjualan karya tidak selalu dilakukan secara langsung seperti bisnis pada umumnya. Banyak pelukis memanfaatkan pameran sebagai sarana untuk memperkenalkan karya sekaligus membuka peluang transaksi dengan kolektor.
Menurut Agus, pameran sebenarnya dapat dipandang sebagai bagian dari strategi pemasaran karya seni. Melalui kegiatan tersebut, karya tidak hanya dipamerkan kepada publik tetapi juga memiliki peluang untuk dikoleksi oleh penikmat seni.
“Jadi kita juga melukis itu salah satu bagian dari seni menjual. Pameran itu adalah bagian dari seni menjual. Jadi bukan hanya melukis saja, tetapi bagaimana karya itu dipamerkan dan bertemu dengan orang-orang yang bisa menghargai karya tersebut,” terangnya.
Konsistensi Berkarya untuk Menjaga Keberlanjutan Usaha
Selain strategi pameran dan jaringan relasi, konsistensi dalam berkarya juga menjadi faktor penting bagi seorang pelukis. Tanpa karya baru, seorang seniman akan kesulitan menjaga eksistensinya dalam dunia seni yang terus berkembang.
Bagi Agus, motivasi untuk terus berkarya dapat muncul dari berbagai hal, salah satunya adalah adanya rencana pameran yang mendorong pelukis untuk terus menghasilkan karya baru. Dengan cara tersebut, produktivitas dapat terjaga sekaligus mendukung keberlangsungan usaha di bidang seni lukis.
“Kalau seniman tidak punya niat, tidak punya janji dan tidak punya keinginan untuk pameran, baru barangkali idenya akan mandul, akan macet, akan tidak ingin lagi untuk melukis. Jadi komitmen project pameran ini menjadi motivasi untuk tetap bisa berkarya,” pungkasnya.
Pertanyaan dan Jawaban
1. Bagaimana cara pelukis memulai usaha dari karya seni?
Pelukis dapat memulai usaha dari karya seni dengan membangun komitmen untuk terus berkarya sekaligus memikirkan cara memperkenalkan karya kepada publik. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain mengikuti pameran seni, bergabung dengan komunitas seniman, serta membangun jaringan dengan kolektor atau penikmat seni. Melalui langkah tersebut, karya yang dihasilkan memiliki peluang lebih besar untuk dikenal dan diapresiasi oleh masyarakat.
2. Mengapa pameran penting bagi pelukis?
Pameran menjadi sarana penting bagi pelukis untuk memperkenalkan karya kepada publik sekaligus memperluas jaringan di dunia seni rupa. Melalui pameran, pelukis dapat bertemu dengan kurator, kolektor, hingga penikmat seni yang berpotensi mengoleksi karya mereka. Selain menjaga eksistensi seniman, pameran juga membuka peluang transaksi karya.
3. Apa peran komunitas dalam perkembangan karier pelukis?
Komunitas memiliki peran penting sebagai ruang bagi pelukis untuk saling berbagi pengalaman, berdiskusi, dan mengadakan kegiatan seni bersama. Dengan bergabung dalam komunitas, pelukis dapat memperluas jaringan, mendapatkan dukungan moral, serta menemukan peluang kolaborasi yang dapat membantu perkembangan karier mereka di dunia seni.
4. Bagaimana cara menjual lukisan agar menarik minat kolektor?
Salah satu cara efektif menjual lukisan adalah dengan menampilkan karya dalam pameran seni. Selain itu, pelukis juga perlu membangun relasi dengan kolektor dan aktif dalam kegiatan seni. Strategi ini membantu karya lebih mudah dikenal dan meningkatkan kemungkinan lukisan tersebut dikoleksi oleh penikmat seni.
5. Mengapa konsistensi penting bagi pelukis yang menjalankan usaha?
Konsistensi berkarya sangat penting agar pelukis tetap produktif dan terus menghasilkan karya baru. Tanpa konsistensi, pelukis akan kesulitan mempertahankan eksistensi di dunia seni rupa. Selain itu, rencana pameran atau proyek seni sering menjadi motivasi bagi pelukis untuk terus menciptakan karya yang dapat dipasarkan kepada publik.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529884/original/097343800_1773385191-unnamed__16_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4809532/original/077515600_1713801361-juan-encalada-SCteCA0Mf1A-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529870/original/098577600_1773384936-tanpa_cat_10a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/929545/original/035389600_1436945386-makanan-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2896079/original/021283800_1567063774-natural-3808184_960_720.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5525346/original/028845100_1773038866-pagar_rumah_desa_tidak_mencolok_9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429022/original/072016600_1764571444-mother-with-baby-daughter-working-computer-from-home.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5530011/original/004756700_1773389130-unnamed_-_2026-03-13T150405.181.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529946/original/089609900_1773387004-unnamed__92_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/928402/original/063437600_1436862304-frs_firstAidKit.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529882/original/095009300_1773385107-elena-rouame-9JU2CKqtw0M-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529928/original/090225400_1773386765-unnamed__75_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529740/original/092160800_1773379297-unnamed__5_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5486057/original/070316100_1769573415-panen_lele2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529774/original/027076800_1773381326-unnamed__90_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452120/original/047785700_1766386074-Desain_Teras_Sederhana_dengan_Area_Hijau_untuk_Rumah_Desain_Kanopi_Transparan_serta_Tanaman.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4392354/original/038664200_1681288233-mufid-majnun-P4ONXslEkxM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529796/original/080968800_1773381602-unnamed__68_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5441126/original/029224300_1765453460-Ide_Bekal_Nasi_Kota_Lauk_Ikan_Tongkol_Suwir.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523635/original/090368600_1772853336-cover_organza.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424174/original/010000300_1764135175-AI_Repair-Pro-image-9.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5434426/original/076779000_1764927095-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417414/original/006322500_1763533451-rumah_dengan_taman_mini_indoor.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429077/original/070740500_1764573200-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427532/original/056138500_1764394611-unnamed_-_2025-11-29T123454.290.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427755/original/029652600_1764414367-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5430238/original/012907900_1764656898-inspirasi_kebun_sederhana_untuk_rumah_tipe_36.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429140/original/035614400_1764575033-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427469/original/035461200_1764389837-kebun_mini_di_balkon.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5434562/original/053117900_1764933186-Hero_Helcurt.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5423681/original/088639200_1764072787-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/4479258/original/095680100_1687539864-Hutan_Eukaliptis_di_IKN.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5430028/original/021123000_1764650339-mata_uang_asing.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425714/original/021517000_1764235298-Pantun_Sunda_Foto_Galeri_Indonesia_Kaya_Fimela.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5421804/original/032320200_1763959679-Quality_Restoration-Ultra_HD-image-8.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5432250/original/057900500_1764762013-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5428756/original/090311000_1764562291-desain_teras_rumah_kecil_ukuran_2x2_minimalis.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5464864/original/038532400_1767752280-Membersihkan_Blender.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5434416/original/001727500_1764927012-model_rumah_minimalis_di_lahan_miring__9_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5466190/original/088167400_1767839290-Cara_Ternak_Ikan_Mas_di_Ember_Bekas.jpg)