Ternak Jangkrik vs Kroto Mana Lebih Menguntungkan? Simak Perbandingannya

5 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Ternak jangkrik vs kroto mana lebih menguntungkan sering menjadi pertimbangan bagi calon peternak yang ingin memulai usaha pakan hewan. Kedua jenis ternak ini memiliki permintaan pasar stabil dan modal awal yang relatif terjangkau, sehingga menarik untuk dijalankan.

Banyak yang menimbang ternak jangkrik vs kroto mana lebih menguntungkan karena karakter budidayanya berbeda. Jangkrik lebih mudah dirawat, sementara kroto bernilai jual tinggi tapi membutuhkan perawatan lebih khusus.

Dengan memahami ternak jangkrik vs kroto mana lebih menguntungkan, calon peternak bisa menilai modal, kesulitan perawatan, dan potensi keuntungan agar usaha berjalan lebih efektif dan menguntungkan.

Berikut Liputan6.com merangkum dari berbagai sumber tentang ternak jangkrik vs kroto mana lebih menguntungkan, Selasa (10/3/2026).

Potensi Usaha Ternak Jangkrik

Usaha ternak jangkrik memiliki potensi omzet yang menjanjikan, bahkan bisa dirasakan harian maupun bulanan. Harga jual jangkrik di pasaran bisa mencapai puluhan ribu rupiah per kilogram, sehingga panen 50 kg per hari berpotensi menghasilkan omzet hingga jutaan rupiah.

Modal awal budidaya tergolong relatif murah dan bisa dimulai skala kecil, dengan estimasi biaya sekitar beberapa ratus ribu rupiah untuk satu kotak hingga panen pertama.

Masa panen jangkrik cukup singkat, berkisar antara 30–40 hari dari telur menetas, bahkan bisa lebih cepat jika diberikan pakan bergizi. Jangkrik merupakan serangga omnivora yang mudah dipelihara, dengan pakan sederhana seperti ampas tahu, daun hanjuang, atau pelet ikan.

Budidaya jangkrik juga tergolong ramah lingkungan karena memerlukan sumber daya lebih sedikit dan menghasilkan emisi yang lebih rendah dibandingkan peternakan besar.

Permintaan pasar untuk jangkrik sangat tinggi, terutama sebagai pakan burung kicau, ikan hias, reptil, atau bahkan bahan makanan manusia. Pemasaran bisa dilakukan melalui komunitas burung, toko pakan, kolam pancing sebagai umpan, atau diolah menjadi tepung jangkrik.

Meski menjanjikan, usaha ini tetap memiliki risiko, seperti fluktuasi harga, kematian massal akibat penyakit atau kondisi lingkungan tidak stabil, serta gangguan hama seperti semut dan tikus. Kondisi kandang yang ideal menjadi kunci agar jangkrik tetap sehat dan produksi tetap maksimal.

Potensi Usaha Ternak Kroto

Ternak kroto menawarkan potensi keuntungan yang sangat menarik karena harga jualnya cukup tinggi. Kroto dapat dijual mulai dari ratusan ribu rupiah per kilogram, tergantung kualitas dan kondisi pasar.

Dengan penjualan rata-rata 1 kg per hari, usaha ini berpotensi menghasilkan penghasilan jutaan rupiah per bulan. Modal awal untuk memulai budidaya kroto relatif ringan, bahkan bisa dimulai dengan satu toples bibit dengan biaya yang terjangkau, sehingga cocok untuk skala rumahan.

Kroto merupakan telur semut rangrang yang kaya protein dan sangat diminati sebagai pakan burung maupun ikan. Budidayanya dapat dilakukan di lahan terbatas, seperti pekarangan rumah, tanpa membutuhkan area luas.

Perawatannya cukup sederhana dengan pakan berupa sisa sayuran, buah-buahan layu, atau tambahan susu. Panen dilakukan secara selektif agar koloni tetap berkembang, biasanya bisa dilakukan setiap dua minggu setelah panen perdana 2–3 bulan.

Pasar kroto sangat luas, terutama di kalangan pecinta burung kicau dan pemancing. Permintaan terus meningkat seiring terbatasnya pasokan dari alam, sehingga harga cenderung stabil dan tinggi. Pemasaran bisa dilakukan ke berbagai daerah bahkan memanfaatkan platform online.

Meski menjanjikan, ternak kroto memiliki tantangan, seperti kurangnya pengetahuan yang dapat menyebabkan kegagalan budidaya, perang antar koloni semut saat digabung, penempatan rak yang tidak tepat, serta ancaman predator seperti cicak dan kadal yang bisa mengganggu koloni.

Perbandingan Keuntungan dan Tantangan

Baik ternak jangkrik maupun kroto sama-sama menawarkan potensi keuntungan menarik dengan modal relatif kecil dan siklus panen cepat. Ternak jangkrik membutuhkan modal awal terjangkau dengan siklus panen sekitar 30–40 hari.

Sementara itu, budidaya kroto juga memiliki modal rendah, dengan panen yang bisa dilakukan setiap dua minggu setelah panen perdana 2–3 bulan. Perawatan kroto tergolong sederhana dan tidak memerlukan lahan luas, sehingga sangat cocok untuk pemula.

Jangkrik memiliki pasar yang lebih beragam, tidak hanya sebagai pakan burung tetapi juga untuk ikan hias, reptil, dan bahkan konsumsi manusia, dengan harga jual sekitar Rp45.000 per kilogram.

Sedangkan kroto menawarkan harga jual per kilogram jauh lebih tinggi, mencapai Rp150.000–Rp250.000, dengan pasar utama bagi pecinta burung kicau dan pemancing. Permintaan kroto cenderung stabil dan terus meningkat karena pasokan dari alam yang terbatas.

Pilihan antara ternak jangkrik vs kroto mana lebih menguntungkan sangat bergantung pada minat, ketersediaan sumber daya, dan kemampuan peternak dalam mengelola risiko.

Jangkrik unggul dari segi pasar yang luas dan potensi omzet harian, sementara kroto lebih unggul dalam modal awal yang rendah, perawatan sederhana, dan harga jual per kilogram yang tinggi. Kedua usaha ini menjanjikan, namun pemahaman mendalam tentang manajemen budidaya masing-masing menjadi kunci keberhasilan.

Q & A Seputar Topik

Berapa modal awal yang dibutuhkan untuk ternak jangkrik?

Modal awal untuk budidaya jangkrik relatif murah, bisa dimulai dengan sekitar Rp565.000 untuk satu kotak hingga panen, atau sekitar Rp931.000 untuk potensi penghasilan bulanan Rp2.800.000.

Berapa harga jual kroto di pasaran?

Harga jual kroto di pasaran cukup tinggi, dapat mencapai Rp150.000 hingga Rp250.000 per kilogram, bahkan bisa mencapai Rp502.000 per kg untuk tepung kroto, tergantung kualitas dan kondisi pasar.

Apa saja risiko dalam usaha ternak jangkrik?

Risiko ternak jangkrik meliputi fluktuasi harga jual, kematian massal akibat penyakit atau lingkungan tidak stabil, hama seperti semut dan tikus, serta kondisi kandang tidak ideal.

Apakah ternak kroto membutuhkan lahan yang luas?

Budidaya kroto dapat dilakukan di lahan terbatas seperti pekarangan rumah, tanpa membutuhkan lahan luas, bahkan dengan modal awal sekitar Rp25.000 per toples bibit.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |