Terapkan Integrated Farming, Rumah di Jogja Wujudkan Ketahanan Pangan yang Tekan 70% Pengeluaran

2 days ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Di sebuah komplek perumahan di Yogyakarta, gemericik air kolam lele berpadu dengan kotekan ayam petelur dan rimbunnya tanaman sayuran. Itu tidak terjadi di pedesaan, melainkan di halaman rumah Taufik Azhar, atau yang akrab disapa Ziarry, seorang sarjana Ilmu Komunikasi lulusan Universitas Ahmad Dahlan yang justru menemukan "kelulusan" sesungguhnya bukan di balik meja kerja, melainkan di tengah kebun dan kolam yang ia kelola Bersama kedua rekannya.

Hanya dalam tiga bulan sejak digagas pada November 2025, proyek integrasi pertanian, peternakan, dan pengelolaan limbah yang ia sebut "Piramida Project" berhasil menekan pengeluaran pangan hingga 70%. Itu juga menjadi meditasinya untuk meraih kesuksesan spiritual, emosional, sosial, dan finansial.

"Ketika kita sudah berdamai dengan Tuhan dan hubungan sosial kita baik, uang akan mengikuti," ujar Ziarry Ketika ditemui di rumah kontrakannya di Komplek Perumahan BULOG Jl. Laksda Adisucipto No.8, Kalongan, Maguwoharjo, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Selasa 13 Januari 2026. Filosofi inilah yang menjadi fondasi Piramida Project, sebuah eksperimen hidup mandiri yang mulai menginspirasi banyak anak muda untuk kembali ke tanah dan mengenal diri mereka yang sesungguhnya.

Sebuah Pencarian Makna

Taufik Azhar bukan tipikal lulusan yang langsung berburu pekerjaan kantoran. Mantan atlet taekwondo berskala internasional ini pernah bertanding hingga Thailand mewakili kampus dan Indonesia. Setelah lulus dengan beasiswa penuh dari kampusnya dalam waktu 3,5 tahun, ia sempat membuat platform bernama "Sarjana AI" yang mengajarkan mahasiswa memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk penelitian. Platform tersebut berkembang pesat dengan hampir 18.500 pengikut dan mengantarkannya diundang ke berbagai kampus. Namun, di tengah kesuksesan Sarjana AI, Ziarry merasa ada yang kurang.

"Masa iya sih mikirin skripsi terus, gitu? Masa iya sih harus mikirin soal penelitian terus?" refleksinya. Ia sudah membimbing puluhan mahasiswa hingga lulus, tapi justru merasa terjebak dalam lingkaran akademik yang sama.

Pertanyaan sederhana pun muncul, "Mengapa aktivitas bertani, berkebun, dan beternak hanya identik dengan generasi tua?"

Di tengah statusnya sebagai sarjana fresh graduate yang belum bekerja, ia juga memikirkan bagaimana bisa tetap makan dengan aman tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Dari sinilah lahir filosofi dasar Piramida Project.

"Aku punya keinginan, dari aku lulus sampai nanti aku tua tidak ikut kerja dengan orang lain. Bukan tidak bisa tapi aku lebih nyaman kerja untuk menyesuaikan energi, bukan menyesuaikan waktu," jelasnya. Ia menolak konsep menukar waktu untuk uang, lebih memilih bekerja selaras dengan ritme dan energi dirinya sendiri.

Konsep Piramida Project dibangun di atas empat pilar utama, yaitu Spiritual, Emosional, Sosial, dan Finansial. Finansial memang sengaja ia tempatkan sebagai prioritas terakhir.

"Justru uang itu kami taruh di akhir. Karena bagiku, ketika kita sudah mengenal dan berdamai dengan Tuhan dan hubungan sosial kita itu baik, uang pasti aja mengikuti," ujarnya. Filosofi ini bukan sekadar teori; ia telah membuktikannya melalui e-book yang dijualnya seharga Rp119.000 dan laku 20-30 eksemplar per hari tanpa promosi agresif.

Integrated Farming, Sistem Terintegrasi di Halaman Rumah

Piramida Project secara resmi mulai dipikirkan pada 12 November 2025, meskipun eksekusinya baru berjalan kemudian. Dalam periode singkat tersebut, transformasi halaman rumah menjadi ekosistem produktif yang terintegrasi sungguh mengesankan. "Aku enggak percaya bahwa apa yang terjadi bisa sepesat ini," akunya.

Bulan pertama difokuskan untuk membangun fondasi sistem terintegrasi dengan prinsip zero waste, semua limbah harus menjadi sumber daya. Kebun sayur, kolam ikan, dan kandang ayam didesain agar saling terhubung dalam satu siklus tertutup. Setiap limbah yang dihasilkan sudah dipikirkan pengelolaannya sejak awal.

Kini, halaman rumah Ziarry telah berubah menjadi "supermarket" pribadi yang produktif. Untuk kebutuhan protein, ia memelihara 5 ekor ayam petelur yang menghasilkan 3-4 butir telur setiap hari, yang cukup untuk memastikan setiap penghuni rumah mendapat 1 telur per hari. Sementara untuk protein hewani lainnya, kolam lele dengan tebar awal 1.000 bibit menyediakan panen harian sesuai kebutuhan.

"Kalau mau makan tinggal serok," katanya.

Bagian kebun tak kalah produktif. Kangkung, bayam Brasil, sawi, kemangi, tomat, cabai, dan terong tumbuh subur dengan sistem tanam sekali, panen berkali-kali. Bayam Brasil yang awalnya hanya 6 tanaman kini memenuhi rak bedengan karena semakin dipanen, ia semakin produktif. "Semua sayuran di sini bisa panen terus menerus," jelasnya.

Efisiensi ekonomi yang dihasilkan pun nyata dan terukur. Untuk ayam petelur saja, dengan biaya pakan Rp350.000 per karung yang bisa bertahan 3 bulan untuk 5 ekor ayam, telur yang dihasilkan masih memberikan keuntungan sekitar Rp200.000.

"Artinya itu baru cuma ayam aja itu sudah menekan (pengeluaran)," paparnya.

Untuk lele, bibit seharga Rp300 per ekor dengan pakan pellet Rp250.000 per karung yang juga bertahan 3 bulan memberikan nilai ekonomi yang sangat menguntungkan. Ditambah dengan pakan alternatif maggot dan azola, biaya bisa ditekan lebih jauh lagi.

Perhitungan kasarnya menunjukkan penghematan hingga 82% dari pengeluaran pangan sebelumnya. Namun, dengan memperhitungkan faktor risiko seperti tanaman yang tidak hidup atau lele yang mati, angka stabil yang bisa dicapai adalah penghematan 70% untuk kebutuhan makan sehari-hari. "Sangat worth it," tegasnya.

Siklus Zero Waste, Sampah Menjadi Berkah

Prinsip zero waste bukan sekadar jargon di Piramida Project—ia adalah kenyataan yang berjalan setiap hari. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, komposisi sampah di Indonesia didominasi oleh sampah organik sekitar 57% dari total timbulan sampah. Ziarry melihat potensi besar dalam mengubah "sampah" menjadi sumber daya produktif.

Sistem pengelolaan limbah organik di Piramida Project bertumpu pada tiga pilar utama. Pertama, siklus maggot BSF (Black Soldier Fly). Larva lalat tentara hitam ini memiliki kemampuan luar biasa dalam mengurai sampah organik. Dalam waktu 24 jam, 10.000 ekor maggot BSF dapat mengurai 5 kg sampah organik. Bahkan lebih impresif lagi, 10 gram maggot BSF mampu menghabiskan 100 kg sampah dalam masa pembesaran 24 hari hingga 1 bulan.

"Semua sampah dapur kami, sampah kebun kami, apapun yang menjadi sampah dan itu bisa diurai oleh maggot semua yang masuk maggot," ungkap Ziarry. Bahkan ada kejadian yang membuktikan efisiensi maggot, ketika sekitar 20 ekor lele mati karena kesalahan penempatan, dalam semalam maggot sudah menghabiskannya tanpa sisa. "Wow, seserakah itu dia," katanya terheran.

Maggot yang dihasilkan bukan hanya pengurai sampah, tetapi juga menjadi pakan protein tinggi untuk ayam dan ikan. Kandungan protein dalam maggot BSF sangat tinggi, mencapai 40-50%, sehingga sangat cocok sebagai pengganti pakan pelet yang harganya terus meningkat.

Kedua, pupuk kompos dari kandang ayam. Sistem alas kandang ayam dirancang untuk menghasilkan kompos secara alami. Setiap 3-4 bulan, Ziarry bisa memanen 2 karung pupuk kompos dari alas kandang yang diolah secara alami oleh ayam itu sendiri. "Dua karung itu bisa kita gunakan beberapa bulan," jelasnya. Dengan sistem ini, ia tidak perlu lagi membeli pupuk kompos untuk kebunnya.

Ketiga, air kolam lele yang kaya nutrisi. Air dari kolam lele mengandung amonia hasil metabolisme ikan yang terurai secara alami dan kaya akan unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Setiap tiga hari sekali, air ini digunakan untuk menyiram tanaman, memberikan nutrisi tambahan yang mendukung pertumbuhan optimal.

Semua proses ini berjalan hampir otomatis. "Taruh tunggu jadi, taruh tunggu jadi, semuanya rata-rata kayak gitu," kata Ziarry menggambarkan betapa efisiennya sistem yang ia bangun. Tidak ada tenaga ekstra yang dikeluarkan—alam bekerja dengan sendirinya dalam siklus yang telah dirancang dengan cermat.

Panen Sehari-hari yang Tak Hanya untuk Perut

Di Piramida Project, konsep "panen" memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar mengumpulkan sayuran atau menangkap ikan. Ada "panen" non-materi yang justru lebih berharga bagi Ziarry dan tim.

Panen emosional datang dari ketenangan yang tak ternilai harganya. Keputusan untuk tidak menjual hasil produksi sama sekali adalah bukti nyata komitmen mereka pada filosofi Piramida. Ziarry pernah mencoba menjual lele—separuh dijual mentah, separuh dimarinasinya—yang menghasilkan sekitar Rp3 juta per bulan. Namun, ia menyadari sesuatu yang penting.

"Effort yang dikeluarkan selama 1 bulan, memikirkan, merawat dan lain sebagainya itu mengganggu emosional kami untuk bisa menjalankan hidup lebih tenang," refleksinya. Setiap pagi harus memikirkan target penjualan, mengurus pesanan, dan segala kerumitan bisnis ternyata menggerus ketenangan yang justru menjadi tujuan utama Piramida Project.

Setelah memutuskan untuk tidak menjual apapun dan fokus pada konsumsi serta berbagi, perubahan langsung terasa. "Emosional kita lagi tenang, nyaman. Setiap pagi kami merasakan bahwa (kami) menyapa tanpa adanya memikirkan, hari ini aku harus jual lele," katanya. Semua hasil kebun, lele, dan telur ayam dikonsumsi sendiri atau dibagikan kepada tetangga secara cuma-cuma.

Panen sosial datang dari hubungan yang semakin erat dengan lingkungan sekitar. Ketika Ziarry dan tim memanen lele dari bibit hingga ukuran siap santap, mereka justru membagikannya kepada tetangga. Praktik berbagi ini menciptakan ikatan sosial yang kuat dan harmonis dengan komunitas sekitar.

Panen spiritual menjadi yang terpenting dan menjadi penanda keseriusan mereka dalam perjalanan ini. Piramida Project memiliki program unik bernama "100 Masjid"—setiap awal bulan, tim harus berkunjung ke satu masjid berbeda untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri) dan pemurnian spiritual.

"Kami ada program 100 masjid. Jadi ada 100 bulan. Ketika 100 masjid itu tercapai, maka kita akan menuju kepada 1.000 bulan," jelasnya. Program ini dirancang sebagai pengingat agar mereka tidak lengah dan terbuai oleh kenikmatan yang diraih. "Apakah ini istidraj? Kita diuji dengan kenikmatan," ujarnya, merujuk pada konsep ujian berupa kenikmatan yang bisa menyesatkan jika tidak disyukuri dengan benar.

Setiap kunjungan masjid bukan sekadar wisata religi, tetapi menjadi momen untuk kembali kepada kemurnian niat, mengevaluasi perjalanan hidup, dan memastikan bahwa semua yang mereka raih tetap dalam koridor spiritual yang benar. "Healing untuk kebutuhan emosional," begitu Ziarry menyebutnya.

Program ini juga menjadi bukti bahwa kesuksesan finansial—yang datang dari penjualan e-book, liputan media, dan undangan mengisi acara—bukanlah tujuan tetapi konsekuensi alami dari tiga pilar pertama: spiritual, emosional, dan sosial yang sehat.

Kemandirian Pangan, Kelestarian, dan Makna Hidup

Piramida Project adalah prototipe hidup sederhana dan mandiri di tengah gaya hidup konsumtif perkotaan. Di era di mana Indonesia masih menghadapi tantangan ketahanan pangan dengan 70 kabupaten dan 5 kota yang memiliki skor Indeks Ketahanan Pangan rendah, eksperimen Ziarry menunjukkan bahwa solusi bisa dimulai dari skala terkecil, halaman rumah.

Sistem integrated farming yang diterapkan Piramida Project relevan dengan isu lingkungan kontemporer. Integrated Urban Farming System (IUFS) merupakan teknik pertanian yang berwawasan lingkungan, ekonomis, dan berkesinambungan di mana semua limbah yang dihasilkan dapat dimanfaatkan kembali. Dalam konteks zero waste, limbah pertanian menjadi pakan ternak dan kotoran ternak diolah menjadi pupuk kompos—persis seperti yang dilakukan di Piramida Project.

Kontribusi nyata terhadap lingkungan juga terukur. Dengan mengurangi volume sampah organik, BSF membantu mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA) dan mengurangi emisi gas rumah kaca seperti metana yang dihasilkan dari pembusukan sampah di TPA. Skala rumah tangga memang kecil, tapi jika diadopsi oleh banyak keluarga, dampak kumulatifnya bisa sangat signifikan.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |