Ragam Baju Adat Bali untuk Pria dan Wanita, Lengkap Aksesorisnya

2 weeks ago 16

Liputan6.com, Jakarta - Baju adat Bali merupakan simbol identitas budaya yang sangat melekat dengan nilai-nilai religius umat Hindu di Pulau Dewata. Penggunaannya tidak hanya sekadar estetika, melainkan juga cerminan dari etika dan tata krama dalam berhubungan dengan Tuhan serta sesama manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari, busana ini menjadi pemandangan umum saat pelaksanaan upacara di pura atau kegiatan sosial kemasyarakatan, dilansir dari disbud.bulelengkab.go.id. Setiap elemen dalam pakaian tradisional ini memiliki filosofi mendalam yang mengatur cara berpakaian sesuai dengan tingkat upacara yang dihadiri.

Mulai dari pakaian sehari-hari untuk sembahyang hingga busana agung untuk pernikahan, seluruhnya dirancang untuk menyeimbangkan energi spiritual pemakainya. Harus ada keserasian antara warna, jenis kain, dan cara melilitkan saput atau kamen, dilansir dari bengkala-buleleng.desa.id.

Berikut Liputan6.com ulas lengkap pembahasannya, Senin (22/12/2025).

Ragam Baju Adat Bali untuk Wanita

1. Kebaya Bali

Kebaya merupakan atasan utama bagi wanita Bali yang melambangkan keanggunan serta kehormatan. Penggunaannya wajib dipadukan dengan selendang yang diikatkan di pinggang. Dalam suasana religius, kebaya putih sering menjadi pilihan utama karena melambangkan kesucian, sementara warna-warna cerah lainnya digunakan untuk acara suka cita atau kegiatan sosial.

Secara teknis, kebaya ini biasanya dibuat dari bahan brokat atau kain katun yang menyerap keringat untuk kenyamanan saat mengikuti prosesi upacara yang panjang. Pemilihan motif dan potongan tetap mengedepankan aspek kesopanan, di mana bagian lengan umumnya panjang atau tiga perempat. Penggunaan kebaya ini wajib rapi untuk mencerminkan pengendalian diri dan kepatuhan terhadap norma adat yang berlaku.

2. Kamen Wanita

Kamen adalah kain bawahan yang berfungsi menutup bagian tubuh dari pinggang hingga mata kaki. Bagi wanita, cara pemakaian kamen melibatkan lilitan yang rapi dari kanan ke kiri, melambangkan keseimbangan antara kekuatan maskulin dan feminin. Kain ini biasanya memiliki motif batik atau tenun tradisional yang khas, memberikan kesan estetika yang kuat namun tetap formal.

Jarak antara ujung bawah kamen dengan lantai biasanya diatur sekitar satu jengkal agar tidak menghambat pergerakan saat berjalan atau duduk bersila di pura. Penggunaan kamen bagi wanita tidak memerlukan banyak lipatan di bagian depan seperti pria, melainkan lebih menekankan pada kerapian lilitan agar bentuk tubuh tetap terlihat sopan dan tertutup dengan sempurna.

3. Senteng (Selendang)

Senteng atau selendang adalah kain kecil yang diikatkan di luar kebaya pada bagian pinggang. Fungsi utamanya adalah sebagai simbol pengikat diri dari nafsu atau keinginan negatif selama berada di tempat suci. Penggunaan senteng bersifat wajib bagi siapa saja yang memasuki area pura, bahkan jika hanya sekadar berkunjung secara singkat.

Simpul ikatan senteng biasanya diletakkan di bagian kiri atau depan sesuai dengan kebiasaan daerah setempat. Selain fungsi spiritual, senteng juga berfungsi sebagai penahan agar posisi kamen tetap stabil dan tidak bergeser saat pemakainya melakukan berbagai gerakan dalam ritual keagamaan.

4. Payas Agung

Payas Agung adalah strata tertinggi dalam busana wanita yang digunakan khusus untuk upacara besar seperti pernikahan (Manusa Yadnya) atau upacara potong gigi. Busana ini sangat mewah dengan penggunaan kain prada berwarna emas dan hiasan kepala yang tinggi menjulang. Setiap detailnya mencerminkan kemegahan dan derajat sosial yang tinggi pada masanya.

Wanita yang mengenakan Payas Agung akan dihias dengan berbagai perhiasan emas, mulai dari anting hingga gelang bahu. Penggunaannya memerlukan bantuan tenaga ahli karena kerumitan dalam melilitkan kain dan menata mahkota bunga emas yang berat di kepala untuk menciptakan tampilan bak dewi-dewi dalam mitologi Bali.

5. Payas Jangkep

Payas Jangkep merupakan busana lengkap tingkat menengah yang sering digunakan untuk acara formal seperti wisuda, lomba, atau menghadiri undangan resmi. Busana ini terdiri dari kebaya yang lebih eksklusif, kamen premium, dan penataan rambut yang disebut sanggul (pusung). Kesan yang ditampilkan adalah semi-formal namun sangat kental dengan nuansa tradisional yang elegan.

Penggunaannya sering dipadukan dengan aksesoris bunga kamboja asli atau emas di bagian telinga atau sanggul. Payas Jangkep memberikan fleksibilitas bagi wanita untuk tampil maksimal tanpa harus mengenakan hiasan yang seberat Payas Agung, namun tetap menghormati standar tinggi dalam baju adat Bali.

Jenis Baju Adat Bali untuk Pria

1. Udeng (Destar)

Udeng adalah penutup kepala yang paling ikonik bagi pria Bali, berfungsi untuk mengikat pikiran agar tetap fokus pada pemujaan. Bentuk udeng yang memiliki lipatan kuncup di bagian depan melambangkan konsentrasi pikiran menuju satu titik kepada Tuhan. Terdapat perbedaan motif udeng untuk keperluan ibadah (putih bersih) dan untuk kegiatan duka (hitam).

Cara mengikat udeng dilakukan dengan tangan sendiri dari arah depan ke belakang, melambangkan perjalanan hidup yang terus maju. Udeng harus dipakai dengan tegak dan tidak miring, mencerminkan kejujuran dan keteguhan hati seorang pria dalam menjalankan kewajibannya sebagai pemimpin keluarga maupun pelindung masyarakat.

2. Kemeja Safari

Kemeja Safari merupakan atasan pria yang kini menjadi bagian integral dari busana adat modern. Kemeja ini biasanya berwarna putih atau krem, memiliki saku di bagian depan, dan potongan yang bersih. Penggunaan kemeja safari memberikan kesan rapi dan profesional, sehingga sangat umum dipakai oleh para tokoh adat atau pria saat menghadiri pertemuan di balai banjar.

Meskipun terlihat seperti pakaian modern, kemeja safari tetap disesuaikan dengan aturan adat di mana panjangnya tidak boleh menutupi saput. Bahan yang digunakan umumnya katun berkualitas agar tetap dingin saat dipakai di bawah terik matahari Bali, menjadikan kemeja ini pilihan praktis namun tetap terhormat.

3. Saput (Kampuh)

Saput adalah kain lapisan kedua yang dipakai di atas kamen oleh pria. Kain ini melambangkan perlindungan terhadap hal-hal buruk yang mungkin masuk ke dalam diri manusia. Biasanya saput memiliki motif kotak-kotak (poleng) atau tenun endek yang indah dengan warna yang kontras dari kamen di bawahnya.

Cara penggunaan saput diikatkan melingkar di pinggang dengan ujung yang menjuntai di bagian depan secara simetris. Penggunaan saput sangat krusial dalam baju adat Bali pria karena memberikan batasan antara bagian atas tubuh yang dianggap suci dan bagian bawah yang dianggap kurang suci secara spiritual.

4. Kamen Pria

Kamen bagi pria memiliki cara pemakaian yang berbeda dengan wanita, yakni dengan menyisakan lipatan (kancut) di bagian depan yang menjuntai hampir menyentuh lantai. Lipatan ini melambangkan pengabdian kepada tanah air (ibu pertiwi) dan kemantapan langkah dalam bertindak. Kain yang digunakan biasanya memiliki panjang sekitar dua meter untuk memberikan ruang gerak yang leluasa.

Lilitan kamen dilakukan dari kiri ke kanan, yang secara filosofis melambangkan arah kebenaran (dharma). Pria wajib menggunakan kamen dengan kencang agar tidak terlepas saat harus melakukan tugas-tugas berat dalam upacara adat, seperti memikul sesajen atau memukul gamelan.

Aksesoris Pelengkap Busana

1. Umpal

Umpal adalah selendang kecil yang digunakan pria untuk mengikat saput dan kamen agar tidak melorot. Umpal biasanya diikat dengan simpul hidup di bagian sisi kanan atau depan sesuai dengan tradisi masing-masing desa. Meskipun ukurannya kecil, umpal memiliki peran penting dalam menjaga kerapian seluruh susunan busana pria selama beraktivitas.

Bagi umat Hindu, umpal bukan sekadar pengikat fisik, melainkan simbol pengendalian diri terhadap emosi. Warna umpal sering disesuaikan dengan warna saput agar terlihat serasi dan menambah nilai estetika dari baju adat Bali yang dikenakan.

2. Bunga Kamboja (Jepun)

Penggunaan bunga segar, terutama kamboja, adalah aksesoris alami yang tidak terpisahkan dari busana Bali. Pria maupun wanita sering menyelipkan bunga di telinga setelah selesai bersembahyang sebagai simbol anugerah dari Tuhan. Bunga ini memberikan aroma harum yang menenangkan dan menambah aura spiritual bagi pemakainya.

Bunga juga sering digunakan sebagai hiasan pada sanggul wanita atau disisipkan pada celah udeng pria. Penggunaan unsur alam ini menunjukkan keterikatan yang kuat antara budaya Bali dengan lingkungan sekitar, serta sebagai wujud rasa syukur atas keindahan alam yang dianugerahkan.

3. Sabuk Prada

Sabuk Prada adalah sabuk lebar yang sering dihiasi dengan motif emas atau perak, biasanya digunakan oleh wanita dalam busana Payas Agung atau Payas Jangkep. Sabuk ini melilit dari bagian dada hingga pinggang untuk memberikan struktur tubuh yang tegak dan anggun. Motif emas pada sabuk melambangkan kemakmuran dan kehormatan bagi keluarga pemakainya.

Secara fungsional, sabuk prada memastikan kain yang melilit tubuh tetap kencang dan tidak bergeser selama upacara berlangsung. Karena tingkat kerumitannya, sabuk ini memerlukan teknik melilit khusus agar pemakainya tetap bisa bernapas dengan nyaman meskipun terikat cukup kencang.

FAQ (Frequently Asked Questions)

Apa fungsi utama baju adat Bali?

Fungsinya adalah sebagai sarana penghormatan dalam upacara keagamaan dan identitas budaya masyarakat setempat.

Apa perbedaan Payas Agung dan busana biasa?

Payas Agung adalah tingkat busana paling mewah untuk pernikahan, sedangkan busana biasa digunakan untuk sembahyang harian.

Warna apa yang paling umum untuk baju adat Bali?

Warna putih paling sering digunakan karena melambangkan kesucian dalam melakukan ritual keagamaan.

Mengapa pria Bali memakai udeng?

Udeng berfungsi untuk memusatkan pikiran dan melambangkan kedewasaan serta pengendalian diri.

Apakah turis boleh memakai baju adat Bali?

Boleh, turis sangat dianjurkan mengenakan pakaian adat minimal kamen dan selendang saat memasuki pura.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |