Proses Pembuatan Karya Seni Lukis dari Gagasan hingga Eksekusi, Terinspirasi dari Isu Terkini

5 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah karya seni lukis tidak hanya lahir dari kemampuan teknis seorang seniman, tetapi juga dari proses panjang yang melibatkan gagasan, pengamatan terhadap realitas, hingga tahap eksekusi yang penuh pertimbangan visual. Bagi seorang pelukis, setiap karya merupakan perjalanan kreatif yang dimulai dari ide yang muncul di benak, kemudian diterjemahkan secara bertahap ke dalam bentuk gambar, warna, dan simbol di atas kanvas.

Hal tersebut juga terlihat dalam proses berkarya yang dilakukan oleh Agus Nuryanto (55), seorang seniman lukis dari Dusun Dagen, Kelurahan Sidoarum, Godean, Sleman. Dalam praktik melukisnya, ia mengembangkan gaya khas yang dikenal sebagai Wayang Jewer, yaitu pendekatan visual yang tetap menggunakan bentuk wayang namun dengan gagasan yang lebih bebas serta sering terinspirasi oleh isu-isu yang sedang terjadi di masyarakat.

Berikut selengkapnya:

Melukis Berangkat dari Ketertarikan dan Komitmen Pribadi

Ketertarikan terhadap dunia seni lukis bagi Agus sebenarnya sudah ada sejak lama, meskipun ia baru memutuskan untuk fokus secara serius dalam beberapa tahun terakhir. Pengalaman belajar seni sejak masa sekolah serta keterlibatan dalam berbagai kegiatan seni sebelumnya menjadi bekal awal dalam memahami proses berkarya sebagai seorang pelukis.

Komitmen untuk terus melukis kemudian menjadi faktor penting yang membuatnya tetap produktif menciptakan karya. Menurutnya, proses berkarya bukan hanya tentang kemampuan teknis, tetapi juga tentang kesediaan untuk terus menyisihkan waktu dan energi agar ide-ide yang muncul dapat diwujudkan menjadi karya visual.

“Walaupun sebenarnya kita sudah beberapa kali pameran bersama teman-teman sekolah di SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa-red) sebagai pelatihan pameran, tapi baru setelah pameran tunggal tahun 2020 saya mencoba untuk fokus ke seni lukis. Fokus dalam arti saya mencoba menyisihkan waktu untuk berkarya terus dan menggali potensi tradisi khususnya wayang sebagai modal ide gagasan saat berkarya,” ungkap Agus saat ditemui Liputan6.com pada Rabu (11/3). 

Persiapan Awal: Membuat Kerangka dan Menyiapkan Kanvas

Sebelum proses melukis dimulai, tahap pertama yang dilakukan adalah menyiapkan media lukisan. Agus menjelaskan bahwa proses ini dimulai dari pembuatan kerangka kayu atau spanram yang akan digunakan untuk membentangkan kanvas.

Kerangka tersebut dapat dibuat sendiri jika seniman memiliki kemampuan dasar pertukangan, atau dapat juga dipesan dari bengkel kayu. Setelah kerangka siap, kanvas dipasang dan direntangkan hingga membentuk bidang yang kuat dan stabil untuk digunakan sebagai media lukis.

“Kalau kami karena basic-nya juga bisa bertukang, saya coba membuat spanram atau kerangka kayu untuk membentang lukisan. Kerangka kayu kita buat dulu, kalau tidak bisa ya pesan ke tukang kayu. Setelah kerangka jadi, kanvas sudah kita siapkan lalu dibentang sesuai ukurannya sampai benar-benar siap dipakai untuk melukis,” kata Agus.

Memberikan Warna Dasar sebagai Fondasi Visual

Setelah kanvas terpasang dengan baik pada kerangka, tahap berikutnya adalah memberikan lapisan warna dasar pada permukaan kanvas. Proses ini dilakukan untuk menciptakan fondasi visual sebelum gambar utama mulai dibuat.

Warna dasar biasanya dipilih sesuai dengan nuansa yang ingin dibangun dalam lukisan tersebut. Tahap ini penting karena akan memengaruhi suasana warna keseluruhan dalam karya yang sedang dikerjakan.

“Setelah dibentang selesai baru didasarin. Kanvas itu didasarin warna sesuai dengan keinginan kita. Jadi sebelum gambar utama muncul, kanvas sudah punya dasar warna dulu supaya nanti saat proses melukis warna-warna yang muncul bisa menyatu dengan latarnya,” jelas Agus. 

Menggambar Pola sebagai Kerangka Komposisi

Langkah berikutnya setelah warna dasar selesai adalah membuat pola gambar di atas kanvas. Pola ini berfungsi sebagai kerangka awal yang menentukan bentuk, posisi objek, serta komposisi visual dalam lukisan.

Dalam tahap ini, seniman mulai menuangkan gambaran awal dari ide yang sudah dipikirkan sebelumnya. Pola yang dibuat akan menjadi panduan saat proses pengecatan dilakukan sehingga gambar tetap terarah sesuai dengan konsep yang diinginkan.

“Setelah didasarin kita mencoba menggambar pola seperti apa yang diinginkan. Pola digambar dulu sampai jadi kerangka gambar, baru setelah itu masuk ke tahap pengecatan supaya komposisinya sudah jelas sebelum diberi warna,” terangnya. 

Proses Pewarnaan dan Penambahan Detail

Setelah pola selesai dibuat, tahap selanjutnya adalah proses pengecatan yang menjadi bagian paling terlihat dalam pembuatan sebuah lukisan. Pada tahap ini warna-warna mulai diaplikasikan secara bertahap mengikuti bentuk pola yang telah digambar sebelumnya.

Namun proses pewarnaan tidak berhenti hanya pada satu tahap saja, karena seniman biasanya akan terus menambahkan elemen visual atau detail tambahan hingga komposisi yang dihasilkan benar-benar terasa seimbang dan sesuai dengan yang dibayangkan.

“Baru pengecatan, setelah pengecatan jadi lalu memberikan akses atau tambahan-tambahan yang menghias. Kadang sudah terlihat jadi tapi saya lihat lagi ada yang kurang, ditambah lagi, ditambah lagi sampai apa yang dirasakan itu klik dengan apa yang dilihat.”

Wayang Jewer sebagai Media Visual untuk Ide yang Lebih Bebas

Dalam proses berkarya, Agus mengembangkan konsep visual yang disebut Wayang Jewer sebagai identitas gaya lukisnya. Bentuk visual wayang tetap dipertahankan sebagai elemen utama, tetapi gagasan yang diangkat dalam lukisan tidak lagi terbatas pada cerita klasik pewayangan.

Pendekatan ini memberi ruang kebebasan bagi seniman untuk mengekspresikan berbagai ide melalui simbol wayang, sehingga karya yang dihasilkan tetap memiliki akar tradisi namun dengan makna yang lebih luas dan kontekstual.

“Setelah tahun 2013 saya mencoba membuat genre yang khas dengan memberi label wayang jewer. Dengan wayang jewer itu saya mencoba membebaskan gagasan, tidak lagi cenderung pada cerita Ramayana atau Mahabharata, tapi gagasan bisa bebas walaupun visualnya tetap wayang,” ungkap Agus. 

Isu Aktual Menjadi Pemicu Munculnya Gagasan Lukisan

Selain berasal dari tradisi budaya, gagasan dalam lukisan juga sering muncul dari peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi di dunia. Agus menjelaskan bahwa berbagai konflik atau fenomena sosial dapat menjadi sumber inspirasi yang kemudian diolah menjadi simbol visual dalam karya.

Melalui pendekatan tersebut, lukisan tidak hanya menjadi ekspresi artistik, tetapi juga refleksi terhadap kondisi zaman yang sedang berlangsung. Peristiwa masa kini dapat dihubungkan dengan simbol atau cerita dari masa lalu sehingga menghadirkan makna yang lebih dalam.

“Gagasan saya sekarang lebih banyak dari situasional kondisi yang terjadi. Misalnya perang Irak, Iran, Israel, atau konflik dunia. Saya mencoba tarik ulur bahwa peristiwa perang hari ini sebenarnya sudah terjadi juga di era Mahabharata, jadi lukisan itu menjadi refleksi bahwa perang dan senjata pemusnah sudah ada sejak dulu,” pungkasnya.

5 Pertanyaan dan Jawaban

1. Bagaimana proses pembuatan karya seni lukis dari awal hingga selesai?

Proses pembuatan karya seni lukis umumnya dimulai dari munculnya gagasan atau ide, kemudian dilanjutkan dengan persiapan media seperti kerangka kayu dan kanvas. Setelah itu kanvas diberi warna dasar, dibuat pola gambar, dilanjutkan dengan proses pewarnaan, serta penambahan detail hingga seniman merasa komposisi karya telah sesuai dengan konsep yang diinginkan.

2. Apa saja tahapan teknis dalam melukis di atas kanvas?

Tahapan teknis melukis biasanya meliputi pembuatan kerangka kayu (spanram), pemasangan kanvas, pemberian warna dasar, pembuatan sketsa atau pola, proses pengecatan, serta penambahan elemen dekoratif atau detail untuk memperkuat karakter visual lukisan.

3. Dari mana seniman mendapatkan ide untuk membuat lukisan?

Ide lukisan dapat berasal dari berbagai sumber, seperti pengalaman pribadi, tradisi budaya, cerita sejarah, hingga peristiwa sosial atau isu global yang sedang terjadi. Seniman sering mengolah berbagai peristiwa tersebut menjadi simbol visual yang memiliki makna artistik.

4. Mengapa sketsa atau pola penting dalam proses melukis?

Sketsa atau pola berfungsi sebagai kerangka awal yang membantu seniman menentukan komposisi objek, posisi gambar, serta arah visual lukisan. Dengan adanya pola, proses pengecatan menjadi lebih terarah dan memudahkan seniman dalam membangun bentuk visual secara bertahap.

5. Apa yang dimaksud dengan konsep visual dalam seni lukis?

Konsep visual adalah gagasan atau pendekatan artistik yang menjadi ciri khas dalam karya seorang seniman. Konsep ini dapat berupa gaya gambar, simbol yang digunakan, atau cara seniman mengolah ide menjadi bentuk visual yang unik dan berbeda dari karya lainnya.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |