Pencarian WNA Spanyol yang Tenggelam di Labuan Bajo Resmi Ditutup, Ini Perkembangan Terakhirnya

2 days ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Peristiwa tenggelamnya kapal wisata KM Putri Sakinah di perairan Selat Padar, Taman Nasional Komodo, menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat Labuan Bajo. Insiden yang terjadi pada Jumat malam, 26 Desember 2025 itu menjadi salah satu kecelakaan laut paling memilukan di kawasan wisata unggulan Indonesia tersebut.

Di tengah status Labuan Bajo sebagai destinasi super prioritas, tragedi ini mengingatkan publik akan tantangan keselamatan pelayaran wisata, terutama saat cuaca ekstrem melanda perairan Nusa Tenggara Timur. Pencarian panjang selama lebih dari dua pekan menjadi bukti kerja keras tim SAR gabungan menghadapi kondisi alam yang tidak bersahabat.

Setelah 15 hari operasi intensif, Badan SAR Nasional akhirnya resmi menutup proses pencarian satu korban terakhir yang belum ditemukan. Penutupan ini bukan hanya menandai berakhirnya operasi SAR, tetapi juga menjadi titik emosional bagi keluarga korban yang masih bertahan di Labuan Bajo. berikut ulasan Liputan6.com, Selasa (13/1/2026).

Kronologi Tenggelamnya KM Putri Sakinah di Perairan Labuan Bajo

KM Putri Sakinah (27 GT) bertolak dari Pelabuhan Marina Waterfront Labuan Bajo pada Jumat (26/12/2025) sekitar pukul 13.00 WITA. Kapal wisata tersebut membawa 11 orang, terdiri dari enam wisatawan asal Spanyol, satu pemandu wisata, serta empat anak buah kapal (ABK) termasuk nakhoda. Salah satu penumpang adalah Fernando Martín Carreras (44), pelatih tim sepak bola wanita Valencia B, yang berlibur bersama istri dan keempat anaknya.

Tujuan awal perjalanan adalah Pulau Kambing. Setelah berwisata dan makan malam, kapal kembali berlayar sekitar pukul 20.00 WITA dengan tujuan Pulau Komodo atau Pulau Padar. Namun, sekitar 30–45 menit setelah berlayar, tepatnya pukul 20.30–20.45 WITA, kapal mengalami masalah serius saat melintasi Selat Padar.

Mesin KM Putri Sakinah mendadak mati di tengah kondisi malam yang gelap dan cuaca ekstrem. Gelombang laut setinggi sekitar 2–3 meter menghantam kapal yang kehilangan kendali. Dalam hitungan menit, kapal terbalik dan akhirnya tenggelam di perairan sekitar 23 mil laut di barat Pelabuhan Marina Labuan Bajo.

Material kapal yang terbuat dari kayu ulin sebenarnya dikenal kuat dan tahan lama. Namun, dugaan sementara menyebutkan kecelakaan ini dipicu anomali cuaca kiriman siklon 96S yang menyebabkan gelombang tinggi dan arus laut tidak menentu di wilayah Labuan Bajo dan sekitarnya.

Hambatan Evakuasi dan Upaya Penyelamatan Awal

Upaya penyelamatan awal menghadapi tantangan besar. Hujan lebat, angin kencang, arus deras, serta gelombang tinggi menyulitkan proses evakuasi pada malam kejadian. Meski demikian, Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI AL, KSOP, Lanal, Polairud, serta unsur masyarakat berhasil menyelamatkan tujuh orang penumpang.

Sebagian korban selamat dievakuasi dengan bantuan kapal wisata KM Neptune yang kebetulan melintas di sekitar lokasi kejadian. Kapolres Manggarai Barat AKBP Christian Kadang menyebutkan bahwa kondisi cuaca ekstrem dan kegelapan malam menjadi kendala utama dalam operasi awal penyelamatan.

Pada hari kedua pencarian, tim SAR menemukan serpihan badan kapal sejauh sekitar lima nautical mile dari titik duga tenggelam. Temuan ini menguatkan dugaan bahwa arus laut membawa material kapal menjauh dari lokasi awal kejadian di Selat Padar, Labuan Bajo.

Penemuan Korban dan Perkembangan Pencarian Hingga Hari Ke-15

Memasuki hari keempat operasi SAR, pencarian membuahkan hasil tragis. Pada Senin (29/12/2025) pukul 06.05 WITA, warga Pulau Serai melaporkan penemuan satu jenazah perempuan yang mengapung di perairan utara Pulau Serai. Tim SAR gabungan segera mengevakuasi jenazah menggunakan Rigid Inflatable Boat (RIB) Pos SAR Manggarai Barat.

Jenazah tiba di Pelabuhan Marina Labuan Bajo sekitar pukul 07.30 WITA dan langsung dibawa ke RSUD Komodo untuk proses identifikasi medis. Hasil pemeriksaan forensik mengonfirmasi bahwa korban adalah salah satu anak perempuan Fernando Martín Carreras.

Pencarian kemudian terus dilanjutkan dengan penyisiran laut, penyelaman, serta pencarian darat di pesisir Pulau Padar. Tantangan utama adalah perubahan arus laut setiap enam jam yang membuat area pencarian harus terus diperluas.

Pada hari ke-10 operasi SAR, Minggu (4/1/2026), tim SAR gabungan kembali menemukan jasad Fernando Martín Carreras pada jarak sekitar 1,13 nautical mile dari titik duga tenggelam. Dua hari kemudian, pada hari ke-12, satu jasad anak laki-laki berusia 10 tahun yang merupakan putra Fernando juga berhasil ditemukan.

Dengan demikian, dari empat korban WNA Spanyol yang dilaporkan hilang, tiga ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Satu korban terakhir, Martines Ortuno Enriquejavier, hingga hari ke-15 pencarian masih belum ditemukan dan dinyatakan hilang.

Proses Penutupan Operasi Pencarian di Labuan Bajo

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) secara resmi menutup operasi SAR pada Jumat (9/1/2026). Penutupan dilakukan setelah tim SAR gabungan berjibaku selama 15 hari berturut-turut dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia, termasuk penambahan peralatan sonar, penyelam profesional, serta armada laut.

Penutupan operasi SAR dipimpin langsung oleh Bupati Manggarai Barat Edi Stasius Endi di Pelabuhan Marina Labuan Bajo. Kepala Kantor SAR Maumere selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Fathur Rahman, menyatakan bahwa seluruh prosedur pencarian telah dilaksanakan sesuai standar dan diperpanjang hingga tiga kali.

Meski operasi resmi dihentikan, sejumlah perwakilan keluarga korban memilih tetap tinggal di Labuan Bajo. Mereka berharap suatu hari ada nelayan atau kapal wisata yang menemukan tanda-tanda keberadaan korban terakhir. Suasana haru menyelimuti seremoni penutupan, ditandai pelukan dan air mata saat keluarga menandatangani berita acara penutupan operasi SAR.

FAQ Seputar Labuan Bajo

1. Di mana lokasi Labuan Bajo?

Labuan Bajo terletak di Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dan menjadi pintu gerbang menuju Taman Nasional Komodo.

2. Mengapa perairan Labuan Bajo rawan kecelakaan laut?

Perairan Labuan Bajo memiliki arus kuat dan dapat berubah cepat, terutama saat cuaca ekstrem atau musim gelombang tinggi.

3. Apa saja destinasi wisata utama di Labuan Bajo?

Pulau Komodo, Pulau Padar, Pink Beach, Pulau Kelor, dan Pulau Kanawa merupakan destinasi favorit wisatawan.

4. Apakah pelayaran wisata di Labuan Bajo aman?

Pada kondisi cuaca normal, pelayaran wisata relatif aman. Namun, otoritas pelabuhan dapat menutup sementara jalur wisata saat cuaca ekstrem.

5. Apa pelajaran penting dari insiden KM Putri Sakinah di Labuan Bajo?

Insiden ini menegaskan pentingnya pemantauan cuaca, kelayakan kapal, dan kepatuhan terhadap standar keselamatan pelayaran wisata.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |