Panduan Lengkap Membuat Pupuk Kompos Cair, Lengkap dengan Perbandingan Bahan dan Jadwal Penyiraman

1 week ago 11

Liputan6.com, Jakarta Pembuatan pupuk kompos cair di rumah kini semakin digemari oleh banyak penghobi tanaman karena memungkinkan pemanfaatan limbah organik rumah tangga menjadi pupuk bernutrisi tinggi yang dapat menyuburkan tanaman secara alami, sehingga menjadi solusi hemat dan ramah lingkungan sekaligus. Metode ini memberi harapan baru bagi pemilik kebun rumah yang ingin menjaga kesehatan tanaman tanpa tergantung pada pupuk kimia, karena limbah seperti sisa sayur, daun, hingga kotoran ternak dapat diubah menjadi cairan organik kaya mikroba.

Meski terkesan sederhana, banyak orang masih menghadapi kesulitan dalam menentukan komposisi bahan yang tepat, menjaga kondisi fermentasi agar stabil, serta mengetahui kapan waktu yang paling efektif untuk menyiram pupuk cair tersebut ke tanaman agar hasilnya maksimal. Tanpa panduan yang jelas dan terstruktur, proses pembuatan pupuk bisa menjadi sia-sia atau menghasilkan cairan yang kurang bermanfaat. Inilah mengapa panduan lengkap seperti ini sangat krusial: untuk menjembatani antara teori dan praktik, memudahkan siapa pun menjalaninya, serta meminimalkan risiko kegagalan dalam proses pembuatan.

Dalam artikel ini, akan dijelaskan secara rinci dan sistematis bagaimana cara membuat pupuk kompos cair dari awal hingga selesai, mulai dari pemilihan bahan dasar, langkah fermentasi, penyaringan, hingga jadwal pemupukan bagi tanaman rumah. Setiap tahap disajikan dengan uraian kronologis agar bisa diikuti dengan mudah, bahkan oleh pemula sekalipun, dan hasilnya akan sangat mendukung pertumbuhan tanaman di kebun rumahan Anda secara signifikan. Dengan memahami semua komponen ini, Anda pun bisa memproduksi pupuk cair secara mandiri, mengurangi limbah organik, dan menjaga kesuburan tanah secara berkelanjutan.

1. Membedah Jenis Pupuk Kompos Cair yang Paling Sering Dibuat di Rumah

Pupuk kompos cair yang dibuat di rumah biasanya terbagi menjadi dua jenis utama, yakni jenis larutan perendaman kompos padat dan jenis hasil fermentasi dari bahan organik segar, sehingga masing-masing memiliki karakteristik berbeda yang memengaruhi cara penggunaan serta daya simpan. Larutan perendaman cenderung mudah dibuat karena cukup mencampurkan kompos padat dengan air, tetapi larutan ini bisa cepat kehilangan nutrisi karena partikel padat yang terlarut mengendap dan oksidasi dapat mengurangi keefektifannya jika tidak segera digunakan. Sebaliknya, pupuk cair hasil fermentasi dari bahan organik segar melalui proses anaerob memiliki kelebihan berupa kestabilan nutrisi lebih tinggi, cairan lebih pekat, dan umur simpan lebih lama, menjadikannya pilihan ideal bagi yang ingin membuat stok pupuk cair jangka panjang.

Jenis larutan perendaman biasanya cocok untuk penggunaan segera—misalnya disiramkan langsung ke akar tanaman—karena kandungan nutrisinya bersifat cepat larut dan mudah diserap, meskipun tidak bisa disimpan lama tanpa penurunan kualitas yang signifikan. Di sisi lain, versi fermentasi cocok untuk disimpan dan digunakan secara berkala karena mikroorganisme yang berkembang di dalamnya terus menjaga kestabilan komposisi serta mencegah kerusakan cairan. Karena perbedaan fungsi ini, pemilihan jenis pupuk cair harus disesuaikan dengan kebutuhan kebun: apakah Anda ingin pupuk cair untuk pemakaian harian cepat atau sebagai stok nutrisi jangka panjang yang bisa disimpan.

Memahami perbedaan ini sangat penting sebelum memulai pembuatan pupuk di rumah karena akan menentukan bahan yang Anda butuhkan, teknik fermentasi yang harus dilakukan, dan peralatan penyimpanan yang akan digunakan, sehingga Anda dapat merencanakan proses pembuatan pupuk cair dengan lebih efisien dan menghasilkan larutan yang benar-benar bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman di kebun rumah.

2. Menentukan Bahan Organik yang Tepat sebagai Pondasi Pembuatan POC

Untuk membuat pupuk cair berkualitas, pemilihan bahan organik menjadi tahap awal yang sangat krusial karena bahan-bahan seperti kotoran ternak, dedak, hijauan daun, atau jerami akan menjadi penyumbang utama karbon dan nitrogen yang nantinya diurai oleh mikroba. Kombinasi yang tepat antara hijauan (seperti daun, rumput, atau jerami), sumber karbon tambahan, dan pupuk kandang sangat menentukan rasio C/N (karbon terhadap nitrogen) yang optimal, karena rasio ini akan sangat memengaruhi kecepatan proses fermentasi dan kualitas nutrisi larutan. Jika rasio terlalu berat pada karbon atau nitrogen, mikroba tidak akan berkembang ideal atau proses fermentasi bisa lambat dan tidak lengkap.

Selain itu, penting memastikan bahwa bahan organik yang digunakan benar-benar bersih dari kotoran non-organik seperti plastik, logam, atau serpihan kaca karena benda-benda tersebut bisa menghambat fermentasi dan bahkan merusak mikroba yang seharusnya bekerja menguraikan bahan organik. Menyortir sampah organik dengan teliti dan hanya menggunakan bagian yang benar-benar bisa terurai akan menjamin bahwa cairan pupuk yang dihasilkan benar-benar sehat dan bebas kontaminan yang berbahaya. Dalam banyak panduan pembuatan pupuk cair, bahan pemanis seperti gula merah atau molase disertakan sebagai suplai energi mikroba, sehingga mikroba dapat tumbuh lebih cepat dan menghasilkan fermentasi yang efektif dan stabil.

Penggunaan bioaktivator adalah langkah berikutnya yang sangat menentukan hasil akhir karena mikroba aktif di dalam larutan fermentasi sangat bergantung pada populasi mikroba awal yang Anda tambahkan, sehingga memilih aktivator yang tepat — misalnya jenis komersial atau cairan hasil rendaman kompos matang — akan mempercepat fermentasi dan meningkatkan produksi nutrisi dalam cairan pupuk. Bioaktivator juga membantu menurunkan risiko bau menyengat yang bisa timbul jika fermentasi berjalan tidak terkontrol, karena mikroba yang sehat akan mengolah bahan organik dengan lebih efisien dan menghasilkan hasil fermentasi yang lebih stabil.

3. Memotong dan Mencampur Semua Bahan untuk Mempercepat Penguraian

Sebelum proses fermentasi dimulai, sangat disarankan untuk merajang atau memotong bahan organik seperti jerami, daun, dan sisa hijauan menjadi potongan kecil agar mikroorganisme dapat mengakses bahan tersebut lebih mudah, sehingga waktu penguraian bisa dipersingkat dan fermentasi berlangsung lebih efisien. Potongan kecil ini memperbesar luas permukaan bahan organik sehingga mikroba bisa lebih cepat menyerang dan menguraikan setiap bagian, yang pada akhirnya mempercepat konversi bahan menjadi cairan kaya nutrisi. Jika bahan tidak dirajang, proses fermentasi bisa menjadi lambat dan tidak menyeluruh karena bagian dalam bahan besar sulit dijangkau oleh mikroba.

Setelah dirajang, bahan organik dicampur dengan air dalam perbandingan kira-kira dua bagian bahan terhadap satu bagian air agar adonan tidak terlalu kering yang bisa menahan mikroba, namun juga tidak terlalu encer sehingga proses fermentasi menjadi terhambat. Perbandingan ini penting karena kelembapan adalah salah satu faktor kunci yang menentukan keberhasilan mikroba untuk berkembang: jika adonan terlalu kering, mikroba tidak punya cukup medium cair untuk bergerak dan bereproduksi; jika terlalu basah, oksigen bisa terperangkap dan memicu pertumbuhan mikroba pembusukan yang merugikan.

Langkah penting berikutnya adalah melarutkan pemanis (seperti gula merah) dan bioaktivator dalam sedikit air, kemudian menuangkan larutan ini ke dalam campuran bahan organik dan air, sambil terus diaduk agar distribusi mikroba dan gula merata ke seluruh adonan, sehingga fermentasi dapat dimulai dengan populasi mikroba yang optimal. Dengan pencampuran yang baik, Anda memastikan bahwa semua bagian campuran mendapatkan nutrisi mikroba dan gula sebagai sumber energi, sehingga fermentasi bisa langsung berjalan cepat dan merata tanpa titik mati di dalam adonan.

4. Menjalankan Fermentasi Anaerob sebagai Tahap Kunci Pembentukan Nutrisi Cair

Setelah campuran bahan dan aktivator tercampur rata, proses fermentasi anaerob dimulai dengan menutup rapat wadah agar udara luar tidak masuk; ini penting agar kondisi tanpa oksigen tercipta dan menghindari gangguan dari mikroba aerob yang bisa menurunkan kualitas akhir cairan. Wadah fermentasi sebaiknya memiliki selang kecil yang diarahkan ke botol penampung gas agar selama fermentasi, gas hasil metabolisme mikroba bisa dilepas tanpa merusak kondisi anaerob di dalam wadah. Menjaga kondisi anaerob ini membantu mikroba fermentasi menghasilkan komponen yang larut secara stabil dan mempertahankan konsentrasi nutrisi dalam cairan.

Selama 7 hingga 10 hari fermentasi berlangsung, wadah harus disimpan di tempat teduh agar suhu tidak terlalu tinggi dan tidak fluktuatif, karena perubahan suhu drastis bisa menekan aktivitas mikroba dan mengubah arah fermentasi ke proses pembusukan yang berbahaya. Kondisi yang stabil dan teduh memungkinkan mikroba berkembang dengan baik dan menguraikan bahan organik secara maksimal, menghasilkan larutan kaya zat hara yang pekat dan bermanfaat untuk tanaman. Selama proses ini, penting untuk tidak membuka tutup wadah secara sembarangan agar udara tidak masuk dan mengganggu stabilitas fermentasi, serta agar gas hasil fermentasi bisa dilepaskan melalui selang tanpa membiarkan oksigen masuk kembali.

Fermentasi dianggap selesai ketika aroma larutan berubah menjadi wangi manis-asam seperti tape dan warnanya menjadi lebih gelap dari semula, menandakan bahwa mikroba telah bekerja maksimal untuk memecah bahan organik menjadi senyawa yang dapat diserap tanaman sebagai nutrisi cair. Pada titik ini, larutan fermentasi sudah matang dan siap disaring atau diolah lebih lanjut, karena sebagian besar komponen organik telah berubah menjadi senyawa mikroba aktif dan nutrisi yang mudah diserap tanaman.

5. Penyaringan Pupuk sebagai Upaya Menjaga Kejernihan dan Kualitas Larutan

Setelah proses fermentasi selesai, langkah penting berikutnya adalah menyaring cairan menggunakan kain bersih yang halus agar partikel padat seperti ampas atau serat yang belum terurai dapat dipisahkan dari cairan utama, sehingga hasil akhirnya menjadi larutan pupuk jernih yang lebih mudah diaplikasikan ke tanaman, terutama bila menggunakan semprotan. Proses penyaringan ini tidak hanya penting untuk kemudahan aplikasi, tetapi juga mencegah penyumbatan pada alat semprot yang bisa mengurangi efisiensi pemupukan. Hasil penyaringan yang baik akan membuat cairan pupuk terlihat lebih transparan atau sedikit keruh tetapi tanpa serpihan besar, menandakan bahwa sebagian besar zat terlarut dan nutrisi telah berhasil dipisahkan dari padatan.

Bahan padat yang tertinggal setelah penyaringan — bisa berupa serat jerami, dedaunan, atau bagian lain yang belum larut — jangan dibuang begitu saja karena masih mengandung bahan organik yang layak dimanfaatkan kembali sebagai pupuk padat atau campuran media tanam. Dengan mengolah kembali ampas ini menjadi kompos padat, Anda menciptakan siklus daur ulang organik yang lebih efisien, mengurangi sampah sekaligus memperkaya tanah dengan materi organik jangka panjang. Pemanfaatan ulang ini juga membantu menghemat bahan baku karena tidak perlu mengumpulkan bahan organik baru setiap kali membuat pupuk cair — cukup menggunakan ampas bekas fermentasi sebagai bagian dari batch kompos padat berikutnya.

Setelah disaring, larutan pupuk yang sudah jernih dituangkan ke dalam botol kaca atau plastik yang tahan rapat, kemudian disimpan di tempat sejuk dan teduh agar kualitas nutrisi tetap terjaga. Penyimpanan dalam kondisi ideal memungkinkan cairan pupuk mempertahankan efektivitasnya dalam jangka waktu yang relatif lama, bahkan hingga beberapa bulan, asalkan botol tidak terkena sinar matahari langsung dan tidak dibuka terlalu sering agar oksidasi dan kontaminasi tidak terjadi.

6. Menyesuaikan Komposisi Bahan Berdasarkan Kondisi Lingkungan Setempat

Karena setiap rumah dan kebun memiliki kondisi serta sumber bahan organik yang berbeda-beda, sangat penting untuk menyesuaikan komposisi bahan yang dipakai agar pembuatan pupuk cair tetap efisien dan terjangkau. Jika Anda tinggal di area dengan banyak daun legum, daun pisang, atau limbah sayur, Anda bisa mengganti sebagian jerami dengan bahan-bahan tersebut untuk menciptakan rasio hijauan yang sesuai tanpa harus membeli jerami dari luar. Begitu pula, jika kotoran ternak sulit diperoleh, Anda bisa mengandalkan dedak atau bekatul sebagai alternatif sumber karbon atau nitrogen agar keseimbangan C/N tetap optimal.

Untuk menjaga rasio C/N yang ideal, dedak dapat diganti dengan bekatul atau tepung bekatul yang lebih mudah diperoleh di beberapa rumah tangga atau pasar lokal; bahan ini tetap memberikan kontribusi karbon atau nitrogen yang dibutuhkan mikroba untuk fermentasi yang sehat dan efisien. Rasio yang tepat akan mempercepat proses fermentasi dan menghasilkan cairan yang lebih pekat serta kaya nutrisi. Selain itu, Anda bisa bereksperimen dengan jumlah gula atau molase sebagai sumber energi mikroba: gunakan sesuai kebutuhan agar mikroba tidak kekurangan “bahan bakar” untuk berkembang, tetapi hindari penggunaan berlebihan agar larutan tidak menjadi terlalu manis dan justru memancing pertumbuhan mikroba yang tidak diinginkan.

Jika bioaktivator komersial (mikroba aktivator) sulit diperoleh di sekitar Anda, alternatifnya adalah menggunakan larutan hasil perendaman kompos matang atau kompos lama sebagai sumber mikroba alami. Metode ini mungkin membutuhkan waktu fermentasi sedikit lebih lama dibandingkan menggunakan aktivator pabrik, tetapi tetap efektif karena mikroba lokal yang sudah terbiasa bekerja pada kompos tersebut dapat melanjutkan aktivitasnya. Dengan menyesuaikan bahan dan aktivator seperti ini, Anda bisa menekan biaya pembuatan dan meningkatkan keberlanjutan proses pembuatan pupuk cair di lingkungan rumah.

7. Mengolah Sampah Rumah Tangga Menjadi Kompos Padat untuk Dukungan Jangka Panjang

Selain memproduksi pupuk cair dari bahan-bahan tertentu, limbah rumah tangga seperti sisa sayur, kulit buah, dan daun kering juga bisa diolah menjadi kompos padat yang sangat berguna sebagai pupuk organik jangka panjang untuk media tanam di kebun rumah. Dengan mencacah sampah organik menjadi potongan kecil terlebih dahulu, Anda mempercepat proses dekomposisi karena mikroba bisa mengakses lebih banyak permukaan bahan dan bekerja lebih efisien dalam mengurai partikel menjadi humus. Proses ini menjadi tahap penting dalam daur ulang organik karena mengubah sampah rumah tangga menjadi sumber hara bernilai tinggi.

Campuran sampah yang telah dicacah kemudian dicampur dengan tanah dan sedikit cairan aktivator agar mikroba aerob dapat bekerja maksimal dalam proses penguraian di media terbuka. Setelah tercampur rata, bahan disimpan dalam wadah tertutup namun dengan ventilasi agar udara masuk dan mikroba aerob tidak kekurangan oksigen, karena kehadiran oksigen sangat penting bagi aktivitas mikroba yang mengurai bahan organik padat. Pengaturan aerasi seperti ini membantu mencegah pembusukan anaerob dan menjaga dekomposisi berjalan dengan cara yang sehat dan terkontrol, menghasilkan kompos yang kualitasnya baik dan bebas bau menyengat.

Sepanjang proses, bahan kompos padat perlu diaduk secara berkala — misalnya seminggu sekali — agar udara dapat merata di seluruh tumpukan kompos dan mencegah bagian dalam menjadi padat atau berlendir. Dengan adukan rutin, udara segar akan memasuki tumpukan dan mendukung populasi mikroba aerob untuk terus aktif mengurai bahan organik. Setelah sekitar 7 hingga 8 minggu, kompos padat akan berubah warna menjadi cokelat tua dan teksturnya menjadi remah, menandakan kompos sudah matang dan siap digunakan sebagai pupuk organik untuk media tanam kebun rumah.

8. Mengatur Tingkat Kelembapan dan Aerasi agar Kompos Padat Matang Sempurna

Menjaga kadar kelembapan pada tumpukan kompos padat merupakan faktor kunci karena mikroba pengurai sangat sensitif terhadap kondisi terlalu kering ataupun terlalu basah; jika kering, mikroba tidak akan bisa bergerak dan mengurai, sedangkan jika basah, risiko fermentasi pembusukan dan bau meningkat drastis. Kelembapan ideal biasanya menyerupai spons peras — cukup lembap untuk mikroba bekerja, tetapi tidak tergenang air — sehingga proses penguraian dapat berjalan stabil dan efisien. Pemantauan kelembapan secara rutin sangat disarankan agar Anda bisa menyesuaikan dengan menyiram air sedikit demi sedikit atau menutup agar kelembapan tidak hilang terlalu cepat.

Selain kelembapan, aerasi juga sangat penting untuk memastikan oksigen tersebar merata ke seluruh tumpukan kompos padat, karena mikroba aerob (yang paling berguna dalam penguraian organik) membutuhkan oksigen untuk berfungsi maksimal. Anda bisa memperbaiki sirkulasi udara dengan mengaduk tumpukan kompos secara rutin, membalik bagian atas ke bawah, atau membuat struktur “aerasi” menggunakan bahan kasar seperti ranting kecil di dalam tumpukan. Dengan aerasi yang baik, tumpukan kompos akan lebih cepat matang dan bau tidak sedap akibat proses pembusukan anaerob bisa diminimalkan.

Setelah sekitar 7–8 minggu dengan pemantauan kelembapan dan aerasi yang teratur, kompos padat akan menunjukkan karakteristik matang: warnanya menjadi cokelat gelap, tekstur remah, dan baunya mirip tanah yang sehat — tandanya mikroba telah menyelesaikan pekerjaan mereka dan bahan organik telah berubah menjadi humus berkualitas yang siap digunakan sebagai pupuk jangka panjang.

9. Menentukan Jadwal Ideal Pemberian Pupuk Cair untuk Pertumbuhan Tanaman

Setelah pupuk cair matang dan disaring, penting untuk merencanakan kapan dan bagaimana memberikan cairan tersebut kepada tanaman agar efeknya maksimal: salah satu waktu paling efektif adalah pada fase pertumbuhan awal, di mana akar tumbuh aktif dan tanaman sangat membutuhkan rangsangan nutrisi mikro. Penyiraman pada fase awal ini dapat memperkuat sistem akar, meningkatkan daya tahan tanaman, dan mempersiapkan fondasi pertumbuhan selanjutnya dengan lebih kokoh. Karena sifatnya cepat larut, pupuk cair cocok digunakan sebagai stimulan dalam fase-fase kritis pertumbuhan tanaman.

Saat tanaman mulai memasuki fase vegetatif menuju fase generatif (misalnya saat pembentukan daun besar atau bunga), pupuk cair juga sangat bermanfaat sebagai pendorong tambahan karena nutrisi mikro yang dilarutkan mudah diserap dan dapat meningkatkan produksi daun, bunga, atau tunas baru. Namun, untuk menghindari kerusakan daun atau stres tanaman, sangat disarankan untuk melakukan pengenceran sebelum menyemprotkan larutan ke bagian atas tanaman. Pengenceran tidak hanya menghindari “kelebihan nutrisi” tetapi juga mencegah potensi iritasi jaringan tanaman akibat larutan pekat.

Dalam praktiknya, frekuensi pemberian pupuk cair bisa disesuaikan dengan jenis tanaman, kondisi tanah, dan kebutuhan nutrisi: sebagian penghobi berkebun menyemprotkan setiap satu hingga dua minggu sekali, sementara yang lain mungkin memberikan lebih jarang jika media tanam sudah kaya bahan organik. Menetapkan jadwal yang konsisten sangat membantu agar tanaman mendapatkan pasokan nutrisi secara teratur tanpa mengalami stres akibat fluktuasi hara. Idealnya, Anda mencatat setiap waktu pemupukan agar bisa mengevaluasi respons tanaman dan menyesuaikan frekuensi sesuai kebutuhan.

10. Menimbang Perbedaan dan Kelebihan antara Pupuk Cair dan Kompos Padat

Pupuk cair memberikan efek instan karena hara mikro langsung tersedia dalam bentuk larut yang mudah diserap oleh akar maupun daun tanaman, sehingga sangat cocok sebagai stimulan pertumbuhan pada momen-momen kritis ketika tanaman membutuhkan dorongan cepat. Respons tanaman terhadap pupuk cair biasanya terlihat lebih cepat, misalnya pertumbuhan daun baru, peningkatan warna hijau, atau percepatan pembentukan bunga, terutama jika digunakan pada fase awal atau transisi pertumbuhan. Efektivitas cepat ini menjadikan pupuk cair sangat berguna sebagai suplemen organik yang menambah daya hidup tanaman tanpa menggantikan pupuk dasar.

Di sisi lain, kompos padat memberikan manfaat jangka panjang karena berfungsi memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kemampuan tanah menahan air dan udara, serta memberi suplai nutrisi perlahan-lahan yang mendukung kesehatan tanah secara menyeluruh. Kompos padat juga menambah bahan organik dalam tanah, meningkatkan aktivitas mikroba lokal secara berkelanjutan, dan membantu menjaga kesuburan tanah dari musim ke musim tanpa perlu pemupukan kimia terus-menerus. Karena itu, kompos padat sangat ideal dipakai sebagai dasar pemupukan untuk kebun rumah yang ingin menjaga ekosistem tanah tetap sehat dan produktif.

Menggabungkan penggunaan pupuk cair dan kompos padat secara bersamaan memberi keuntungan sinergis: pupuk cair menyuplai nutrisi mikro dengan cepat sedangkan kompos padat memperkuat fondasi tanah dan memastikan suplai hara jangka panjang. Strategi kombinasi ini memungkinkan Anda merancang sistem pemupukan organik yang ramah lingkungan, hemat biaya, dan efektif untuk menjaga pertumbuhan tanaman serta kesuburan tanah secara berkelanjutan. Dengan demikian, kebun rumah Anda tidak hanya menghasilkan tanaman yang sehat tetapi juga berkontribusi pada siklus daur ulang organik yang berkelanjutan.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Membuat Pupuk Kompos Cair

1. Apa langkah paling mudah untuk membuat pupuk kompos cair di rumah?

Anda hanya perlu mencampurkan bahan organik seperti kotoran dan daun, menambahkan air dan pemanis, lalu fermentasikan selama 7–10 hari hingga cairannya matang dan siap pakai.

2. Cocokkah pupuk cair untuk semua jenis tanaman?

Ya, tetapi dosis dan frekuensi perlu disesuaikan dengan jenis tanaman: tanaman daun sensitif mungkin butuh pengenceran lebih besar.

3. Seberapa sering saya perlu menyiram dengan pupuk cair?

Idealnya setiap satu sampai dua minggu, tergantung kondisi tanaman, fase tumbuh, dan kaya tidaknya media tanam dengan organik.

4. Mengapa saya harus memfilter pupuk cair sebelum digunakan?

Menyaring akan memisahkan partikel padat agar larutan tidak menyumbat alat semprot dan hasilnya lebih halus dan jernih.

5. Apa yang bisa saya lakukan dengan ampas fermentasi setelah disaring?

Ampas tersebut masih bernutrisi dan sangat cocok digunakan kembali sebagai pupuk padat atau campuran media tanam agar tidak terbuang percuma.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |