Liputan6.com, Jakarta - Tertarik untuk berkebun sayuran di lahan kosong depan rumah Anda? Tunggu dulu, Anda sebaiknya mencari tahu mengenai risiko kontaminasi mikroplastik di lahan sayuran. Sebab, menurut studi yang diterbitkan oleh Environmental Sciences Europe (2025) menyebutkan bahwa jumlah mikroplastik di lahan pertanian mencapai 23 kali lebih banyak dibandingkan lautan.
Mikroplastik di dalam tanah ini diperkirakan terpapar hingga 10.000 jenis zat aditif yang berbahaya bagi lahan perkebunan. Pasalnya, partikel mikroplastik bisa masuk ke rantai makanan sayuran yang Anda tanam melalui sistem akar.
Pada sayuran, mikroplastik akan menurunkan kesuburan karena kemampuan akar dalam menyerap zat hara berkurang. Sementara itu, Joseph Boctor, salah satu peneliti dalam studi tersebut menyebutkan bahwa zat aditif dari mikroplastik yang terbawa oleh tanaman tersebut berisiko mengganggu hormon manusia.
Perlu Anda tahu bahwa mikroplastik ini berasal dari jumlah sampah plastik yang menggunung. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sampah plastik sulit diurai sehingga akan bertebaran di tanah dalam jangka waktu yang sangat lama.
Karena itu, selain mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari, Anda perlu menerapkan beberapa panduan dari Liputan6.com, Kamis (15/1/2026) berikut jika berniat berkebun sayur di halaman rumah agar terbebas kontaminasi mikroplastik.
1. Pilih Media Tanam Non Plastik
Langkah paling awal yang sering luput diperhatikan adalah pemilihan media tanam. Banyak orang masih menggunakan pot plastik, polybag, atau wadah sintetis lain yang seiring waktu bisa terurai menjadi mikroplastik dan bercampur dengan tanah. Padahal, ada banyak alternatif media tanam non plastik yang lebih ramah lingkungan.
Anda bisa menggunakan pot kayu, bambu, atau tanah liat yang bersifat alami dan tidak melepaskan partikel berbahaya ke dalam tanah. Selain itu, sabut kelapa juga bisa dimanfaatkan sebagai wadah tanam sekaligus media semai yang mudah terurai.
Gulungan tisu toilet bekas pun dapat dijadikan pengganti modul semai karena terbuat dari kertas yang biodegradable. Dengan memilih media tanam non plastik, Anda sudah mengurangi salah satu sumber utama mikroplastik di kebun rumah.
2. Beri Kompos Secara Rutin
Pemberian kompos secara rutin tidak hanya menyuburkan tanaman, tetapi juga membantu memperbaiki struktur tanah. Tanah yang kaya bahan organik memiliki kemampuan lebih baik dalam mengikat partikel asing, termasuk mikroplastik, sehingga penyerapannya oleh akar tanaman bisa ditekan.
Kompos dari sisa dapur seperti kulit buah, sayuran, atau daun kering juga cenderung bebas dari mikroplastik jika dikelola dengan benar. Pastikan bahan kompos tidak tercampur sampah plastik, sachet, atau kantong sekali pakai.
Dengan rutin menambahkan kompos alami, tanah akan lebih sehat, aktivitas mikroorganisme meningkat, dan tanaman bisa tumbuh optimal tanpa ketergantungan pada pupuk sintetis.
3. Terapkan Prinsip Daur Ulang dengan Tepat
Daur ulang sering dianggap solusi ramah lingkungan, tetapi dalam konteks berkebun, Anda tetap perlu selektif. Beberapa produk daur ulang berbahan plastik, seperti pot dari botol bekas, berpotensi melepaskan mikroplastik jika terpapar panas dan hujan dalam jangka panjang.
Jika ingin mendaur ulang, prioritaskan bahan alami seperti kaca, kayu, atau kaleng yang dilapisi dengan aman. Misalnya, kaleng bekas bisa dijadikan pot sementara asalkan bagian dalamnya tidak terkelupas dan tidak berkarat. Prinsipnya, daur ulang memang baik, tetapi jangan sampai justru menambah sumber kontaminasi baru di lahan sayuran Anda.
4. Buat Mulsa Sendiri dari Bahan Alami
Mulsa berfungsi menjaga kelembapan tanah, menekan pertumbuhan gulma, dan menstabilkan suhu media tanam. Sayangnya, banyak mulsa instan di pasaran yang terbuat dari plastik atau serat sintetis. Seiring waktu, mulsa jenis ini bisa hancur dan meninggalkan mikroplastik di tanah.
Sebagai alternatif, Anda bisa membuat mulsa sendiri dari jerami, daun kering, rumput hasil pangkasan, atau serbuk kayu.
Mulsa alami ini akan terurai secara perlahan dan justru menambah kandungan organik tanah. Selain lebih aman, membuat mulsa sendiri juga lebih hemat biaya dan mudah dilakukan dengan memanfaatkan limbah kebun di sekitar rumah.
5. Pastikan Kebersihan Sumber Air
Air merupakan jalur lain masuknya mikroplastik ke dalam sistem pertanian rumah tangga. Air hujan, air sumur, hingga air keran berpotensi mengandung partikel mikroplastik, terutama jika melewati pipa plastik atau terpapar limbah lingkungan.
Untuk meminimalkan risiko, gunakan sumber air yang bersih dan, jika memungkinkan, saring air sebelum digunakan untuk menyiram tanaman
Penampungan air hujan sebaiknya menggunakan wadah non plastik dan rutin dibersihkan. Selang air juga perlu diperhatikan, pilih selang berkualitas baik dan hindari yang mudah rapuh agar tidak ikut menyumbang serpihan plastik ke lahan sayur.
6. Kelola dan Daur Ulang Sampah dengan Bijak
Pengelolaan sampah rumah tangga memiliki dampak besar terhadap kualitas lingkungan sekitar, termasuk kebun sayur di depan rumah. Sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik bisa terurai di tanah dan menjadi sumber mikroplastik jangka panjang.
Mulailah dengan memilah sampah organik dan anorganik. Sampah organik bisa diolah menjadi kompos, sedangkan sampah plastik sebaiknya dikumpulkan dan disalurkan ke tempat daur ulang resmi.
Hindari membakar sampah plastik di sekitar area kebun karena residunya dapat mengendap di tanah. Dengan pengelolaan sampah yang bijak, Anda tidak hanya menjaga kebun tetap sehat, tetapi juga berkontribusi pada lingkungan yang lebih bersih secara keseluruhan.
People also asked (PAA)
Sayuran apa yang memiliki risiko mikroplastik paling rendah?
Sayuran berbuah, seperti tomat, cabai, terong, dan mentimun cenderung memiliki risiko mikroplastik lebih rendah karena bagian yang dikonsumsi tumbuh jauh dari tanah dan tidak langsung menyerap partikel dari media tanam.
Sayuran apa yang memiliki risiko mikroplastik paling tinggi?
Sayuran akar, seperti wortel, lobak, wortel dan selada berisiko lebih tinggi karena tumbuh langsung di dalam tanah sehingga lebih mudah terpapar dan menyerap mikroplastik melalui sistem akar.
Apakah kandungan mikroplastik pada sayuran organik pasti lebih sedikit
Tidak selalu. Sayuran organik tetap berpotensi mengandung mikroplastik jika ditanam di tanah atau disiram dengan air yang telah terkontaminasi.
Sayuran apa yang paling mudah dibudidayakan di rumah?
Bayam, kangkung, sawi, dan selada paling mudah ditanam di rumah karena masa panennya singkat, perawatannya sederhana, dan dapat tumbuh baik di pot atau lahan terbatas.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469996/original/061154600_1768193928-Ide_Jualan_Lauk_Pauk_Rumahan_untuk_Buka_Puasa_Bulan_Ramadan_2026_yang_Menyegarkan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4093894/original/027943300_1658232135-Sayuran-Hidroponik-Iqbal-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473824/original/053715000_1768459032-ayunann.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5474071/original/042088800_1768465966-Gemini_Generated_Image_vz6jpuvz6jpuvz6j.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473813/original/092300900_1768458683-model_dress_cheongsam_untuk_lebaran_5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5474060/original/058191000_1768465683-kandang_ayam7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5467940/original/021342200_1767936718-kebun_modal_0_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456792/original/025071500_1766975016-timun_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473751/original/031013200_1768455043-sepatu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473735/original/042734400_1768454782-Gemini_Generated_Image_dmbeg9dmbeg9dmbe_2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4042754/original/094706200_1654358757-Screenshot_1983.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473654/original/090515000_1768452056-Gemini_Generated_Image_p9mek1p9mek1p9me.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473676/original/029754000_1768452359-Gemini_Generated_Image_k8yp8xk8yp8xk8yp_2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473631/original/017538600_1768451692-Menanam_Sorgum.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473588/original/052275100_1768450765-Kandang_Sistem_Wadah_Pakan_Luar_Gantung__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473839/original/077576600_1768459527-unnamed_-_2026-01-15T133537.144.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473559/original/008737700_1768449270-Jualan_takjil_ramadan_berupa_es_dari_sirup__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473539/original/055093800_1768448356-Gemini_Generated_Image_eslkabeslkabeslk_2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5472721/original/055639500_1768374192-budidaya_ikan_konsumsi_di_rumah_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473523/original/020013000_1768447963-kebun_sayur.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363574/original/067634200_1758951074-Gemini_Generated_Image_d15sird15sird15s.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3936591/original/031031300_1645054040-james-wheeler-HJhGcU_IbsQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5370599/original/040845800_1759561568-Gamis_Simple_tapi_elegan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/824391/original/082843900_1425877386-09032015-waduksermo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363765/original/004808300_1758963234-Gemini_Generated_Image_uopfavuopfavuopf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364103/original/064641000_1759040675-Gemini_Generated_Image_29nq7729nq7729nq.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364053/original/005894200_1759037147-MixCollage-28-Sep-2025-12-02-PM-3646.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378510/original/035461500_1760253518-Gemini_Generated_Image_8zg0bc8zg0bc8zg0.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364186/original/001233300_1759045126-Gemini_Generated_Image_f3ya1kf3ya1kf3ya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5367398/original/025212100_1759305132-warung_sembako_hemat_modal_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5354601/original/013523100_1758259145-ChatGPT_Image_Sep_19__2025__12_08_54_PM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5354530/original/059277200_1758256607-Gemini_Generated_Image_5vkn9p5vkn9p5vkn.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5354654/original/036226500_1758261026-Gemini_Generated_Image_9notrf9notrf9not.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363279/original/031529000_1758892895-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363368/original/004460100_1758935700-rumah_mezanine_lahan_terbatas_8a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362914/original/028470800_1758876982-8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5360305/original/022331900_1758704064-DGDFE.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5360969/original/078803200_1758771480-Gemini_Generated_Image_wiqr94wiqr94wiqr.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363521/original/015394700_1758947659-ChatGPT_Image_27_Sep_2025__11.33.34.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363486/original/078379500_1758945634-dapur_dan_ruang_tamu_scandinavian_2.jpg)