Liputan6.com, Jakarta Jepang tidak secara resmi dijajah oleh kekuatan Barat, tetapi justru dikenal sebagai negara penjajah itu sendiri. Namun, pertanyaan tentang negara yang pernah menjajah Jepang tetap menarik untuk ditelusuri. Jepang diduduki dan diadministrasi oleh Sekutu Perang Dunia II sejak penyerahan Kekaisaran Jepang pada 2 September 1945 hingga Perjanjian San Francisco berlaku pada 28 April 1952.
Sepanjang sejarahnya, Jepang memang dikenal sebagai bangsa yang berhasil mempertahankan kedaulatannya dari kolonisasi Barat. Jepang merupakan satu-satunya negara Asia yang lolos dari kolonisasi oleh Barat. Meski begitu, terdapat beberapa peristiwa di mana kekuatan asing berhasil menguasai atau berupaya menaklukkan wilayah Jepang secara langsung, termasuk pendudukan militer pasca Perang Dunia II dan serangan Kekaisaran Mongol pada abad ke-13.
Dilansir dari Encyclopedia.com, Jepang mengalami situasi semi-kolonial secara formal, dan Jepang modern sangat dipengaruhi oleh kolonialisme Barat dalam berbagai aspek kehidupan. Pembahasan tentang negara yang pernah menjajah Jepang ini penting untuk memahami bagaimana bangsa ini bertransformasi dari negeri yang nyaris dijajah menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia seperti saat ini. Untuk lebih jelasnya, simak pembahasan selengkapnya berikut ini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Jumat (26/6/2026).
Pengertian Penjajahan dan Status Historis Jepang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1652176/original/068214200_1500376391-Tentara_Jepang_pada_Perang_Dunia_II.jpg)
Perbesar
Untuk memahami siapa saja negara yang pernah menjajah Jepang, penting untuk membedakan antara konsep "penjajahan" (colonization) dan "pendudukan militer" (military occupation). Penjajahan merujuk pada penguasaan politik, ekonomi, dan sosial suatu bangsa oleh bangsa lain dalam jangka panjang. Sementara pendudukan militer bersifat lebih terbatas secara waktu dan umumnya terjadi setelah perang.
Jepang tidak secara formal dijajah oleh kekuatan Barat, tetapi mengalami situasi semi-kolonial secara resmi. Sebagaimana dikutip dari Encyclopedia.com, pertemuan pertama Jepang dengan kolonialisme Barat terjadi dengan Portugis pada pertengahan abad ke-16. Portugis membawa agama Katolik dan teknologi senjata api ke Jepang, yang kemudian mengubah cara peperangan para samurai.
Kebijakan sakoku (negara tertutup) merupakan respons Tokugawa terhadap kemajuan kolonialisme Barat, yang melarang perjalanan ke luar negeri dan kontak dengan orang asing. Kebijakan isolasi ini berlangsung dari 1641 hingga 1854 dan secara efektif melindungi Jepang dari kolonisasi bangsa Eropa.
Merujuk pada riset di Britannica, banyak upaya dilakukan untuk menjelaskan mengapa Jepang yang lemah tidak diambil alih sebagai koloni, dan dua faktor dinilai sangat krusial, salah satunya adalah bangsa-bangsa Barat tidak mengejar upaya penguasaan Jepang seagresif yang mereka lakukan di tempat lain.
Kemenangan Inggris atas Tiongkok dalam Perang Opium (1839-1842) memperdalam ketakutan Jepang terhadap kolonisasi. Perdebatan pun meletus di kalangan samurai tentang cara merespons tekanan kekuatan industri Barat. Pada akhirnya, pemerintah Meiji memilih jalan modernisasi sebagai strategi pertahanan. Kekaisaran Jepang menjadi satu-satunya kekuatan dunia non-Barat dan kekuatan utama di Asia Timur dalam waktu sekitar 25 tahun berkat industrialisasi dan pembangunan ekonomi.
Daftar Negara yang Pernah Menduduki Jepang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2992769/original/044494600_1576039407-japans_army_arsip_nasional.jpg)
Perbesar
Meskipun tidak dijajah dalam pengertian klasik, tercatat beberapa kekuatan asing yang berupaya menguasai atau berhasil menduduki Jepang. Berdasarkan berbagai sumber sejarah internasional, berikut daftar negara yang pernah menjajah Jepang atau berupaya menaklukannya.
- Amerika Serikat (1945-1952) — Pendudukan Jepang (1945-1952) merupakan pendudukan militer oleh Kekuatan Sekutu setelah kekalahannya dalam Perang Dunia II, yang secara teoritis merupakan pendudukan internasional, namun faktanya hampir seluruhnya dilaksanakan oleh pasukan AS di bawah Jenderal Douglas MacArthur.
- Persemakmuran Inggris / BCOF (1946-1952) — British Commonwealth Occupation Force (BCOF) merupakan satuan tugas Persemakmuran Inggris yang terdiri dari pasukan militer Australia, Inggris, India, dan Selandia Baru di Jepang yang diduduki.
- Kekaisaran Mongol (upaya invasi 1274 dan 1281) — Invasi Mongol ke Jepang terjadi pada 1274 dan 1281 ketika Kubilai Khan mengirim dua armada besar dari Korea dan Tiongkok. Kedua upaya ini gagal berkat pertahanan samurai dan badai topan.
- Amerika Serikat (tekanan pembukaan 1853-1854) — Komodor Matthew Perry memaksa Jepang membuka pelabuhannya melalui diplomasi kapal perang (gunboat diplomacy). Pada 1858, Jepang menyetujui perjanjian perdagangan penuh dengan AS, diikuti perjanjian serupa dengan Belanda, Rusia, Prancis, dan Inggris.
- Uni Soviet (pendudukan sebagian 1945) — Uni Soviet menyatakan perang terhadap Jepang pada Agustus 1945, dan segera setelahnya menduduki serta menganeksasi Kepulauan Kuril selatan, yang masih diklaim Jepang hingga kini.
Baca juga: Langkah Awal Jepang untuk Menguasai Asia
Peran Amerika Serikat dalam Okupasi Jepang (1945-1952)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1671122/original/063388800_1502097527-Hiroshima4.jpg)
Perbesar
Di antara semua negara yang pernah menjajah Jepang, Amerika Serikat memiliki peran paling dominan melalui pendudukan pasca Perang Dunia II. Setelah kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, Amerika Serikat memimpin Sekutu dalam pendudukan dan rehabilitasi negara Jepang. Antara 1945 dan 1952, pasukan pendudukan AS yang dipimpin oleh Jenderal Douglas MacArthur memberlakukan reformasi militer, politik, ekonomi, dan sosial secara luas.
Pada akhir 1945, sekitar 430.000 tentara Amerika ditempatkan di seluruh Jepang. Secara total, termasuk rotasi pasukan pengganti selama tujuh tahun, hampir 1 juta tentara Amerika bertugas dalam Pendudukan tersebut. Reformasi yang dilakukan AS sangat menyeluruh. Sebuah konstitusi baru yang disahkan pada 1947 menanamkan kekuasaan pada pemerintahan demokratis, di mana Jepang menanggalkan haknya untuk berperang, kaisar diturunkan menjadi simbol seremonial, dan perempuan mendapat hak pilih.
Sebagaimana dikutip dari situs U.S. Department of State, pendudukan Jepang dapat dibagi ke dalam tiga fase: (1) upaya awal menghukum dan mereformasi Jepang, (2) pekerjaan menghidupkan kembali ekonomi Jepang, serta (3) penyimpulan perjanjian damai formal dan aliansi. Fase pertama berfokus pada demiliterisasi dan demokratisasi Jepang, termasuk mengadili pemimpin perang melalui pengadilan kejahatan perang di Tokyo.
Pendudukan secara resmi berakhir dengan berlakunya Perjanjian San Francisco, yang ditandatangani pada 8 September 1951 dan efektif sejak 28 April 1952, setelah itu militer AS menghentikan keterlibatan langsung dalam administrasi sipil negara tersebut. Menariknya, surat kabar Jepang Asahi Shimbun, pada hari pendudukan berakhir, menerbitkan esai yang sangat kritis terhadap pendudukan tersebut, menyebutnya "hampir serupa dengan kolonialisme."
Pasukan British Commonwealth dalam Pendudukan Jepang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1671124/original/050547800_1502097528-Hiroshima6.jpg)
Perbesar
Selain Amerika Serikat, negara yang pernah menjajah Jepang dalam konteks pendudukan militer meliputi negara-negara Persemakmuran Inggris yang tergabung dalam British Commonwealth Occupation Force (BCOF). BCOF merupakan satuan tugas Persemakmuran Inggris yang terdiri dari pasukan militer Australia, Inggris, India, dan Selandia Baru di Jepang, dengan kekuatan puncak sekitar 40.000 personel yang mencakup 25% dari pasukan pendudukan.
Mengacu pada data dari Australian War Memorial, seluruh pasukan BCOF berjumlah 45.000 dari Inggris, India, Selandia Baru, dan Australia, dengan sekitar 16.000 warga Australia bertugas di BCOF. Kehadiran mereka memiliki peran spesifik yang berbeda dari pasukan Amerika. Sementara Pasukan AS bertanggung jawab atas pemerintahan militer, BCOF bertanggung jawab mengawasi demiliterisasi dan pembuangan industri perang Jepang, serta menduduki prefektur barat seperti Shimane, Yamaguchi, Tottori, Okayama, Hiroshima, dan Pulau Shikoku.
Pada 1948, BCOF hanya terdiri dari personel militer Australia, dengan semua pasukan Inggris, India, dan Selandia Baru ditarik dari pendudukan. BCOF resmi berakhir pada 28 April 1952 ketika Perjanjian Damai Jepang mulai berlaku. Meskipun sering terlupakan dalam narasi sejarah pendudukan Jepang, BCOF memainkan peran penting dalam proses rekonsiliasi pasca perang antara negara-negara Persemakmuran dan Jepang.
Invasi Mongol ke Jepang, Serangan dari Kekaisaran Terbesar Dunia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8517186/original/089898200_1782443010-U.S._Department_of_State.jpg)
Perbesar
Jauh sebelum era pendudukan Sekutu, negara yang pernah berupaya menjajah Jepang secara militer adalah Kekaisaran Mongol di bawah Kubilai Khan. Invasi Mongol ke Jepang terjadi pada 1274 dan 1281 ketika Kubilai Khan mengirim dua armada besar dari Korea dan Tiongkok. Dalam kedua kasus tersebut, para samurai Jepang dengan gagah berani mempertahankan pantai mereka, namun badai topan yang dikenal sebagai kamikaze atau "angin ilahi" yang menenggelamkan kapal dan pasukan tak terhitung jumlahnya, sehingga menyelamatkan Jepang dari penaklukan asing.
Serangan pertama terjadi pada musim gugur 1274. Pasukan invasi pertama yang menyerang Jepang terdiri dari sekitar 30.000 hingga 40.000 orang, sebagian besar etnis Tionghoa dan Korea kecuali para perwira Mongol, dengan estimasi 500 hingga 900 kapal. Dilansir dari Britannica, topan menghantam saat kapal-kapal berlabuh di Teluk Hakata, Kyushu, menenggelamkan sekitar sepertiga kapal, dan diperkirakan 13.000 pasukan Kubilai tenggelam.
Armada invasi kedua Kubilai Khan jauh lebih besar dari yang pertama, kali ini berkat kemenangan atas Song dan perolehan angkatan lautnya, terdapat 4.400 kapal dan sekitar 100.000 pasukan. Berdasarkan data dari World History Encyclopedia, setelah invasi 1274, benteng-benteng dibangun dan tembok batu besar didirikan di sekitar Teluk Hakata pada 1275 yang berukuran sekitar 19 kilometer panjangnya dan setinggi hingga 2,8 meter. Pertahanan ini terbukti efektif saat invasi kedua datang.
Pada akhirnya merupakan kegagalan, upaya invasi ini memiliki signifikansi makro-historis karena menetapkan batas ekspansi Mongol dan menjadi peristiwa yang menentukan identitas bangsa dalam sejarah Jepang. Istilah kamikaze yang lahir dari peristiwa ini kemudian menjadi bagian ikonik dari budaya militer Jepang.
Baca juga: Negara Pertama yang Mengakui Kemerdekaan Indonesia
Dampak Pendudukan Asing terhadap Jepang Modern
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1645227/original/045639200_1499757467-nn20130611i1a.jpg)
Perbesar
Pendudukan Sekutu sebagai peristiwa terkait negara yang pernah menjajah Jepang membawa transformasi mendalam bagi masyarakat Jepang. Pendudukan tersebut bertumpu pada beberapa tujuan yang saling terkait, sering dirangkum sebagai "tiga D": demiliterisasi, demokratisasi, dan desentralisasi. Reformasi ini menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan Jepang.
Di bidang politik, pencapaian paling bertahan lama dari pendudukan adalah Konstitusi 1947. Konstitusi ini secara fundamental mengubah struktur kekuasaan Jepang. Kaisar diturunkan menjadi status seremonial, dan perempuan mendapat hak pilih. Administrasi pendudukan juga melaksanakan reformasi agraria, mengurangi jumlah petani penyewa dari 46 persen menjadi 10 persen. Dampak ini masih terasa hingga saat ini dalam sistem demokrasi Jepang.
Di bidang budaya, pengaruh budaya Barat membanjir selama pendudukan, termasuk jazz Amerika, film Hollywood, dan mode yang menjadi sangat populer di kalangan anak muda Jepang, serta kata serapan bahasa Inggris memasuki bahasa Jepang sehari-hari dengan cepat. Perlu dicatat bahwa meski pendudukan berakhir pada 1952, kehadiran militer AS tetap berlanjut. Implementasi simultan Perjanjian Keamanan AS-Jepang memungkinkan puluhan ribu tentara Amerika tetap ditempatkan di Jepang secara tidak terbatas, meskipun atas undangan pemerintah Jepang dan bukan sebagai pasukan pendudukan.
Hubungan ini terus berlangsung dan membentuk kebijakan pasifisme Jepang selama lebih dari delapan dekade. Ironisnya, Jepang yang dulunya dikenal sebagai kekuatan militer agresif kini menjadi salah satu negara paling damai di kawasan Asia, sebuah transformasi yang tidak lepas dari warisan pendudukan Sekutu.
Sementara itu, di sisi lain sejarah, Jepang sendiri tercatat sebagai negara yang menjajah berbagai wilayah di Asia. Sebelum 1945, Jepang membangun imperium kolonial dengan populasi non-Jepang yang besar, menganeksasi Taiwan (1895) dan Korea (1910), mendirikan negara boneka di Manchuria (1932), serta menduduki sebagian Tiongkok utara. Di Indonesia, pendudukan Jepang berlangsung dari 1942 hingga 1945 dan membawa dampak besar, termasuk kebijakan kerja paksa romusha yang menyengsarakan rakyat.
Kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II dan pendudukan yang menyusul menjadi titik balik sejarah, tidak hanya bagi Jepang tetapi juga bagi bangsa-bangsa yang sebelumnya dijajah Jepang. Korea yang terbebas pada 1945 kemudian terpecah menjadi dua negara, sementara Indonesia berhasil meraih kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 di tengah kekosongan kekuasaan pasca menyerahnya Jepang.
Pertanyaan Seputar Negara yang Pernah Menjajah Jepang
Q: Apakah Jepang benar-benar dijajah oleh negara lain?
A: Jepang tidak dijajah secara formal seperti halnya negara-negara Asia Tenggara oleh bangsa Eropa. Jepang tidak secara resmi dijajah oleh kekuatan Barat, namun mengalami situasi semi-kolonial. Peristiwa terdekat dengan penjajahan adalah pendudukan militer oleh Sekutu yang dipimpin Amerika Serikat dari 1945 hingga 1952, di mana seluruh aspek pemerintahan Jepang diawasi oleh otoritas asing. Meskipun demikian, Jepang tetap memiliki pemerintahan sipil sendiri yang bekerja di bawah arahan SCAP.
Q: Berapa lama Amerika Serikat menduduki Jepang?
A: Pendudukan militer Jepang oleh Kekuatan Sekutu berlangsung dari 1945 hingga 1952. Jadi, total masa pendudukan berlangsung sekitar tujuh tahun. Selama periode ini, pasukan pendudukan AS memberlakukan reformasi militer, politik, ekonomi, dan sosial secara menyeluruh, termasuk penyusunan konstitusi baru yang melarang Jepang berperang. Meskipun pendudukan resmi berakhir pada 1952, basis militer AS tetap ada di Jepang hingga saat ini berdasarkan perjanjian keamanan bilateral.
Q: Mengapa invasi Mongol ke Jepang gagal?
A: Dalam kedua invasi pada 1274 dan 1281, para samurai Jepang dengan gigih mempertahankan pantai mereka, namun badai topan yang dikenal sebagai kamikaze turut menghancurkan armada Mongol. Selain faktor cuaca, pertahanan Jepang yang terorganisir dengan baik juga menjadi faktor kunci. Tembok batu besar sepanjang 19 kilometer didirikan di sekitar Teluk Hakata untuk mengantisipasi serangan kedua. Kombinasi pertahanan fisik, keberanian samurai, dan fenomena alam menjadikan Jepang berhasil mempertahankan kedaulatannya dari salah satu kekaisaran terbesar dalam sejarah.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8472948/original/045750900_1782381642-EwnYjUniEmuRxQSJ0RkKfLOyxdiKXDrLbywCyFAz.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516263/original/008062300_1782441709-xphhsTs2xR3mROTvzeAhH6cr6hnDZZC4iMzHkzDN.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516176/original/091697900_1782441641-QpRferzuxI9Jr9Wky825lFcvLMEU4l5OKgOSKAF3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8474340/original/030142600_1782384055-40lO2Zvz5ise0HAdmqFmuGvyk2wjtHrrJVZaBMhx.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8263018/original/062015000_1781856638-dSY6HkzvbNwvdN1ITfQym1eBCHK19empj6SsZOBf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8474343/original/050618800_1782384056-BUq9vCu4MiTga8Jtqhmy6uWerpOhGPW2JuEsbE0y.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8474328/original/090650000_1782384044-hePXNt7KCRTCKaUHFcFDo4In7dsiTUBlGC2m2vqu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3255027/original/046915200_1601539420-photo-1574607383363-5b5f1747b37b.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3510191/original/080776800_1626239245-thought-catalog-IjpqsMP6RzY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8474330/original/013538800_1782384046-HtopnNcjMCgs6LvyMwBEEq62it8m4Dm1Z060rgNY.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8396200/original/032355200_1782277250-pSIXYUhPl977xYJ4l5TAEhssPjATXZ53iRzbCWpd.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8396228/original/005383800_1782277281-wxQ5FNrIFysJbgusgS6L4p50XMccTWo921gePn3t.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8396218/original/059992400_1782277260-rqN9Ufhj9MRWf37AHEkfgY8ICHFV1k2NMVzHWUa2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8474318/original/030628400_1782384034-arBqcXAl4S06GV2iP1BncAeqifHEkt2QLfz1C2K5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8474326/original/045696200_1782384042-yvoZUgKcG0BtkE8Rwykbw192j8P6MJaLgtIZ4Uz9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8263016/original/098044000_1781856635-aURc7A3ONTQS12iROYjQmxwXdkOA3cZWlpYz4EGC.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8472973/original/025200300_1782381687-F36KMvaY4PhIb47hGV2HP6TSIQIXfEjc9UTWlG5M.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8396185/original/093093400_1782277242-FiLF1LaQCIm7ZHPsrU3FOKOKABqamrtiZpNIH8ZW.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8396190/original/081635900_1782277245-gA0unf7AXrVpkLwfvrDHReWdLUJUFLKTdhISHXQd.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8263021/original/001208500_1781856642-AEkO2qITBZPgQPaBgeeuFOHGKF2U2OEGAFnEGg0D.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533446/original/043365700_1773737304-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5530617/original/099175500_1773466166-mud1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5539244/original/040883000_1774594881-rumah_minimalis_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522319/original/072750000_1772755216-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522345/original/079886200_1772757830-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4401674/original/056918100_1681909694-20230419-Mudik-Jalur-Pantura-Angga-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1045202/original/018183200_1446724420-151105-THR-PNS-Grafis-Abdillah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5521841/original/047869500_1772701578-open_space_3a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3987911/original/095414600_1649311271-jeppe-vadgaard-PnFgNgCkBXY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5528599/original/064914600_1773288962-Ashera_Dress_Sq1_1770721983416.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522260/original/039984700_1772750807-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522506/original/039967800_1772767694-Teras_rumah_subsidi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522537/original/050337400_1772768376-Model_Rambut_Pendek_Wanita_Cina.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522634/original/031632000_1772771522-Gemini_Generated_Image_68hqe168hqe168hq.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522514/original/063562100_1772767710-marlon-soares-NDe1cA_jb_4-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5524816/original/031467100_1773012780-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514811/original/095715400_1772108340-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5478554/original/057404800_1768904586-Beternak_Jangkrik_Pakan_Ternak.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5508983/original/035798900_1771646536-desain_kebun_sayur__7_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534966/original/037393500_1773906231-Rak_Susun_Minimalis_di_Sudut_Teras.jpg)