Mengenal Sesar Lembang, Berpotensi Picu Gempa Besar

2 weeks ago 19

Liputan6.com, Jakarta - Di balik keindahan alam Jawa Barat, terdapat ancaman geologi dari Sesar Lembang yang perlu diwaspadai. Sesar tersebut merupakan patahan aktif yang belakangan menjadi perhatian akademisi serta ahli kebumian, karena dampak aktivitasnya menciptakan gempa yang diprediksi berskala besar. Secara ukuran, bentangannya terpantau sejauh 29 kilometer yang membelah wilayah tatar priangan tersebut.

Diungkap oleh berbagai sumber, aktivitas lempeng bumi ini diperkirakan bisa memicu getaran hingga magnitudo di atas 5,0. Ini tentu menjadi ancaman bahaya bagi wilayah perkotaan Bandung yang relatif dekat dengan keberadaannya. Apalagi menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) saat ini tingkat kepadatan wilayah Bandung Raya telah mencapai sekitar 8 juta jiwa, sehingga berpotensi menimbulkan dampak bencana yang cukup besar.

Lantas bagaimana sebenarnya fakta tentang Sesar Lembang yang disebut masih sangat aktif ini? Untuk menjawab itu, Liputan6 akan membahasnya, mulai dari definisi, sejarah aktivitas, dampak risiko, hingga langkah-langkah kesiapsiagaan yang perlu dilakukan masyarakat. Simak informasi selengkapnya berikut, dirangkum untuk Anda sebagai bentuk kewaspadaan bencana dan kesiapsiagaan mitigasi masyarakat, Senin (22/12).

Apa Itu Sesar Lembang? Membentang dari Lembang sampai Sumedang

Sesar Lembang adalah patahan aktif yang terletak di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Menurut situs resmi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumbe Daya Mineral (ESDM) patahan ini membentang dari Padalarang hingga Gunung Manglayang di Jatinangor, dengan panjang sekitar 29 kilometer. Sesar ini merupakan jenis patahan geser mendatar, yang berarti pergerakannya dominan horizontal. Beberapa ahli juga menggolongkannya sebagai sesar geser naik yang memiliki komponen pergerakan vertikal.

Sesar Lembang melewati beberapa wilayah di Bandung Raya, termasuk Kecamatan Ngamprah, Cisarua, Parongpong, dan Lembang di Kabupaten Bandung Barat, serta Cimenyan dan Cilengkrang di Kabupaten Bandung, hingga Tanjungsari di Kabupaten Sumedang. Keberadaan sesar ini terlihat jelas di lapangan sebagai sistem geologi aktif. Pergerakan Sesar Lembang terjadi dengan kecepatan antara 0,2 hingga 3,45 milimeter per tahun.

Sesar ini terbagi menjadi beberapa segmen, seperti segmen Cimeta, Cipogor, Cihideung, Gunung Batu, Cikapundung, dan Batu Lonceng. Setiap segmen memiliki karakteristik pergerakan sendiri, sehingga pergerakan Sesar Lembang secara keseluruhan tidak selalu seragam. Patahan ini juga mengalami pertemuan dengan Sesar Cimandiri di Padalarang.

Sejarah Aktivitas Sesar Lembang

Sesar Lembang terbentuk pada Zaman Kuarter atau Pleistosen, sekitar 500.000 tahun yang lalu. Proses pembentukannya berkaitan dengan runtuhnya Kompleks Gunung Api Sunda-Burangrang, yang memicu terbentuknya struktur sesar turun dan kemudian berkembang menjadi sesar mendatar aktif. Merujuk situs resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), berdasarkan penelitian paleoseismologi ditemukan bukti adanya gempa bumi besar di masa lalu.

Gempa bumi besar terakhir akibat Sesar Lembang terjadi pada abad ke-15, sekitar tahun 1450 hingga 1510. Pada masa itu, wilayah Tatar Sunda masih berada di bawah Kerajaan Pajajaran. Bukti geologi menunjukkan gempa ini memiliki magnitudo sekitar 6,5 hingga 7,0, dengan pergeseran vertikal terukur sekitar 40 sentimeter. Catatan geologi juga merekam gempa besar sekitar 2.000 tahun silam dengan magnitudo 6,8, yang menyebabkan bagian utara sesar amblas sejauh 1,7 meter.

Siklus pengulangan gempa besar dari Sesar Lembang diperkirakan antara 170 hingga 670 tahun. Jika mengacu pada rentang waktu tersebut, periode gempa besar berikutnya secara teoritis dapat terjadi paling lambat sekitar tahun 2170 yang berarti dekat dengan masa sekarang.

Dampak Risiko dan Potensi Gempa Besar di Jawa Barat

Sesar Lembang memiliki potensi untuk memicu gempa bumi dengan magnitudo antara 6,5 hingga 7,0. Gempa dengan kekuatan tersebut dapat menimbulkan dampak signifikan terhadap lingkungan dan masyarakat. Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Sumedang. Kota Cimahi, misalnya, disebut sebagai wilayah yang paling terdampak karena jaraknya yang dekat dengan urat sesar.

Dampak gempa dapat mencapai skala intensitas VII-VIII MMI, yang berarti guncangan sangat kuat dan dapat menyebabkan kerusakan sedang hingga berat pada bangunan. Bangunan dengan konstruksi yang kuat dapat mengalami kerusakan ringan, sementara bangunan sederhana non-struktural berpotensi mengalami kerusakan berat hingga roboh. Selain kerusakan bangunan, gempa Sesar Lembang juga berpotensi memicu tanah longsor, terutama di daerah seperti Dago atas, Pasir Wangi, dan Sisurupan.

Kerugian ekonomi akibat kerusakan bangunan diperkirakan dapat mencapai triliunan rupiah. Getaran tanah akibat gempa tidak secara langsung menyebabkan kematian, namun dampak ikutan seperti reruntuhan bangunan dan tanah longsor berpotensi mengakibatkan korban jiwa dan harta benda. Selain itu, gempa besar juga dapat memicu aktivitas vulkanis Gunung Tangkuban Perahu.

Upaya Pemantauan oleh BMKG Sejak 1963

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus melakukan pemantauan aktivitas Sesar Lembang. Berdasarkan informasi di unggahan Instagram BPBD Cimahi pada 29 Agustus 2025 lalu, pemantauan ini dilakukan melalui jaringan sensor Indonesia Tsunami Early Warning System (INATEWS) dan Lembang Framework. Seismograf pertama di Lembang berjenis World Wide Standardized Seismograph Network (WWSSN) telah dipasang dan dioperasikan oleh BMKG sejak tahun 1963. Pada tahun 2019, BMKG memasang 16 sensor seismik periode pendek tambahan untuk melengkapi 19 seismograf broadband yang sudah ada di Jawa Barat dan Banten.

Hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya aktivitas seismik kecil di Sesar Lembang. Misalnya, sejak 25 Juli hingga 20 Agustus 2025, BMKG mencatat enam aktivitas kegempaan dengan magnitudo antara M 1,7 hingga M 2,3 di segmen Cimeta, bagian barat Sesar Lembang. Segmen Cimeta dan Cipogor saat ini menunjukkan aktivitas yang lebih dominan, sementara segmen lainnya relatif tenang.

BMKG juga membuat skenario gempa dan menghitung kekuatan guncangannya. Meskipun aktivitas Sesar Lembang meningkat, BMKG menyatakan bahwa tidak ada yang dapat memprediksi kapan gempa besar akan terjadi. Peningkatan aktivitas seismik ini lebih dikhawatirkan sebagai gempa pembuka.

Langkah Kesiapsiagaan Warga

Kesiapsiagaan warga merupakan faktor penting dalam mengurangi risiko bencana gempa bumi. Sebelum gempa terjadi, masyarakat perlu mengenali lingkungan tempat tinggal dan bekerja untuk mengetahui tempat aman berlindung dan jalur evakuasi. Penting untuk menata benda berat agar berada di bagian bawah dan memeriksa kestabilan benda yang tergantung untuk mencegah jatuh saat gempa.

Menyiapkan alat pemadam kebakaran, alat keselamatan standar, dan persediaan obat-obatan juga merupakan langkah persiapan. Masyarakat juga perlu memastikan konstruksi rumah tahan gempa atau melakukan renovasi untuk memperkuat bangunan yang rentan. Pemerintah menetapkan jarak aman dari garis sesar sekitar 100-150 meter sesuai standar internasional.

Beberapa desa di sepanjang jalur sesar telah mulai menerapkan sistem deteksi dini dan menyiapkan jalur evakuasi. Edukasi publik dan pembangunan rumah tahan gempa menjadi bagian dari upaya mitigasi. Saat gempa terjadi, tindakan darurat yang perlu dilakukan adalah merunduk, berlindung di bawah meja yang kokoh, dan berpegangan agar tidak terlempar.

Kondisi Terkini Sesar Lembang

Kondisi Sesar Lembang saat ini menunjukkan adanya aktivitas seismik yang terus dipantau. BMKG melaporkan peningkatan aktivitas kegempaan di segmen Cimeta dan Cipogor, bagian barat Sesar Lembang, sejak Juli 2025. Gempa-gempa kecil dengan magnitudo antara M 1,7 hingga M 2,3 telah tercatat di segmen tersebut. Meskipun demikian, segmen-segmen lain dari Sesar Lembang relatif tenang.

Penelitian terbaru dari Pusat Penelitian Geoteknologi BRIN mengungkap bahwa laju pergeseran Sesar Lembang saat ini sekitar 1,9 hingga 3,4 milimeter per tahun. Panjang Sesar Lembang juga dikonfirmasi sepanjang 29 kilometer, bukan 22 kilometer seperti perkiraan sebelumnya.

Bukti geologis seperti Gunung Batu di kilometer 11,5 menjadi penanda aktivitas sesar ini, di mana bukit tersebut dapat naik hingga 40 sentimeter saat gempa melalui penggalian parit sebagai upaya pendalaman. Para ahli terus melakukan kajian ilmiah dan pemantauan untuk memahami perilaku Sesar Lembang. Kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko bencana.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Topik

Q: Apa itu sesar aktif?

A: Sesar aktif adalah retakan pada kerak bumi yang mengalami pergerakan dalam kurun waktu Holosen.

Q: Berapa panjang Sesar Lembang?

A: Sesar Lembang memiliki panjang sekitar 29 kilometer.

Q: Kapan terakhir Sesar Lembang menyebabkan gempa besar?

A: Gempa besar terakhir akibat Sesar Lembang terjadi pada abad ke-15.

Q: Wilayah mana saja yang terdampak Sesar Lembang?

A: Wilayah yang terdampak meliputi Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat.

Q: Apa yang harus dilakukan jika terjadi gempa Sesar Lembang?

A: Saat gempa terjadi, lakukan tindakan 'Drop, Cover, and Hold On'.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |