Mengenal Apa Itu NPD, Penyebab dan Tanda-tandanya

2 weeks ago 24

Liputan6.com, Jakarta - Istilah “narsis” sering kali kita dengar dalam percakapan sehari-hari—entah untuk menggambarkan seseorang yang gemar selfie, suka dipuji, atau terlalu percaya diri. Namun, di balik penggunaan kata yang ringan itu, ada kondisi psikologis yang jauh lebih dalam dan kompleks: Narcissistic Personality Disorder (NPD), atau gangguan kepribadian narsistik. Apa itu NPD bukan sekadar sikap suka diri sendiri, tetapi merupakan gangguan kepribadian yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan berinteraksi dengan orang lain.

Dalam dunia psikologi klinis, NPD dipandang sebagai kondisi serius yang bisa merusak hubungan sosial, karier, hingga kesehatan mental penderitanya maupun orang di sekitarnya. Seseorang dengan NPD bisa tampak percaya diri, berkarisma, bahkan menawan di awal perkenalan. Namun di balik itu, mereka sering menyimpan kerentanan emosional yang ekstrem, ketidakmampuan merasakan empati, dan kebutuhan berlebihan akan validasi dari luar. Dalam artikel ini, Liputan6 mengajak Anda untuk mengenal lebih jauh apa itu NPD berdasarkan beberapa sumber, Senin (22/12).

Apa Itu NPD?

Menurut American Psychiatric Association (APA) dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5-TR), Narcissistic Personality Disorder adalah gangguan kepribadian yang ditandai oleh pola pikir dan perilaku grandiositas (rasa penting diri yang berlebihan), kebutuhan konstan akan kekaguman, serta kurangnya empati terhadap orang lain. Ciri-ciri ini biasanya muncul sejak awal masa dewasa dan menetap dalam berbagai konteks kehidupan — pekerjaan, pertemanan, bahkan keluarga. Prevalensinya relatif rendah, yakni sekitar 1–2% dari populasi umum, tetapi dampaknya sangat besar, terutama terhadap dinamika sosial dan emosional di sekitarnya.

Secara klinis, individu dengan NPD sering kali tampak percaya diri dan berorientasi pada kesuksesan. Mereka suka menjadi pusat perhatian dan merasa berhak mendapatkan perlakuan istimewa. Namun, di sisi dalam, mereka justru memiliki harga diri yang sangat rapuh. Setiap bentuk kritik, penolakan, atau kegagalan dapat memicu perasaan malu mendalam, kemarahan, atau bahkan penghinaan diri. Karena itu, banyak penderita NPD menutupi kerentanan mereka dengan sikap arogan, manipulatif, dan pengendalian terhadap orang lain.

Psikologi modern memandang NPD bukan sekadar “ego besar,” melainkan bentuk disfungsi dalam pembentukan identitas diri dan regulasi emosi. Orang dengan NPD sulit menilai dirinya secara realistis. Mereka menggantungkan harga diri pada pengakuan dari luar. Ketika kekaguman itu berkurang, muncul rasa hampa dan tidak berharga. Dalam konteks sosial, hal ini menyebabkan hubungan yang dangkal, penuh konflik, atau bahkan abusif secara emosional.

Ciri-ciri Umum NPD (berdasarkan DSM-5-TR) adalah sebagai berikut:

  • Merasa diri sangat penting dan melebih-lebihkan pencapaian.
  • Terobsesi pada fantasi tentang kekuasaan, kesuksesan, atau cinta ideal.
  • Percaya bahwa dirinya unik dan hanya bisa dipahami oleh orang-orang “istimewa.”
  • Menuntut kekaguman berlebihan.
  • Memiliki rasa berhak atas perlakuan istimewa.
  • Memanfaatkan orang lain untuk mencapai tujuan pribadi.
  • Tidak mampu berempati terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain.
  • Sering merasa iri atau yakin orang lain iri padanya.
  • Menunjukkan perilaku atau sikap arogan.

Kombinasi ciri-ciri di atas membuat penderita NPD sulit beradaptasi secara sehat di lingkungan sosial, karena mereka sering menempatkan diri di atas orang lain tanpa menyadari dampaknya.

Sisi Ganda NPD

Menariknya, penelitian modern menunjukkan bahwa di balik keangkuhan yang sering tampak pada penderita NPD, terdapat sisi lain yang justru rapuh dan mudah terluka. Narcissistic Personality Disorder memiliki dua dimensi utama: grandiose narcissism dan vulnerable narcissism.

Pada tipe grandiose, individu tampak dominan, ambisius, dan sering kali memanipulasi orang lain untuk mempertahankan rasa superioritasnya. Mereka suka dipuji dan sulit menerima kritik. Sementara pada tipe vulnerable, individu justru lebih sensitif, defensif, dan menyembunyikan rasa rendah diri yang dalam di balik sikap dingin atau menarik diri. Mereka bisa tampak pemalu, namun dalam hati sangat membutuhkan validasi eksternal.

Kedua sisi ini bisa muncul secara bergantian pada orang yang sama. Dalam satu situasi, mereka bisa sangat percaya diri dan agresif; di saat lain, mereka merasa hampa dan tersinggung dengan hal-hal kecil. Pola naik-turun ini menjelaskan mengapa hubungan dengan seseorang yang memiliki NPD bisa terasa seperti rollercoaster emosional, penuh pesona di satu saat, penuh ledakan emosi di saat lain.

Penyebab dan Faktor Risiko

Belum ada penyebab tunggal yang menjelaskan munculnya NPD. Namun, para ahli sepakat bahwa gangguan ini merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor biologis, psikologis, dan lingkungan.

Berikut beberapa faktor utama yang diyakini berkontribusi terhadap pembentukannya:

  • Faktor genetik dan neurobiologis: Ada bukti bahwa kecenderungan NPD bisa diwariskan atau berkaitan dengan cara otak memproses empati dan penghargaan diri.
  • Pola asuh ekstrem: Terlalu dimanjakan, terlalu dikritik, atau diberi pujian berlebihan tanpa validasi emosional yang nyata dapat membentuk pandangan diri yang tidak seimbang.
  • Trauma masa kecil: Pengalaman ditolak, diabaikan, atau disalahgunakan secara emosional dapat menimbulkan kebutuhan kompulsif untuk merasa berharga di kemudian hari.
  • Faktor budaya dan sosial: Masyarakat yang menilai kesuksesan dari status, penampilan, atau kekayaan juga bisa memperkuat pola narsistik.

Dalam banyak kasus, NPD terbentuk sebagai mekanisme pertahanan psikologis. Anak yang tumbuh tanpa rasa aman emosional mungkin belajar menutupi rasa tidak berharga dengan pencitraan berlebihan akan kehebatan diri. Di masa dewasa, pola ini menjadi kaku dan sulit diubah tanpa bantuan terapi jangka panjang.

Tanda-Tanda Pasangan Anda Memiliki NPD

Salah satu dampak paling nyata dari Narcissistic Personality Disorder (NPD) terlihat dalam hubungan romantis. Orang dengan NPD sering kali memulai hubungan dengan pesona luar biasa—mereka tampak percaya diri, perhatian, bahkan membuat Anda merasa seperti orang paling istimewa di dunia. Namun, seiring waktu, sisi lain dari kepribadian mereka mulai terlihat: manipulatif, menuntut, dan tidak empatik. Mengutip Healthline, ada beberapa tanda utama yang bisa membantu Anda mengenali pola hubungan yang tidak sehat ini.

Love Bombing di Awal Hubungan

Pada tahap awal, mereka akan “membombardir” Anda dengan perhatian, hadiah, pesan manis, dan pernyataan cinta yang intens. Mereka bisa berkata bahwa Anda adalah “belahan jiwa” setelah baru beberapa kali bertemu. Sekilas ini terasa romantis, tetapi sebenarnya adalah strategi manipulatif untuk menciptakan ketergantungan emosional. Setelah Anda merasa terikat, perhatian dan kasih sayang itu bisa tiba-tiba ditarik, membuat Anda bingung dan berusaha keras mendapatkan kembali cinta yang dulu mereka tunjukkan. Pola tarik-ulur ini membuat Anda merasa bahwa kebahagiaan bergantung pada mereka.

Semua Tentang Mereka

Orang dengan NPD cenderung memusatkan seluruh percakapan pada diri mereka sendiri. Mereka suka menceritakan prestasi, pengalaman, atau masalah pribadi tanpa benar-benar peduli pada Anda. Saat Anda mencoba berbagi cerita, mereka mungkin memotong, mengabaikan, atau bahkan mengalihkan pembicaraan kembali ke diri mereka. Dalam jangka panjang, Anda mungkin mulai merasa tidak terlihat atau tidak penting. Ini bukan karena mereka jahat semata, melainkan karena mereka tidak memiliki kapasitas empati yang matang—mereka hanya merasa nyaman saat menjadi pusat perhatian.

Kurang Empati terhadap Perasaan Anda

Salah satu ciri paling mencolok dari NPD adalah ketidakmampuan merasakan atau memahami emosi orang lain. Saat Anda sedang sedih, stres, atau marah, mereka bisa tampak dingin, bahkan meremehkan perasaan Anda. Mereka mungkin berkata, “Kamu terlalu sensitif,” atau “Itu bukan masalah besar.” Bagi penderita NPD, emosi orang lain sering dianggap ancaman terhadap stabilitas ego mereka. Akibatnya, mereka sulit menunjukkan dukungan emosional yang tulus, yang membuat pasangan merasa kesepian meski secara fisik tidak sendirian.

Gaslighting dan Manipulasi Emosional

Gaslighting adalah bentuk manipulasi psikologis di mana seseorang membuat Anda meragukan ingatan, persepsi, atau kewarasan Anda sendiri. Orang dengan NPD kerap menggunakan taktik ini untuk mempertahankan kendali. Misalnya, ketika Anda memprotes sesuatu yang menyakitkan, mereka mungkin berkata, “Kamu salah ingat,” atau “Kamu terlalu dramatis.” Lama-kelamaan, Anda bisa merasa bingung, tidak yakin pada diri sendiri, bahkan meminta maaf atas hal yang sebenarnya bukan kesalahan Anda. Ini adalah pola berbahaya yang dapat menghancurkan rasa percaya diri dan otonomi emosional.

Tidak Pernah Mengakui Kesalahan

Bagi penderita NPD, mengakui kesalahan berarti mengakui kelemahan, dan itu sangat mengancam rasa superioritas mereka. Dalam konflik, mereka cenderung memutarbalikkan fakta agar tampak sebagai korban atau pihak yang benar. Anda mungkin mendengar kalimat seperti, “Kalau saja kamu tidak membuatku marah, aku tidak akan bertindak begitu.” Akibatnya, pasangan mereka sering terjebak dalam lingkaran rasa bersalah yang tidak beralasan. Tidak adanya tanggung jawab emosional ini membuat penyelesaian masalah hampir mustahil dilakukan secara sehat.

Mengisolasi Anda dari Lingkungan

Tanpa disadari, penderita NPD dapat memisahkan Anda dari teman dan keluarga. Mereka mungkin mengatakan bahwa orang-orang terdekat Anda tidak benar-benar peduli, atau bahwa hubungan tersebut hanya “mengganggu” kebahagiaan kalian berdua. Pada awalnya, tindakan ini bisa terasa seperti bentuk perhatian, tapi sebenarnya itu adalah cara untuk menciptakan ketergantungan emosional total. Ketika Anda mulai kehilangan jaringan dukungan sosial, mereka menjadi satu-satunya sumber validasi—dan sekaligus sumber tekanan emosional.

Reaksi Berlebihan terhadap Kritik

Penderita NPD memiliki harga diri yang rapuh di balik topeng percaya diri mereka. Karena itu, kritik sekecil apa pun bisa memicu kemarahan besar atau serangan balasan yang menyakitkan. Mereka mungkin membalas dengan hinaan, kemarahan, atau diam membisu dalam waktu lama (silent treatment). Dalam hubungan jangka panjang, hal ini membuat pasangan merasa takut untuk berbicara jujur, karena setiap percakapan yang jujur bisa berubah menjadi ledakan emosional.

Pertanyaan dan Jawaban

1. Apa itu Narcissistic Personality Disorder (NPD)?

NPD adalah gangguan kepribadian di mana seseorang memiliki rasa penting diri berlebihan, kurang empati, dan sangat membutuhkan pujian dari orang lain.

2. Apa bedanya narsistik biasa dan NPD?

Sifat narsistik biasa masih wajar dan fleksibel, sedangkan NPD bersifat ekstrem, kaku, dan menyebabkan gangguan dalam hubungan atau pekerjaan.

3. Apa penyebab utama seseorang mengalami NPD?

Penyebabnya meliputi kombinasi faktor genetik, pola asuh berlebihan atau tidak konsisten, trauma masa kecil, serta pengaruh lingkungan sosial.

4. Bagaimana cara mengenali pasangan yang memiliki NPD?

Pasangan dengan NPD cenderung memanipulasi emosi, haus perhatian, sulit berempati, sering menyalahkan Anda, dan marah besar saat dikritik.

5. Bisakah penderita NPD disembuhkan?

NPD tidak bisa “disembuhkan” sepenuhnya, tetapi dapat dikelola melalui terapi jangka panjang yang fokus pada kesadaran diri, empati, dan pengaturan emosi.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |