:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7182657/original/038964600_1779978568-5.jpg)
Perbesar
Liputan6.com, Jakarta - Kenapa musim panas di Eropa terasa begitu menyiksa menjadi pertanyaan yang semakin sering muncul setiap kali berbagai negara di benua tersebut dilanda gelombang panas ekstrem. Suhu yang menembus 40°C bahkan lebih bukan lagi kejadian langka, melainkan mulai menjadi pola yang berulang dari tahun ke tahun.
Dampaknya pun tidak hanya membuat warga kepanasan. Gangguan transportasi, meningkatnya angka kematian akibat suhu ekstrem, kebakaran hutan, hingga terganggunya layanan kesehatan menjadi konsekuensi nyata yang kini dihadapi banyak negara Eropa.
Lalu, mengapa wilayah yang selama ini identik dengan iklim sejuk justru mengalami musim panas yang terasa sangat menyiksa? Sejumlah lembaga ilmiah internasional seperti Copernicus Climate Change Service (C3S), World Weather Attribution (WWA), hingga berbagai universitas telah memberikan penjelasan yang cukup jelas mengenai fenomena tersebut, berikut ulasan Liputan6.com, Rabu (8/7/2026).
1. Eropa Menjadi Benua yang Mengalami Pemanasan Paling Cepat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4119450/original/016110200_1660147809-Sungai_Rhine_di_Jerman-1.jpg)
Perbesar
Alasan paling mendasar adalah karena Eropa merupakan benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia.
Menurut Copernicus Climate Change Service (C3S), suhu di Eropa meningkat sekitar 0,53°C setiap dekade sejak pertengahan 1990-an, atau lebih dari dua kali rata-rata pemanasan global yang berada di kisaran 0,26°C per dekade.
Artinya, ketika suhu rata-rata dunia terus meningkat akibat emisi gas rumah kaca, Eropa mengalami kenaikan yang jauh lebih cepat. Bahkan dibandingkan era pra-industri (1850–1900), suhu rata-rata Eropa telah naik sekitar 2,4°C, jauh lebih tinggi daripada kenaikan rata-rata global sekitar 1,3°C.
Inilah alasan utama kenapa musim panas di Eropa terasa begitu menyiksa. Kondisi dasar iklimnya sendiri sudah menjadi jauh lebih panas dibandingkan beberapa puluh tahun lalu.
2. Gelombang Panas Kini Terjadi Lebih Sering dan Lebih Intens
Menurut penelitian World Weather Attribution (WWA) yang dikutip Al Jazeera dan The Guardian, gelombang panas yang kini terjadi di Eropa dulunya merupakan peristiwa yang sangat langka.
Para peneliti menemukan bahwa:
- Gelombang panas serupa pada tahun 1976 akan terasa sekitar 3,5°C lebih dingin.
- Pada tahun 2003, intensitasnya masih sekitar 2°C lebih rendah dibandingkan sekarang.
- Peristiwa panas ekstrem seperti saat ini menjadi puluhan hingga ratusan kali lebih mungkin terjadi dibandingkan 50 tahun lalu.
Dr. Akshay Deoras dari University of Reading mengibaratkan kondisi ini seperti garis start dalam sebuah perlombaan yang dipindahkan jauh lebih dekat ke garis finis. Dengan kata lain, suhu dasar sudah meningkat sehingga sedikit tambahan panas saja dapat menghasilkan rekor baru.
3. Fenomena Heat Dome Memerangkap Udara Panas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5268288/original/022545000_1751251428-6.jpg)
Perbesar
Faktor lain yang sangat berpengaruh adalah munculnya fenomena heat dome.
Menurut penjelasan para ahli yang dikutip Al Jazeera, heat dome merupakan sistem tekanan udara tinggi yang berhenti bergerak dalam waktu lama. Sistem ini bekerja layaknya tutup panci raksasa yang menjebak udara panas di bawahnya.
Akibatnya:
- panas terus terakumulasi selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu,
- awan sulit terbentuk,
- hujan hampir tidak turun,
- sinar matahari terus memanaskan permukaan daratan.
Heat dome sebenarnya bukan fenomena baru. Namun karena suhu dasar Eropa kini sudah jauh lebih tinggi akibat perubahan iklim, dampaknya menjadi jauh lebih ekstrem dibandingkan masa lalu.
4. Infrastruktur Eropa Dibangun untuk Menahan Dingin, Bukan Melepas Panas
Ironisnya, salah satu penyebab musim panas terasa semakin menyiksa justru berasal dari bangunan-bangunan di Eropa sendiri.
Menurut WHO dan laporan majalah Time, sebagian besar rumah di Eropa dibangun selama ratusan tahun untuk menghadapi musim dingin.
Karakteristik bangunan tersebut antara lain:
- dinding tebal,
- jendela relatif kecil,
- insulasi tinggi,
- dirancang agar panas tetap berada di dalam ruangan.
Saat musim panas ekstrem datang, bangunan seperti ini justru berubah menjadi perangkap panas. Profesor Malcolm Mistry dari London School of Hygiene and Tropical Medicine bahkan menggambarkan banyak rumah di Inggris dan Prancis "berfungsi layaknya tungku" karena mempertahankan panas terlalu lama.
Akibatnya, suhu di dalam rumah tetap tinggi meski matahari telah terbenam.
5. Penggunaan Pendingin Ruangan Masih Relatif Rendah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4485402/original/038851500_1688002280-heat-g9c4f34d61_1280.jpg)
Perbesar
Berbeda dengan Amerika Serikat yang sebagian besar rumah memiliki pendingin udara, penggunaan AC di Eropa masih tergolong rendah.
Menurut data International Energy Agency (IEA) yang dikutip Time:
- hanya sekitar 20% rumah di Eropa memiliki AC,
- di Inggris angkanya sekitar 7%,
- Italia menjadi salah satu negara dengan penggunaan AC tertinggi, mendekati 50% rumah tangga.
Selama puluhan tahun, iklim Eropa memang tidak membutuhkan pendingin ruangan dalam skala besar. Karena itu, banyak gedung, apartemen, sekolah, hingga rumah sakit tidak dirancang dengan sistem pendingin modern.
Ketika gelombang panas datang, masyarakat menjadi jauh lebih rentan terhadap stres panas.
6. Udara Lembap Membuat Tubuh Sulit Mendinginkan Diri
Bukan hanya suhu udara yang tinggi, tingkat kelembapan juga memperparah kondisi.
Dalam analisis World Weather Attribution yang diberitakan The Guardian, para peneliti menggunakan indikator Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) yang memperhitungkan suhu sekaligus kelembapan.
Ketika kelembapan meningkat:
- keringat lebih sulit menguap,
- proses pendinginan alami tubuh terganggu,
- risiko heat stroke meningkat drastis.
Inilah sebabnya suhu 35°C dengan kelembapan tinggi sering kali terasa jauh lebih menyiksa dibandingkan suhu yang sama di wilayah yang lebih kering.
7. Dampaknya Sangat Besar terhadap Kesehatan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4501496/original/000840000_1689247814-Gelombang_Panas.jpg)
Perbesar
Musim panas di Eropa kini bukan lagi sekadar persoalan rasa tidak nyaman.
WHO dan Lancet Countdown Europe mencatat bahwa panas ekstrem telah menjadi ancaman kesehatan masyarakat.
Beberapa data yang sering dikutip antara lain:
- sekitar 62.000 kematian terkait panas terjadi di Eropa sepanjang 2024,
- lebih dari 60.000 kematian juga tercatat selama musim panas 2022,
- penelitian WWA memperkirakan sekitar 2.300 kematian akibat gelombang panas pada musim panas 2024 di 12 kota Eropa hanya dalam waktu tiga hari.
Kelompok yang paling rentan meliputi:
- lansia,
- anak-anak,
- penderita penyakit jantung,
- penderita penyakit paru-paru,
- orang yang tinggal sendiri.
Dr. Hans Kluge dari WHO bahkan menegaskan bahwa gelombang panas seharusnya diperlakukan seperti ancaman kesehatan tahunan yang dapat diprediksi, bukan sekadar keadaan darurat sesaat.
8. Perubahan Iklim Membuat Rekor Panas Lama Terus Terlampaui
Penelitian WWA menunjukkan bahwa perubahan iklim akibat pembakaran bahan bakar fosil merupakan penyebab utama meningkatnya suhu ekstrem di Eropa.
Para ilmuwan menyimpulkan bahwa gelombang panas sebesar yang terjadi saat ini hampir tidak mungkin terjadi tanpa adanya pemanasan global yang dipicu aktivitas manusia.
Dengan meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer, setiap musim panas baru memiliki peluang lebih besar untuk memecahkan rekor sebelumnya.
Bahkan menurut proyeksi para peneliti, apabila emisi global tidak segera ditekan, musim panas yang kini dianggap ekstrem dapat menjadi kondisi yang tergolong "normal" pada pertengahan abad ini.
9. Kota-kota di Eropa Mengalami Efek Pulau Panas Perkotaan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5268286/original/071779800_1751251424-4.jpg)
Perbesar
Selain perubahan iklim global, banyak kota besar di Eropa mengalami fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan.
Permukaan beton, aspal, gedung bertingkat, dan minimnya ruang hijau menyebabkan panas terserap sepanjang siang hari, lalu dilepaskan perlahan saat malam.
Akibatnya, suhu malam tetap tinggi sehingga tubuh tidak memperoleh kesempatan untuk mendinginkan diri secara optimal. Para ilmuwan menyebut malam yang tetap panas ini sebagai salah satu penyebab meningkatnya gangguan tidur, kelelahan, hingga risiko kematian selama gelombang panas.
10. Adaptasi Masih Terus Dilakukan, Tetapi Belum Mengejar Kecepatan Perubahan Iklim
Berbagai negara Eropa sebenarnya mulai beradaptasi melalui:
- sistem peringatan dini gelombang panas,
- pembangunan ruang hijau,
- penambahan area teduh di kota,
- pembaruan standar bangunan,
- peningkatan kesiapsiagaan layanan kesehatan.
Namun menurut WHO, WWA, dan para peneliti yang diwawancarai Al Jazeera maupun Time, kecepatan adaptasi tersebut masih tertinggal dibandingkan laju perubahan iklim.
Karena itu, para ilmuwan menilai pengurangan emisi gas rumah kaca tetap menjadi langkah paling penting untuk membatasi intensitas gelombang panas di masa depan.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Musim Panas di Eropa
1. Mengapa suhu di Eropa bisa mencapai lebih dari 40°C?
Suhu ekstrem dipengaruhi oleh kombinasi perubahan iklim, fenomena heat dome, udara panas dari Afrika Utara, serta meningkatnya suhu dasar akibat pemanasan global.
2. Apakah musim panas ekstrem di Eropa merupakan kejadian baru?
Gelombang panas memang pernah terjadi sebelumnya, tetapi penelitian menunjukkan intensitas dan frekuensinya meningkat drastis dalam beberapa dekade terakhir sehingga kini menjadi jauh lebih sering.
3. Mengapa rumah-rumah di Eropa terasa sangat panas saat musim panas?
Sebagian besar rumah di Eropa dibangun untuk mempertahankan panas saat musim dingin. Akibatnya, ketika suhu luar sangat tinggi, bangunan justru menyimpan panas lebih lama.
4. Mengapa penggunaan AC di Eropa tidak sebanyak di Amerika Serikat?
Secara historis, iklim Eropa relatif sejuk sehingga kebutuhan pendingin ruangan rendah. Selain itu, kebijakan lingkungan juga mendorong penggunaan solusi pendinginan yang lebih ramah iklim.
5. Apakah musim panas di Eropa akan semakin panas di masa depan?
Banyak penelitian memproyeksikan bahwa tanpa pengurangan emisi gas rumah kaca secara signifikan, gelombang panas akan menjadi lebih sering, lebih lama, dan lebih intens pada dekade-dekade mendatang.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9288251/original/093550300_1783308136-nKFJyNNjPHNFsvt0qZEcO92QiLw6JS3xKZg68dna.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9290987/original/041154900_1783501600-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9291051/original/067593800_1783502814-Inspirasi_Kolam_Sudut_Berbentuk_Segitiga_dengan_Desain_Minimalis_yang_Bikin_Halaman_Kecil_Terasa_Luas.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4641492/original/037829200_1699502921-pexels-shawn-stutzman-1010480.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9290929/original/074739200_1783499411-Inspirasi_Taman_Rumah_dengan_Nuansa_Hutan_Tropis__Solusi_Halaman_Asri_dan_Estetik.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9290807/original/098650800_1783495653-Desain_Area_Santai_Permanen_dari_Semen_dan_Bata_Ekspos_yang_Cocok_untuk_Family_Time.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4243936/original/075581000_1669727338-ainun-jamila-nwpGRTdDQRQ-unsplash_1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9288190/original/030558400_1783308040-ktp3O5lIIyKgqs5vZvWrxJ9ZC3aEODtYwhVKVcUY.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4927915/original/053899700_1724648132-people-emotions-concept-happy-asian-woman-laughing-smiling-posing-summer-day-park.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9290979/original/093630800_1783501373-31df88a6-2b9b-4e25-a2eb-35220ac6860f.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5391577/original/029290200_1761356432-dapur_di_rumah_mezzanine_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5344522/original/024064800_1757487603-dapur_dekat_ruang_tamu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9291248/original/064758600_1783510405-5af9df3b-0a86-41c9-8325-968e3af90c74.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9291154/original/035886400_1783506237-Gantung_Suplir_di_Sudut_Teras.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3042158/original/019227800_1580894353-Photo_by_Valeria_Ushakova_from_Pexels.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9291104/original/014506500_1783504610-0f2c0ea1-fd5e-43a2-9e13-37c47f3612ba.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5467769/original/044308300_1767929602-Perawatan_Rutin_Penyiraman__Pemupukan__dan_Pemangkasan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9290888/original/082760400_1783498087-Gemini_Generated_Image_aouawbaouawbaoua.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9291192/original/055492300_1783507361-Inspirasi_Sudut_Teras_Mungil.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502182/original/070877300_1770971677-warung_di_gang_1.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533446/original/043365700_1773737304-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5530617/original/099175500_1773466166-mud1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5539244/original/040883000_1774594881-rumah_minimalis_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5528599/original/064914600_1773288962-Ashera_Dress_Sq1_1770721983416.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3987911/original/095414600_1649311271-jeppe-vadgaard-PnFgNgCkBXY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534966/original/037393500_1773906231-Rak_Susun_Minimalis_di_Sudut_Teras.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5508983/original/035798900_1771646536-desain_kebun_sayur__7_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5472766/original/082116700_1768375313-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5530339/original/025873100_1773408788-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5528242/original/032994000_1773267692-coq.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529928/original/090225400_1773386765-unnamed__75_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5520788/original/042905900_1772639398-Amplop_Lebaran.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529491/original/090218200_1773361566-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5528263/original/059958400_1773269726-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5530898/original/073396600_1773503661-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4955220/original/019136200_1727495901-pexels-mareefe-932577.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5530444/original/000369600_1773442595-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4009875/original/001439500_1651133864-3795223.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5552830/original/094815200_1775832773-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5536889/original/019012800_1774348758-1.jpg)