Kapan Idul Fitri 1447 H? Ini Prediksi Tanggal dan Potensi Perbedaan Penetapan Lebaran 2026

6 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah akan segera tiba, membawa kebahagiaan bagi umat Muslim di seluruh dunia. Di Indonesia, prediksi mengenai tanggal pasti perayaan Lebaran 2026 mulai beredar dari berbagai lembaga dan organisasi keagamaan. Namun, seperti tahun-tahun sebelumnya, terdapat potensi perbedaan dalam penetapan awal Syawal yang patut menjadi perhatian.

Perbedaan ini umumnya disebabkan oleh metode perhitungan yang beragam, mulai dari hisab hingga rukyatul hilal. Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) akan menjadi penentu resmi melalui Sidang Isbat, sementara organisasi Islam seperti Muhammadiyah memiliki penetapannya sendiri.

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan menunggu pengumuman resmi dari pemerintah, sembari memahami latar belakang perbedaan yang mungkin terjadi. Penting untuk menjaga toleransi dan saling menghormati di tengah keragaman pandangan dalam penentuan hari besar keagamaan ini. Berikut penjelasan seputar Idul Fitri 1447 Hijriah, dirangkum Liputan6.com pada Selasa (17/3/2026). 

Prediksi Tanggal Idul Fitri 1447 H: Muhammadiyah dan Pemerintah

Organisasi Islam Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Hari Raya Idul Fitri akan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan ini didasarkan pada metode hisab hakiki wujudul hilal yang menjadi pedoman Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah. Metode ini menganggap bulan baru telah masuk jika hilal sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam, tanpa harus menunggu terlihatnya hilal secara langsung.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag), Nahdlatul Ulama (NU), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah kemungkinan besar akan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Prediksi ini didasarkan pada analisis posisi hilal secara astronomi yang menunjukkan bahwa pada saat Magrib tanggal 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara, posisi hilal belum memenuhi kriteria baru MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Kriteria MABIMS menetapkan awal bulan Hijriah jika memenuhi dua syarat utama, yaitu tinggi hilal minimal 3° dan elongasi minimal 6,4°. Karena hilal diperkirakan belum dapat terlihat pada 19 Maret 2026 di kawasan Asia Tenggara, maka Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal), sehingga 1 Syawal jatuh pada 21 Maret 2026.

Mengapa Ada Potensi Perbedaan Penetapan Lebaran 2026?

Potensi perbedaan penetapan tanggal Idul Fitri di Indonesia muncul karena adanya perbedaan metode yang digunakan oleh berbagai organisasi Islam dan pemerintah. Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, di mana bulan baru dianggap telah masuk jika hilal sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam, tanpa harus menunggu terlihatnya hilal secara langsung.

Pemerintah dan NU menggunakan kombinasi metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyatul hilal (pengamatan langsung hilal), serta berpegang pada kriteria MABIMS. Kriteria MABIMS ini menjadi standar bersama di beberapa negara Asia Tenggara untuk menentukan awal bulan Hijriah.

Perbedaan metodologi ini bukan hal baru dan kerap terjadi dalam penentuan awal bulan Hijriah. Masyarakat diimbau untuk memahami bahwa setiap metode memiliki dasar ilmiah dan keagamaan masing-masing, sehingga perbedaan adalah keniscayaan yang harus disikapi dengan bijak.

Sidang Isbat Sebagai Penentu Resmi Tanggal Idul Fitri

Penetapan resmi Hari Raya Idul Fitri di Indonesia akan dilakukan oleh pemerintah melalui Sidang Isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama (Kemenag). Sidang Isbat untuk penetapan 1 Syawal 1447 H dijadwalkan akan dilaksanakan pada Kamis, 19 Maret 2026.

Rangkaian sidang isbat meliputi seminar pemaparan posisi hilal oleh Tim Hisab Rukyat Kemenag, verifikasi laporan rukyatul hilal dari 117 titik pemantauan di seluruh Indonesia, sidang tertutup, dan pengumuman resmi oleh Menteri Agama. Proses ini memastikan bahwa keputusan yang diambil mempertimbangkan data hisab dan hasil pengamatan hilal di lapangan.

Meskipun berbagai prediksi telah disampaikan, masyarakat diimbau untuk menunggu keputusan resmi pemerintah yang akan diumumkan setelah sidang isbat selesai dilaksanakan. Pemerintah mengakui adanya potensi perbedaan dalam penentuan awal bulan Hijriah dan menekankan pentingnya umat Muslim untuk menjaga sikap saling menghormati dan menghargai terhadap perbedaan yang ada.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Topik

1. Kapan prediksi Lebaran 2026 menurut Muhammadiyah?

Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 akan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal.

2. Kapan prediksi Lebaran 2026 menurut pemerintah dan NU?

Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) dan Nahdlatul Ulama (NU) memprediksi 1 Syawal 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 akan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

3. Mengapa ada potensi perbedaan prediksi tanggal Lebaran 2026?

Potensi perbedaan muncul karena Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, sementara pemerintah dan NU menggunakan kombinasi hisab dan rukyatul hilal dengan kriteria MABIMS yang lebih ketat.

4. Kapan keputusan resmi Lebaran 2026 diumumkan?

Keputusan resmi Lebaran 2026 akan diumumkan setelah Sidang Isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama pada Kamis, 19 Maret 2026.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |