Liputan6.com, Jakarta - Kata "fotografi" berasal dari bahasa Yunani, yaitu photos yang berarti cahaya dan graphein yang berarti menggambar atau menulis. Secara umum, fotografi merupakan seni sekaligus proses menghasilkan gambar dengan merekam cahaya pada media yang peka terhadap cahaya. Karena itu, memahami sejarah fotografi penting untuk mengetahui bagaimana teknologi ini berkembang dari masa ke masa.
Perjalanan fotografi mencerminkan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya manusia. Setiap tanggal 19 Agustus diperingati sebagai Hari Fotografi Sedunia (World Photography Day), tanggal ini merujuk pada peristiwa bersejarah 19 Agustus 1839, ketika proses daguerreotype yang dikembangkan Louis-Jacques-Mandé Daguerre diumumkan secara resmi kepada publik di Paris.
Dari Camera Obscura ke Eksperimen Bahan Peka Cahaya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4640378/original/041421500_1699425321-Camera_Obscura_Wikimedia_Commons.jpg)
Perbesar
Jauh sebelum fotografi modern lahir, manusia telah mengenal camera obscura: fenomena ketika cahaya yang masuk melalui lubang kecil ke dalam ruang gelap membentuk proyeksi gambar terbalik dari objek di luar. Prinsip ini sudah diamati sejak zaman kuno, dan kemudian dipakai sebagai alat bantu menggambar objek dengan perspektif lebih akurat. Namun camera obscura belum bisa menghasilkan foto permanen — gambar yang terbentuk hanyalah proyeksi cahaya yang hilang begitu sumber cahaya atau objeknya berubah.
Upaya menangkap gambar secara permanen baru dimulai lewat eksperimen terhadap bahan peka cahaya pada abad ke-18. Sekitar 1717, Johann Heinrich Schulze menunjukkan bahwa senyawa tertentu dapat berubah ketika terkena cahaya, dan memakainya untuk membentuk tulisan — meski ia belum menemukan cara membuat gambar tersebut permanen. Sekitar tahun 1800, Thomas Wedgwood melanjutkan eksperimen serupa; gambar yang dihasilkannya tetap tidak bisa dipertahankan karena bagian yang tak terlindung terus berubah saat terkena cahaya.
Niépce dan Foto Permanen Pertama
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326443/original/010071400_1787023610-Joseph_Nic__phore_Ni__pce.jpg)
Perbesar
Terobosan besar datang dari Joseph Nicéphore Niépce di Prancis. Sekitar tahun 1826–1827, ia menghasilkan gambar yang dikenal sebagai "View from the Window at Le Gras", secara luas dianggap sebagai foto permanen tertua yang masih bertahan hingga sekarang.
Niépce menggunakan proses yang disebut heliografi: memanfaatkan permukaan berlapis bitumen (aspal) tertentu dan cahaya untuk membentuk gambar. Riset modern oleh Harry Ransom Center — tempat foto asli tersebut kini disimpan — menyimpulkan bahwa waktu pencahayaan yang dibutuhkan sekitar 8 hingga 10 jam, bukan berhari-hari seperti yang kerap disebutkan. Fakta ini bahkan terlihat pada hasil fotonya sendiri: matahari tampak menyinari kedua sisi bangunan dalam gambar, karena selama 8–10 jam eksposur, posisi matahari sempat berpindah dari timur ke barat.
Meski demikian, gambar yang dihasilkan Niépce masih sangat kasar detailnya. Eksperimennya tetap menjadi tonggak penting karena menunjukkan bahwa gambar bisa direkam tanpa campur tangan tangan manusia secara langsung.
Daguerreotype: Fotografi Menuju Publik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1660494/original/008628400_1501135654-9__1200px-Susse_Fr__re_Daguerreotype_camera_1839__WC.jpg)
Perbesar
Setelah Niépce meninggal, Louis-Jacques-Mandé Daguerre — rekan eksperimennya — melanjutkan penelitian dan mengembangkan proses yang kemudian dikenal sebagai daguerreotype. Proses ini menghasilkan gambar berdetail tinggi pada pelat tembaga berlapis perak, namun merupakan metode positif langsung sehingga setiap pelat pada dasarnya adalah gambar unik yang tak bisa direproduksi.
Pada 19 Agustus 1839, daguerreotype diumumkan kepada publik dalam pertemuan Akademi Ilmu Pengetahuan Prancis di Paris, dan segera menarik perhatian luas. Keterbatasannya: waktu pencahayaan masih bisa berlangsung beberapa menit, sehingga subjek potret manusia harus tetap diam cukup lama.
Pada periode yang hampir bersamaan, ilmuwan Inggris William Henry Fox Talbot mengembangkan metode fotografi berbasis kertas. Pada 1839 ia mengumumkan photogenic drawing, lalu mengembangkan calotype (talbotype), yang dipatenkannya pada 1841. Berbeda dari daguerreotype, calotype menghasilkan negatif di atas kertas — dari satu negatif ini bisa dicetak beberapa gambar positif. Konsep negatif-positif inilah yang menjadi dasar fotografi berbasis film selama lebih dari satu abad berikutnya.
Era Pelat Kaca
Pertengahan abad ke-19 membawa inovasi penting lain: proses kolodion basah (wet collodion process) yang diperkenalkan Frederick Scott Archer pada 1851. Pelat kaca dilapisi kolodion peka cahaya dan harus tetap basah saat digunakan, sehingga fotografer luar ruangan perlu membawa perlengkapan pemrosesan, termasuk ruang gelap portabel. Meski merepotkan, proses ini menghasilkan negatif kaca yang relatif tajam.
Pada 1871, Richard Leach Maddox memperkenalkan pelat kering gelatin — emulsi gelatin peka cahaya pada pelat kaca yang bisa disiapkan dan disimpan lebih dulu tanpa harus langsung dipakai basah. Fotografi pun menjadi jauh lebih praktis, dan teknologi ini menjadi andalan hingga awal abad ke-20.
Kodak: Fotografi untuk Semua Orang
Perkembangan pelat kering membuka jalan bagi kamera yang lebih kecil dan mudah digunakan. Pada 1888, George Eastman, pendiri Kodak, memperkenalkan kamera Kodak untuk masyarakat umum — memakai film gulung dan dipasarkan sebagai kamera sederhana bagi siapa saja, bukan hanya profesional. Kamera ini dijual dengan film yang cukup untuk sekitar 100 pemotretan; setelah habis, pengguna cukup mengirim kameranya kembali ke Kodak untuk diproses.
Momen ini menjadi tonggak penting: fotografi tak lagi terbatas pada studio profesional atau orang yang memahami kimia fotografi. Dokumentasi keluarga, perjalanan, dan peristiwa sehari-hari pun mulai berkembang luas di kalangan masyarakat umum.
Perkembangan Fotografi Berwarna
Fotografi awal sebagian besar menghasilkan gambar hitam putih. Salah satu demonstrasi awal fotografi berwarna terjadi pada 1861, ketika Thomas Sutton menghasilkan foto berwarna berdasarkan eksperimen pembuktian James Clerk Maxwell mengenai cara mata manusia menangkap warna. Perlu diluruskan bahwa teori warna tiga komponen itu sendiri bukan temuan Maxwell — teori tersebut pertama kali dicetuskan Thomas Young pada 1802 dan dikembangkan lebih lanjut oleh Hermann von Helmholtz (dikenal sebagai teori Young–Helmholtz). Maxwell menggunakan teori itu untuk membuktikan cara kerja penglihatan warna manusia, dan Sutton-lah yang mempraktikkannya lewat pemotretan. Pada masanya, teknologi ini masih eksperimental dan belum praktis untuk penggunaan luas.
Tonggak berikutnya adalah Autochrome Lumière, dipasarkan oleh Lumière bersaudara mulai 1907. Prosesnya memakai pelat kaca berlapis butiran pati mikroskopis berwarna merah, hijau, dan biru. Sistem ini sebenarnya tetap melalui tahap negatif: pelat diekspos sebagai gambar negatif di dalam kamera, lalu melalui proses kimia khusus di laboratorium yang disebut reversal processing, gambar negatif tersebut "dibalik" secara kimiawi menjadi gambar positif (transparansi/slide) pada pelat yang sama — tanpa perlu dicetak terpisah ke kertas. Autochrome digunakan luas hingga dekade 1930-an.
Pada 1935, Kodak memperkenalkan Kodachrome, salah satu proses film warna terpenting dalam sejarah fotografi, yang kemudian membuka jalan bagi penggunaan film warna secara luas baik oleh fotografer profesional maupun masyarakat umum.
Menuju Fotografi Digital
Perubahan besar berikutnya datang ketika teknologi elektronik mulai dipakai untuk menangkap dan menyimpan gambar. Pada 1960-an, insinyur Eugene F. Lally dari Jet Propulsion Laboratory (JPL) mengembangkan gagasan penggunaan mosaic photosensors untuk mengubah sinyal cahaya menjadi gambar — salah satu tahap awal konsep kamera digital, berkaitan dengan kebutuhan pencitraan dalam eksplorasi antariksa.
Terobosan nyata baru terjadi pada Desember 1975, ketika Steven Sasson, insinyur Eastman Kodak, membuat prototipe kamera digital mandiri (self-contained) pertama menggunakan sensor CCD (charge-coupled device) dari Fairchild Semiconductor. Prototipe ini berukuran sebesar pemanggang roti dan seberat 3,6 kilogram, hanya menghasilkan gambar hitam putih beresolusi 100×100 piksel (sekitar 0,01 megapiksel), dan butuh sekitar 23 detik untuk merekam satu gambar ke kaset serta memutarnya kembali di layar televisi.
Sasson bukan satu-satunya yang bereksperimen pada periode itu — pada waktu yang hampir bersamaan, majalah Popular Electronics memuat proyek rakitan kamera televisi solid-state, yang kemudian dikomersialkan perusahaan Cromemco sebagai kamera "Cyclops" (beresolusi 32×32 piksel) untuk dihubungkan ke komputer Altair 8800. Namun prototipe Sasson di Kodak-lah yang diakui luas sebagai kamera digital mandiri pertama, karena mengintegrasikan sensor, sirkuit digital, dan perekaman dalam satu perangkat portabel.
Era Kamera Digital dan Ponsel Pintar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326444/original/012705700_1787023611-nordwood-themes-F3Dde_9thd8-unsplash.jpg)
Perbesar
Berbeda dari kamera film, kamera digital mengubah informasi cahaya menjadi data elektronik yang bisa disimpan tanpa film maupun proses kimia. Sepanjang 1990-an dan awal 2000-an, kamera digital menjadi makin kecil dengan resolusi terus meningkat, sementara komputer memudahkan penyimpanan, penyuntingan, dan pencetakan foto.
Teknologi ini kemudian merambah ke perangkat yang hampir selalu dibawa manusia: ponsel. Kamera ponsel yang awalnya sederhana terus berkembang lewat kemajuan sensor, lensa, pemrosesan citra, dan perangkat lunak. Di era ponsel pintar, kamera tak lagi sekadar merekam gambar, perangkat lunak kini membantu mengatur pencahayaan, menggabungkan beberapa hasil jepretan, mengurangi noise, memperluas rentang dinamis, hingga menghasilkan efek fotografi lewat pemrosesan komputasional. Foto pun bisa langsung disimpan, disunting, dan dibagikan lewat internet dalam hitungan detik, sebuah proses yang dulu membutuhkan kamera khusus, film, bahan kimia, dan waktu pemrosesan panjang.
Fotografi Hari Ini
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4551491/original/014509300_1692947743-kenny-eliason-KbUb9A46lV8-unsplash.jpg)
Perbesar
Perjalanan fotografi menunjukkan perubahan yang sangat panjang: dari prinsip optik sederhana camera obscura, eksperimen Niépce yang membuktikan gambar bisa direkam permanen, daguerreotype yang memperkenalkan fotografi ke publik, calotype yang membuka konsep negatif-reproduksi, hingga pelat kaca, film gulung, dan kamera Kodak yang mendekatkan fotografi ke masyarakat umum. Fotografi warna kemudian memperluas kemampuan medium ini merekam dunia sebagaimana adanya, sementara sensor digital sejak temuan Sasson pada 1975 mengubah total cara gambar direkam dan disimpan.
Kini, kamera ada di mana-mana, pada ponsel pintar, komputer, kendaraan, perangkat keamanan, hingga peralatan ilmiah. Dari proyeksi sederhana dalam ruang gelap hingga kamera digital di genggaman tangan, sejarah fotografi adalah cerita tentang bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi terus mengubah cara manusia melihat, merekam, menyimpan, dan membagikan dunia di sekitarnya.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Sejarah Fotografi
1. Kapan Hari Fotografi Sedunia diperingati?
Hari Fotografi Sedunia (World Photography Day) diperingati setiap 19 Agustus, tanggal yang berkaitan dengan pengumuman proses daguerreotype kepada publik di Paris pada 19 Agustus 1839.
2. Siapa yang menghasilkan foto permanen tertua yang masih bertahan?
Joseph Nicéphore Niépce menghasilkan View from the Window at Le Gras sekitar 1826–1827. Foto tersebut secara luas dianggap sebagai foto permanen tertua yang masih bertahan hingga sekarang.
3. Siapa yang membuat prototipe kamera digital mandiri pertama?
Steven Sasson, insinyur Eastman Kodak, membuat prototipe kamera digital mandiri pertama pada Desember 1975. Kamera tersebut menggunakan sensor CCD dan menghasilkan gambar hitam putih berukuran 100 × 100 piksel.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5418012/original/013015200_1763559690-kereta_api.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326681/original/076213100_1787033165-HL_daun_salam.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9321792/original/068579500_1786504400-1280px-Sri_Lelawangsa_101212-10265_mes.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4429102/original/015122700_1684203980-blambangan_ekspres.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3558580/original/014125500_1630551817-29cccc00ef6aae3e8e27a0e76869f777.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124885/original/086799300_1738907998-sick-woman-with-cough-throat-infection-bed-covering-his-face-while-coughing.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326550/original/005447200_1787026676-cov222.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326566/original/053619300_1787027899-Dapur_Minimalis_3x2_Tetap_Lega_dengan_Meja_Makan_Mini.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9321015/original/052454100_1786423967-Kedung_Sepur_SMT.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4148528/original/053782100_1662454939-dev-benjamin-pwr2uTPpz68-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326482/original/004893700_1787025916-050f67f1-8045-4b14-8c2e-6b5b02eed585.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479154/original/064883200_1768969910-Ayam_Kampung_Bertelur_di_Kandang.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326465/original/083959200_1787024538-bb02bae2-d99d-4994-bdc7-87c34f6ad484.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326439/original/033046400_1787023443-orangutan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326428/original/061757100_1787022788-Kerajinan_barang_bekas_jadi_wadah_serbaguna.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2289805/original/047958100_1532422236-20180724-Daging-Ayam-Naik-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3037549/original/018888400_1580452937-marco-xu-ToUPBCO62Lw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326378/original/020422100_1787019705-tomat_galon_1.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5384273/original/029083500_1760764805-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8256990/original/059103200_1781181007-4.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6707818/original/004530300_1779526004-1779525648.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5558460/original/066569600_1776419680-HL_mangga.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5560536/original/020239000_1776672350-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7026414/original/064378700_1779801039-Gemini_Generated_Image_bb1cq2bb1cq2bb1c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566397/original/034900000_1777180569-Desain_Rumah_50_Juta_dengan_Ventilasi_Silang_Alami_Model_Teras_Ganda.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5705844/original/009190100_1778588694-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566459/original/099990000_1777186387-Cara_Cepat_Bersihkan_Kulkas_Tanpa_Bongkar_Semua_Isi_dan_Tetap_Bersih_Maksimal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5753994/original/053180300_1778655561-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5570927/original/085307900_1777551328-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5565766/original/098117700_1777086011-unnamed__30_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5697309/original/087148900_1778575609-Gemini_Generated_Image_fqdhcafqdhcafqdh.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5569841/original/046143800_1777456700-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5568461/original/001756800_1777360580-kre1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5560766/original/050726300_1776682615-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5569551/original/048471600_1777445890-fad1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566874/original/055492400_1777259351-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5560608/original/012737700_1776674546-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8220930/original/095004600_1781080823-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7165476/original/043708000_1779955747-pokcoy_gantung_4.jpeg)