Ciri-Ciri Majas Antonomasia, Disertai Contoh Lengkapnya

2 weeks ago 25

Liputan6.com, Jakarta - Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana memperkaya makna dan memperhalus pesan yang ingin disampaikan, terutama dalam karya sastra, pidato, hingga pemberitaan populer yang membutuhkan kekuatan diksi. Salah satu gaya bahasa yang sering digunakan tanpa disadari adalah majas antonomasia, yakni teknik penyebutan seseorang atau sesuatu dengan julukan tertentu yang menggantikan nama aslinya.

Penggunaan majas antonomasia kerap ditemui dalam buku pelajaran, artikel opini, berita tokoh publik, hingga percakapan sehari-hari, namun masih banyak pembaca yang belum memahami konsep, ciri, serta cara mengenalinya secara tepat. Akibatnya, majas ini sering disamakan dengan majas perumpamaan atau metafora, padahal memiliki fungsi dan karakteristik yang berbeda.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, berikut secara lengkap pengertian majas antonomasia, ciri-cirinya, contoh konkret yang sering muncul dalam teks, serta penjelasan sistematis agar pembaca dapat mengenali dan menggunakannya dengan benar dalam konteks bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Apa itu Majas Antonomasia?

Majas antonomasia merupakan salah satu jenis majas perbandingan yang menggunakan julukan, gelar, atau sebutan khas untuk menggantikan nama orang, tempat, atau sesuatu berdasarkan sifat, peran, atau karakter yang melekat padanya.Dalam praktik kebahasaan, majas ini berfungsi mempertegas identitas tokoh tanpa harus menyebutkan nama asli secara langsung sehingga pesan yang disampaikan menjadi lebih hidup dan bermakna.

Secara etimologis, istilah antonomasia berasal dari bahasa Yunani antonomazein yang berarti “menyebut dengan nama lain”, dan konsep ini kemudian berkembang dalam kajian retorika sebagai teknik penamaan tidak langsung.Penggunaan julukan tersebut biasanya sudah dikenal secara luas oleh masyarakat sehingga pembaca tetap dapat memahami maksudnya tanpa kebingungan.

Dalam sumber rujukan edukasi, majas antonomasia didefinisikan sebagai gaya bahasa yang mengganti nama seseorang dengan ciri atau julukan tertentu yang sangat melekat pada tokoh tersebut, misalnya menyebut “Bapak Proklamator” untuk merujuk kepada Soekarno.Sebagaimana dijelaskan dalam sumber pendidikan populer, “antonomasia adalah majas yang menyebut seseorang dengan julukan, bukan nama aslinya.”

Ciri Majas Antonomasia

Ciri utama majas antonomasia terletak pada penggunaan sebutan pengganti nama yang bersifat spesifik dan telah dikenal secara umum oleh masyarakat luas, sehingga tidak menimbulkan makna ganda dalam pemahaman pembaca.Julukan tersebut biasanya muncul dari peran, prestasi, sifat menonjol, atau posisi sosial yang melekat kuat pada tokoh yang dimaksud.

Ciri berikutnya adalah tidak digunakannya kata pembanding seperti “seperti” atau “bagaikan” sebagaimana pada majas simile, karena antonomasia langsung menggantikan nama dengan sebutan tertentu tanpa unsur perbandingan eksplisit.Hal ini menjadikan majas antonomasia bersifat tegas dan lugas meskipun tetap mengandung nilai estetik dalam bahasa.

Selain itu, majas antonomasia umumnya bersifat kontekstual dan bergantung pada pengetahuan kolektif pembaca, sehingga pemahaman terhadap latar belakang tokoh sangat memengaruhi keberhasilan penyampaian makna.Apabila julukan yang digunakan belum dikenal luas, maka majas ini berpotensi gagal dipahami dan justru menimbulkan kebingungan.

20 Contoh Majas Antonomasia

Berikut adalah contoh majas antonomasia yang sering ditemukan dalam buku pelajaran, artikel, dan percakapan formal yang menggantikan nama dengan julukan khas.Contoh-contoh ini disusun untuk memudahkan pembaca mengenali pola penggunaannya dalam kalimat.

Beberapa contoh majas antonomasia antara lain:

  1. Sang Proklamator memimpin bangsa ini menuju kemerdekaan.
  2. Raja Dangdut kembali merilis lagu terbarunya.
  3. Sang Maestro seni rupa itu menggelar pameran tunggal.
  4. Bapak Pendidikan Nasional dikenang jasanya hingga kini.
  5. Si Jenius itu berhasil menorehkan prestasi di usia muda.
  6. Ratu Pop tampil memukau di konser internasional.
  7. Sang Legenda sepak bola resmi pensiun dari lapangan hijau.
  8. Si Raja Jalanan menguasai balapan malam hari.
  9. Sang Pemimpin Besar itu dihormati oleh rakyatnya.
  10. Bapak Pembangunan merancang fondasi ekonomi negara.

Contoh lanjutan yang juga termasuk majas antonomasia meliputi:

  1. Sang Maestro musik klasik itu wafat dalam usia senja.
  2. Si Raja Hutan menjaga wilayah kekuasaannya.
  3. Sang Juru Selamat datang membawa harapan baru.
  4. Ratu Pantai Selatan menjadi legenda masyarakat Jawa.
  5. Si Tangan Besi memimpin perusahaan dengan disiplin ketat.
  6. Sang Pahlawan Revolusi dikenang sepanjang masa.
  7. Raja Film Horor kembali menyutradarai karya terbarunya.
  8. Sang Pendekar membela kebenaran dengan keberanian.
  9. Si Otak Jenius memenangkan kompetisi sains.
  10. Bapak Reformasi mendorong perubahan besar dalam sistem pemerintahan.

Fungsi Majas Antonomasia dalam Bahasa dan Sastra

Majas antonomasia berfungsi memperkaya gaya bahasa dengan menghadirkan penegasan karakter tanpa penjelasan panjang lebar, sehingga kalimat menjadi lebih efektif dan komunikatif.Penggunaan julukan memungkinkan pembaca langsung mengaitkan tokoh dengan citra tertentu yang telah tertanam dalam benak publik.

Dalam karya sastra, majas antonomasia membantu membangun imaji tokoh secara cepat dan kuat, terutama ketika penulis ingin menonjolkan sifat atau peran tertentu tanpa harus mengulang penjelasan naratif.Teknik ini sering digunakan dalam novel, cerpen, puisi, maupun teks drama untuk memperkuat daya tarik cerita.

Sementara dalam konteks non-sastra seperti berita atau pidato, majas antonomasia berfungsi sebagai alat retoris yang mampu meningkatkan daya persuasif dan kedekatan emosional dengan pembaca atau pendengar.Namun, penggunaannya tetap harus mempertimbangkan ketepatan konteks agar tidak menimbulkan bias atau kesan berlebihan.

Cara Mengenali dan Menggunakan Majas Antonomasia dengan Tepat

Langkah pertama untuk mengenali majas antonomasia adalah mengidentifikasi apakah suatu nama digantikan oleh julukan yang merujuk pada ciri khas tertentu yang sudah dikenal luas.Jika sebutan tersebut dapat langsung diasosiasikan dengan tokoh tertentu tanpa penjelasan tambahan, maka kemungkinan besar itu adalah majas antonomasia.

Langkah berikutnya adalah memastikan bahwa sebutan tersebut tidak bersifat metaforis umum, melainkan spesifik dan eksklusif terhadap satu tokoh atau objek tertentu.Hal ini penting untuk membedakan antonomasia dari majas personifikasi atau metafora yang lebih bersifat simbolik.

Dalam penggunaannya, majas antonomasia sebaiknya ditempatkan pada konteks yang tepat, baik dalam tulisan ilmiah populer, sastra, maupun komunikasi formal, agar tetap menjaga kejelasan makna dan kaidah bahasa Indonesia.Pemilihan julukan yang sudah baku dan dikenal publik juga membantu meningkatkan kredibilitas tulisan.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Majas Antonomasia

1. Apa yang dimaksud dengan majas antonomasia?

Majas antonomasia adalah gaya bahasa yang mengganti nama seseorang atau sesuatu dengan julukan berdasarkan sifat, peran, atau ciri khasnya.

2. Apa perbedaan majas antonomasia dan metafora?

Antonomasia mengganti nama dengan julukan spesifik, sedangkan metafora membandingkan dua hal secara implisit tanpa mengganti nama asli.

3. Apakah majas antonomasia hanya digunakan untuk manusia?

Tidak, majas antonomasia juga dapat digunakan untuk hewan, tempat, atau konsep tertentu selama memiliki julukan khas.

4. Mengapa majas antonomasia sering digunakan dalam sastra?

Karena majas ini mampu mempertegas karakter tokoh secara singkat dan kuat tanpa penjelasan panjang.

5. Bagaimana cara membedakan antonomasia dengan simile?

Simile menggunakan kata pembanding seperti “seperti”, sedangkan antonomasia langsung menggunakan julukan tanpa perbandingan eksplisit.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |