Cara Mengatur Uang THR: Bagi untuk Zakat, Mudik, dan Kebutuhan Lebaran

7 hours ago 4
  • Kapan waktu yang tepat untuk mulai mengatur THR?
  • Berapa persen ideal untuk zakat dari THR?
  • Apakah THR wajib dizakati?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Cara mengatur uang THR penting untuk dipahami agar tidak cepat boncos. Momen Lebaran selalu identik dengan Tunjangan Hari Raya (THR), sebuah bonus tahunan yang dinanti-nantikan banyak orang. THR sering dianggap sebagai uang bonus yang terasa lega saat diterima, namun tanpa perencanaan yang tepat, dana ekstra ini bisa cepat ludes dan meninggalkan beban finansial setelah euforia hari raya berlalu.

Tanpa perencanaan yang matang, THR bisa habis sebelum bulan berikutnya dimulai, terutama karena Ramadan dan Lebaran sering menjadi periode pengeluaran terbesar dalam setahun. Oleh karena itu, penting untuk memiliki strategi dalam cara mengatur uang THR agar manfaatnya terasa jangka panjang dan tidak hanya numpang lewat.

Artikel ini akan membahas secara rinci alokasi THR untuk zakat, mudik, kebutuhan Lebaran, tabungan, hingga investasi, serta memberikan tips praktis agar Anda dapat mengelola THR dengan bijak dan efektif. Dengan panduan ini, Anda tidak hanya menikmati momen Lebaran, tetapi juga mengamankan kondisi keuangan setelahnya. Simak pembahasan selengkapnya berikut ini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Jumat (6/3/2026).

Mengapa Perlu Mengatur THR dengan Bijak?

THR bukanlah pendapatan rutin, melainkan bonus tahunan yang bersifat musiman dan tidak pasti. Oleh karena itu, sebaiknya THR tidak langsung diperlakukan sebagai uang belanja tambahan.

Pengeluaran saat Lebaran cenderung membengkak, mulai dari kebutuhan buka puasa bersama, belanja kebutuhan hari raya, hingga persiapan mudik. Semua ini perlu direncanakan agar kondisi keuangan tetap stabil dan tidak “boncos” setelah hari raya.

Tanpa perencanaan yang tepat, THR hanya akan "numpang lewat" dan berpotensi meninggalkan utang atau tekanan finansial pasca-Lebaran. Mengatur THR dengan bijak berarti menjaga stabilitas keuangan Anda setelah hari raya, memastikan Anda tetap memiliki cadangan dana dan terhindar dari tekanan finansial.

Langkah Awal: Pisahkan THR dari Gaji Bulanan

Langkah pertama yang krusial dalam pengelolaan keuangan bulan puasa adalah memisahkan antara gaji dan THR. Jangan mencampuradukkan kedua sumber dana ini. Pemisahan ini penting untuk mengontrol arus kas dan mencegah pengeluaran impulsif.

Gunakan gaji rutin bulanan Anda murni untuk biaya hidup operasional, seperti membayar tagihan listrik, air, cicilan rumah atau kendaraan, serta belanja dapur sehari-hari. Ini membantu menjaga pengeluaran rutin tetap terkendali.

Sementara itu, kunci uang THR Anda secara khusus untuk mendanai pengeluaran ekstra yang muncul karena kegiatan Ramadan dan perayaan Idulfitri. Begitu THR masuk, segera buat pembagian pos keuangan yang jelas.

Prioritas Utama: Alokasi untuk Zakat, Sedekah, dan Utang (10-20%)

Prioritas pertama dalam cara mengatur uang THR adalah menunaikan kewajiban agama dan melunasi utang. Bank Sinarmas menyarankan alokasi sekitar 10-20% dari THR untuk pos ini.

Tunaikan zakat fitrah dan zakat mal di awal saat THR cair, karena zakat bukan sekadar donasi sukarela, tetapi kewajiban yang memiliki aturan dan tujuan jelas. Selain itu, bersedekah juga merupakan cara berbagi kebahagiaan dengan sesama.

Lunasi utang konsumtif, cicilan paylater, atau kartu kredit agar tidak menjadi beban pasca-Lebaran. Melunasi utang jangka pendek akan mengurangi beban finansial Anda di bulan-bulan berikutnya.

Kebutuhan Lebaran dan Mudik (40-50%)

Setelah kewajiban terpenuhi, alokasikan sebagian besar THR Anda untuk kebutuhan Lebaran dan mudik, dengan porsi sekitar 40-50%. Dana ini mencakup berbagai pengeluaran penting.

Komponen alokasi ini meliputi:

  • Transportasi mudik: Anggarkan untuk tiket pesawat, kereta, bus, atau biaya bahan bakar dan tol jika menggunakan kendaraan pribadi.
  • Oleh-oleh: Siapkan dana untuk membeli oleh-oleh bagi keluarga di kampung halaman.
  • Pakaian baru: Jika memang diperlukan, anggarkan untuk pakaian baru, namun ingat bahwa ini bukan keharusan. Bank Mega Syariah menyarankan untuk tidak memaksakan diri membeli baju baru jika dana terbatas.
  • Makanan khas Lebaran: Anggarkan untuk kue kering, sirup, ketupat, dan hidangan khas lainnya.
  • Angpao atau salam tempel: Siapkan dana untuk angpao bagi anak-anak dan keponakan.

Untuk mengelola pengeluaran ini, buat daftar belanja yang membantu Anda tetap fokus pada apa yang dibutuhkan dan menghindari pembelian impulsif. Belanja kebutuhan Lebaran lebih awal juga memberi beberapa keuntungan, seperti harga yang masih normal, lebih banyak pilihan, dan tidak terburu-buru sehingga minim belanja impulsif. Hindari godaan diskon yang tidak direncanakan dan waspadai "lapar mata" dari promo online yang bisa memicu pembelian impulsif.

Tabungan, Dana Darurat, dan Investasi (20-30%)

Setelah memenuhi kewajiban dan kebutuhan Lebaran, sisihkan 20-30% dari THR Anda untuk tabungan, dana darurat, dan investasi. Ini adalah langkah penting untuk mengamankan kondisi keuangan jangka panjang Anda.

Sisihkan sebagian untuk tabungan guna kebutuhan masa depan, seperti dana pendidikan, liburan, atau renovasi rumah. Mengalokasikan sebagian THR ke tabungan atau instrumen keuangan sejak awal membantu menjaga arus kas tetap sehat setelah euforia hari raya berakhir.

Penting juga mengalokasikan dana darurat sebagai antisipasi kejadian tak terduga seperti sakit atau kehilangan pekerjaan. Pertimbangkan juga untuk menginvestasikan sebagian THR Anda pada instrumen seperti reksa dana, emas, saham, atau Surat Berharga Negara (SBN) untuk pertumbuhan jangka panjang. Jika Anda pemula, mulailah dengan porsi kecil.

Sisihkan Dana Cadangan untuk Pengeluaran Tak Terduga (10-15%)

Biaya mudik dan Lebaran sering kali tidak berhenti di daftar awal, karena bisa saja muncul kebutuhan tambahan di tengah jalan yang tidak terduga.

Sisihkan sekitar 10-15% dari THR Anda sebagai dana cadangan atau "buffer" untuk menghadapi hal-hal yang tidak direncanakan. Dana ini akan membuat Anda tetap tenang tanpa perlu mengganggu pos pengeluaran lain.

Memiliki dana cadangan ini sangat penting agar Anda tidak perlu berutang atau mengorbankan alokasi penting lainnya saat ada pengeluaran mendadak.

Kesalahan Umum saat Mengelola THR

Banyak masalah keuangan pasca-Lebaran berakar dari kesalahan yang sama setiap tahun. Kesalahan paling umum adalah menganggap THR sebagai bonus bebas pakai, yang akhirnya membuat Anda lebih impulsif karena merasa punya "uang ekstra".

Tidak memisahkan THR dari gaji bulanan dapat menyebabkan pengeluaran yang tidak terkontrol. Terjebak promo dan diskon impulsif juga sering memicu keputusan belanja yang tidak direncanakan, apalagi dengan flash sale dan notifikasi diskon dari e-commerce.

Melupakan kewajiban zakat dan utang hingga THR terpakai habis adalah kesalahan fatal. Selain itu, menyisakan uang untuk tabungan di akhir sering kali berujung pada tidak tersisanya dana sama sekali. Hindari juga tekanan sosial saat Lebaran yang bisa membuat pengeluaran membengkak, serta mengambil cicilan baru hanya karena ada THR, mengingat cicilan bisa berjalan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Dengan perencanaan yang matang, cara mengatur uang THR Anda tidak hanya akan membahagiakan saat Lebaran, tetapi juga memberi ketenangan finansial jangka panjang. Alokasikan secara proporsional: prioritaskan zakat dan pelunasan utang, anggarkan secukupnya untuk kebutuhan Lebaran dan mudik, serta sisihkan porsi signifikan untuk tabungan dan investasi. Hindari jebakan konsumtif dan tekanan sosial yang sering muncul saat Lebaran. Mengelola THR dengan bijak bukan berarti menahan diri sepenuhnya, tetapi memahami prioritas dan konsekuensi setiap keputusan finansial. Ini memastikan Anda tetap memiliki cadangan dana dan terhindar dari tekanan finansial setelah hari raya berlalu.

FAQ

Q: Kapan waktu yang tepat untuk mulai mengatur THR?

A: Segera setelah THR cair, buatlah pembagian pos keuangan yang jelas tanpa menunda.

Q: Berapa persen ideal untuk zakat dari THR?

A: Sekitar 10-15% dari THR disarankan untuk kewajiban agama seperti zakat fitrah dan zakat mal.

Q: Apakah THR wajib dizakati?

A: Ya, jika THR mencapai nisab dan dikumpulkan dalam setahun, maka wajib dizakati sebagai zakat mal, karena zakat adalah kewajiban.

Q: Bagaimana cara menghindari belanja impulsif saat Lebaran?

A: Buat daftar belanja, hindari belanja saat lapar (setelah berbuka puasa atau setelah sahur), dan jangan mudah tergoda promo yang tidak ada dalam daftar Anda.

Q: Apakah lebih baik THR ditabung atau diinvestasikan?

A: Keduanya penting; tabung untuk likuiditas dan dana darurat, sementara investasikan untuk pertumbuhan jangka panjang.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |