Liputan6.com, Jakarta - Ular genteng sering muncul di atap atau sela rumah, menimbulkan pertanyaan: apakah ular genteng berbahaya? Meski ukurannya kecil dan cenderung pemalu, kehadirannya bisa membuat resah, terutama bagi anak-anak atau hewan peliharaan.
Risiko serangan ular genteng pada manusia relatif rendah, namun penting mengenali ciri dan kebiasaan mereka agar bisa mengambil langkah pencegahan yang tepat.
Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar membantu mengurangi kemungkinan ular genteng bersarang. Dengan pemahaman ini, pertanyaan apakah ular genteng berbahaya bisa dijawab lebih tenang dan rasional.
Mengutip buku berjudul Jenis-jenis Ular (2022) oleh Sarah Nila Adiansyah, ular adalah reptil yang tak berkaki dan bertubuh panjang. Ular merupakan salah satu jenis reptil yang mempunyai karakteristik yang berbeda dengan jenis reptil yang lain.
Berikut Liputan6.com merangkum dari berbagai sumber tentang penjelasan apakah ular genteng berbahaya, Rabu (24/12/2025).
Mengenal Ular Genteng: Identifikasi dan Ciri Fisik
Ular genteng yang juga dikenal sebagai ular cicak atau Common Wolf Snake dikenal karena kebiasaannya berburu cicak di sekitar rumah.
Secara ilmiah, ular ini termasuk famili Colubridae dengan genus Lycodon dan spesies Lycodon capucinus, pengetahuan yang berguna untuk mengenali jenis ular yang sering ditemui.
Ular genteng dewasa dapat mencapai panjang maksimum sekitar 76 cm, dengan jantan umumnya 70 cm dan betina sekitar 55 cm. Ciri fisiknya meliputi kepala pipih dan lebar, serta tubuh silindris memanjang dan ramping. Warna punggung bervariasi antara cokelat kemerahan hingga kehitaman, sering dihiasi bercak atau garis luntur berwarna kuning atau putih.
Bagian kepala atas berwarna cokelat dengan area keputihan di leher belakang. Bibir berwarna kuning, sedangkan perut berwarna putih pucat. Ular genteng memiliki gigi depan yang menyerupai taring serigala, efektif untuk mencengkeram mangsa. Pupil matanya bulat dan gelap, menandakan aktivitasnya yang nokturnal.
Habitat dan Perilaku Nokturnal Ular Genteng
1. Sebaran dan Habitat
Ular genteng tersebar luas di Asia Tenggara, termasuk berbagai pulau di Indonesia seperti Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sumbawa, Sumba, Komodo, Flores, Timor, dan Sulawesi. Reptil ini dapat hidup di berbagai habitat, mulai dari hutan dataran rendah hingga pemukiman, taman, dan kawasan perhutanan kering. Kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan manusia menjelaskan mengapa ular genteng sering memasuki area rumah.
2. Perilaku Nokturnal
Ular genteng bersifat nokturnal, artinya aktif mencari mangsa pada malam hari. Pada siang hari, ular ini biasanya bersembunyi di tempat gelap dan lembap, seperti bawah tumpukan kayu, bebatuan, atau sudut-sudut rumah, sehingga lebih sering terlihat malam atau dini hari.
3. Kemampuan Memanjat dan Makanan
Meski bersifat terestrial, ular genteng pandai memanjat pohon, tebing, dinding berbatu, bahkan atap rumah. Mangsa utamanya adalah cicak dan kadal, namun kadang juga memangsa katak, kodok, dan mamalia kecil seperti tikus.
4. Reproduksi
Ular genteng berkembang biak dengan bertelur (ovipar), biasanya menghasilkan 3–11 butir telur setiap kali reproduksi.
Ular Genteng Tidak Berbahaya bagi Manusia
Mengutip buku berjudul Ensiklopedia Hewan Ovipar (2024) oleh M. Sumarto, ciri ular tak berbisa beberapa diantaranya, memiliki dua gigi taring besar di bagian rahang atas, ular tanpa bisa mempunyai bentuk dan sisik sederhana, ular tidak berbisa memiliki mata berbentuk bulat.
Secara umum, ular genteng (Lycodon capucinus) tidak berbahaya bagi manusia. Ular ini termasuk famili Colubridae dan biasanya dianggap tidak berbisa atau hanya memiliki bisa ringan yang tidak berisiko secara medis.
Gigitan ular genteng mungkin terasa sakit karena taringnya yang memanjang, namun efeknya tidak serius, biasanya hanya menimbulkan sedikit pembengkakan atau kemerahan.
Meski tidak berbisa mematikan, ular genteng bisa menggigit jika merasa terancam, terpojok, atau dipegang. Selain menggigit, ular ini dapat mengeluarkan bau tidak sedap atau berusaha melarikan diri sebagai mekanisme pertahanan.
Ular ini juga menunjukkan perilaku defensif seperti mendesis, menyerang, atau meratakan tubuhnya agar terlihat lebih besar saat merasa terancam.
Perlu diingat, air liur ular genteng dapat mengandung bakteri yang berpotensi menimbulkan infeksi jika tergigit. Oleh karena itu, membersihkan luka dengan antiseptik tetap dianjurkan.
Secara ekologis, ular genteng berperan penting dalam mengendalikan populasi kadal, terutama tokek dan cicak, serta katak dan tikus kecil di sekitar rumah.
Perbedaan Ular Genteng dengan Ular Berbisa Lain
Mengutip kajian yang dipublikasikan di Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati, Vol. 7 (1): 19-27, Februari 2022, ular genteng termasuk ular semi-arboreal yaitu istilah yang digunakan untuk hewan yang sebagian besar waktunya dihabiskan di pohon.
Berikut ini perbedaan ular genteng dan ular berbisa lainnya:
1. Fenomena mimikri
Ular genteng memiliki kemiripan dengan beberapa spesies ular berbisa lain, terutama dalam pola warna atau corak. Contohnya, beberapa spesies Lycodon seperti Lycodon subcinctus memiliki belang hitam-putih yang mirip dengan Ular Weling (Bungarus candidus), yang dapat menyebabkan kepanikan atau salah penanganan. Mengetahui perbedaannya sangat penting untuk keselamatan.
2. Ular Weling
Spesies berbisa dari famili Elapidae ini endemik di Asia Tenggara. Pola garis hitam-putih khasnya dan bisa neurotoksiknya dapat menyebabkan kelumpuhan hingga kematian (tingkat kematian hingga 70% tanpa penanganan). Ular Weling aktif di malam hari dan sering masuk ke rumah, menyukai tempat gelap seperti bawah tempat tidur atau gudang.
3. Ular Air Pelangi dan Ular Tanah
Ular Air Pelangi (Xenochrophis piscator), kadang disebut 'ular padi', memiliki pola kotak di punggung dan panjang sekitar 1 meter. Bisa ular ini tergolong ringan dan biasanya tidak berbahaya, meskipun gigitan dapat menyebabkan pembengkakan. Sementara itu, Ular Tanah (Calloselasma rhodostoma) merupakan ular berbisa tinggi yang juga perlu diwaspadai di Indonesia. Memahami perbedaan ciri setiap spesies membantu mencegah risiko dan memastikan keselamatan.
Q & A Seputar Topik
Apakah ular genteng berbahaya bagi manusia?
Ular genteng (Lycodon capucinus) umumnya tidak berbahaya. Bisa yang dimilikinya sangat ringan atau hampir tidak beracun, sehingga gigitannya biasanya hanya menimbulkan rasa sakit ringan dan sedikit kemerahan.
Bisa ular genteng menyebabkan kematian?
Tidak. Ular genteng tidak mematikan bagi manusia. Efek gigitan paling parah biasanya hanya pembengkakan atau rasa nyeri, dan dapat diatasi dengan membersihkan luka menggunakan antiseptik.
Mengapa ular genteng bisa menggigit?
Ular ini akan menggigit jika merasa terancam, terpojok, atau dipegang. Selain itu, ular genteng bisa menunjukkan perilaku defensif seperti mendesis, meratakan tubuh, atau mencoba kabur.
Apakah gigitan ular genteng bisa menyebabkan infeksi?
Ya, air liurnya bisa mengandung bakteri. Oleh karena itu, jika tergigit, luka perlu dibersihkan dengan antiseptik untuk mencegah infeksi meski tidak beracun.
Apa manfaat ular genteng di sekitar rumah?
Ular genteng membantu mengendalikan populasi kadal, terutama tokek dan cicak, serta katak dan tikus kecil, sehingga berperan positif dalam ekosistem rumah.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4893618/original/006169100_1721185314-Ilustrasi_siswa__pelajar__murid_SMA__anak_sekolah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5159488/original/006209100_1741745731-65d59cb5b0794.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469544/original/067348600_1768128903-MixCollage-11-Jan-2026-05-54-PM-5977.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469600/original/081360400_1768136809-Tanaman_Rombusa.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469428/original/023729600_1768117136-lantai_teras_rumah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469376/original/030336900_1768114724-desain_akuaponik_untuk_lahan_sempit.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469391/original/094098600_1768115504-kacang_panjang__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469364/original/017262000_1768114044-desain_kandang_ayam_umbaran.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469342/original/053666500_1768110776-model_rambut.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5344665/original/065683900_1757490422-unnamed_-_2025-09-10T142534.077.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469343/original/033984700_1768110777-pexels-roman-odintsov-5847238.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469395/original/006062700_1768115539-kursi_sudut_kayu_minimalis_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469353/original/083176100_1768113103-Ide_Kandang_Ayam_Semi_Terbuka_dengan_Ventilasi_Maksimal_di_Samping_Rumah_Anti_Bau.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442146/original/005239100_1765528615-pexels-mart-production-7879922.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1412396/original/029145300_1479731755-starfruit.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5447508/original/022689800_1765957589-model_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469236/original/041610300_1768099822-ide_jualan_takjill.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2797741/original/011422900_1557138527-20190506-Takjil-Benhil-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469228/original/090805300_1768099389-rice_cooker__6_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5460345/original/082559300_1767245879-kebun_sayur_teras_teduh_4.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363574/original/067634200_1758951074-Gemini_Generated_Image_d15sird15sird15s.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5370599/original/040845800_1759561568-Gamis_Simple_tapi_elegan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3936591/original/031031300_1645054040-james-wheeler-HJhGcU_IbsQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/824391/original/082843900_1425877386-09032015-waduksermo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363765/original/004808300_1758963234-Gemini_Generated_Image_uopfavuopfavuopf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364103/original/064641000_1759040675-Gemini_Generated_Image_29nq7729nq7729nq.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364053/original/005894200_1759037147-MixCollage-28-Sep-2025-12-02-PM-3646.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364186/original/001233300_1759045126-Gemini_Generated_Image_f3ya1kf3ya1kf3ya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5367398/original/025212100_1759305132-warung_sembako_hemat_modal_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378510/original/035461500_1760253518-Gemini_Generated_Image_8zg0bc8zg0bc8zg0.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5354601/original/013523100_1758259145-ChatGPT_Image_Sep_19__2025__12_08_54_PM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5354530/original/059277200_1758256607-Gemini_Generated_Image_5vkn9p5vkn9p5vkn.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5354654/original/036226500_1758261026-Gemini_Generated_Image_9notrf9notrf9not.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363279/original/031529000_1758892895-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363368/original/004460100_1758935700-rumah_mezanine_lahan_terbatas_8a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5360305/original/022331900_1758704064-DGDFE.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362914/original/028470800_1758876982-8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5360969/original/078803200_1758771480-Gemini_Generated_Image_wiqr94wiqr94wiqr.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363521/original/015394700_1758947659-ChatGPT_Image_27_Sep_2025__11.33.34.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363486/original/078379500_1758945634-dapur_dan_ruang_tamu_scandinavian_2.jpg)