Liputan6.com, Jakarta Kasus gigitan ular di Indonesia kembali meningkat, terutama saat musim hujan ketika ular lebih sering berpindah mendekati permukiman akibat habitatnya tergenang. Kondisi ini membuat risiko kontak antara warga dan ular berbisa semakin tinggi.
Laporan lapangan menunjukkan bahwa banyak warga masih melakukan penanganan tradisional yang berbahaya, seperti menghisap luka atau memotong jaringan tanpa prosedur medis. Padahal, racun ular dapat menyerang saraf, otot, dan sistem pembekuan darah, sehingga langkah awal yang salah dalam hitungan menit dapat memperburuk keadaan.
Karena itu, para ahli dan Kemenkes menegaskan pentingnya mengikuti pedoman pertolongan pertama yang benar untuk meningkatkan peluang keselamatan korban, terutama pada gigitan ular berbisa tinggi seperti kobra, viper, dan weling. Pedoman resmi memberikan arahan yang lebih aman dan efektif bagi masyarakat saat menghadapi situasi darurat ini.
1. Memahami Tingkat Bahaya Racun Ular dan Dampaknya Jika Tak Ditangani Cepat
Racun ular dapat menyebar cepat melalui aliran darah dan limfa, sehingga keterlambatan penanganan berisiko menimbulkan komplikasi serius seperti kerusakan jaringan, gangguan pernapasan, hingga kegagalan organ. Komponen racun bekerja agresif dengan menghancurkan sel, mengacaukan sistem saraf, dan memicu perdarahan internal yang sulit dikendalikan tanpa perawatan medis.
Di banyak daerah pedesaan Indonesia, kasus gigitan ular berat masih sering terjadi. Minimnya pengetahuan tentang langkah pertolongan pertama membuat sebagian masyarakat memilih metode tradisional yang justru berbahaya dan menyebabkan korban terlambat mendapatkan penanganan medis. Kondisi ini semakin berisiko bagi anak-anak atau orang dengan kondisi fisik lemah.
Karena itu, edukasi mengenai bahaya gigitan ular perlu terus diperluas agar masyarakat memahami bahwa setiap gigitan harus dianggap sebagai kondisi darurat. Kesadaran tentang cepatnya racun bekerja secara sistemik dapat membantu meningkatkan kewaspadaan dan mendorong penerapan langkah penanganan yang tepat untuk menekan angka komplikasi dan kematian.
2. Mengamankan Lokasi Kejadian dan Menghubungi Bantuan Medis Secepatnya
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan lokasi tempat korban tergigit berada dalam kondisi aman karena ancaman gigitan kedua dapat terjadi apabila ular masih berada di sekitar area kejadian. Pemindahan korban ke tempat yang lebih terbuka dan jauh dari semak atau benda yang menghalangi penglihatan diperlukan untuk mencegah risiko tambahan. Dalam pemberitaan kasus-kasus sebelumnya, banyak insiden lanjutan yang terjadi karena korban atau penolong tidak menyadari bahwa ular masih berada di dekat mereka.
Setelah korban berada dalam kondisi aman, upaya berikutnya adalah segera menghubungi tenaga medis atau layanan darurat terdekat karena setiap menit sangat berarti dalam penanganan gigitan ular. Identifikasi waktu kejadian, ciri fisik ular, atau gambaran pola gigitan dapat membantu tenaga medis mengambil keputusan lebih cepat saat memberikan penanganan lanjutan di fasilitas kesehatan. Informasi tersebut menjadi penting karena jenis racun dan tingkat envenomasi dapat bervariasi tergantung spesies ularnya.
Sama pentingnya dengan upaya komunikasi adalah memastikan bahwa korban tetap berada dalam posisi stabil sambil menunggu transportasi medis. Tidak dianjurkan bagi korban untuk berjalan sendiri menuju layanan kesehatan karena aktivitas fisik dapat mempercepat penyebaran racun. Tindakan ini sering menjadi kesalahan umum di masyarakat yang seharusnya bisa dihindari jika pedoman resmi dipraktikkan dengan benar.
3. Menenangkan Korban, Mengurangi Gerakan, dan Menjaga Posisi Luka Tetap Rendah
Menurunkan tingkat kecemasan korban merupakan langkah penting karena kondisi stres dapat mempercepat denyut jantung dan sirkulasi darah, yang pada akhirnya meningkatkan kecepatan racun menyebar ke seluruh tubuh. Dengan menenangkan korban, penolong membantu menjaga stabilitas fisiologis dan memperlambat proses envenomasi. Upaya ini juga memberi ruang bagi penolong untuk melakukan pemeriksaan awal dengan tenang dan terukur.
Selain itu, korban harus dijaga agar tetap diam dan tidak melakukan gerakan yang tidak diperlukan karena aktivitas otot dapat mempercepat aliran limfa yang membawa racun menuju area vital tubuh. Banyak kasus menunjukkan bahwa korban yang terus berjalan atau bergerak setelah digigit mengalami perkembangan gejala yang lebih cepat dan lebih parah. Oleh karena itu, aktivitas fisik sekecil apa pun sebaiknya dihindari sampai korban mendapatkan penanganan medis.
Langkah penting lainnya adalah memastikan bagian tubuh yang tergigit berada pada posisi lebih rendah dari jantung, sehingga aliran racun dapat melambat dan memberikan waktu tambahan bagi penanganan medis. Posisi ini membantu menunda distribusi racun ke pusat saraf dan organ-organ penting sehingga dapat mengurangi keparahan gejala awal. Teknik sederhana ini menjadi bagian utama protokol yang telah terbukti efektif dalam berbagai penanganan kasus darurat.
4. Melepas Perhiasan dan Melonggarkan Pakaian untuk Mencegah Tekanan Berlebih
Pada tahap ini, penolong harus segera melepas cincin, jam tangan, gelang, atau benda lain di sekitar area gigitan karena pembengkakan dapat terjadi dalam waktu cepat dan menyebabkan tekanan berlebih pada jaringan. Pemakaian perhiasan atau pakaian ketat bisa memperparah kondisi karena aliran darah dapat terhambat dan menambah kerusakan jaringan pada area gigitan. Hal ini sering ditemukan pada kasus di mana korban digigit di tangan atau jari dan membiarkan benda-benda tersebut menempel terlalu lama.
Melonggarkan pakaian di area sekitar luka juga penting agar ruang pembengkakan dapat terjadi secara alami tanpa menimbulkan tekanan yang mengakibatkan rasa nyeri ekstrem. Pembatasan sirkulasi darah akibat pakaian ketat berpotensi menghambat oksigenasi jaringan dan memperburuk kerusakan sel yang disebabkan racun. Tindakan ini menjadi salah satu langkah awal yang sederhana tetapi memiliki dampak besar terhadap kesiapan tubuh menerima penanganan medis berikutnya.
Di sejumlah pedoman kesehatan, langkah melepas perhiasan ini disebut sebagai bagian dari tindakan preventif untuk menghindari kebutuhan amputasi atau prosedur medis besar akibat kerusakan jaringan yang terlalu berat. Dengan memberikan ruang pada area yang terdampak, potensi komplikasi dapat diminimalkan dan korban dapat bertahan lebih stabil hingga mendapatkan antivenom di fasilitas kesehatan.
5. Batasi Gerakan Area Gigitan dengan Bidai Ringan dan Balutan yang Tidak Terlalu Ketat
Membatasi gerakan atau imobilisasi adalah langkah inti dalam protokol WHO dan Kemenkes karena gerakan dapat meningkatkan penyebaran racun melalui sistem limfa. Dengan membidai anggota tubuh yang tergigit, penolong membantu menjaga bagian tersebut tetap berada dalam posisi stabil dan mencegah korban melakukan gerakan spontan. Bidai ringan dapat dibuat dari benda apa pun yang tersedia di sekitar lokasi seperti papan tipis, karton tebal, atau kayu lurus.
Penggunaan balutan longgar dengan tekanan ringan berfungsi untuk menahan pergerakan otot tanpa menghentikan aliran darah arteri. Balutan tidak boleh terlalu ketat karena dapat memotong sirkulasi darah dan menimbulkan kondisi iskemia yang berpotensi memperparah kerusakan jaringan. Hal ini sangat berbeda dengan pengikatan tradisional yang kerap dilakukan masyarakat, di mana tourniquet dipasang terlalu keras dan sering menyebabkan masalah serius.
Imobilisasi yang benar justru memberi waktu tambahan bagi korban untuk bertahan sambil menunggu transportasi menuju fasilitas medis yang memiliki antivenom. Dengan teknik yang tepat, tingkat penyebaran racun dapat ditekan dan kondisi korban dapat dipertahankan tetap stabil dalam kurun waktu lebih lama, sehingga peluang pemulihan meningkat.
6. Menghindari Seluruh Tindakan Tradisional yang Tidak Terbukti Aman Secara Medis
Beberapa tindakan tradisional seperti menghisap racun dengan mulut, membuat sayatan pada luka, atau memberikan bahan kimia tertentu sudah terbukti tidak efektif dan bahkan berbahaya bagi korban. Tindakan seperti ini dapat menambah luka baru, meningkatkan risiko infeksi, serta mempercepat penyebaran racun ke dalam tubuh. Di sejumlah laporan medis, korban yang menerima penanganan tradisional sering datang dengan kondisi lebih parah dibanding mereka yang tidak melakukan apa pun selain mengikuti pedoman resmi.
Masyarakat sering kali mengikuti saran turun-temurun tanpa memahami bahwa metode tersebut tidak pernah terbukti secara klinis mampu menghentikan racun. Penggunaan es, kompres panas, atau pemberian alkohol justru memperburuk kondisi karena dapat mempengaruhi respons tubuh dan mempercepat kerusakan jaringan. Banyak kasus yang menunjukkan bahwa penanganan semacam ini menyebabkan korban kehilangan waktu emas untuk menuju pusat kesehatan.
WHO dan Kemenkes menegaskan bahwa semua tindakan yang bersifat manipulatif terhadap luka harus dihindari karena tidak memberikan manfaat apa pun bagi proses penanganan. Fokus utama sebelum tiba di rumah sakit adalah menjaga korban tetap tenang, diam, dan aman tanpa melakukan langkah-langkah tambahan yang tidak diperlukan. Menghindari tindakan tradisional merupakan bagian dari upaya penyelamatan yang terbukti paling efektif.
7. Membersihkan Luka Secara Lembut dan Menutupnya dengan Kassa Bersih
Setelah kondisi korban stabil, luka dapat dibersihkan menggunakan air sabun ringan tanpa menggosok atau menekan area yang tergigit. Tujuan pembersihan ini adalah untuk mengurangi risiko infeksi tanpa memicu kerusakan jaringan tambahan. Tindakan pembersihan harus dilakukan dengan sangat hati-hati karena jaringan sekitar gigitan biasanya sudah mulai mengalami reaksi inflamasi dari racun.
Setelah dibersihkan, luka harus ditutup dengan kassa steril untuk menghindari kontaminasi udara, debu, atau benda asing lain yang dapat memperburuk kondisi. Penggunaan kain bersih juga dapat menjadi alternatif ketika kassa tidak tersedia di lokasi kejadian, asalkan tidak menimbulkan tekanan berlebih pada luka. Tutup yang baik dapat menjaga kebersihan luka hingga korban tiba di fasilitas kesehatan.
Selama proses menunggu pertolongan medis, kondisi korban harus terus dipantau termasuk pembengkakan, warna kulit, pola napas, dan tingkat kesadaran. Pencatatan waktu kejadian, waktu munculnya gejala, dan perubahan kondisi tubuh sangat membantu tenaga medis melakukan asesmen cepat ketika korban tiba di rumah sakit. Setiap detail informasi tersebut menjadi bagian penting dalam menentukan pilihan antivenom dan jenis terapi yang diperlukan.
8. Membawa Korban ke Fasilitas Kesehatan untuk Mendapatkan Antivenom yang Tepat
Tahap terakhir dan paling menentukan adalah merujuk korban ke fasilitas kesehatan yang memiliki antivenom dan tenaga medis terlatih. Antivenom menjadi satu-satunya terapi spesifik yang mampu menetralkan racun ular secara efektif dan sering kali harus diberikan secepat mungkin pada kasus envenomasi sedang hingga berat. Penundaan pemberian antivenom dapat meningkatkan risiko komplikasi seperti gagal ginjal, gangguan pernapasan, atau perdarahan berat.
Jika penolong mengetahui atau melihat jenis ular yang menggigit, informasi tersebut dapat disampaikan kepada tenaga medis untuk membantu menentukan jenis antivenom yang diperlukan. Namun, masyarakat tidak dianjurkan menangkap atau membawa ular ke fasilitas medis karena hal tersebut berisiko tinggi dan tidak memberikan manfaat tambahan. Identifikasi berdasarkan warna, pola tubuh, atau ciri gigitan sudah cukup menjadi patokan awal bagi petugas.
Di rumah sakit, korban akan menjalani pemeriksaan lengkap termasuk tes darah, pemantauan pembekuan darah, serta observasi gejala neurologis untuk menentukan tingkat envenomasi. Pengobatan yang cepat dan tepat dapat memperpendek masa perawatan dan meningkatkan peluang pemulihan total tanpa kerusakan jaringan permanen. Oleh karena itu, rujukan medis menjadi bagian mutlak dari seluruh rangkaian penanganan gigitan ular.
Pertanyaan dan Jawaban
1. Apa tindakan pertama saat digigit ular?
Tindakan pertama adalah menjauh dari ular, menenangkan korban, membatasi gerakan, dan segera mencari bantuan medis.
2. Apakah racun ular bisa dihisap?
Tidak, metode menghisap racun tidak efektif dan justru berisiko menambah infeksi serta mempercepat kerusakan jaringan.
3. Bagaimana cara mengetahui bahwa gigitan ular berbahaya?
Tanda umumnya meliputi pembengkakan cepat, nyeri hebat, pendarahan, sesak napas, atau kelumpuhan otot di sekitar area luka.
4. Apakah tourniquet boleh digunakan?
Tidak dianjurkan karena dapat menghentikan aliran darah dan memicu kerusakan jaringan yang lebih parah.
5. Berapa lama racun ular bekerja dalam tubuh?
Racun bisa mulai menyebar dalam hitungan menit, sehingga penanganan cepat sangat penting untuk mencegah komplikasi serius.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427662/original/074436000_1764405599-desain_teras_kecil_tapi_longgar__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427557/original/006454100_1764395808-model_gamis_longgar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427540/original/079115400_1764394651-model_gamis_woolpeach.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5418576/original/019602200_1763622219-Gemini_Generated_Image_bhu2n9bhu2n9bhu2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4186583/original/033169100_1665391530-SVOD_-_Go_Go_Squid_-_Poster_Landscape__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5379366/original/064024100_1760342880-Gemini_Generated_Image_k09528k09528k095.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427600/original/081786700_1764399970-unnamed_-_2025-11-29T140315.653.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427583/original/038793800_1764398290-unnamed_-_2025-11-29T133706.230.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427469/original/035461200_1764389837-kebun_mini_di_balkon.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427532/original/056138500_1764394611-unnamed_-_2025-11-29T123454.290.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5403869/original/062616900_1762339506-ular_kecil__3_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427449/original/000760300_1764388798-Cover___Lead__8_.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427382/original/078277900_1764384996-unnamed_-_2025-11-29T095239.039.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427436/original/034359700_1764388266-model_gamis_chiffon_flowy__11_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5311486/original/045216400_1754885061-ChatGPT_Image_Aug_11__2025__11_01_20_AM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427406/original/065025500_1764386466-unnamed_-_2025-11-29T100931.357.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3988054/original/054672600_1649316223-eduardo-jaeger-K7FJOFiCmOU-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427395/original/053252400_1764385572-301b5cfb-aa90-4aa9-90cf-010c50b6899c.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427376/original/005091900_1764383918-090f8ff3-10df-410d-b1f3-1f1fc46b9fd0.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5427229/original/037745600_1764337636-pexels-shardar-tarikul-islam-84327533-8983394.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363574/original/067634200_1758951074-Gemini_Generated_Image_d15sird15sird15s.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5347356/original/093309300_1757667913-Gemini_Generated_Image_k68zk1k68zk1k68z.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5317655/original/048753600_1755399607-Screenshot_2025-08-17_095559.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5344811/original/023366400_1757493743-hl.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5345053/original/058577600_1757501490-01325d16-633b-4633-90e6-950efdbca489.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3936591/original/031031300_1645054040-james-wheeler-HJhGcU_IbsQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5347777/original/072783500_1757736538-hl_39393.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5370599/original/040845800_1759561568-Gamis_Simple_tapi_elegan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5324162/original/055401400_1755843647-20250822-Lisa_M-HEL_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3955423/original/001688200_1646706636-hands-waving-flags-indonesia.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363765/original/004808300_1758963234-Gemini_Generated_Image_uopfavuopfavuopf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5367398/original/025212100_1759305132-warung_sembako_hemat_modal_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5303579/original/041631700_1754114018-Gemini_Generated_Image_ruwvxaruwvxaruwv.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5307626/original/077318000_1754473554-bende4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5344370/original/041842400_1757484704-ChatGPT_Image_Sep_10__2025__12_58_44_PM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364103/original/064641000_1759040675-Gemini_Generated_Image_29nq7729nq7729nq.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5302883/original/072474400_1754037653-WhatsApp_Image_2025-08-01_at_15.36.16_1c69c972.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5291523/original/075298800_1753175918-Gemini_Generated_Image_pszk0vpszk0vpszk.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5320725/original/097582500_1755607274-gal1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364186/original/001233300_1759045126-Gemini_Generated_Image_f3ya1kf3ya1kf3ya.jpg)