7 Jenis Ular yang Tak Suka Kehadiran Manusia dan Lebih Memilih Menjauh

2 weeks ago 11

Liputan6.com, Jakarta Tidak semua reptil memiliki sifat menyerang atau menakutkan. Di balik citra menegangkan, banyak jenis ular yang tak suka kehadiran manusia justru lebih memilih menjauh ketika merasakan gangguan. Naluri alami mereka mendorong untuk mencari tempat aman, ketimbang menghadapi potensi ancaman. Memahami perilaku ini membantu masyarakat menghindari kepanikan saat bertemu ular di lingkungan sekitar.

Dalam dunia herpetologi, perilaku menghindar dianggap sebagai strategi bertahan hidup yang efisien. Spesies seperti ular hijau, ular kukang dan ular air memiliki insting tinggi untuk melarikan diri begitu merasa tidak nyaman. Mengetahui ciri-ciri jenis ular yang tak suka kehadiran manusia bisa membantu masyarakat bersikap bijak, tanpa harus merasa takut berlebihan saat berada di alam terbuka.

Pemahaman terhadap karakter alami reptil juga penting diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah tropis atau dekat area persawahan. Ketika memahami perilaku jenis ular yang tak suka kehadiran manusia, kita tidak hanya menjaga keselamatan diri, tetapi juga turut melestarikan keseimbangan ekosistem. Berikut ulasan lengkap yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Senin (10/11/2025). 

Jenis Ular yang Tak Suka Kehadiran Manusia

Bagi sebagian orang, ular sering dianggap sebagai hewan berbahaya yang menakutkan. Padahal, tidak semua jenis ular memiliki sifat agresif atau cenderung menyerang manusia. Sebagian besar spesies justru lebih memilih menjauh dan menghindari interaksi langsung. Dalam dunia herpetologi, perilaku menjauh ini menjadi mekanisme alami ular untuk bertahan hidup. Mengetahui jenis ular yang tak suka kehadiran manusia bisa membantu masyarakat lebih bijak dalam menyikapi keberadaan mereka di lingkungan sekitar.

1. Ular Sanca (Pythonidae)

Ular sanca dikenal sebagai salah satu reptil besar yang sering ditemukan di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Meski berukuran besar, sanca umumnya memiliki sifat tenang dan tidak menyerang kecuali merasa terancam. Hewan ini lebih menyukai tempat lembap seperti rawa, tepi sungai, atau area semak-semak yang jarang dilalui manusia. Saat bertemu manusia, ular sanca biasanya akan mencari jalan untuk melarikan diri daripada bertarung. Dalam banyak kasus, sanca baru akan menggigit jika disentuh atau diganggu secara langsung.

2. Ular Hijau Ekor Panjang (Ahaetulla prasina)

Jenis ular ini kerap terlihat di pepohonan, kebun, atau hutan tropis. Tubuhnya ramping, berwarna hijau terang, dan sering kali berbaur sempurna dengan dedaunan. Ular hijau ekor panjang termasuk hewan pemalu yang sangat sensitif terhadap getaran tanah dan suara. Begitu mendeteksi langkah manusia, ular ini akan segera meluncur pergi menuju cabang pohon lain. Karena sifatnya yang tidak agresif, ular ini sering dijuluki sebagai ular penjaga ekosistem karena berperan penting dalam mengendalikan populasi serangga dan hewan kecil.

3. Ular Kukang atau Ular Gadung (Dendrelaphis pictus)

Ular kukang merupakan spesies yang sering ditemukan di pekarangan rumah atau area kebun yang rimbun. Meskipun terlihat cukup aktif, ular ini tergolong tidak berbahaya dan cenderung menghindari manusia. Ia lebih suka memangsa katak kecil, cicak, atau burung mungil. Ketika mendeteksi suara langkah kaki atau gerakan besar di sekitarnya, ular kukang akan melarikan diri ke tempat lebih tinggi atau bersembunyi di balik semak. Ular ini hampir tidak pernah menyerang kecuali merasa benar-benar terpojok.

4. Ular Air (Enhydris spp.)

Jenis ular air hidup di sekitar sawah, sungai kecil, hingga kolam. Mereka memiliki sifat tenang dan lebih sering berada di dalam air untuk berburu ikan atau katak. Ketika bertemu manusia, ular air biasanya menyelam dan menjauh secepat mungkin. Walau beberapa spesiesnya berbisa, intensitas pertemuan langsung dengan manusia sangat jarang. Ular air tidak tertarik pada manusia, karena mangsanya hanyalah hewan-hewan kecil yang hidup di perairan dangkal.

5. Ular Pelangi (Xenopeltis unicolor)

Salah satu spesies paling indah di dunia reptil ini memiliki kulit berkilau menyerupai pelangi saat terkena cahaya. Ular pelangi adalah hewan nokturnal yang aktif di malam hari dan lebih memilih bersembunyi di bawah tanah atau tumpukan daun kering. Reptil ini sangat sensitif terhadap getaran dan aroma asing. Begitu merasakan keberadaan manusia, ular pelangi segera melarikan diri menuju tanah lembap atau lubang untuk bersembunyi. Spesies ini sama sekali tidak agresif dan jarang menampakkan diri di area pemukiman.

6. Ular Luwuk (Cylindrophis ruffus)

Ular ini sering disebut juga sebagai “ular tanah” karena kebiasaannya bersembunyi di bawah permukaan tanah atau dedaunan kering. Sifatnya sangat pasif dan tidak pernah menyerang manusia. Ketika diganggu, ular luwuk akan melingkarkan tubuhnya dan menyembunyikan kepala, bukan menggigit. Habitat favoritnya adalah area lembap seperti kebun atau pinggiran sungai kecil yang jarang dijamah manusia.

7. Ular Serasah (Calamaria spp.)

Ular serasah termasuk ular kecil berukuran hanya sekitar 30–40 cm. Warna tubuhnya menyerupai tanah, membuatnya sulit terlihat. Spesies ini lebih banyak menghabiskan waktu di bawah lapisan daun kering dan akar pepohonan. Ular serasah tidak berbisa, tidak agresif dan sepenuhnya menghindari kontak dengan manusia. Ia hanya keluar saat hujan atau malam hari untuk mencari cacing tanah.

Cara Aman Saat Bertemu Ular di Alam

Menjelajahi alam bebas, baik saat mendaki, berkebun, maupun menjelajah hutan, memang memberikan pengalaman berharga. Meski begitu, risiko bertemu ular tetap ada, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia. Mengetahui cara aman saat bertemu ular di alam sangat penting agar kita tidak panik dan bisa bertindak secara bijak, tanpa mencederai hewan tersebut maupun diri sendiri.

  • Reaksi spontan seperti menjerit atau melompat justru bisa membuat ular merasa terancam. Insting alaminya akan memicu perilaku defensif. Sebaiknya berhenti sejenak, tarik napas dalam, dan amati arah pergerakannya. Bila ular tidak menunjukkan tanda menyerang, mundurlah perlahan tanpa membuat suara keras.
  • Jarak ideal dari ular liar minimal dua meter. Jangan mencoba mendekat untuk mengambil foto atau melihat dari jarak dekat. Banyak jenis ular yang tak suka kehadiran manusia justru akan pergi sendiri bila tidak diganggu. Memberi ruang berarti memberi kesempatan ular mencari jalan keluar tanpa konflik.
  • Kesalahan umum banyak orang adalah mencoba mengusir ular menggunakan tongkat, batu, atau sapu. Tindakan ini justru berbahaya karena membuat ular merasa diserang. Ular tidak akan mengejar manusia tanpa sebab; mereka hanya bertahan. Bila berada di kawasan pemukiman, hubungi petugas pemadam kebakaran, komunitas penyelamat satwa, atau pihak berwenang untuk evakuasi aman.
  • Usahakan untuk mengenali ciri dasar ular berbisa dan tidak berbisa. Misalnya, ular kobra biasanya berdiri tegak dan melebar di bagian leher saat merasa terganggu, sedangkan ular sanca cenderung menggulung tubuhnya. Mengenali pola warna atau bentuk kepala membantu menentukan langkah selanjutnya, apakah cukup menjauh atau harus meminta bantuan ahli.
  • Ular sering bersembunyi di balik batu, rerumputan tinggi, atau tumpukan kayu. Saat berjalan di alam, gunakan alas kaki tertutup dan hindari memasukkan tangan ke lubang atau semak tanpa memastikan keamanannya. Pengamatan cermat dapat mencegah kontak tak terduga dengan ular yang sedang beristirahat.
  • Sebagian besar ular aktif pada malam hari (nokturnal). Jika berkemah atau berjalan di area gelap, gunakan senter atau lampu kepala. Cahaya membantu melihat keberadaan ular lebih awal sehingga kita bisa menghindari jalur pergerakannya.
  • Langkah pertama adalah menjauh dari lokasi gigitan agar ular tidak menyerang kembali. Hindari menghisap atau mengikat bagian luka karena bisa memperburuk kondisi. Catat warna dan bentuk ular bila memungkinkan, lalu segera menuju fasilitas medis untuk mendapatkan penanganan profesional.

Mengapa Banyak Ular Tak Menyukai Kehadiran Manusia?

Ular sering kali dianggap sebagai hewan berbahaya yang menakutkan. Padahal, sebagian besar spesies ular justru berusaha menghindari manusia sebisa mungkin. Mereka bukan pemburu manusia dan tidak memiliki kecenderungan menyerang kecuali merasa terancam. Ada berbagai alasan biologis, ekologis, dan perilaku alami yang membuat banyak ular tak nyaman berada di dekat manusia.

1. Insting Alami untuk Menghindari Bahaya

Secara naluriah, ular memiliki insting bertahan hidup yang sangat kuat. Dalam rantai makanan, mereka bukan predator puncak; banyak hewan lain termasuk manusia dianggap ancaman besar. Oleh sebab itu, ketika ular merasakan getaran langkah kaki, mendengar suara keras, atau mencium aroma asing, mereka cenderung melarikan diri ke tempat yang lebih aman. Reaksi ini merupakan bentuk mekanisme pertahanan alami agar tidak terjebak dalam konflik yang bisa membahayakan diri mereka.

2. Sensitivitas Ular terhadap Getaran dan Bau Tubuh Manusia

Berbeda dari hewan lain, ular tidak memiliki telinga luar, tetapi mereka sangat peka terhadap getaran tanah dan udara. Ketika manusia berjalan atau berbicara, getaran tersebut terasa kuat bagi ular, menandakan potensi ancaman. Selain itu, ular memiliki organ penciuman khusus bernama organ Jacobson di langit-langit mulutnya yang membantu mendeteksi bau. Aroma keringat manusia atau bahan kimia dari parfum dan sabun bisa membuat ular merasa tidak nyaman dan menjauh.

3. Perbedaan Habitat dan Pola Aktivitas

Sebagian besar jenis ular yang tak suka kehadiran manusia hidup di lingkungan alami seperti hutan, rawa, ladang, atau area berbatu. Ketika habitat tersebut mulai terganggu akibat aktivitas manusia, ular sering berpindah ke tempat lain untuk mencari lokasi yang tenang. Mereka membutuhkan ruang sunyi, lembap, serta bebas gangguan agar bisa berburu dan bersembunyi secara optimal. Aktivitas manusia yang ramai dianggap mengancam keseimbangan habitat tersebut.

4. Pengalaman Traumatik atau Respons terhadap Ancaman

Ular tidak memiliki ingatan emosional seperti manusia, tetapi mereka mampu membentuk perilaku defensif berdasarkan pengalaman. Bila sebelumnya ular pernah diserang, dilempar batu, atau diganggu, ia akan lebih waspada ketika mendeteksi kehadiran manusia di sekitar area hidupnya. Oleh sebab itu, setiap pertemuan baru dianggap sebagai potensi ancaman yang harus dihindari.

FAQ Seputar Topik

Apakah semua jenis ular yang masuk rumah berbahaya?

Tidak semua ular yang ditemukan di rumah berbisa. Beberapa jenis seperti Ular Sanca Kembang, Ular Tikus, dan Ular Kadut umumnya tidak berbisa atau memiliki bisa yang sangat ringan dan tidak berbahaya bagi manusia.

Apa yang harus dilakukan jika menemukan ular di rumah?

Jika menemukan ular di rumah, sebaiknya jangan panik. Jaga jarak aman, identifikasi jenis ular jika memungkinkan, dan hubungi pihak berwenang seperti pemadam kebakaran atau penangkap ular profesional untuk penanganan lebih lanjut.

Apa yang paling ditakuti ular?

Ular benci merasa terbuka dan menghindari area terbuka yang sangat terlihat.

Apakah ular bisa mencium bau manusia?

Ular menggunakan organ Jacobson untuk mendeteksi partikel kimia, bukan mencium bau manusia.

Read Entire Article
Photos | Hot Viral |